"Aline!" sergah Ruslan menatap tajam pada Aline.
Ruslan sangat marah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Aline. Putri bungsunya itu benar-benar membuat Ruslan naik darah.
"Jangan tidak sopan, Aline! Roni adalah kakak ipar kamu. Kamu harus menghormati dia!" sergah Ruslan yang emosi.
"Sabar, yah!" ucap Nuri seraya mengelus lengan suaminya.
"Lama-lama anak ini bisa membuat ayah darah tinggi, Bu. Mulutnya sudah seperti tidak pernah di ajarkan sopan santun dan tata krama saja," ujar Ruslan masih menatap tajam pada Aline.
Vivi terlihat tidak enak hati pada Roni dengan kejadian itu.
"Pak, masakan ibu akan dingin, jika tidak segera di makan," ucap Vivi yang tidak ingin terjadi pertengkaran lagi di meja makan itu.
Ruslan membuang napas kasar mendengar perkataan Vivi. Ruslan menatap Roni dengan perasaan tidak enak hati.
"Maaf, Ron! Jangan di masukkan ke dalam hati apa yang di katakan oleh Aline. Bapak akan mendidiknya lebih keras lagi," ucap Ruslan yang tidak ingin Roni tersinggung.
"Ti.. "
"Plak"
"Tidak apa-apa pak Aline masih kecil jadi masih belum mengerti," ucap Roni cepat tanpa titik dan koma setelah di tepuk lengannya oleh Vivi.
Vivi memegang tangan Roni, hingga pemuda itu menoleh pada Vivi.
"Maaf!"ucap Vivi pada Roni pelan, karena merasa bersalah telah menepuk lengan Roni.
Roni tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya membalas pegangan tangan Vivi.
"Cih! Bisa-bisanya kakak menyukai pria gagap itu. Ayah dan ibu begitu menghormati pria gagap itu hanya karena telah melakukan banyak hal untuk keluarga ini. Aku yakin, orang gagap ini bujang lapuk yang nggak laku-laku karena gagap. Karena itu, dia memanfaatkan keadaan kak Vivi yang hamil di luar nikah dan di tinggal nikah calon suaminya. Dia juga memanfaatkan keadaan ayah yang lumpuh, agar bisa menikahi kak Vivi. Licik sekali," gerutu Aline dalam hati.
Vivi mengambilkan nasi dan menawarkan lauk pauk pada Roni. Pemuda itu mengangguk kecil jika mau dengan apa yang di tawarkan Vivi dan menggeleng pelan jika tidak mau.
Roni merasa senang di layani oleh Vivi. Ruslan dan Nuri juga terlihat senang dengan interaksi sepasang suami-isteri itu. Namun Aline menunjukkan raut wajah tidak suka.
Setelah makan malam selesai, Roni pamit kembali ke kamarnya. Ruslan nampak serius menonton televisi di ruangan keluarga. Pria paruh baya itu sedang menonton acara debat calon presiden yang sudah di tunggu-tunggunya dari kemarin.
Vivi membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan. Sedangkan Aline kembali ke kamarnya dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah.
"Vi, kamu beri penjelasan pada Roni tentang adik kamu, ya! Kamu tahu sendiri, adik kamu itu keras kepala dan bicaranya suka nggak pakai filter. Kata-katanya pedas seperti almarhum nenek mu. Ibu takut, Roni tidak betah tinggal di rumah ini karena Aline," ujar Nuri mengungkapkan rasa khawatirnya.
"Sepertinya Aline malu karena memiliki ipar yang gagap, Bu," sahut Vivi tersenyum masam.
"Biar nanti ibu nasehati adik kamu itu," ujar Nuri yang merasa belum bisa mendidik putrinya baik-baik.
Di kamarnya, Aline membuang napas kasar berkali-kali. Gadis itu teringat kejadian sore tadi di supermarket saat dirinya dan teman-temannya berbelanja. Beberapa jam yang lalu ..
"Aku sudah selesai belanja. Kalian sudah selesai belum?" tanya Aline pada tiga orang temannya.
"Aku sudah,"
"Aku juga sudah,"
"Kalau begitu, kita langsung ke kasir saja, karena aku juga sudah selesai berbelanja,"
Sahut teman-teman Aline yang juga sudah selesai berbelanja.
Empat orang gadis itu pun segera pergi ke kasir untuk membayar barang belanjaan mereka.
"Eh, Aline, cowok di sebelah kita ganteng juga, ya? Tubuhnya sepertinya juga kekar," bisik salah seorang teman Aline.
"Deg"
Jantung Aline rasanya berhenti berdetak saat menyadari orang yang sedang membayar belanjaan di kasir yang ada di sebelahnya adalah Roni. Orang yang di dibicarakan temannya.
"Sial! Kenapa dia juga ada di sini, sih?! Kapan dia dan kakak pulang? Semoga dia tidak melihat aku. Mana aku ada di sebelahnya lagi," gumam Aline dalam hati seraya berdiri membelakangi Roni.
"A.. A.. Aline. Be..be.. belanjaan kamu ja.. ja.. jadiin satu sa..sa.. saja.. de..de.. dengan belanjaan ka..ka..kakak," ucap Roni membuat Aline mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya menahan amarah.
"Eh, Aline kamu kenal sama kakak ini?" tanya teman Aline terkejut.
"Tidak. Dia hanya pria tidak tahu diri yang mengejar-ngejar kakakku," sahut Aline, lalu menatap Roni, "hei, kamu! Nggak usah SKSD,. Sok Kenal Sok Dekat! Menyebalkan sekali!" ketus Aline pada Roni.
Roni menghela napas berat, kemudian membayar belanjaannya yang sudah selesai di hitung kasir. Pemuda itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Aline.
"Kamu ini, Lin. Aturan biarkan saja dia membayar belanjaan kamu. Kan, lumayan,"
"Iya, Lin. Lumayan buat traktir kami beli bakso,"
"Tampangnya tampan, tubuhnya sepertinya juga atletis. Sayangnya.. gagap," ujar teman-teman Aline, kemudian tertawa.
"Memalukan sekali! Bagaimana jadinya kalau teman-teman ku tahu, kalau orang gagap itu adalah suami kakakku? Aku pasti di ejek dan di olok-olok habis-habisan," gumam Aline dalam hati.
"Dasar bocah!" gumam sang kasir menghela napas kasar mendengar para gadis itu menertawakan Roni yang gagap.
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Aline terhenyak dari lamunannya. Tak lama kemudian, Nuri pun muncul.
"Lin, ibu ingin bicara padamu," ucap Nuri dengan ekspresi serius.
"Jika ibu ingin bicara soal orang gagap itu, aku tidak mau mendengarnya," ucap Aline yang sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh ibunya.
"Jangan bicara seperti itu, Lin! Kita telah banyak berhutang budi pada kakak iparmu. Jika tidak ada kakak iparmu, saat ini kakak mu pasti sudah di kubur karena bunuh diri. Kalau pun tidak mati, kita akan malu karena acara pernikahan kakak kamu terpaksa harus di batalkan. Belum lagi, sekarang ayah kamu lumpuh seperti ini. Ayah mu tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kita lagi,"
"Bahkan, ibu harus berhenti bekerja karena harus mengurus ayahmu. Sekarang ini, kakak dan kakak iparmu lah yang mencukupi kebutuhan keluarga kita. Kakak.iparmu bahkan mengusahakan agar kaki ayah kamu bisa sembuh lagi. Jadi, hormatilah mereka. Terutama kakak ipar mu. Jika tidak bisa berkata-kata yang baik dan manis padanya, lebih baik kamu diam. Pokoknya ibu tidak mau lagi mendengar kamu melontarkan kata-kata pedas pada kakak iparmu," ucap Nuri, lalu keluar dari kamar putrinya itu.
"Menyebalkan sekali! Aku akan menjaga kesucian ku sebaik mungkin. Agar apa yang menimpa kakak tidak terjadi padaku. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak sempurna, seperti kakak yang terpaksa menikah dengan orang gagap itu. Aku ingin pria yang sempurna sebagai pendamping hidup ku kelak," gumam Aline setelah ibunya keluar dari kamarnya.
Sementara itu, Vivi nampak masuk ke dalam kamarnya. Roni yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memangku laptopnya menatap Vivi sekilas dan tersenyum tipis pada Vivi. Pemuda itu menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas. Roni memberi isyarat pada Vivi agar duduk di sebelahnya.
Tanpa membantah, Vivi pun duduk di sebelah Roni. Roni mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya. Roni menarik tangan Vivi lembut, lalu meletakkan kartu ATM itu di telapak tangan Vivi.
"Kak, ini untuk apa?" tanya Vivi menatap Roni.
"Ini uang belanja pertama kamu. Nomor PIN ATM itu adalah tanggal pernikahan kita. Selanjutnya, aku akan mentransfer sepuluh juta per bulan padamu. Jika kurang, kamu bisa meminta lagi dariku," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum lembut.
"Terimakasih, kak. Aku akan menggunakan uang ini dengan bijaksana. Kakak jangan memberikan semua penghasilan kakak padaku. Simpanlah sebagian untuk keperluan kakak!" ucap Vivi tersenyum lembut.
"Jangan khawatir! Aku masih menyisihkan uang untuk keperluan pribadiku," ucap Roni dalam bahasa isyarat. Sebenarnya Roni memiliki banyak kekayaan dan belum di ketahui oleh Vivi.
...🌟"Memimpikan kesempurnaan hanya akan mendatangkan kekecewaan. Karena mimpi yang sempurna sangat sulit menjadi kenyataan."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Mamah Memey
ih jadi kasihan sama ronu Gaga gara si alien
2024-09-08
1
cenil
aline ini sdh kuliah artinya sdh dewasa, tp sifatnya masih spt org yg berpendidikan rendah....gak tahu diri banget...kecewa boleh...tp harusnya bisa ngontrol bicara dong jgn boddy saming, apalagi sama orang yg lebih tua
2024-08-01
2
雅婷郭
jg diksh duit tuh sialine mulut pedas biar kspok
2024-07-21
0