"Em.. Kak, kenapa sampai sekarang kakak tidak meminta hak kakak sebagai seorang suami?" tanya Vivi pelan setelah selesai membantu Roni memakai pakaian kantornya. Namun, sesaat kemudian Vivi tertunduk terlihat canggung.
Roni tertegun mendengar pertanyaan Vivi. Ini bukan kali pertama Vivi menanyakan hal ini pada dirinya.
"Kak Roni sudah menjadi suami yang sangat baik untuk ku. Lebih baik dari ekspektasi ku. Aku hanya ingin menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri sepenuhnya untuk menunjukkan rasa baktiku padanya. Rasa terimakasih ku padanya. Tapi, dia seperti tidak ingin menyentuh aku lebih dari mengecup kening dan memeluk ku,"
"Apakah keinginan ku terlalu berlebihan? Sepertinya aku terlalu banyak menuntut pada kak Roni. Aku tidak seharusnya seperti ini. Aku seharusnya bersyukur dengan semua yang sudah di lakukan dan diberikan kak Roni padaku dan keluarga ku. Kenapa aku menjadi wanita yang tidak tahu diri seperti ini?" gumam Vivi dalam hati.
Vivi merutuki dirinya sendiri, karena merasa terlalu banyak menuntut pada orang yang sudah menjadi dewa penolong bagi dirinya dan keluarganya.
"Ah, maaf! A.. aku jadi bicara melantur. Kakak lupakan saja apa yang baru saja aku katakan. Sebaiknya kita sarapan. Aku tidak ingin kakak terlambat pergi ke kantor," ucap Vivi yang langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu, karena tidak mendapatkan jawaban dari Roni atas pertanyaan yang dilontarkannya. Sekaligus menyesal telah menanyakan tentang hal itu.
"Vi.." panggil Roni yang tiba-tiba memegang tangan Vivi, membuat Vivi menghentikan langkah kakinya. Wanita itu menoleh ke arah Roni.
"Kita bicarakan hal ini nanti malam saja, ya?" pinta Roni dalam bahasa isyarat.
"Jika kakak tidak ingin membahasnya. Kita tidak perlu membahasnya. Lupakan saja apa yang aku katakan tadi! Ayo, kita sarapan!" ajak Vivi tersenyum hangat.
Roni tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Sepasang suami-isteri itu pergi ke ruangan makan untuk sarapan bersama.
Saat sarapan, mereka hanya sarapan berempat saja, karena Aline belum selesai membersihkan diri. Tidak ada pembicaraan yang berarti di meja makan itu.
"Kebetulan kantor kamu searah dengan kantor ku. Aku akan mengantar kamu pergi ke kantor," ucap Roni setelah mereka selesai sarapan.
"Terimakasih, kak," ucap Vivi tersenyum lembut.
Roni melajukan mobilnya menuju kantor Vivi. Seperti biasa, tidak ada percakapan apapun di antara mereka berdua saat Roni sedang berkendara.
Vivi menatap gedung-gedung tinggi pencakar langit yang berjajar sepanjang jalan yang mereka lewati. Dalam hati wanita itu masih bertanya-tanya. Apa sebabnya Roni selalu menghindar dan banyak alasan, jika ditanya soal nafkah batinnya. Apa gerangan yang membuat Roni hingga kini belum memberikan nafkah batin untuknya. Hingga Vivi berpikir yang tidak-tidak.
"Apa.. apa Kak Roni impoten? Karena itu dia mau menikahi aku yang sedang mengandung anak pria lain? Karena dia tidak bisa memiliki keturunan? Karena itukah berulang kali kak Roni meminta padaku agar tidak menggugurkan kandungan ku? Kalau dia benar-benar impoten, aku akan membantu dia agar bisa sembuh. Jika dia tidak bisa sembuh pun, aku akan tetap bersamanya sampai maut memisahkan kami berdua," gumam Vivi dalam hati, kemudian melirik Roni yang sedang fokus mengemudi.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Roni berhenti di depan gerbang perusahaan tempat Vivi bekerja. Roni membantu Vivi melepaskan sabuk pengamannya.
"Aku pergi, kak!" pamit Vivi.
"Nanti aku tidak bisa menjemput kamu pulang. Aku akan pulang agak malam. Tidak usah menunggu aku makan malam! Aku akan makan malam di luar," ucap Roni dalam bahasa isyarat, kemudian mengecup lembut kening Vivi.
"Iya. Tidak apa-apa. Kakak hati-hati di jalan!" ucap Vivi tersenyum lembut, kemudian turun dari mobil Roni.
Hanya sebuah kecupan di kening saja sudah bisa membuat Vivi tersenyum bahagia. Vivi melambaikan tangannya pada Roni. Wanita itu baru masuk ke gedung tempatnya bekerja setelah mobil suaminya itu tidak terlihat lagi.
"Eh, pengantin baru. Mobil yang kamu tumpangi tadi mobil siapa?" sapa sekaligus tanya seorang wanita dengan rambut bergelombang.
"Ah, tadi itu mobil suamiku," sahut Vivi yang sempat terkejut.
"By the way, nama suami kamu siapa?" tanya wanita itu kepo.
"Roni Saputra," sahut Vivi penuh senyuman seraya melanjutkan langkah kakinya.
"Jadi.. nama suamimu itu beneran Roni?" tanya wanita itu yang mengira suami Vivi itu namanya bukan Roni.
Pasalnya teman-teman Vivi pada tahu kalau Vivi sudah satu tahun menjalin cinta dan akan menikah dengan Roni, karyawan yang bekerja di bagian HRD perusahaan mereka.
Tapi, tiba-tiba Roni yang bekerja di HRD perusahaan mereka malah menikah dengan seorang wanita yang katanya bekerja sebagai manajer di perusahaan lain. Jadi banyak yang bergosip kalau Vivi menikah dengan pria yang di bayarnya.
"Iya,"sahut Vivi tersenyum tipis.
"Aku kira, kamu menikah dengan Roni yang bekerja di bagian HRD kita. Tapi, nyatanya dia menikah dengan wanita lain dan kamu juga menikah dengan pria lain," ujar wanita yang rambutnya bergelombang itu.
"Hubungan ku dengan Roni bagian HRD itu hanyalah masa lalu. Sekarang, kami sudah punya pasangan masing-masing," sahut Vivi yang sebenarnya malas membahas pria yang sudah menghamili dan mencampakkan dirinya itu.
*
Vivi bekerja seperti biasanya. Walaupun gosip tentang Vivi dan Roni bagian HRD masih hangat di bicarakan. Mereka masih bingung karena tiba-tiba sepasang kekasih itu, masing-masing malah menikah dengan orang lain.
Vivi nampak berjalan ke toilet. Wanita yang memakai flatshoes itu kurang bersemangat, karena mengingat suaminya yang akan pulang agak malam.
"Kenapa aku jadi galau karena kak Roni pamit akan pulang agak malam?" gumam Vivi menghela napas kasar.
"Berapa kamu membayar pria itu, hingga dia mau menikahi kamu yang berbadan dua?"
Tanya seseorang dengan suara bariton dari samping kiri Vivi itu. Vivi sempat terkejut, namun Vivi terus melangkah tanpa menghiraukan suara itu.
"Hei! Aku bicara padamu!" sergah suara itu terdengar marah.
"Akkhh!" pekik Vivi saat tiba-tiba tangannya di cekal dari belakang, "lepaskan!" bentak Vivi dengan tatapan mata yang terlihat tajam pada orang yang sangat di kenalnya dan juga sangat di bencinya itu. Orang yang telah merenggut kesuciannya dan mencampakkan dirinya saat mengandung benih pria itu.
"Berapa kamu membayar pria itu, hingga dia mau menikahi kamu yang berbadan dua?" tanya pria itu lagi.
"Membayarnya? Dia yang membayar sisa biaya resepsi pernikahan kami. Dia yang menanggung dan memberikan pengobatan terbaik untuk ayahku. Apa maksud kamu aku membayarnya? Dia adalah suami yang bertanggung jawab, perhatian dan menyayangi aku. Bukan pria brengseek yang tidak punya akhlak, tak bermoral dan tidak bertanggung jawab seperti kamu," sarkas Vivi pelan, tapi dengan suara penuh penekanan. Vivi menghentakkan tangannya hingga pegangan tangan Roni si pria brengseek itu terlepas.
"Cih! Kamu sedang bermimpi rupanya. Mana ada pria yang mau menikahi wanita yang hamil di luar nikah, jika dia tidak mendapatkan keuntungan apapun?" cibir Roni brengseek itu tersenyum sinis pada Vivi, "gugurkan kandungan mu! Aku tidak ingin suatu hari nanti kamu merusak rumah tangga ku dengan anak haram itu," ketus pria brengseek itu dengan tatapan tidak suka.
"Aku tidak akan pernah datang menemui mu, apalagi merusak rumah tangga mu menggunakan anak ini. Karena aku bukan orang rendahan yang tidak bermoral seperti kamu," sarkas Vivi yang benar-benar benci pada Roni si pria brengseek itu.
"Kau..!" geram si Roni brengseek itu dengan rahang yang mengeras dan kedua tangan yang terkepal.
"Mulai hari ini, hubungan kita putus! Jika lain kali kita bertemu, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Oh, iya, terimakasih karena telah mencampakkan aku! Jika kamu tidak mencampakkan aku, aku tidak akan pernah mendapatkan suami yang baiknya lebih dari ekspektasi ku," ucap Vivi kemudian berlalu pergi meninggalkan pria brengseek itu.
"Shiitt! Bukankah seharusnya dia sedih dan tidak bahagia? Kenapa sedikitpun tidak ada raut sedih di wajahnya karena aku tidak jadi menikahi dia?" gumam Roni brengseek itu terlihat kesal.
*
Roni nampak mengendarai mobilnya menuju pinggir pantai. Setelah tiba di pinggir pantai dan keluar dari mobilnya, pemuda gagap itu menghampiri seorang pemuda yang duduk di batang kayu yang sudah roboh. Pemuda itu nampak menatap ke arah langit senja.
"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku, hingga memilih tempat ini?" tanya Andi, sahabat Roni setelah Roni duduk di sebelahnya.
"A..a..aku.."
"Plak"
"Aku ingin meminta pendapat kamu,"ucap Roni setelah lengannya di tepuk Andi.
"Tentang apa?" tanya Andi yang menatap Roni dengan kening yang berkerut.
Roni mengeluarkan handphonenya dari saku jasnya, lalu mengetik sesuatu di handphonenya.
"Tentang rumah tangga ku. Terutama, tentang istri ku," ucap Roni dalan chat-nya pada Andi.
...🌟...
...Cinta adalah sebuah keajaiban, tetapi terkadang hanya sebuah ilusi yang tak bertepi....
...Aku tak ingin lagi menyeberangi lautan untuk mu yang bahkan tak mau melompati genangan air untukku....
...Aku tak ingin lagi menangisi orang yang tak pantas aku tangisi....
...Terimakasih karena telah pergi di saat terberat ku. Hingga aku sadar, ternyata aku bisa melaluinya tanpamu....
...Terima kasih telah pergi dan memberiku kesempatan untuk dicintai orang yang lebih baik dari mu....
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
ande
dasar roni brensek, sudshta bertanggung jawab eh malah masih mengganggu vivi
2024-01-05
3
Monica
vivi knp jd pipi thor🤭🤭
2023-12-29
1
yumna
cieeee roni curhat m andi....bakaln d ceramhan andi kah roni....?
2023-12-24
1