Vivi menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibu dan adiknya. Ada rasa takut di hatinya. Takut ayah, ibu dan adiknya tidak setuju, jika dirinya menikah dengan Roni yang gagap.
"Dia mau menikahi aku, karena dia sudah lama menyukai aku," jawab Vivi sesuai dengan apa yang diajarkan oleh dokter Fina.
"Kenapa kamu tidak dari dulu saja dengan dia? Dia sepertinya memang pemuda yang baik. Bahkan membawa buah dan kue saat menjenguk ayahmu di rumah sakit. Dia juga tidak kalah tampan dengan si Roni brengseek itu," cetus Nuri yang sudah sempat sedikit berinteraksi dengan Roni, walaupun belum sempat mengobrol.
Walaupun hanya sebentar, tapi Nuri bisa merasakan, kalau Roni adalah orang yang baik. Dari wajah dan bahasa tubuhnya, Nuri bisa melihat ketenangan sekaligus keseriusan di wajah Roni. Berbeda saat pertama kali bertemu dengan Roni mantan calon suami Vivi. Dari awal bertemu dengan mantan calon suami Vivi yang brengseek itu. Entah mengapa Nuri tidak menyukai si Roni brengseek itu. Mungkin karena feeling sebagai seorang ibu yang ingin anak-anaknya bahagia.
Vivi menghela napas panjang mendengar pertanyaan ibunya.
"Dia memang baik, Bu. Aku harap, ayah dan ibu tidak keberatan, jika aku menikah dengan dia. Tolong restui kami, ya, Bu!" pinta Vivi dengan wajah tertunduk seraya memilin jemarinya sendiri.
Vivi benar-benar takut orang tuanya tidak setuju, jika dirinya ingin menikah dengan Roni yang baru di temuinya semalam.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu seperti takut kami tidak merestui kamu menikah dengan dia," tanya Nuri mengernyitkan keningnya menatap ekspresi Vivi. Sedangkan Aline juga terlihat penasaran.
"Karena.. karena dia gagap, Bu," jawab Vivi tetap menunduk, tidak berani menatap ibunya.
Nuri nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Vivi. Demikian pula dengan Aline. Namun, sesaat kemudian Nuri menghela napas panjang.
"Tidak masalah, jika dia gagap. Asalkan dia mau menerima kamu apa adanya dan bisa membuat kamu bahagia, ibu merestui kalian. Ada pemuda yang mau bertanggung jawab atas perbuatan orang lain, menyelamatkan kamu saat kamu bunuh diri dan ingin menyelamatkan kita dari rasa malu, itu adalah sebuah berkah," ucap Nuri seraya menggenggam tangan Vivi hangat.
"Aku tidak setuju! Kakak ini cantik. Banyak pemuda yang menyukai kakak. Kenapa kakak harus menikah dengan orang gagap?" cetus Aline yang lebih terdengar seperti protes.
Aline tidak rela, jika kakaknya yang cantik, lembut dan manis harus berakhir menikah dengan orang gagap.
"Secantik apapun kakakmu, dan seberapa banyak pun pemuda yang menyukai kakakmu, apa orang-orang yang menyukai kakak kamu itu mau menikahi kakak kamu yang hamil di luar nikah?" tanya Nuri pada Aline yang dengan tegas menyatakan pendapatnya yang tidak setuju kakaknya menikah dengan Roni yang gagap.
"Kita coba saja tanya pada mereka, Bu. Aku yakin akan ada salah satu di antara mereka yang mau menerima kakak dengan keadaan kakak saat ini," sahut Aline yang benar-benar tidak ingin kakaknya menikah dengan orang yang gagap.
"Kamu ingin bertanya satu persatu pada mereka? Ingin mengatakan pada mereka semua bahwa kakakmu hamil di luar nikah? Kamu ingin membuka aib kakak kamu di muka umum?" tanya Nuri dengan tatapan serius pada Aline.
"Bu.. Bukan begitu maksudku, Bu. Ibu salah paham. Aku hanya tidak ingin kakak menikah dengan orang gagap," jelas Aline yang tidak ingin ibunya salah paham pada dirinya.
"Kakak mengerti maksud kamu bukan seperti itu. Tapi, jika kamu melakukan itu, kamu akan membuka aib kakak. Lagipula, kemungkinan nya sangat kecil. Mana ada yang mau menerima kakak dengan keadaan kakak yang seperti ini? Kalaupun ada, apa mereka tulus pada kakak?" tanya Vivi membuat Aline menghela napas panjang.
"Aku hanya tidak ingin kakak menikah dengan orang gagap. Aku tidak rela. Kakak akan malu, kalau kakak memiliki suami yang bicaranya gagap. Lagipula, selama ini kakak selalu menceritakan apapun padaku. Tapi, kakak tidak pernah bercerita kalau ada orang gagap yang menyukai kakak. Jangan-jangan, kakak berbohong kalau kakak sudah lama mengenal orang itu," ujar Aline yang jadi merasa curiga, kalau kakaknya berbohong.
"Kakak.. Kakak tidak ingin kamu tertawakan, karena ada orang gagap yang menyukai kakak," sahut Vivi yang untungnya bisa mencari alasan yang masuk akal.
"Sudahlah, Lin! Orang itu sudah menolong kakak kamu dan sudah lama menyukai kakak kamu. Biarkan kakak kamu menikah dengan orang itu. Asalkan dia serius pada kakak kamu dan bisa membuat kakak kamu bahagia, itu sudah cukup. Lagipula, tidak ada gunanya menikah dengan orang yang sempurna, jika orangnya brengseek seperti si Roni itu," ujar Nuri membuang napas kasar.
Aline terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tanggal yang tertera dalam undangan pernikahan kakaknya adalah enam hari lagi. Waktu enam hari terlalu mendesak. Tidak akan cukup, kalau harus mencari pria yang mau menikahi kakaknya dalam waktu enam hari. Namun, tiba-tiba Aline teringat sesuatu.
"Tapi, Bu, dalam undangan itu, nama pengantin pria adalah Roni. Apa orang-orang tidak akan bertanya-tanya, jika kakak menikah dengan orang lain?" tanya Aline yang membuat Nuri jadi bingung.
"Jangan khawatir! Orang yang bersedia menikahi aku itu, namanya juga Roni," sahut Vivi tersenyum tipis.
"Benarkah? Kebetulan sekali," tanya Aline terlihat terkejut.
"Iya, Lin. Kebetulan juga, di undangan pernikahan kakak tidak ada foto kakak dan foto si brengseek itu. Jadi, ini tidak akan menjadi masalah," sahut Vivi yang merasa bersyukur karena tidak ada fotonya dan foto mantan calon suami brengseek nya itu di undangan pernikahan mereka. Mereka hanya menuliskan nama calon pengantin saja.
"Iya, ibu juga sangat bersyukur," ucap Nuri yang hampir saja lupa, kalau pemuda yang di bawa Vivi tadi diperkenalkan Vivi dengan nama Roni.
"Tapi, Bu, bagaimana mengatakan hal ini pada ayah?" tanya Vivi terlihat khawatir.
"Biar ibu yang bicara pada ayahmu," ucap Nuri tersenyum tipis.
"Ya, Tuhan.. Aku sudah lama meninggalkan kak Roni bersama ayah," ucap Vivi yang sampai lupa kalau Roni di tinggalkannya di ruang rawat ayahnya.
Akhirnya Vivi, Nuri dan Aline kembali ke ruangan rawat Ruslan. Namun sayangnya, Roni sudah pergi. Roni pamit pada Ruslan karena ada pekerjaan yang harus segera dikerjakannya.
Nuri mendekati suaminya dan memulai pembicaraan. Mengingat mereka berada di ruangan rawat yang di huni oleh enam orang termasuk ayah Vivi, dengan suara kecil dan perlahan-lahan, Nuri menceritakan apa yang terjadi pada Vivi kepada Ruslan. Tentu saja Ruslan sangat terkejut, marah, kesal, panik dan bingung mengetahuinya calon suami Vivi malah menikah dengan orang lain saat pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi.
Ruslan kembali terkejut saat Nuri mengatakan, bahwa Roni yang gagap ingin menikahi Vivi. Ruslan menatap Vivi yang hanya bisa menunduk karena merasa bersalah dan malu pada keluarganya.
Ruslan menghela napas berkali-kali. Tidak menyangka nasib putri yang amat di sayanginya akan seperti ini. Musibah yang terjadi pada dirinya dan putrinya kemarin benar-benar cobaan besar bagi dirinya dan keluarganya.
"Kamu yakin ingin menikah dengan pemuda tadi?" tanya Ruslan pelan. Tidak ingin pembicaraan mereka di dengar orang lain.
"Iya, yah," sahut Vivi yakin.
"Baiklah, jika itu keputusan kamu. Ayah merestui kalian. Ayah rasa, dia juga pemuda yang baik. Walaupun dia gagap," ujar Ruslan setelah mendengar cerita dari Nuri.
"Terimakasih, yah," ucap Vivi merasa lega.
"Ya, Tuhan.. tambahkan hati hamba menghadapi cobaan-Mu ini. Putri ku hamil di luar nikah dan calon suami sekaligus ayah dari anak yang di kandungnya malah menikah dengan wanita lain. Lalu, di saat-saat seperti ini, aku malah mengalami kecelakaan dan lumpuh. Semoga kami sekeluarga kuat menghadapi cobaan-Mu ini. Dan semoga, pilihan Vivi kali ini tidak salah lagi. Namun, firasat ku mengatakan, bahwa pemuda gagap itu adalah orang baik," gumam Ruslan dalam hati.
"Syukurlah, ayah dan ibu setuju. Walaupun Aline sepertinya tidak senang," gumam Vivi dalam hati.
Setelah mendapatkan persetujuan kedua orang tuanya, akhirnya Vivi menghubungi Roni. Sedangkan Aline yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kakak dan kedua orang tuanya pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Huff.. Mimpi apa aku, hingga aku harus mendapatkan kakak ipar gagap. Kakak ku begitu cantik, lembut dan manis. Tapi, harus berakhir dengan pria gagap. Malunya aku, jika teman-temanku tahu kakak ipar ku gagap. Aku pasti jadi bahan olok-olok dan tertawaan mereka," gerutu Aline dalam hati.
...🌟"Tidak semua harapan dan impian bisa terealisasikan. Terimalah kenyataan, walaupun itu pahit dan menyakitkan. Karena kita tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
cenil
kekurangan secara fisik akan tertutupi dgn kesempurnaan akhlak dan kepribadian serta talenta yg dimiliki org tersebut
2024-08-01
1
Sulaiman Efendy
UDHLH LO ORG SUSAH, MLH HINA ORG, SYUKUR2 ADA PRIA TULUS YG MAU TRIMA KK LO YG SDH TRNODA & HAMIL LKI2 LAIN, AKU PRIBADI LBH BAIK NIKAHI JANDA...
2024-07-15
2
Susetiyanti RoroSuli
Punya suami gagap.mungkin malah lebih nyaman menurutku mengapa ? karena khan susah marahnya , jadi malah kebih tenang rumah tangganya
2024-01-12
7