Vivi menatap Roni yang memanggil dirinya. Vivi melihat Roni mulai berbicara menggunakan bahasa isyarat.
"Vi, jika orang tuamu setuju aku menikah dengan mu, kamu ingin kita tinggal di mana?" tanya Roni serius.
"Maaf. Kata dokter Fina, kakak yatim piatu. Setelah menikah, apa.. apa kakak tidak keberatan, jika kakak tinggal di rumah ku?" tanya Vivi terlihat ragu.
Roni kembali menggerakkan kedua tangannya. Karena merasa Vivi bisa memahami dengan baik apa yang di sampaikan nya melalui bahasa isyarat, kini Roni bicara menggunakan bahasa isyarat sedikit lebih cepat.
"Tinggal di manapun, aku tidak keberatan. Asalkan kamu merasa nyaman," jawab Roni melalui bahasa isyarat.
"Terimakasih," ucap Vivi tersenyum tulus.
"Sekarang, istirahat lah! Atau kamu ingin makan sesuatu?" tanya Roni tersenyum lembut.
"Tidak. Terimakasih,"ucap Vivi tersenyum tipis penuh ketulusan.
Vivi membaringkan tubuhnya dan Roni pun menyelimuti Vivi. Setelah menyelimuti Vivi, Roni memilih berbaring di sofa. Karena sudah lelah dengan aktivitasnya seharian, tak lama kemudian, Roni pun sudah terlelap.
Sedangkan Vivi nampak belum bisa memejamkan matanya. Vivi menoleh ke arah Roni yang sudah terlelap.
"Aku tidak mengerti dengan kak Roni ini. Kami baru saja saling mengenal setelah dia menolong aku. Tapi.. dia malah mau menjadi ayah dari bayi yang aku kandung. Bahkan, ayah kandung bayi ini saja tidak mau menerima kehadiran bayi ini. Apa dia mau menikah dengan aku karena dia sulit mencari jodoh sebab dia gagap? Entah apa motifnya mau menikah dengan aku. Tapi, yang pasti aku melihat ketulusan di dalam tatapan matanya. Dia sepertinya juga orang yang baik dan pengertian," gumam Vivi dalam hati.
*
Pagi-pagi sekali, Roni sudah keluar dari ruangan rawat Vivi. Pemuda itu pamit pergi bekerja pada Vivi. Roni meminta anak buahnya untuk membelikan pakaian untuk Vivi.
Menjelang siang, Vivi sudah di izinkan pulang, karena kesehatannya sudah membaik. Roni menjemput Vivi dan mengantarkan Vivi ke rumah sakit tempat ayah Vivi di rawat. Roni mengemudikan mobil listrik paling murah yang baru saja di belinya.
Tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka berdua. Karena Vivi tidak ingin konsentrasi Roni terganggu saat mengemudi. Apalagi, mengingat Roni yang lebih lancar berbicara, jika menggunakan bahasa isyarat. Saat mengemudi, Roni tidak akan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
"Aku bisa membeli mobil yang lebih bagus dari ini. Tapi, aku tidak ingin menunjukkan seberapa banyak harta yang aku miliki sebelum aku tahu benar sifat Vivi dan juga keluarganya," gumam Roni dalam hati.
Roni berhenti di toko buah dan di toko kue sebagai buah tangan untuk mengunjungi calon mertuanya. Tak lama kemudian, Roni dan Vivi pun tiba di rumah sakit tempat ayah Vivi di rawat. Setelah keluar dari dalam mobil, Vivi memberanikan diri untuk bertanya pada Roni.
"Kak, maaf, apa pekerjaan kakak? Soalnya, 'kan, nggak lucu kalau harus berbohong sudah kenal lama, tapi tidak tahu pekerjaan kakak apa," tanya Vivi tersenyum tipis terlihat ragu.
"Aku bekerja sebagai asisten sekaligus IT ( Information And Technology) di sebuah perusahaan," jawab Roni tersenyum tipis menggunakan bahasa isyarat.
Setelah Roni menjawab pertanyaannya, Vivi tidak mengatakan apapun, gadis itu hanya tersenyum tipis pada Roni.
Vivi tidak bisa menebak berapa gaji Roni. Karena bekerja di bidang IT dan menjadi asisten itu gajinya berbeda-beda. Tergantung di mana tempat kerjanya.
"Berapapun gajinya tidak masalah bagiku, yang penting, dia bisa menjadi suami yang baik untuk ku. Dia sudah menyelamatkan aku dari tindakan konyol ku untuk bunuh diri. Dia juga bersedia menjadi ayah dari janin dalam kandungan ku. Bahkan, dia mau menjadi suamiku agar aku dan orang tuaku tidak malu karena pernikahanku yang batal. Jika dia bisa menjadi suami yang baik untuk ku, aku berjanji akan berusaha mencintai dia sepenuh hatiku dan menjadi istri yang baik untuk dia,"gumam Vivi penuh tekad.
Vivi membuka pintu ruangan rawat ayahnya. Vivi menyembunyikan kesedihannya melihat kepala ayahnya yang di perban dan terbaring dengan wajah sedih.
"Vivi.." gumam ayah Vivi dengan wajah sedih.
"Kamu sudah kembali?" tanya ibu Vivi yang terlihat jelas memaksakan diri untuk tersenyum.
"Iya. Bagaimana keadaan ayah?" tanya Vivi lembut seraya mendekati ranjang tempat ayahnya berbaring.
"Ayah tidak bisa berjalan lagi. Kaki ayah lumpuh," sahut Ruslan. Ayah Vivi itu terlihat sangat sedih.
"Ini siapa?" tanya Nuri, ibunya Vivi menatap Roni yang memakai celana panjang kain dan kemeja berwarna putih itu.
"Sa.."
"Ini kak Roni. Ini ada buah dan kue dari kak Roni untuk ayah dan ibu," ucap Vivi memotong kata-kata Roni seraya meletakkan parsel buah dan paper bag berisi kue di atas meja nakas.
"Terimakasih, nak Roni,"ucap Ibu dan ayah Vivi bersamaan.
"Sa.."
"Brakk "
Belum sempat Roni melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba pintu ruangan itu di buka dengan kasar. Semua orang nampak terkejut saat pintu ruangan itu membentur dinding dan menimbulkan suara yang keras.
"Ibu!" panggil seorang gadis yang memakai celana jeans dan kaos ketat lengan pendek.
"Hei! Apa kamu ingin membuat pasien di ruangan ini mati karena serangan jantung?"
"Ini ruangan rawat, bukan di pasar! Jangan membuat keributan!"
"Kamu itu sekolah apa tidak, sih?! Tidak punya adab dan etika! Jangan masuk ke dalam ruangan rawat dengan cara kasar seperti itu!"
Ketus para pasien yang satu ruangan dengan ayah Vivi. Mereka nampak kesal dengan gadis yang baru saja masuk ke ruangan mereka itu. Di dalam ruangan rawat ayah Vivi memang tidak hanya ada ayah Vivi. Ruangan rawat itu di huni enam orang pasien, termasuk ayah Vivi.
"Aline! Kamu ini benar-benar keterlaluan!" geram Vivi pada gadis yang tidak lain adalah adik satu-satunya.
"Maafkan putri saya, pak, bu!" ucap Ruslan pada pasien yang lain.
"Maafkan putri kami, pak, Bu!" ucap Nuri yang merasa tidak enak hati pada pasien lain.
"Maafkan adik saya, pak, bu!" ucap Vivi menunduk hormat.
"Aline, cepat minta maaf pada bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di sini!" titah Nuri pada Aline.
"Maaf, pak, Bu!" ucap Aline menunduk hormat.
Para pasien di ruangan itu pun akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. Begitu pula dengan Roni yang sempat terkejut karena suara pintu yang di buka secara kasar.
"Lain kali jangan diulangi!" ucap salah satu pasien.
"Iya. Maaf!" ucap Aline sekali lagi.
Tiba-tiba Aline nampak teringat sesuatu, lalu gadis itu menatap ibu dan kakaknya,"ibu, kakak, ikut aku! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Aline yang langsung menarik tangan ibu dan kakaknya keluar dari ruangan itu.
Vivi dan ibunya nampak terkejut karena tiba-tiba di tarik keluar. Namun karena penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan oleh Aline yang terlihat serius sekaligus gelisah, dua orang wanita beda usia itu pun mengikuti Aline.
Ruslan menghela napas panjang setelah anak dan istrinya keluar dari ruangan itu. Namun, atensi pria paruh baya itu beralih pada Roni.
"Kamu teman kerja Vivi?" tanya Ruslan yang baru kali ini melihat Roni.
"Bu.. Bu.. Bukan, pak," sahut Roni.
"Kamu.. Ruslan menggantung kata-katanya. "Maaf, kamu gagap?" tanya Ruslan terlihat sungkan.
"I.. I.. Iya, pak," sahut Roni.
"Ah, kalau begitu duduk dulu! Sebentar lagi, Vivi pasti akan kembali," ucap ayah Vivi yang jadi enggak berbicara dengan Roni.
"Te.. Te.. terimakasih," ucap Roni yang kemudian duduk di tempat ibu Vivi duduk tadi.
Baru saja Roni duduk, handphone Roni sudah berbunyi.
"Ma.. Ma.. Maaf, sa.."
"Silahkan! Tidak apa-apa," ucap ayah Vivi yang tidak sabar menunggu Roni bicara. Ruslan tahu, jika Roni ingin pamit keluar untuk menerima telepon.
Roni akhirnya keluar untuk menerima telepon, sedangkan Ruslan menghela napas panjang melihat Roni keluar dari ruangan itu.
"Sejak kapan Vivi berteman dengan orang gagap itu? Kelihatannya, orangnya baik. Tapi, sayangnya gagap," gumam Ruslan menghela napas panjang.
Sedangkan di tempat lain, Vivi dan ibunya masih di tarik oleh Aline. Gadis itu menatap ke segala arah mencari tempat yang sepi.
"Aline, ada apa ini? Kamu ingin membawa kami kemana?" tanya Nuri yang penasaran dengan ekspresi wajah putri bungsunya yang terlihat serius sekaligus khawatir itu.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami?" tanya Vivi yang juga penasaran melihat ekspresi wajah Aline.
"Kita cari tempat yang sepi dulu, baru aku bicara dengan kakak dan ibu," sahut Aline yang akhirnya menemukan tempat sepi untuk berbicara.
Tak lama kemudian, mereka pun menemukan tempat yang sepi.
"Sekarang katakan! Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan? Kenapa wajah kamu terlihat khawatir dan tegang seperti itu?" tanya ibu Nuri yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang ingin di bicarakan oleh putrinya.
"Ibu, kak Vivi..."
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Maulana ya_Rohman
aku jadi penasaran... yang di bicarakan apa ya🤔🤔🤔🤔
2024-01-22
5
ande
😘😘😘😘
2023-12-31
1
Uyhull01
aduhh adik Vivi bar bar sekali🤭
ada apa ? pa Aline udah tau masalah Kakak nya ??
2023-12-17
2