11. Yang Sempurna

"Aline!" sergah Ruslan menatap tajam pada Aline.

Ruslan sangat marah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Aline. Putri bungsunya itu benar-benar membuat Ruslan naik darah.

"Jangan tidak sopan, Aline! Roni adalah kakak ipar kamu. Kamu harus menghormati dia!" sergah Ruslan yang emosi.

"Sabar, yah!" ucap Nuri seraya mengelus lengan suaminya.

"Lama-lama anak ini bisa membuat ayah darah tinggi, Bu. Mulutnya sudah seperti tidak pernah di ajarkan sopan santun dan tata krama saja," ujar Ruslan masih menatap tajam pada Aline.

Vivi terlihat tidak enak hati pada Roni dengan kejadian itu.

"Pak, masakan ibu akan dingin, jika tidak segera di makan," ucap Vivi yang tidak ingin terjadi pertengkaran lagi di meja makan itu.

Ruslan membuang napas kasar mendengar perkataan Vivi. Ruslan menatap Roni dengan perasaan tidak enak hati.

"Maaf, Ron! Jangan di masukkan ke dalam hati apa yang di katakan oleh Aline. Bapak akan mendidiknya lebih keras lagi," ucap Ruslan yang tidak ingin Roni tersinggung.

"Ti.. "

"Plak"

"Tidak apa-apa pak Aline masih kecil jadi masih belum mengerti," ucap Roni cepat tanpa titik dan koma setelah di tepuk lengannya oleh Vivi.

Vivi memegang tangan Roni, hingga pemuda itu menoleh pada Vivi.

"Maaf!"ucap Vivi pada Roni pelan, karena merasa bersalah telah menepuk lengan Roni.

Roni tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya membalas pegangan tangan Vivi.

"Cih! Bisa-bisanya kakak menyukai pria gagap itu. Ayah dan ibu begitu menghormati pria gagap itu hanya karena telah melakukan banyak hal untuk keluarga ini. Aku yakin, orang gagap ini bujang lapuk yang nggak laku-laku karena gagap. Karena itu, dia memanfaatkan keadaan kak Vivi yang hamil di luar nikah dan di tinggal nikah calon suaminya. Dia juga memanfaatkan keadaan ayah yang lumpuh, agar bisa menikahi kak Vivi. Licik sekali," gerutu Aline dalam hati.

Vivi mengambilkan nasi dan menawarkan lauk pauk pada Roni. Pemuda itu mengangguk kecil jika mau dengan apa yang di tawarkan Vivi dan menggeleng pelan jika tidak mau.

Roni merasa senang di layani oleh Vivi. Ruslan dan Nuri juga terlihat senang dengan interaksi sepasang suami-isteri itu. Namun Aline menunjukkan raut wajah tidak suka.

Setelah makan malam selesai, Roni pamit kembali ke kamarnya. Ruslan nampak serius menonton televisi di ruangan keluarga. Pria paruh baya itu sedang menonton acara debat calon presiden yang sudah di tunggu-tunggunya dari kemarin.

Vivi membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan. Sedangkan Aline kembali ke kamarnya dengan alasan ingin mengerjakan tugas kuliah.

"Vi, kamu beri penjelasan pada Roni tentang adik kamu, ya! Kamu tahu sendiri, adik kamu itu keras kepala dan bicaranya suka nggak pakai filter. Kata-katanya pedas seperti almarhum nenek mu. Ibu takut, Roni tidak betah tinggal di rumah ini karena Aline," ujar Nuri mengungkapkan rasa khawatirnya.

"Sepertinya Aline malu karena memiliki ipar yang gagap, Bu," sahut Vivi tersenyum masam.

"Biar nanti ibu nasehati adik kamu itu," ujar Nuri yang merasa belum bisa mendidik putrinya baik-baik.

Di kamarnya, Aline membuang napas kasar berkali-kali. Gadis itu teringat kejadian sore tadi di supermarket saat dirinya dan teman-temannya berbelanja. Beberapa jam yang lalu ..

"Aku sudah selesai belanja. Kalian sudah selesai belum?" tanya Aline pada tiga orang temannya.

"Aku sudah,"

"Aku juga sudah,"

"Kalau begitu, kita langsung ke kasir saja, karena aku juga sudah selesai berbelanja,"

Sahut teman-teman Aline yang juga sudah selesai berbelanja.

Empat orang gadis itu pun segera pergi ke kasir untuk membayar barang belanjaan mereka.

"Eh, Aline, cowok di sebelah kita ganteng juga, ya? Tubuhnya sepertinya juga kekar," bisik salah seorang teman Aline.

"Deg"

Jantung Aline rasanya berhenti berdetak saat menyadari orang yang sedang membayar belanjaan di kasir yang ada di sebelahnya adalah Roni. Orang yang di dibicarakan temannya.

"Sial! Kenapa dia juga ada di sini, sih?! Kapan dia dan kakak pulang? Semoga dia tidak melihat aku. Mana aku ada di sebelahnya lagi," gumam Aline dalam hati seraya berdiri membelakangi Roni.

"A.. A.. Aline. Be..be.. belanjaan kamu ja.. ja.. jadiin satu sa..sa.. saja.. de..de.. dengan belanjaan ka..ka..kakak," ucap Roni membuat Aline mengepalkan kedua tangannya dan menggertakkan giginya menahan amarah.

"Eh, Aline kamu kenal sama kakak ini?" tanya teman Aline terkejut.

"Tidak. Dia hanya pria tidak tahu diri yang mengejar-ngejar kakakku," sahut Aline, lalu menatap Roni, "hei, kamu! Nggak usah SKSD,. Sok Kenal Sok Dekat! Menyebalkan sekali!" ketus Aline pada Roni.

Roni menghela napas berat, kemudian membayar belanjaannya yang sudah selesai di hitung kasir. Pemuda itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Aline.

"Kamu ini, Lin. Aturan biarkan saja dia membayar belanjaan kamu. Kan, lumayan,"

"Iya, Lin. Lumayan buat traktir kami beli bakso,"

"Tampangnya tampan, tubuhnya sepertinya juga atletis. Sayangnya.. gagap," ujar teman-teman Aline, kemudian tertawa.

"Memalukan sekali! Bagaimana jadinya kalau teman-teman ku tahu, kalau orang gagap itu adalah suami kakakku? Aku pasti di ejek dan di olok-olok habis-habisan," gumam Aline dalam hati.

"Dasar bocah!" gumam sang kasir menghela napas kasar mendengar para gadis itu menertawakan Roni yang gagap.

"Tok! Tok! Tok!"

Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Aline terhenyak dari lamunannya. Tak lama kemudian, Nuri pun muncul.

"Lin, ibu ingin bicara padamu," ucap Nuri dengan ekspresi serius.

"Jika ibu ingin bicara soal orang gagap itu, aku tidak mau mendengarnya," ucap Aline yang sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh ibunya.

"Jangan bicara seperti itu, Lin! Kita telah banyak berhutang budi pada kakak iparmu. Jika tidak ada kakak iparmu, saat ini kakak mu pasti sudah di kubur karena bunuh diri. Kalau pun tidak mati, kita akan malu karena acara pernikahan kakak kamu terpaksa harus di batalkan. Belum lagi, sekarang ayah kamu lumpuh seperti ini. Ayah mu tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kita lagi,"

"Bahkan, ibu harus berhenti bekerja karena harus mengurus ayahmu. Sekarang ini, kakak dan kakak iparmu lah yang mencukupi kebutuhan keluarga kita. Kakak.iparmu bahkan mengusahakan agar kaki ayah kamu bisa sembuh lagi. Jadi, hormatilah mereka. Terutama kakak ipar mu. Jika tidak bisa berkata-kata yang baik dan manis padanya, lebih baik kamu diam. Pokoknya ibu tidak mau lagi mendengar kamu melontarkan kata-kata pedas pada kakak iparmu," ucap Nuri, lalu keluar dari kamar putrinya itu.

"Menyebalkan sekali! Aku akan menjaga kesucian ku sebaik mungkin. Agar apa yang menimpa kakak tidak terjadi padaku. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak sempurna, seperti kakak yang terpaksa menikah dengan orang gagap itu. Aku ingin pria yang sempurna sebagai pendamping hidup ku kelak," gumam Aline setelah ibunya keluar dari kamarnya.

Sementara itu, Vivi nampak masuk ke dalam kamarnya. Roni yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memangku laptopnya menatap Vivi sekilas dan tersenyum tipis pada Vivi. Pemuda itu menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas. Roni memberi isyarat pada Vivi agar duduk di sebelahnya.

Tanpa membantah, Vivi pun duduk di sebelah Roni. Roni mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu ATM dari dalam dompetnya. Roni menarik tangan Vivi lembut, lalu meletakkan kartu ATM itu di telapak tangan Vivi.

"Kak, ini untuk apa?" tanya Vivi menatap Roni.

"Ini uang belanja pertama kamu. Nomor PIN ATM itu adalah tanggal pernikahan kita. Selanjutnya, aku akan mentransfer sepuluh juta per bulan padamu. Jika kurang, kamu bisa meminta lagi dariku," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum lembut.

"Terimakasih, kak. Aku akan menggunakan uang ini dengan bijaksana. Kakak jangan memberikan semua penghasilan kakak padaku. Simpanlah sebagian untuk keperluan kakak!" ucap Vivi tersenyum lembut.

"Jangan khawatir! Aku masih menyisihkan uang untuk keperluan pribadiku," ucap Roni dalam bahasa isyarat. Sebenarnya Roni memiliki banyak kekayaan dan belum di ketahui oleh Vivi.

...🌟"Memimpikan kesempurnaan hanya akan mendatangkan kekecewaan. Karena mimpi yang sempurna sangat sulit menjadi kenyataan."🌟...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Mamah Memey

Mamah Memey

ih jadi kasihan sama ronu Gaga gara si alien

2024-09-08

1

cenil

cenil

aline ini sdh kuliah artinya sdh dewasa, tp sifatnya masih spt org yg berpendidikan rendah....gak tahu diri banget...kecewa boleh...tp harusnya bisa ngontrol bicara dong jgn boddy saming, apalagi sama orang yg lebih tua

2024-08-01

2

雅婷郭

雅婷郭

jg diksh duit tuh sialine mulut pedas biar kspok

2024-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!