Setelah Vivi memberikan kabar, bahwa kedua orang tuanya merestui hubungan mereka, malam harinya Roni kembali ke rumah sakit tempat ayah Vivi di rawat.
"Se.. "
"Pakai bahasa isyarat saja, kak. Biar aku yang mengatakannya pada ayah dan ibu," pinta Vivi memotong kata-kata Roni.
Roni mengangguk kecil, tersenyum lembut pada Vivi, lalu pemuda itu menatap ayah Vivi dan mulai berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Kak Roni ingin memindahkan ayah ke rumah sakit yang lebih bagus?" tanya Vivi memastikan apa yang disampaikan oleh Roni, setelah membaca bahasa isyarat Roni.
Roni mengangguk, kemudian kembali berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Di rumah sakit yang lebih bagus, ayah akan mendapatkan perawatan medis yang jauh lebih bagus dari pada di sini. Ayah akan berkonsultasi dengan dokter ahli yang bisa menyembuhkan kaki ayah. Aku sudah mengatur tempatnya. Jika ayah bersedia, aku akan memindahkan ayah ke rumah sakit itu malam ini juga," ujar Roni membuat Vivi terharu.
Vivi sangat senang dengan perhatian Roni pada ayahnya. Vivi pun segera menerjemahkan apa yang di sampaikan Roni itu pada kedua orang tuanya.
"Terimakasih. Tapi, biayanya akan semakin besar, jika ayah pindah ke rumah sakit yang lebih baik dari ini," ucap Ruslan yang malah tidak enak hati pada Roni.
Pemuda di depannya itu sudah bersedia menikahi putrinya yang sedang mengandung anak orang lain. Sekarang malah ingin memberikan pengobatan yang terbaik untuk dirinya. Ruslan benar-benar di buat tidak bisa berkata apa-apa lagi oleh Roni.
"Tidak masalah dengan biayanya. Yang penting, ayah cepat sembuh," sahut Roni dengan menggunakannya bahasa isyarat dan langsung di terjemahkan oleh Vivi.
"Kamu sangat baik. Vivi sangat beruntung, jika bisa menikah dengan kamu," ucap Nuri yang terharu dengan maksud baik Roni.
Malam itu juga, Roni memindahkan calon mertuanya ke rumah sakit yang lebih baik, yaitu rumah sakit milik Fina. Roni menempatkan calon ayah mertuanya di kamar VIP dengan fasilitas yang pastinya jauh lebih baik berkali-kali lipat dari ruangan rawat ayah mertuanya sebelumnya. Bahkan, Roni langsung mendatangkan dokter spesialis untuk memeriksa kondisi Ruslan.
"Roni, ruang rawat ini terlalu bagus. Biayanya pasti mahal. Ayah tidak mau uang kamu habis hanya untuk membayar ruangan ini, Ron," ucap Ruslan tidak enak hati.
"Ti.. ti..tidak a.. a... apa-apa, yah," sahut Roni yang tentu saja bukan masalah besar bagi Roni, jika hanya memberikan pengobatan dan ruangan rawat terbaik pada calon mertuanya itu.
"Vi.. " panggil Roni menatap Vivi,"so.. soal ta.. tadi.."
"Tidak usah, kak. Kakak pasti sudah mengeluarkan banyak uang untuk ayah. Kakak tidak perlu melakukan itu juga," ucap Vivi yang sudah mengerti dengan maksud Roni.
"Ada apa, Vi?" tanya Nuri.
"Begini, Bu, ayah. Kak Roni ingin memberikan hadiah lamaran untuk ku. Kak Roni ingin mengantarkannya ke rumah kita. Aku bilang tidak usah, tapi kak Roni memaksa ingin memberikannya," jelas Vivi yang tadi sudah bicara dengan Roni tentang hal itu.
"Ayah dan ibu sudah bersyukur dan berterimakasih padamu, karena kamu mau menikahi Vivi dalam keadaan seperti ini. Bahkan, sekarang kamu memindahkan ayah ke rumah sakit yang lebih bagus di kamar VIP. Kamu tidak perlu lagi memberikan apapun untuk kami," ucap Ruslan yang semakin tidak enak hati dengan kebaikan Roni.
"Ini bukan apa-apa. Ini memang yang seharusnya aku lakukan. Aku sudah terlanjur menyiapkan semua hadiah lamaran itu. Jadi, aku mohon, agar kamu, ayah dan ibu.mau menerimanya," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis. Vivi pun menerjemahkan apa yang dikatakan Roni pada kedua orang tuanya.
"Entah kebaikan apa yang kami lakukan di masa lalu, hingga bisa mendapatkan menantu seperti kamu," ucap Nuri yang merasa terharu dengan kebaikan Roni.
Setelah sedikit mengobrol bersama Vivi dan kedua orang tua Vivi, akhirnya Roni pamit pulang. Ruslan menatap Roni yang menghilang di balik pintu itu dengan perasaan penuh rasa syukur.
"Kamu beruntung, karena bisa bertemu dengan Roni yang ini, Vi. Dia baik sekali. Baru juga ayah dan ibu merestui hubungan kalian, Roni langsung memindahkan ayah mu ke rumah sakit sebagus ini. Bahkan, langsung mendatangkan dokter spesialis untuk memeriksa kondisi ayahmu," ujar Ruslan penuh syukur.
"Iya, Vi. Kamu sangat beruntung bertemu Roni. Belajarlah untuk mencintai dia. Karena, walaupun gagap, tapi hatinya baik. Bahkan terlalu baik. Untuk apa sempurna fisik dan rupanya, kalau tidak bertanggung jawab seperti mantan calon suami kamu itu," ujar Nuri yang menjadi sangat kesal jika mengingat Roni mantan calon suami Vivi.
"Iya, Bu. Aku berjanji akan belajar untuk mencintai kak Roni,"ucap Vivi tulus dari dalam hati.
"Ceklek"
Suara pintu yang terbuka itu mengalihkan atensi Vivi dan kedua orang tuanya. Aline muncul dari balik pintu yang terbuka itu.
"Ayah, ibu, kakak! Ayah benar-benar di pindahkan di rumah sakit bagus ini dan di tempatkan ruangan VIP?" tanya Aline seraya mengamati ruangan itu.
"Iya, kakak iparmu yang memindahkan ayah ke rumah sakit dan ruangan rawat yang bagus ini," ucap Ruslan bangga.
"Kakak iparmu ini benar-benar orang baik, Lin. Kakakmu sangat beruntung bisa bertemu dengan kakak iparmu ini," sahut Nuri juga terlihat senang.
"Apa ayah dan ibu tidak malu memiliki menantu yang gagap?" tanya Aline menghela napas panjang melihat ayah dan ibunya nampak bangga dan senang karena kakaknya akan menikah dengan pria yang gagap.
"Kamu itu anak kecil. Tahu apa kamu? Kenapa harus malu karena kakak iparmu gagap? Gagap tidak apa, asal baik hati dan bertanggung jawab. Buat apa sempurna, kalau hanya mempermainkan hati dan perasaan saja?" cetus Nuri yang tidak sepemikiran dengan Aline.
"Huff.. Kalian tidak malu, tapi aku yang malu," gerutu Aline pelan.
"Apa kamu bilang?" tanya Nuri yang tidak terlalu jelas mendengar gerutuan Aline.
"Aline, kakak harap, kamu bisa menghormati kakak ipar mu," pinta Vivi menghela napas panjang. Vivi tahu benar, jika adiknya itu keras kepala dan sering kali mengatakan apa yang ada di hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
***
Waktu terus berlalu. Setiap hari Roni mengunjungi calon mertuanya di rumah sakit. Tidak pernah datang dengan tangan kosong. Setiap datang selalu membawakan berbagai macam makanan. Hingga sehari sebelum pernikahan Vivi dan Roni, Ruslan akhirnya di izinkan pulang. Namun, entah mengapa, sampai hari ini, hari pernikahan Vivi dan Roni, Aline belum pernah sekalipun bertemu dengan Roni.
Pesta pernikahan yang terbilang sederhana itu nampak ramai dengan para tamu undangan. Sebagian dari tamu undangan yang sudah tahu bahwa Roni menikah dengan orang lain pun sempat bingung, karena undangan pernikahan itu tidak di batalkan. Sehingga mereka sangat penasaran dengan mempelai pria yang menjadi pendamping Vivi.
"Aku pikir, Vivi akan batal menikah. Tapi, nyatanya dia tetap menikah. Suaminya juga tidak kalah tampan dengan Roni," bisik wanita berbaju biru yang merupakan teman sekantor Vivi pada temannya yang juga teman sekantor Vivi.
"Iya. Aku juga sempat berpikir demikian. Tapi, di pelaminan itu, tertulis nama pengantin pria adalah Roni Saputra. Sedangkan Roni yang kita tahu menjalin hubungan dengan Vivi, 'kan, namanya Roni, doang. Nggak ada kepanjangannya," sahut wanita yang memakai baju berwarna maron.
"Iya, dia juga nggak kalah tampan dengan Roni yang kita kenal," sahut wanita berbaju biru dongker.
"Vivi juga terlihat bahagia. Aku pikir, kemarin Vivi minta cuti karena patah hati. Lalu beralasan ayahnya sakit karena kecelakaan. Tapi, ternyata ayahnya memang benar-benar kecelakaan dan kakinya lumpuh," sahut wanita berbaju biru.
Sedangkan Aline hanya bisa menghela napas berkali-kali menatap kakak dan kakak iparnya yang sedang mengalami para tamu undangan.
"Wajah, sih, memang tampan, royal dan baik. Tapi, sayangnya gagap. Lagipula, apa dia benar-benar tulus pada kakakku?" gumam Aline dalam hati.
"Eh, lihat rombongan tamu itu! Mereka cantik-cantik dan tampan-tampan,"ucap salah seorang tamu undangan di dekat Aline.
"Eh, kenapa aku merasa familiar dengan wajah pria tampan yang merangkul wanita berambut panjang itu, ya?" sahut yang lainnya.
"Iya, aku juga merasa familiar dengan wajah pria itu. Seperti pernah melihat dia di mana gitu," ucap yang lainnya lagi.
"Bukannya pria itu yang sempat diberitakan di media sosial dan juga di televisi kemarin, ya?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
PASTI SI AIDEN BOS SKALIGUS SAHABAT RONI
2024-07-15
2
Sulaiman Efendy
GAK ADA AHKLAKNYA SI ALINE.. NTAR TURUN RANJANG JUGA MA ELO KAK RONI..
2024-07-15
2
lisna
alline alline sifatmu ko sombong banget padahal udah nyelamatin kakakmu ma nolong bapakmu bukannya bersyukur🙄😏
2024-02-22
6