10. Nyaman

Roni terkejut saat Vivi mengira dirinya jijik pada Vivi yang sudah tidak suci lagi dan sedang mengandung anak pria lain. Pemuda itu nampak menghela napas.

"Bukan. Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Aku hanya takut kamu merasa tidak nyaman atau terganggu, jika aku tidur satu ranjang dengan kamu. Karena kita baru beberapa hari saling mengenal. Belum banyak waktu yang kita habiskan bersama. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk menyukai aku. Aku tidak ingin kamu merasa canggung padaku. Kita akan menjalani hubungan ini secara perlahan dan mengalir apa adanya," jawab Roni dalam bahasa isyarat.

Hal itu semakin membuat hati Vivi terenyuh. Vivi tidak menyangka, kalau Roni benar-benar tidak ingin membuat dirinya merasa canggung, apalagi sampai merasa tidak nyaman.

"Aku akan mencoba membiasakan diri untuk tidur satu ranjang dengan kakak. Aku.. aku.. akan berusaha menjadi istri yang baik untuk kakak. Melayani semua kebutuhan kakak. Jika.. jika kakak ingin meminta hak kakak sebagai seorang suami, aku siap menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri," ucap Vivi dengan wajah tertunduk dan memerah karena malu.

"Dia bersedia aku sentuh? Bersedia memberikan hak ku sebagai seorang suami?" gumam Roni dalam hati.

Roni nampak terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Vivi. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka, kalau Vivi bersedia menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, bahkan kewajiban di atas ranjang.

Vivi memberanikan diri kembali menatap Roni yang menatapnya lekat.

"Kakak jangan ragu! Aku sekarang adalah istri kakak. Maka dari itu, aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai istri kakak tanpa terkecuali," ucap Vivi kemudian kembali menunduk.

Vivi menarik tali baju kimono yang di kenakan nya dan perlahan membuka baju itu. Perlahan pundak putih mulus Vivi pun terlihat. Vivi semakin menurunkan baju kimono yang dikenakannya, hingga lingerie berwarna hitam yang kontras dengan warna kulit putih Vivi itu terlihat.

Namun Vivi nampak terkejut dan langsung menatap Roni, saat Roni memegang tangannya yang hendak melepaskan baju kimononya itu. Roni membenahi baju Vivi dan kembali mengikatkan tali baju kimono Vivi.

"Ke.. Kenapa? Kakak tidak ingin menyentuh aku?" tanya Vivi menatap Roni dengan tatapan kecewa.

"Hari ini kamu sudah cukup lelah. Dan itu akan berpengaruh pada bayi dalam kandungan kamu. Jika aku meminta hak ku malam ini, aku takut terjadi apa-apa pada bayi di dalam kandungan kamu. Sebaiknya kita tidur," ucap Roni dalam bahasa isyarat, lalu menuntun Vivi untuk berbaring.

"Dia begitu memikirkan aku. Aku rasa, sedikit demi sedikit aku sudah mulai mencintai dia," gumam Vivi dalam hati.

Roni menyelimuti tubuh Vivi, kemudian berjalan ke arah sisi ranjang yang lain. Pemuda itu naik ke atas ranjang, lalu mengecup kening Vivi.

"Selamat malam!" ucap Roni dalam bahasa isyarat dengan senyuman lembut di bibirnya.

"Selamat malam!" ucap Vivi yang juga tersenyum lembut pada Roni.

Roni membaringkan tubuhnya di sebelah Vivi. Berbaring miring menghadap Vivi seraya menggenggam jemari tangan Vivi, lalu memejamkan matanya.

Vivi menatap Roni yang sudah memejamkan matanya. Tanpa terasa air mata Vivi menetes.

"Baru beberapa hari kami saling mengenal. Tapi, dia selalu membuat aku merasa nyaman saat aku berada di sisinya. Aku menyesal, karena tidak bertemu dia dari awal. Aku berjanji akan mencintai mu sampai napas terakhir ku, kak,"gumam Vivi dalam hati, menitikkan air mata dalam senyuman.

*

Roni membawa Vivi pergi berbulan madu di beberapa tempat selama satu minggu. Mencoba saling mengenal lebih jauh, saling mengerti dan saling memahami.

Roni membawa Vivi ke wisata taman bunga. Hamparan bunga-bunga yang bermekaran terlihat begitu indah.

"Kamu suka?" tanya Roni dalam bahasa isyarat.

"Suka. Terimakasih, kak!" ucap Vivi penuh senyuman.

Sepasang pengantin baru itu berjalan-jalan di taman bunga. Vivi semakin senang saat Roni bersedia memotretnya di spot-spot yang tampak estetik.

"Kak, aku ingin memiliki foto kenang-kenangan di tempat ini bersama kakak. Apa kakak mau?" tanya Vivi penuh harap.

Roni tersenyum tipis seraya mengangguk kecil tanda setuju. Dan hal itupun membuat Vivi senang. Roni meminta anak buahnya untuk memotret mereka berdua.

Vivi tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Tanpa merasa malu, wanita yang selalu terlihat ceria semenjak menikah dengan Roni itu meminta Roni berpose sesuai keinginannya. Roni pun selalu menuruti apa yang diinginkan oleh Vivi. Dan hal itu tentu saja membuat Vivi semakin bahagia.

"Kak, tidak perlu membawa ku makan di tempat yang terlalu bagus. Sayang uangnya," ucap Vivi saat Roni membawanya ke restoran yang tergolong mewah.

"Sekali-kali tidak apa-apa," ucap Roni yang selalu menggunakan bahasa isyarat saat bersama Vivi. Pemuda itu tersenyum tipis, lalu menggandeng Vivi masuk ke dalam restoran.

Roni memilih menulis sendiri menu yang ingin di pesan olehnya. Sedangkan Vivi memilih memesan makanan yang sama dengan suaminya.

Seorang pria nampak mengamati kebersamaan Vivi dengan Roni. Menatap sepasang suami-isteri itu dengan tatapan tidak suka.

Setelah seharian berwisata di beberapa tempat, akhirnya sepasang suami-isteri itu pergi ke hotel untuk beristirahat.

"Tidurlah! Pasti hari ini kamu sangat capek," ucap Roni seraya mengelus kepala Vivi dengan lembut.

"Hum. Terimakasih, kak! Hari ini, aku sangat bahagia," ucap Vivi jujur adanya.

Roni tersenyum lembut, kemudian menuntun Vivi untuk berbaring. Setelah Roni berbaring, Vivi memiringkan tubuhnya menghadap Roni.

"Kak, boleh aku tidur di sini?" tanya Vivi sedikit ragu menepuk lengan Roni.

Roni tersenyum seraya mengangguk kecil tanda mengizinkan Vivi tidur di lengannya. Vivi pun tersenyum cerah dan beringsut membaringkan tubuhnya di dekat Roni dengan menjadikan lengan Roni sebagai bantalnya.

Tanpa di duga Vivi, Roni memiringkan tubuhnya memeluk Vivi. Vivi pun tersenyum memeluk lengan Roni yang memeluknya.

"Aku harap, seiring berjalannya waktu, kak Roni bisa mencintai ku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya," gumam Vivi dalam hati.

"Vivi gadis yang ceria dan lembut. Semua keinginannya adalah hal-hal sederhana. Dan semua hal sederhana itu sepertinya sudah cukup membuatnya merasa bahagia. Dan entah mengapa, aku merasa bahagia dan nyaman saat bersamanya," gumam Roni dalam hati.

Waktu terus berjalan. Selama satu minggu bersama, Roni dan Vivi tidak lagi merasa canggung seperti sebelumnya. Namun, sampai saat ini, Roni belum meminta hak nya sebagai seorang suami.

Hari ini mereka pulang, karena esok sudah harus kembali bekerja. Selama berbulan madu, Roni menyuruh Vivi untuk membeli oleh-oleh bagi orang tua, adik, kerabat dan orang-orang terdekat Vivi. Walaupun Vivi sudah menolak, tapi Roni tetap memaksa. Roni juga membeli oleh-oleh untuk orang-orang terdekatnya.

Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, akhirnya Roni sampai juga di rumah mertuanya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Roni memasuki pekarangan rumah mertuanya. Pemuda itu memarkirkan mobilnya di samping rumah.

Nuri nampak keluar dari dalam rumah saat melihat mobil menantunya memasuki pekarangan rumahnya.

"Dia masih tidur? Vivi pasti kelelahan," gumam Roni dalam hati saat melihat Vivi masih tidur.

Roni tidak membangunkan Vivi. Pemuda itu memilih menggendong Vivi ke dalam rumah mertuanya.

"Vivi tidur?" tanya Nuri pelan saat Roni menggendong Vivi keluar dari mobil.

"I . i. iya, Bu," sahut Roni pelan, karena tidak ingin membuat Vivi terbangun.

Nuri mengarahkan Roni ke kamar Vivi. Wanita paruh baya itu membukakan pintu kamar Vivi agar Roni bisa masuk dengan mudah.

Setelah membaringkan Vivi di atas ranjang, Roni kembali ke mobilnya untuk mengambil oleh-oleh yang dibelinya bersama Vivi.

"Ti.. ti.. tidak pe.. pe.. perlu, Bu. Bi.. bi..biar saya saja," ucap Roni saat Nuri ingin membantunya membawa masuk barang-barang yang di belinya bersama Vivi.

"Tidak apa. Tidak berat, kok," sahut Nuri. Sedangkan Ruslan hanya bisa melihat istri dan menantunya membawa masuk barang-barang dari mobil Roni ke kamar Vivi.

Di dalam kamar Vivi, wanita itu nampak sudah mulai terbangun. Vivi nampak terkejut saat menyadari dirinya sudah ada di kamarnya. Vivi melihat Roni masuk ke dalam kamar.

"Kak Roni menggendong aku ke kamar? Kenapa tidak membangunkan aku?" tanya Vivi menutup mulutnya yang menguap.

"Kamu terlihat lelah. Jadi, aku tidak membangunkan kamu. Aku sudah memisahkan oleh-oleh yang akan aku berikan pada orang-orang terdekatku. Kamu bisa membagikan sisanya pada orang yang kamu kehendaki," ucap Roni dalam bahasa isyarat.

"Terimakasih, kak," ucap Vivi tersenyum hangat.

Malam menjelang, Vivi dan Roni pun keluar dari kamar mereka untuk makan malam bersama. Ruslan, Nuri dan Aline sudah ada di meja makan menunggu sepasang pengantin baru itu.

"Ibu tidak terlalu bisa memasak, Ron. Semoga rasanya tidak terlalu buruk," ucap Nuri yang sudah berusaha sebaik mungkin memasak untuk keluarganya.

"Ma..ma.. masakan ya..yang di bu..buat dengan ci..cin..cinta pasti e..e..enak," ucap Roni tersenyum hangat.

"Sudah, sih, Bu! Tidak usah mengajak dia bicara. Bikin sesak napas saja. Aku takut kita semua lama-lama jadi darah tinggi karena menunggu dia selesai bicara. Kapan kakak akan bercerai dari orang gagap ini?" cetus Aline tidak suka.

"Aline!"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

雅婷郭

雅婷郭

ckkk...g punya adab bnget ini sialine

2024-07-21

0

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

ASLI GK PNY ETHIKA & AHKLAK NI SI ALINE..

2024-07-15

2

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

SAYANGNYA KBRSAMAAN MRK TDK LMA..

2024-07-15

2

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!