8. Terlalu Baik

Setelah Vivi memberikan kabar, bahwa kedua orang tuanya merestui hubungan mereka, malam harinya Roni kembali ke rumah sakit tempat ayah Vivi di rawat.

"Se.. "

"Pakai bahasa isyarat saja, kak. Biar aku yang mengatakannya pada ayah dan ibu," pinta Vivi memotong kata-kata Roni.

Roni mengangguk kecil, tersenyum lembut pada Vivi, lalu pemuda itu menatap ayah Vivi dan mulai berbicara menggunakan bahasa isyarat.

"Kak Roni ingin memindahkan ayah ke rumah sakit yang lebih bagus?" tanya Vivi memastikan apa yang disampaikan oleh Roni, setelah membaca bahasa isyarat Roni.

Roni mengangguk, kemudian kembali berbicara menggunakan bahasa isyarat.

"Di rumah sakit yang lebih bagus, ayah akan mendapatkan perawatan medis yang jauh lebih bagus dari pada di sini. Ayah akan berkonsultasi dengan dokter ahli yang bisa menyembuhkan kaki ayah. Aku sudah mengatur tempatnya. Jika ayah bersedia, aku akan memindahkan ayah ke rumah sakit itu malam ini juga," ujar Roni membuat Vivi terharu.

Vivi sangat senang dengan perhatian Roni pada ayahnya. Vivi pun segera menerjemahkan apa yang di sampaikan Roni itu pada kedua orang tuanya.

"Terimakasih. Tapi, biayanya akan semakin besar, jika ayah pindah ke rumah sakit yang lebih baik dari ini," ucap Ruslan yang malah tidak enak hati pada Roni.

Pemuda di depannya itu sudah bersedia menikahi putrinya yang sedang mengandung anak orang lain. Sekarang malah ingin memberikan pengobatan yang terbaik untuk dirinya. Ruslan benar-benar di buat tidak bisa berkata apa-apa lagi oleh Roni.

"Tidak masalah dengan biayanya. Yang penting, ayah cepat sembuh," sahut Roni dengan menggunakannya bahasa isyarat dan langsung di terjemahkan oleh Vivi.

"Kamu sangat baik. Vivi sangat beruntung, jika bisa menikah dengan kamu," ucap Nuri yang terharu dengan maksud baik Roni.

Malam itu juga, Roni memindahkan calon mertuanya ke rumah sakit yang lebih baik, yaitu rumah sakit milik Fina. Roni menempatkan calon ayah mertuanya di kamar VIP dengan fasilitas yang pastinya jauh lebih baik berkali-kali lipat dari ruangan rawat ayah mertuanya sebelumnya. Bahkan, Roni langsung mendatangkan dokter spesialis untuk memeriksa kondisi Ruslan.

"Roni, ruang rawat ini terlalu bagus. Biayanya pasti mahal. Ayah tidak mau uang kamu habis hanya untuk membayar ruangan ini, Ron," ucap Ruslan tidak enak hati.

"Ti.. ti..tidak a.. a... apa-apa, yah," sahut Roni yang tentu saja bukan masalah besar bagi Roni, jika hanya memberikan pengobatan dan ruangan rawat terbaik pada calon mertuanya itu.

"Vi.. " panggil Roni menatap Vivi,"so.. soal ta.. tadi.."

"Tidak usah, kak. Kakak pasti sudah mengeluarkan banyak uang untuk ayah. Kakak tidak perlu melakukan itu juga," ucap Vivi yang sudah mengerti dengan maksud Roni.

"Ada apa, Vi?" tanya Nuri.

"Begini, Bu, ayah. Kak Roni ingin memberikan hadiah lamaran untuk ku. Kak Roni ingin mengantarkannya ke rumah kita. Aku bilang tidak usah, tapi kak Roni memaksa ingin memberikannya," jelas Vivi yang tadi sudah bicara dengan Roni tentang hal itu.

"Ayah dan ibu sudah bersyukur dan berterimakasih padamu, karena kamu mau menikahi Vivi dalam keadaan seperti ini. Bahkan, sekarang kamu memindahkan ayah ke rumah sakit yang lebih bagus di kamar VIP. Kamu tidak perlu lagi memberikan apapun untuk kami," ucap Ruslan yang semakin tidak enak hati dengan kebaikan Roni.

"Ini bukan apa-apa. Ini memang yang seharusnya aku lakukan. Aku sudah terlanjur menyiapkan semua hadiah lamaran itu. Jadi, aku mohon, agar kamu, ayah dan ibu.mau menerimanya," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis. Vivi pun menerjemahkan apa yang dikatakan Roni pada kedua orang tuanya.

"Entah kebaikan apa yang kami lakukan di masa lalu, hingga bisa mendapatkan menantu seperti kamu," ucap Nuri yang merasa terharu dengan kebaikan Roni.

Setelah sedikit mengobrol bersama Vivi dan kedua orang tua Vivi, akhirnya Roni pamit pulang. Ruslan menatap Roni yang menghilang di balik pintu itu dengan perasaan penuh rasa syukur.

"Kamu beruntung, karena bisa bertemu dengan Roni yang ini, Vi. Dia baik sekali. Baru juga ayah dan ibu merestui hubungan kalian, Roni langsung memindahkan ayah mu ke rumah sakit sebagus ini. Bahkan, langsung mendatangkan dokter spesialis untuk memeriksa kondisi ayahmu," ujar Ruslan penuh syukur.

"Iya, Vi. Kamu sangat beruntung bertemu Roni. Belajarlah untuk mencintai dia. Karena, walaupun gagap, tapi hatinya baik. Bahkan terlalu baik. Untuk apa sempurna fisik dan rupanya, kalau tidak bertanggung jawab seperti mantan calon suami kamu itu," ujar Nuri yang menjadi sangat kesal jika mengingat Roni mantan calon suami Vivi.

"Iya, Bu. Aku berjanji akan belajar untuk mencintai kak Roni,"ucap Vivi tulus dari dalam hati.

"Ceklek"

Suara pintu yang terbuka itu mengalihkan atensi Vivi dan kedua orang tuanya. Aline muncul dari balik pintu yang terbuka itu.

"Ayah, ibu, kakak! Ayah benar-benar di pindahkan di rumah sakit bagus ini dan di tempatkan ruangan VIP?" tanya Aline seraya mengamati ruangan itu.

"Iya, kakak iparmu yang memindahkan ayah ke rumah sakit dan ruangan rawat yang bagus ini," ucap Ruslan bangga.

"Kakak iparmu ini benar-benar orang baik, Lin. Kakakmu sangat beruntung bisa bertemu dengan kakak iparmu ini," sahut Nuri juga terlihat senang.

"Apa ayah dan ibu tidak malu memiliki menantu yang gagap?" tanya Aline menghela napas panjang melihat ayah dan ibunya nampak bangga dan senang karena kakaknya akan menikah dengan pria yang gagap.

"Kamu itu anak kecil. Tahu apa kamu? Kenapa harus malu karena kakak iparmu gagap? Gagap tidak apa, asal baik hati dan bertanggung jawab. Buat apa sempurna, kalau hanya mempermainkan hati dan perasaan saja?" cetus Nuri yang tidak sepemikiran dengan Aline.

"Huff.. Kalian tidak malu, tapi aku yang malu," gerutu Aline pelan.

"Apa kamu bilang?" tanya Nuri yang tidak terlalu jelas mendengar gerutuan Aline.

"Aline, kakak harap, kamu bisa menghormati kakak ipar mu," pinta Vivi menghela napas panjang. Vivi tahu benar, jika adiknya itu keras kepala dan sering kali mengatakan apa yang ada di hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

***

Waktu terus berlalu. Setiap hari Roni mengunjungi calon mertuanya di rumah sakit. Tidak pernah datang dengan tangan kosong. Setiap datang selalu membawakan berbagai macam makanan. Hingga sehari sebelum pernikahan Vivi dan Roni, Ruslan akhirnya di izinkan pulang. Namun, entah mengapa, sampai hari ini, hari pernikahan Vivi dan Roni, Aline belum pernah sekalipun bertemu dengan Roni.

Pesta pernikahan yang terbilang sederhana itu nampak ramai dengan para tamu undangan. Sebagian dari tamu undangan yang sudah tahu bahwa Roni menikah dengan orang lain pun sempat bingung, karena undangan pernikahan itu tidak di batalkan. Sehingga mereka sangat penasaran dengan mempelai pria yang menjadi pendamping Vivi.

"Aku pikir, Vivi akan batal menikah. Tapi, nyatanya dia tetap menikah. Suaminya juga tidak kalah tampan dengan Roni," bisik wanita berbaju biru yang merupakan teman sekantor Vivi pada temannya yang juga teman sekantor Vivi.

"Iya. Aku juga sempat berpikir demikian. Tapi, di pelaminan itu, tertulis nama pengantin pria adalah Roni Saputra. Sedangkan Roni yang kita tahu menjalin hubungan dengan Vivi, 'kan, namanya Roni, doang. Nggak ada kepanjangannya," sahut wanita yang memakai baju berwarna maron.

"Iya, dia juga nggak kalah tampan dengan Roni yang kita kenal," sahut wanita berbaju biru dongker.

"Vivi juga terlihat bahagia. Aku pikir, kemarin Vivi minta cuti karena patah hati. Lalu beralasan ayahnya sakit karena kecelakaan. Tapi, ternyata ayahnya memang benar-benar kecelakaan dan kakinya lumpuh," sahut wanita berbaju biru.

Sedangkan Aline hanya bisa menghela napas berkali-kali menatap kakak dan kakak iparnya yang sedang mengalami para tamu undangan.

"Wajah, sih, memang tampan, royal dan baik. Tapi, sayangnya gagap. Lagipula, apa dia benar-benar tulus pada kakakku?" gumam Aline dalam hati.

"Eh, lihat rombongan tamu itu! Mereka cantik-cantik dan tampan-tampan,"ucap salah seorang tamu undangan di dekat Aline.

"Eh, kenapa aku merasa familiar dengan wajah pria tampan yang merangkul wanita berambut panjang itu, ya?" sahut yang lainnya.

"Iya, aku juga merasa familiar dengan wajah pria itu. Seperti pernah melihat dia di mana gitu," ucap yang lainnya lagi.

"Bukannya pria itu yang sempat diberitakan di media sosial dan juga di televisi kemarin, ya?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

PASTI SI AIDEN BOS SKALIGUS SAHABAT RONI

2024-07-15

2

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

GAK ADA AHKLAKNYA SI ALINE.. NTAR TURUN RANJANG JUGA MA ELO KAK RONI..

2024-07-15

2

lisna

lisna

alline alline sifatmu ko sombong banget padahal udah nyelamatin kakakmu ma nolong bapakmu bukannya bersyukur🙄😏

2024-02-22

6

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!