12. Hak

Semenjak Vivi dan Roni menikah, Roni memang belum memberikan uang belanja pada Vivi. Selama satu minggu berbulan madu, Roni lah yang mengeluarkan uang untuk semua kebutuhan mereka. Dan hari ini, saat Roni memberikan uang belanja, tentu saja Vivi merasa sangat senang. Padahal, Vivi belum tahu, berapa banyak saldo dalam ATM yang di berikan Roni padanya.

"Emm.. Kak, soal Aline..." Vivi nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Tidak apa-apa. Dia masih terlalu muda. Dia merasa malu karena memiliki kakak ipar yang gagap. Aku bisa memakluminya," ucap Roni dalam bahasa isyarat.

"Terimakasih, kak!" ucap Vivi tersenyum tipis, terlihat lega.

"Tidurlah lebih dulu! Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Roni dalam bahasa isyarat.

"Hum,"sahut Vivi tersenyum tipis.

Roni menuntun Vivi untuk berbaring, kemudian menyelimuti Vivi. Roni mengecup kening Vivi lembut, kemudian kembali membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya.

Vivi menatap Roni yang duduk di tepi ranjang seraya meluruskan kakinya. Suaminya itu memangku laptopnya dan jemari tangan pemuda itu nampak bergerak lincah dan cepat di atas keyboard laptopnya.

"Sampai sekarang, dia belum juga meminta hak-nya sebagai seorang suami padaku. Padahal, dia sudah menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang suami. Bahkan, saat aku ingin melepaskan pakaian ku, dia kembali menutupnya. Apa aku harus menggoda dia agar dia meminta hak nya sebagai seorang suami? Bagaimana caraku menggoda dia, ya?" gumam Vivi dalam hati. Wanita itu nampak memikirkan cara untuk menggoda suaminya.

Setengah jam kemudian, Roni menutup laptopnya menandakan bahwa pekerjaannya sudah selesai. Pemuda itu menyalakan lampu tidur dan memadamkan lampu utama.

Roni menatap Vivi yang sudah memejamkan matanya. Pemuda itu membenahi selimut Vivi, lalu membaringkan tubuhnya di samping Vivi.

Lima belas menit kemudian, Vivi nampak membuka matanya, melirik Roni yang sudah memejamkan matanya. Nyatanya, sejak tadi wanita itu belum tidur dan hanya memejamkan matanya saja.

"Beberapa hari ini, aku sudah terbiasa tidur dalam pelukannya. Aku merasa nyaman berada dalam pelukannya," gumam Vivi dalam hati.

Dengan perlahan, Vivi beringsut mendekat ke arah Roni. Wanita itu merebahkan kepalanya di dada Roni dan memeluk Roni. Mungkin karena hormon ibu hamilnya yang membuat Vivi ingin bermanja-manja pada suaminya. Walaupun suaminya bukanlah ayah dari janin yang di kandungnya.

Malam semakin larut dan Vivi pun sudah terlelap memeluk Roni. Sedangkan Roni nampak terbangun karena merasa haus. Roni sedikit terkejut saat mendapati Vivi yang tidur dengan posisi merebahkan kepalanya di atas dadanya.

"Sejak kapan dia tidur dengan posisi seperti ini?" batin Roni yang akhirnya dengan perlahan memindahkan kepala Vivi di bantal dan melepaskan pelukan Vivi. Roni mengelus lembut kepala Vivi.

Vivi sebenarnya terbangun saat Roni memindahkan kepalanya ke bantal. Namun Vivi enggan membuka matanya karena merasa sangat mengantuk. Vivi mendengar Roni membuka dan menutup pintu kamar mereka dengan perlahan.

Roni pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Semua lampu utama di rumah itu di matikan. Hanya ada lampu dinding dengan sinar redup yang menjadi penerang .

"Brugh"

"Akkhh!"

"Akkhh"

"Pyarr"

Saat hendak masuk ke dalam dapur, tiba-tiba Roni menabrak seseorang.

Suara gelas yang pecah itu membuat Vivi terkejut dan beranjak untuk bangun.

"Bu, ada suara orang dan gelas pecah," ucap Ruslan yang baru saja selesai di antar Nuri ke kamar mandi.

"Biar ibu periksa, yah," ujar Nuri bergegas keluar dari kamarnya.

"Ctek"

Lampu utama di dalam dapur itu menyala. Dan Aline lah yang menyalakannya.

"Kau! Apa kamu jalan tidak pakai mata?" ketus Aline terlihat kesal setelah melihat dengan jelas siapa yang di bertabrakan dengan dirinya.

"Ada apa ini?" tanya Nuri membuat Roni dan Aline menoleh ke arah Nuri.

"Kak!" panggil Vivi membuat Roni, Nuri dan Aline menoleh pada Vivi yang menghampiri suaminya.

"Bu, dia menabrak aku dan membuat susu yang aku buat tumpah di tanganku," adu Aline menunjuk pada Roni, lalu menunjukkan tangannya yang memerah.

"Ma..ma.."

"Plak!"

"Maaf aku tidak sengaja," ucap Roni setelah Vivi menepuk lengannya.

"Ini hanya kecelakaan. Aline, masuklah ke kamarmu dan obati lukamu dengan salep!" titah Nuri yang tidak ingin mendengar Aline mengeluarkan kata-kata yang pedas pada Roni.

Aline melirik Roni sekilas dengan tatapan penuh kebencian, kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.

"Sial! Aku sudah susah payah bikin susu, eh, malah tumpah gara-gara si gagap itu," gerutu Aline lirih sambil berjalan menuju kamarnya.

Nuri menghela napas panjang menatap Aline yang baru saja berlalu, kemudian menatap Vivi,"Vi, coba lihat perut Roni! Bajunya basah. Mungkin terkena susu panas. Biar ibu yang membereskan pecahan gelasnya,"ujar Nuri bergegas mengambil penyapu dan pengki.

Pengki atau Serokan sampah adalah perkakas kebersihan untuk menampung sampah, lumpur dan sebagainya.

"Iya, Bu," sahut Vivi menarik tangan Roni, namun Roni menahannya.

"Aku ingin mengambil air minum dulu," ucap Roni berbicara menggunakan bahasa isyarat.

"Kakak ke kamar saja, biar aku yang mengambilkan air minum buat kakak," ucap Vivi tersenyum lembut.

Roni mengangguk kecil, tersenyum lembut, kemudian kembali ke kamarnya. Sedangkan Vivi bergegas mengambil air minum untuk suaminya.

Tak lama kemudian Vivi sudah kembali ke dalam kamarnya. Namun, wanita itu tertegun saat melihat Roni yang duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada. Pemuda itu nampak membersihkan perutnya dari susu yang tertumpah di perutnya tadi menggunakan kain basah.

Dada bidang dan perut berotot Roni terlihat jelas di depan mata Vivi. Selama menikah dengan Roni, baru kali ini Vivi melihat Roni bertelanjang dada.

"Tubuhnya bagus sekali. Apa bentuk tubuhnya seperti itu karena dia rajin push up setiap hari? Aku tidak menyangka memiliki suami yang bertubuh atletis seperti itu," batin Vivi karena setiap hari Vivi melihat Roni selalu berolah raga dan salah satu olahraga yang selalu di lakukan Roni adalah push up. Tapi baru kali ini Vivi melihat Roni bertelanjang dada dan melihat betapa indah dan seksinya tubuh pria yang sudah menjadi suaminya itu..

"Vi.." panggil Roni yang melihat Vivi tertegun setelah menutup pintu.

"Ah, i..iya," sahut Vivi dengan wajah memerah karena malu ketahuan mengagumi tubuh suaminya sendiri. Wanita itu meletakkan gelas besar berisi air minum di atas nakas, lalu mengambil salep untuk mengobati perut Roni.

"Maaf! Aku seharusnya menyiapkan air minum di kamar. Agar kakak tidak perlu ke dapur dan terjadi hal seperti ini," ucap Vivi seraya duduk di sebelah Roni.

"Tidak apa. Hanya sedikit merah saja, kok. Besok juga sembuh," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis.

"Biar aku obati," ucap Vivi, lalu mengoleskan salep di perut Roni dengan hati-hati.

"Sudah larut. Sebaiknya kita tidur," ucap Roni setelah Vivi selesai mengobati perutnya dan meminum air putih yang di bawa Vivi.

"Hum," sahut Vivi tersenyum lembut.

Sepasang suami-isteri itu akhirnya kembali berbaring. Vivi nampak melirik Roni.

"Aku ingin sekali tidur di pelukannya. Tapi, aku takut kak Roni tidak suka, jika aku tidur dalam pelukannya. Aku sangat suka melihat bentuk tubuh kak Roni. Bahkan tubuh si brengseek itu tidak seindah tubuh kak Roni," batin Vivi yang jadi teringat bentuk tubuh pria yang telah merenggut kesuciannya. Sebelumnya Vivi sagat suka tidur dalam pelukan Roni. Dan sekarang semakin ingin selalu tidur di pelukan Roni setelah tahu bentuk tubuh Roni begitu indah dan seksi.

Roni menyentuh tangan Vivi dan memberi isyarat agar Vivi tidur dengan lengannya sebagai bantal Vivi. Dan tentu saja Vivi merasa senang. Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung merebahkan kepalanya di lengan Roni. Vivi semakin senang saat Roni mengarahkan tangannya untuk memeluk Roni.

"Sepertinya dia sangat suka tidur dalam pelukanku. Tapi, aku juga suka saat dia bermanja padaku seperti ini," batin Roni seraya membelai rambut Vivi.

Akhirnya malam itu Roni yang biasanya memakai kaos oblong dan celana pendek saat tidur itu hanya bertelanjang dada. Agar salep yang di pakainya tidak hilang karena tergesek pakaian.

Pagi harinya, Vivi bangun lebih dulu dari Roni dan membantu ibunya menyiapkan sarapan. Sedangkan Roni terbangun setelah Vivi hampir selesai memasak. Roni pergi ke halaman samping rumah untuk melakukan olahraga pagi. Sedangkan Vivi membersihkan diri untuk bersiap ke kantor.

Setelah Vivi selesai membersihkan diri, Roni nampak masuk ke dalam kamar itu.

"Kak, boleh aku membantu kakak menyiapkan dan memakaikan pakaian untuk kakak," ucap Vivi yang ingin berbakti pada suaminya.

Roni mengangguk seraya tersenyum tipis. Merasa senang Vivi berinisiatif seperti itu. Pemuda itu beranjak membersihkan diri, sedangkan Vivi bergegas menyiapkan pakaian Roni, lalu merias wajahnya.

Roni keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan celana pendek. Vivi yang sudah selesai merias diri dan siap dengan pakaian kantornya pun membantu Roni memakai kemeja, dasi dan jas Roni.

"Em.. Kak, kenapa sampai sekarang kakak tidak meminta hak kakak sebagai seorang suami?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Devi

Devi

katanya gk boleh ya menyentuh istri yg sedang hamil ank org lain.soalnya aq pernah baca cerita yg judulnya istriku haram d sentuh.dia mnggantikan posisi adiknya yg sudah meninggal.wlwpun dia mencintai istrinya tp dia tdk bisa menyentuh istrinya sampai istrinya itu melahirkan anak yg d kandungnya.krna itu anak dri adiknya yg sudah meninggal.

2024-02-04

5

ande

ande

aduh vivi, kmukan lg hamil anak lelaki lain , jadisabar aja nunggu anak mu lahir baru bisa ena ena🤣

2024-01-04

3

Gagas Permadi

Gagas Permadi

eits si Vivi tahan dulu

2024-01-03

1

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!