Semenjak Vivi dan Roni menikah, Roni memang belum memberikan uang belanja pada Vivi. Selama satu minggu berbulan madu, Roni lah yang mengeluarkan uang untuk semua kebutuhan mereka. Dan hari ini, saat Roni memberikan uang belanja, tentu saja Vivi merasa sangat senang. Padahal, Vivi belum tahu, berapa banyak saldo dalam ATM yang di berikan Roni padanya.
"Emm.. Kak, soal Aline..." Vivi nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Tidak apa-apa. Dia masih terlalu muda. Dia merasa malu karena memiliki kakak ipar yang gagap. Aku bisa memakluminya," ucap Roni dalam bahasa isyarat.
"Terimakasih, kak!" ucap Vivi tersenyum tipis, terlihat lega.
"Tidurlah lebih dulu! Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Roni dalam bahasa isyarat.
"Hum,"sahut Vivi tersenyum tipis.
Roni menuntun Vivi untuk berbaring, kemudian menyelimuti Vivi. Roni mengecup kening Vivi lembut, kemudian kembali membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Vivi menatap Roni yang duduk di tepi ranjang seraya meluruskan kakinya. Suaminya itu memangku laptopnya dan jemari tangan pemuda itu nampak bergerak lincah dan cepat di atas keyboard laptopnya.
"Sampai sekarang, dia belum juga meminta hak-nya sebagai seorang suami padaku. Padahal, dia sudah menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang suami. Bahkan, saat aku ingin melepaskan pakaian ku, dia kembali menutupnya. Apa aku harus menggoda dia agar dia meminta hak nya sebagai seorang suami? Bagaimana caraku menggoda dia, ya?" gumam Vivi dalam hati. Wanita itu nampak memikirkan cara untuk menggoda suaminya.
Setengah jam kemudian, Roni menutup laptopnya menandakan bahwa pekerjaannya sudah selesai. Pemuda itu menyalakan lampu tidur dan memadamkan lampu utama.
Roni menatap Vivi yang sudah memejamkan matanya. Pemuda itu membenahi selimut Vivi, lalu membaringkan tubuhnya di samping Vivi.
Lima belas menit kemudian, Vivi nampak membuka matanya, melirik Roni yang sudah memejamkan matanya. Nyatanya, sejak tadi wanita itu belum tidur dan hanya memejamkan matanya saja.
"Beberapa hari ini, aku sudah terbiasa tidur dalam pelukannya. Aku merasa nyaman berada dalam pelukannya," gumam Vivi dalam hati.
Dengan perlahan, Vivi beringsut mendekat ke arah Roni. Wanita itu merebahkan kepalanya di dada Roni dan memeluk Roni. Mungkin karena hormon ibu hamilnya yang membuat Vivi ingin bermanja-manja pada suaminya. Walaupun suaminya bukanlah ayah dari janin yang di kandungnya.
Malam semakin larut dan Vivi pun sudah terlelap memeluk Roni. Sedangkan Roni nampak terbangun karena merasa haus. Roni sedikit terkejut saat mendapati Vivi yang tidur dengan posisi merebahkan kepalanya di atas dadanya.
"Sejak kapan dia tidur dengan posisi seperti ini?" batin Roni yang akhirnya dengan perlahan memindahkan kepala Vivi di bantal dan melepaskan pelukan Vivi. Roni mengelus lembut kepala Vivi.
Vivi sebenarnya terbangun saat Roni memindahkan kepalanya ke bantal. Namun Vivi enggan membuka matanya karena merasa sangat mengantuk. Vivi mendengar Roni membuka dan menutup pintu kamar mereka dengan perlahan.
Roni pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Semua lampu utama di rumah itu di matikan. Hanya ada lampu dinding dengan sinar redup yang menjadi penerang .
"Brugh"
"Akkhh!"
"Akkhh"
"Pyarr"
Saat hendak masuk ke dalam dapur, tiba-tiba Roni menabrak seseorang.
Suara gelas yang pecah itu membuat Vivi terkejut dan beranjak untuk bangun.
"Bu, ada suara orang dan gelas pecah," ucap Ruslan yang baru saja selesai di antar Nuri ke kamar mandi.
"Biar ibu periksa, yah," ujar Nuri bergegas keluar dari kamarnya.
"Ctek"
Lampu utama di dalam dapur itu menyala. Dan Aline lah yang menyalakannya.
"Kau! Apa kamu jalan tidak pakai mata?" ketus Aline terlihat kesal setelah melihat dengan jelas siapa yang di bertabrakan dengan dirinya.
"Ada apa ini?" tanya Nuri membuat Roni dan Aline menoleh ke arah Nuri.
"Kak!" panggil Vivi membuat Roni, Nuri dan Aline menoleh pada Vivi yang menghampiri suaminya.
"Bu, dia menabrak aku dan membuat susu yang aku buat tumpah di tanganku," adu Aline menunjuk pada Roni, lalu menunjukkan tangannya yang memerah.
"Ma..ma.."
"Plak!"
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Roni setelah Vivi menepuk lengannya.
"Ini hanya kecelakaan. Aline, masuklah ke kamarmu dan obati lukamu dengan salep!" titah Nuri yang tidak ingin mendengar Aline mengeluarkan kata-kata yang pedas pada Roni.
Aline melirik Roni sekilas dengan tatapan penuh kebencian, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.
"Sial! Aku sudah susah payah bikin susu, eh, malah tumpah gara-gara si gagap itu," gerutu Aline lirih sambil berjalan menuju kamarnya.
Nuri menghela napas panjang menatap Aline yang baru saja berlalu, kemudian menatap Vivi,"Vi, coba lihat perut Roni! Bajunya basah. Mungkin terkena susu panas. Biar ibu yang membereskan pecahan gelasnya,"ujar Nuri bergegas mengambil penyapu dan pengki.
Pengki atau Serokan sampah adalah perkakas kebersihan untuk menampung sampah, lumpur dan sebagainya.
"Iya, Bu," sahut Vivi menarik tangan Roni, namun Roni menahannya.
"Aku ingin mengambil air minum dulu," ucap Roni berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Kakak ke kamar saja, biar aku yang mengambilkan air minum buat kakak," ucap Vivi tersenyum lembut.
Roni mengangguk kecil, tersenyum lembut, kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Vivi bergegas mengambil air minum untuk suaminya.
Tak lama kemudian Vivi sudah kembali ke dalam kamarnya. Namun, wanita itu tertegun saat melihat Roni yang duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada. Pemuda itu nampak membersihkan perutnya dari susu yang tertumpah di perutnya tadi menggunakan kain basah.
Dada bidang dan perut berotot Roni terlihat jelas di depan mata Vivi. Selama menikah dengan Roni, baru kali ini Vivi melihat Roni bertelanjang dada.
"Tubuhnya bagus sekali. Apa bentuk tubuhnya seperti itu karena dia rajin push up setiap hari? Aku tidak menyangka memiliki suami yang bertubuh atletis seperti itu," batin Vivi karena setiap hari Vivi melihat Roni selalu berolah raga dan salah satu olahraga yang selalu di lakukan Roni adalah push up. Tapi baru kali ini Vivi melihat Roni bertelanjang dada dan melihat betapa indah dan seksinya tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu..
"Vi.." panggil Roni yang melihat Vivi tertegun setelah menutup pintu.
"Ah, i..iya," sahut Vivi dengan wajah memerah karena malu ketahuan mengagumi tubuh suaminya sendiri. Wanita itu meletakkan gelas besar berisi air minum di atas nakas, lalu mengambil salep untuk mengobati perut Roni.
"Maaf! Aku seharusnya menyiapkan air minum di kamar. Agar kakak tidak perlu ke dapur dan terjadi hal seperti ini," ucap Vivi seraya duduk di sebelah Roni.
"Tidak apa. Hanya sedikit merah saja, kok. Besok juga sembuh," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis.
"Biar aku obati," ucap Vivi, lalu mengoleskan salep di perut Roni dengan hati-hati.
"Sudah larut. Sebaiknya kita tidur," ucap Roni setelah Vivi selesai mengobati perutnya dan meminum air putih yang di bawa Vivi.
"Hum," sahut Vivi tersenyum lembut.
Sepasang suami-isteri itu akhirnya kembali berbaring. Vivi nampak melirik Roni.
"Aku ingin sekali tidur di pelukannya. Tapi, aku takut kak Roni tidak suka, jika aku tidur dalam pelukannya. Aku sangat suka melihat bentuk tubuh kak Roni. Bahkan tubuh si brengseek itu tidak seindah tubuh kak Roni," batin Vivi yang jadi teringat bentuk tubuh pria yang telah merenggut kesuciannya. Sebelumnya Vivi sagat suka tidur dalam pelukan Roni. Dan sekarang semakin ingin selalu tidur di pelukan Roni setelah tahu bentuk tubuh Roni begitu indah dan seksi.
Roni menyentuh tangan Vivi dan memberi isyarat agar Vivi tidur dengan lengannya sebagai bantal Vivi. Dan tentu saja Vivi merasa senang. Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung merebahkan kepalanya di lengan Roni. Vivi semakin senang saat Roni mengarahkan tangannya untuk memeluk Roni.
"Sepertinya dia sangat suka tidur dalam pelukanku. Tapi, aku juga suka saat dia bermanja padaku seperti ini," batin Roni seraya membelai rambut Vivi.
Akhirnya malam itu Roni yang biasanya memakai kaos oblong dan celana pendek saat tidur itu hanya bertelanjang dada. Agar salep yang di pakainya tidak hilang karena tergesek pakaian.
Pagi harinya, Vivi bangun lebih dulu dari Roni dan membantu ibunya menyiapkan sarapan. Sedangkan Roni terbangun setelah Vivi hampir selesai memasak. Roni pergi ke halaman samping rumah untuk melakukan olahraga pagi. Sedangkan Vivi membersihkan diri untuk bersiap ke kantor.
Setelah Vivi selesai membersihkan diri, Roni nampak masuk ke dalam kamar itu.
"Kak, boleh aku membantu kakak menyiapkan dan memakaikan pakaian untuk kakak," ucap Vivi yang ingin berbakti pada suaminya.
Roni mengangguk seraya tersenyum tipis. Merasa senang Vivi berinisiatif seperti itu. Pemuda itu beranjak membersihkan diri, sedangkan Vivi bergegas menyiapkan pakaian Roni, lalu merias wajahnya.
Roni keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana pendek. Vivi yang sudah selesai merias diri dan siap dengan pakaian kantornya pun membantu Roni memakai kemeja, dasi dan jas Roni.
"Em.. Kak, kenapa sampai sekarang kakak tidak meminta hak kakak sebagai seorang suami?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Devi
katanya gk boleh ya menyentuh istri yg sedang hamil ank org lain.soalnya aq pernah baca cerita yg judulnya istriku haram d sentuh.dia mnggantikan posisi adiknya yg sudah meninggal.wlwpun dia mencintai istrinya tp dia tdk bisa menyentuh istrinya sampai istrinya itu melahirkan anak yg d kandungnya.krna itu anak dri adiknya yg sudah meninggal.
2024-02-04
5
ande
aduh vivi, kmukan lg hamil anak lelaki lain , jadisabar aja nunggu anak mu lahir baru bisa ena ena🤣
2024-01-04
3
Gagas Permadi
eits si Vivi tahan dulu
2024-01-03
1