Roni, pemuda yang hingga kini masih perjaka, bahkan ciuman pertamanya hilang hanya untuk melakukan RJP ( Resusitasi jantung paru-paru) agar bisa menyelamatkan Vivi.
Jemari tangan Roni sedikit tremor saat membelai bibir yang terlihat bervolume dan ranum itu. Menelan salivanya kasar menatap bibir yang sedang di belainya itu. Detak jantung Roni semakin lama semakin berdegup kencang saat secara bertahap dirinya membungkukkan badannya dengan wajah yang semakin lama semakin dekat dengan wajah Vivi. Mata pemuda itu fokus pada bibir Vivi yang sedikit terbuka.
Vivi mencengkram erat selimut yang dikenakannya saat napas hangat Roni menerpa wajahnya. Semakin lama detak jantung Vivi semakin tidak karuan hingga rasanya ingin meloncat keluar dari tempatnya. Hembusan napas Roni semakin terasa hangat yang menandakan wajah Roni sudah semakin dekat dengan wajahnya.
"Cup"
Pada akhirnya bibir Roni dan bibir Vivi pun saling menempel. Dengan perlahan Roni memagut bibir Vivi yang terasa lembut. Namun semakin di pagut, rasanya semakin membuat Roni penasaran.
Vivi yang merasakan pagutan lembut bibir Roni pun tanpa sadar membalas pagutan Roni. Keduanya saling menyesap dan saling menikmati bibir pasangannya. Lidah Roni menerobos masuk ke dalam mulut Vivi dan mengeksplor setiap rongga di dalam mulut Vivi, hingga akhirnya membelit lidah Vivi. Napas dan tubuh sepasang insan itu semakin lama semakin terasa panas dengan detak jantung yang berdegup kencang bak genderang perang.
Untuk sesaat Roni melepaskan pagutannya karena mereka sudah mulai kesulitan untuk bernapas, membuat Vivi membuka matanya. Sepasang suami-isteri itu menghirup udara dengan serakah dan saling menatap dengan tatapan penuh damba.
Roni kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Vivi, memiringkan kepalanya hendak menikmati bibir lembut istrinya. Sedangkan Vivi dengan perlahan memejamkan matanya. Sedetik.. dua detik..tiga detik.. Wajah mereka semakin dekat. Hingga...
"Cup"
Bibir sepasang suami-isteri itu kembali bertemu dan siap untuk kembali saling memagut.
"Tok! Tok! Tok!"
"Vivi! Roni! Tolong ibu! Ayah kalian jatuh dari ranjang," suara ketukan pintu disusul suara panik Nuri itu membuat kedua bibir yang hampir kembali berpagutan itu terpisah.
Dengan cepat Roni turun dari ranjang di susul Vivi. Sepasang suami-isteri itu terlihat khawatir.
"Ceklek"
Roni membuka pintu kamarnya dan melihat Nuri yang berdiri di depan kamarnya nampak cemas.
"Ayah kalian jatuh dari ranjang. Ibu tidak kuat mengangkatnya sendirian," ujar Nuri sebelum Roni dan Vivi bertanya.
Tanpa mengatakan apapun, Roni bergegas berjalan menuju kamar mertuanya. Nuri dan Vivi pun bergegas menyusul Roni.
Saat tiba di depan pintu kamar mertuanya, Roni melihat ayah mertuanya masih terduduk di lantai. Tanpa mengatakan apapun, Roni segera mengangkat tubuh Ruslan dan membaringkannya di atas ranjang.
"Maaf! Ayah telah membuat kalian terbangun malam-malam begini. Ayah membuat waktu istirahat kalian terganggu," ucap Ruslan tidak enak hati.
"Kenapa ayah bisa jatuh?" tanya Vivi menatap wajah ayahnya dengan tatapan iba.
"Tadinya, ayah ingin ke kamar mandi sendiri, karena ayah tidak tega membangunkan ibumu yang kelihatannya lelah. Tapi, malah membuat kalian semua panik dan istirahat kalian jadi terganggu. Maaf! Ayah hanya bisa merepotkan dan menjadi beban buat kalian," ujar Ruslan dengan wajah tertunduk.
"Vi.." panggil Roni, kemudian mulai berbicara dengan bahasa isyarat.
Vivi menatap Roni dan memperhatikan apa yang di sampaikan Roni melalui bahasa isyarat.
"Ayah, ibu, kak Roni berencana membawa ayah ke.luar negeri untuk berobat. Kata dokter Fina, ada kemungkinan ayah bisa sembuh dan bisa berjalan lagi,"ucap Vivi terlihat senang.
"Ayah senang jika bisa sembuh. Tapi, berobat ke luar negeri biayanya pasti sangat mahal. Roni sudah mengeluarkan uang terlalu banyak untuk ayah," ucap Ruslan yang tidak enak hati pada menantunya.
"Kata kak Roni, yang penting ayah bisa sembuh. Berapapun biayanya akan di tanggung kak Roni," ucap Vivi sesuai apa yang di katakan oleh Roni melalui bahasa isyarat.
Ruslan merasa dilema, karena di satu sisi Ruslan ingin sembuh agar tidak menjadi beban bagi keluarganya. Tapi, di sisi lain Ruslan merasa sudah terlalu banyak menerima kebaikan dari Roni.
Demikian pula dengan Nuri dan Vivi yang merasakan hal yang sama. Ingin Ruslan sembuh, tapi juga menjadi sungkan pada Roni yang terlalu baik.
Sedangkan bagi Roni sendiri, pemuda itu sama sekali tidak merasa keberatan mengeluarkan uang untuk pengobatan ayah Vivi. Jumlah investasi dan aset pemuda itu cukup banyak dan tidak akan menguras isi saldo di salah satu rekening banknya, jika harus membawa mertuanya ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.
Setelah Roni membujuk Ruslan melalui Vivi, akhirnya Ruslan setuju untuk berobat di luar negeri. Rencananya, Nuri akan menemani Ruslan untuk menjalani pengobatan.
"Soal Aline, ayah dan ibu titipkan dia pada kalian. Walaupun usianya sudah dua puluh tahun, tapi pemikirannya masih seperti anak kecil. Masih labil, keras kepala dan sulit di nasehati. Ayah harap, kalian bisa mengawasi anak itu selama kami pergi," ucap Ruslan yang sebenarnya merasa berat meninggalkan Aline.
"Benar kata ayah kalian. Anak itu keras kepala dan sulit di atur. Ibu agak was-was meninggalkan dia," sahut Nuri jujur adanya.
Vivi menatap Roni dan Roni mengangguk seraya menggenggam jemari tangannya.
"Ayah dan ibu tidak usah khawatir! Kami akan berusaha mengawasi Aline sebaik mungkin," ujar Vivi kemudian kembali menatap Roni yang tersenyum lembut padanya.
"Terimakasih! Ayah merasa sangat beruntung memiliki anak dan menantu seperti kalian," ucap Ruslan penuh rasa haru.
Vivi dan Roni akhirnya kembali ke kamar mereka. Saat sudah berada di dalam kamar, Roni menuntun Vivi untuk berbaring. Roni membaringkan tubuhnya di sebelah Vivi, lalu mendekap tubuh Vivi dan memejamkan matanya.
"Apa kak Roni tidak jadi melanjutkan yang tadi?" gumam Vivi dalam hati. Entah mengapa Vivi merasa kecewa karena Roni tidak melanjutkan aktivitasnya menyentuh dirinya.
Sedangkan Roni, "Sekarang sudah semakin larut. Aku tidak mungkin melanjutkan yang tadi. Aku takut waktu istirahat Vivi akan tersita banyak dan mempengaruhi kesehatannya dan juga kesehatan janin dalam kandungannya. Karena aku belum tahu, berapa lama waktu yang di perlukan untuk melakukan hubungan suami-istri. Walaupun, sebenarnya aku masih penasaran dengan bibirnya. Bibirnya terasa lembut sekali. Aku merasakan sensasi nikmat saat memagut bibirnya. Apalagi saat dia membalas pagutan ku. Aku masih belum puas menikmatinya. Aku ingin lagi," gumam Roni dalam hati berusaha menahan diri.
Malam akhirnya berganti pagi. Seperti kemarin, Vivi membantu Roni memakai pakaian kantornya. Sedangkan Roni, pemuda itu menggigit bibirnya sendiri saat menatap bibir Vivi yang sedang mengancingkan kemejanya. Vivi sendiri tidak menyadari, jika Roni sedang fokus menatap bibirnya yang di poles dengan lipstik berwarna pink itu.
Vivi sudah selesai mengancingkan kemeja Roni, wanita itu bersiap untuk memasang dasi suaminya.
"Kak, menunduk sedikit! Kakak terlalu tinggi. Jika kakak tidak menunduk, aku akan kesulitan memakaikan dasi kakak," ucap Vivi seraya mendongak menatap Roni.
Perlahan Roni menunduk, namun Vivi jadi terdiam kaku saat suaminya itu memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vivi.
"Apa.. apa dia ingin mencium aku lagi," gumam Vivi dalam hati melihat wajah Roni yang semakin dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan napas hangat pria di depannya itu terasa hangat menyapu wajahnya.
"Greb"
Tiba-tiba tangan kiri Roni memeluk tubuh Vivi dan tangan kanannya memegang tengkuk Vivi. Bibir keduanya pun kembali bersentuhan. Dengan lembut Roni memagut bibir Vivi, dan Vivi pun membalasnya. Tangan kanan Vivi memegang dada Roni, sedang tangan kirinya memeluk pinggang Roni.
"Melihat bibirnya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya," batin Roni yang terus memagut bibir Vivi.
"Ciumannya begitu lembut. Aku suka," gumam Vivi dalam hati yang menikmati pertautan bibirnya dan bibir Roni.
Sepasang suami-isteri itu saling memagut, saling menyesap, menggigit kecil dan saling berbelit lidah mengikuti naluri mereka mereguk kenikmatan dalam setiap pertautan bibir dan lidah mereka.
Roni memeluk erat tubuh Vivi, begitu pun Vivi yang kakinya terasa kehilangan pijakan. Detak jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, tubuhnya terasa meremang. Vivi dapat merasakan degup jantung Roni yang berdegup kencang sama seperti dirinya.
Sesungguhnya, Vivi tidak pernah berciuman dengan si Roni brengseek. Atau kita sebut saja si Roni pengki (pengki : pengkhianat). Vivi kehilangan ciuman pertama dan sekaligus kesuciannya saat mabuk. Setelah kejadian itu, Vivi tidak pernah lagi berciuman, apalagi berhubungan badan dengan si Roni pengki.
Walaupun berulang kali si Roni pengki meminta ciuman bahkan secara terang-terangan mengajak Vivi ke hotel untuk melakukan hubungan layaknya suami-istri. Namun Vivi selalu menolaknya. Jadi, baru dengan Roni lah Vivi merasakan bagaimana rasanya berciuman.
Setelah cukup lama berpagutan, akhirnya keduanya saling melepaskan pagutan mereka untuk menghirup udara. Mata keduanya saling bertatapan begitu dalam.
"Aku tidak boleh mencium dia lagi. Atau pagi ini aku akan khilaf dan menerkamnya. Hari ini ada tugas yang harus aku selesaikan di kantor," gumam Roni dalam hati seraya mengusap lembut bibir Vivi dengan ibu jarinya.
"Maaf! Aku membuat lipstik mu berantakan," ucap Roni dalam bahasa isyarat, merasa bersalah.
"Tidak apa. Bibir kakak terkena lipstik. Aku akan membersihkannya," ucap Vivi kemudian beranjak untuk mengambil tisu dan membersihkan bibir Roni.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sinar Mentari
bukan nya yuniar bisa pijat repleksi.. knp ga minta bantuan dia atau sama tmannya yg laki2 itu si dikra...
2024-02-12
4
ande
ku kira bakal belah duren si roni rupax belom🤭🤭
2024-01-06
1
Cicih Sophiana
panas makin naik Ron sampe tergerah gerah nih 😂😂😂
2023-12-21
1