Roni terkejut saat Vivi mengira dirinya jijik pada Vivi yang sudah tidak suci lagi dan sedang mengandung anak pria lain. Pemuda itu nampak menghela napas.
"Bukan. Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman atau terganggu, jika aku tidur satu ranjang dengan kamu. Karena kita baru beberapa hari saling mengenal. Belum banyak waktu yang kita habiskan bersama. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk menyukai aku. Aku tidak ingin kamu merasa canggung padaku. Kita akan menjalani hubungan ini secara perlahan dan mengalir apa adanya," jawab Roni dalam bahasa isyarat.
Hal itu semakin membuat hati Vivi terenyuh. Vivi tidak menyangka, kalau Roni benar-benar tidak ingin membuat dirinya merasa canggung, apalagi sampai merasa tidak nyaman.
"Aku akan mencoba membiasakan diri untuk tidur satu ranjang dengan kakak. Aku.. aku.. akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak. Melayani semua kebutuhan kakak. Jika.. jika kakak ingin meminta hak kakak sebagai seorang suami, aku siap menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri," ucap Vivi dengan wajah tertunduk dan memerah karena malu.
"Dia bersedia aku sentuh? Bersedia memberikan hak ku sebagai seorang suami?" gumam Roni dalam hati.
Roni nampak terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Vivi. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka, kalau Vivi bersedia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, bahkan kewajiban di atas ranjang.
Vivi memberanikan diri kembali menatap Roni yang menatapnya lekat.
"Kakak jangan ragu! Aku sekarang adalah istri kakak. Maka dari itu, aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai istri kakak tanpa terkecuali," ucap Vivi kemudian kembali menunduk.
Vivi menarik tali baju kimono yang di kenakan nya dan perlahan membuka baju itu. Perlahan pundak putih mulus Vivi pun terlihat. Vivi semakin menurunkan baju kimono yang dikenakannya, hingga lingerie berwarna hitam yang kontras dengan warna kulit putih Vivi itu terlihat.
Namun Vivi nampak terkejut dan langsung menatap Roni, saat Roni memegang tangannya yang hendak melepaskan baju kimononya itu. Roni membenahi baju Vivi dan kembali mengikatkan tali baju kimono Vivi.
"Ke.. Kenapa? Kakak tidak ingin menyentuh aku?" tanya Vivi menatap Roni dengan tatapan kecewa.
"Hari ini kamu sudah cukup lelah. Dan itu akan berpengaruh pada bayi dalam kandungan kamu. Jika aku meminta hak ku malam ini, aku takut terjadi apa-apa pada bayi di dalam kandungan kamu. Sebaiknya kita tidur," ucap Roni dalam bahasa isyarat, lalu menuntun Vivi untuk berbaring.
"Dia begitu memikirkan aku. Aku rasa, sedikit demi sedikit aku sudah mulai mencintai dia," gumam Vivi dalam hati.
Roni menyelimuti tubuh Vivi, kemudian berjalan ke arah sisi ranjang yang lain. Pemuda itu naik ke atas ranjang, lalu mengecup kening Vivi.
"Selamat malam!" ucap Roni dalam bahasa isyarat dengan senyuman lembut di bibirnya.
"Selamat malam!" ucap Vivi yang juga tersenyum lembut pada Roni.
Roni membaringkan tubuhnya di sebelah Vivi. Berbaring miring menghadap Vivi seraya menggenggam jemari tangan Vivi, lalu memejamkan matanya.
Vivi menatap Roni yang sudah memejamkan matanya. Tanpa terasa air mata Vivi menetes.
"Baru beberapa hari kami saling mengenal. Tapi, dia selalu membuat aku merasa nyaman saat aku berada di sisinya. Aku menyesal, karena tidak bertemu dia dari awal. Aku berjanji akan mencintai mu sampai napas terakhir ku, kak,"gumam Vivi dalam hati, menitikkan air mata dalam senyuman.
*
Roni membawa Vivi pergi berbulan madu di beberapa tempat selama satu minggu. Mencoba saling mengenal lebih jauh, saling mengerti dan saling memahami.
Roni membawa Vivi ke wisata taman bunga. Hamparan bunga-bunga yang bermekaran terlihat begitu indah.
"Kamu suka?" tanya Roni dalam bahasa isyarat.
"Suka. Terimakasih, kak!" ucap Vivi penuh senyuman.
Sepasang pengantin baru itu berjalan-jalan di taman bunga. Vivi semakin senang saat Roni bersedia memotretnya di spot-spot yang tampak estetik.
"Kak, aku ingin memiliki foto kenang-kenangan di tempat ini bersama kakak. Apa kakak mau?" tanya Vivi penuh harap.
Roni tersenyum tipis seraya mengangguk kecil tanda setuju. Dan hal itupun membuat Vivi senang. Roni meminta anak buahnya untuk memotret mereka berdua.
Vivi tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Tanpa merasa malu, wanita yang selalu terlihat ceria semenjak menikah dengan Roni itu meminta Roni berpose sesuai keinginannya. Roni pun selalu menuruti apa yang diinginkan oleh Vivi. Dan hal itu tentu saja membuat Vivi semakin bahagia.
"Kak, tidak perlu membawa ku makan di tempat yang terlalu bagus. Sayang uangnya," ucap Vivi saat Roni membawanya ke restoran yang tergolong mewah.
"Sekali-kali tidak apa-apa," ucap Roni yang selalu menggunakan bahasa isyarat saat bersama Vivi. Pemuda itu tersenyum tipis, lalu menggandeng Vivi masuk ke dalam restoran.
Roni memilih menulis sendiri menu yang ingin di pesan olehnya. Sedangkan Vivi memilih memesan makanan yang sama dengan suaminya.
Seorang pria nampak mengamati kebersamaan Vivi dengan Roni. Menatap sepasang suami-isteri itu dengan tatapan tidak suka.
Setelah seharian berwisata di beberapa tempat, akhirnya sepasang suami-isteri itu pergi ke hotel untuk beristirahat.
"Tidurlah! Pasti hari ini kamu sangat capek," ucap Roni seraya mengelus kepala Vivi dengan lembut.
"Hum. Terimakasih, kak! Hari ini, aku sangat bahagia," ucap Vivi jujur adanya.
Roni tersenyum lembut, kemudian menuntun Vivi untuk berbaring. Setelah Roni berbaring, Vivi memiringkan tubuhnya menghadap Roni.
"Kak, boleh aku tidur di sini?" tanya Vivi sedikit ragu menepuk lengan Roni.
Roni tersenyum seraya mengangguk kecil tanda mengizinkan Vivi tidur di lengannya. Vivi pun tersenyum cerah dan beringsut membaringkan tubuhnya di dekat Roni dengan menjadikan lengan Roni sebagai bantalnya.
Tanpa di duga Vivi, Roni memiringkan tubuhnya memeluk Vivi. Vivi pun tersenyum memeluk lengan Roni yang memeluknya.
"Aku harap, seiring berjalannya waktu, kak Roni bisa mencintai ku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya," gumam Vivi dalam hati.
"Vivi gadis yang ceria dan lembut. Semua keinginannya adalah hal-hal sederhana. Dan semua hal sederhana itu sepertinya sudah cukup membuatnya merasa bahagia. Dan entah mengapa, aku merasa bahagia dan nyaman saat bersamanya," gumam Roni dalam hati.
Waktu terus berjalan. Selama satu minggu bersama, Roni dan Vivi tidak lagi merasa canggung seperti sebelumnya. Namun, sampai saat ini, Roni belum meminta hak nya sebagai seorang suami.
Hari ini mereka pulang, karena esok sudah harus kembali bekerja. Selama berbulan madu, Roni menyuruh Vivi untuk membeli oleh-oleh bagi orang tua, adik, kerabat dan orang-orang terdekat Vivi. Walaupun Vivi sudah menolak, tapi Roni tetap memaksa. Roni juga membeli oleh-oleh untuk orang-orang terdekatnya.
Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, akhirnya Roni sampai juga di rumah mertuanya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Roni memasuki pekarangan rumah mertuanya. Pemuda itu memarkirkan mobilnya di samping rumah.
Nuri nampak keluar dari dalam rumah saat melihat mobil menantunya memasuki pekarangan rumahnya.
"Dia masih tidur? Vivi pasti kelelahan," gumam Roni dalam hati saat melihat Vivi masih tidur.
Roni tidak membangunkan Vivi. Pemuda itu memilih menggendong Vivi ke dalam rumah mertuanya.
"Vivi tidur?" tanya Nuri pelan saat Roni menggendong Vivi keluar dari mobil.
"I . i. iya, Bu," sahut Roni pelan, karena tidak ingin membuat Vivi terbangun.
Nuri mengarahkan Roni ke kamar Vivi. Wanita paruh baya itu membukakan pintu kamar Vivi agar Roni bisa masuk dengan mudah.
Setelah membaringkan Vivi di atas ranjang, Roni kembali ke mobilnya untuk mengambil oleh-oleh yang dibelinya bersama Vivi.
"Ti.. ti.. tidak pe.. pe.. perlu, Bu. Bi.. bi..biar saya saja," ucap Roni saat Nuri ingin membantunya membawa masuk barang-barang yang di belinya bersama Vivi.
"Tidak apa. Tidak berat, kok," sahut Nuri. Sedangkan Ruslan hanya bisa melihat istri dan menantunya membawa masuk barang-barang dari mobil Roni ke kamar Vivi.
Di dalam kamar Vivi, wanita itu nampak sudah mulai terbangun. Vivi nampak terkejut saat menyadari dirinya sudah ada di kamarnya. Vivi melihat Roni masuk ke dalam kamar.
"Kak Roni menggendong aku ke kamar? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Vivi menutup mulutnya yang menguap.
"Kamu terlihat lelah. Jadi, aku tidak membangunkan kamu. Aku sudah memisahkan oleh-oleh yang akan aku berikan pada orang-orang terdekatku. Kamu bisa membagikan sisanya pada orang yang kamu kehendaki," ucap Roni dalam bahasa isyarat.
"Terimakasih, kak," ucap Vivi tersenyum hangat.
Malam menjelang, Vivi dan Roni pun keluar dari kamar mereka untuk makan malam bersama. Ruslan, Nuri dan Aline sudah ada di meja makan menunggu sepasang pengantin baru itu.
"Ibu tidak terlalu bisa memasak, Ron. Semoga rasanya tidak terlalu buruk," ucap Nuri yang sudah berusaha sebaik mungkin memasak untuk keluarganya.
"Ma..ma.. masakan ya..yang di bu..buat dengan ci..cin..cinta pasti e..e..enak," ucap Roni tersenyum hangat.
"Sudah, sih, Bu! Tidak usah mengajak dia bicara. Bikin sesak napas saja. Aku takut kita semua lama-lama jadi darah tinggi karena menunggu dia selesai bicara. Kapan kakak akan bercerai dari orang gagap ini?" cetus Aline tidak suka.
"Aline!"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
雅婷郭
ckkk...g punya adab bnget ini sialine
2024-07-21
0
Sulaiman Efendy
ASLI GK PNY ETHIKA & AHKLAK NI SI ALINE..
2024-07-15
2
Sulaiman Efendy
SAYANGNYA KBRSAMAAN MRK TDK LMA..
2024-07-15
2