Vivi menatap Roni lekat. Pemuda yang baru malam ini di temuinya itu tiba-tiba menolong dirinya, ingin menjadi ayah dari janin yang dikandungnya, bahkan bersedia menikahi dirinya. Tentu saja hal ini membuat Vivi bertanya-tanya, apa yang di dapatkan pemudanya yang baru saja di kenalnya itu dari pernikahan itu nantinya.
Dan yang membuat Vivi semakin heran adalah, dari mana pemuda itu tahu, jika dirinya gagal menikah, sedangkan keluarganya saja belum mengetahui tentang hal ini.
Roni kembali memberikan handphonenya pada Vivi, setelah menuliskan apa yang ingin dikatakannya. Vivi dan Fina pun kembali membaca apa yang di ketik oleh Roni.
"Aku tidak mengharapkan keuntungan apapun dari pernikahan ini. Aku hanya tidak ingin kamu membunuh bayi yang tidak berdosa dalam kandungan kamu. Aku tulus ingin membantu kamu, karena kamu dan keluarga kamu akan malu, jika pernikahan kamu gagal ayahmu yang sedang sakit akan semakin banyak pikiran," itulah jawaban yang di ketik Roni di handphonenya.
"Dari mana kamu tahu semua yang terjadi padaku? Dan dari mana kamu mengenal keluarga ku?"tanya Vivi curiga,"apa dia adalah orang yang diam-diam menyukai aku dan mencari tahu semua hal tentang aku?" gumam Vivi dalam hati.
Roni kembali mengetik di handphonenya. Setelah selesai mengetik, pemuda itu kembali memberikan handphonenya pada Vivi. Vivi dan Fina pun kembali membaca ketikan Roni itu.
"Aku tidak menemukan identitas apapun di tubuh kamu, saat aku menolong kamu. Jadi, aku mencari tahu tentang dirimu,"ketik Roni jujur adanya.
"Kamu tidak perlu kaget dengan hal semacam ini. Roni ini orang yang cerdas. Dia bisa mendapatkan informasi apapun yang dia inginkan dalam waktu singkat," ujar Fina yang tahu benar tentang sahabatnya itu.
"Ro.. Roni? Na.. Nama kamu Roni?" tanya Vivi nampak terkejut, hingga bicaranya sampai terbata-bata.
"Ke.. Ke.."
"Plak"
"Kenapa?" tanya Roni setelah lengannya di tepuk oleh Fina. Dan hal itu kembali membuat Vivi terkejut.
"Maaf, temanku ini gagap dari kecil. Dia baru bisa lancar bicara, jika di kagetkan. Kami teman-temannya terpaksa memukul nya agar lancar bicara. Bahkan, atasannya harus membeli meja dari kayu jati yang tebal karena si Roni ini," ujar Fina menjelaskan. Fina tidak lagi memakai bahasa formal.
"Kenapa?" tanya Vivi pada Fina.
"Karena Aiden, majikan Roni, sekaligus sahabat kami, dia harus menggebrak meja jika bicara dengan Roni, agar Roni bisa lancar berbicara. Ya, walaupun setelah di kagetkan, dia akan bicara seperti kereta api yang lewat, alias bicara tanpa titik dan koma. Tapi, sebenarnya Roni bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat,"
"Tapi sayangnya, kami para sahabatnya tidak memiliki terlalu banyak waktu untuk mempelajari bahasa isyarat. Dan mungkin, kami juga tidak berbakat dalam berbahasa isyarat. Karena tidak ada satupun dari kami yang benar-benar mengerti dengan bahasa isyarat. Kami hanya tahu sedikit," jelas Fina panjang lebar.
"Aku bisa bahasa isyarat. Dulu sekolah aku dekat dengan SLB. Aku mengenal beberapa anak yang bersekolah di SLB yang tuna wicara. Karena sering berinteraksi dengan mereka, aku dan beberapa temanku jadi mahir menggunakan bahasa isyarat," ujar Vivi yang membuat Roni terlihat senang.
SLB (Sekolah Luar Biasa ) adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental sosial, tetapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
"Itu bagus sekali. Tapi, kenapa kamu nampak terkejut saat kamu tahu nama temanku ini adalah Roni?" tanya Fina yang masih penasaran karena Vivi nampak terkejut saat mengetahui nama Roni.
"Karena.. "Vivi men-jeda kata-katanya lalu menghela napas panjang,"karena calon suamiku yang tadi memilih menikah dengan wanita lain... Namanya juga Roni," sahut Vivi dengan wajah tertunduk.
"Wah, kenapa kebetulan sekali? Nama panjangnya siapa?" tanya Fina penasaran.
"Dia tidak memiliki nama panjang. Namanya hanya Roni saja. Kami berpacaran selama satu tahun. Satu bulan yang lalu, dia mengajak aku ke pesta ulang tahun temannya. Aku di paksa minum minuman beralkohol karena kalah dalam game yang di adakan di pesta itu. Aku mabuk, karena seumur hidupku baru sekali itu minum minuman beralkohol. Hingga.. Hingga akhirnya aku dan dia melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan,"
"Aku meminta dia untuk bertanggung jawab. Tapi, dia bilang belum siap untuk menikah dengan ku, karena belum memiliki uang yang cukup untuk biaya pernikahan. Akhirnya, aku bicara pada ayah dan ibuku. Aku mengatakan sangat mencintai dia dan secepatnya ingin menikah dengan dia. Aku beralasan takut kami khilaf. Aku tidak memberi tahu pada orang tuaku, kalau sebenarnya aku telah kehilangan kesucian ku,"
"Karena aku sudah cukup dewasa, akhirnya orang tuaku setuju untuk menikahkan kami. Semua biaya pernikahan di tanggung oleh ku dan orang tuaku. Kami memakai jasa WO (wedding organizer) dan sudah membayar enam puluh persen. Undangan pun sudah di bagikan tadi pagi. Tiga hari yang lalu, aku tahu, jika aku sedang mengandung. Dan aku langsung memberitahu dia,"
"Tapi.. Diam-diam dia malah menikah dengan orang lain. Aku mengetahuinya karena tidak sengaja melihat dia masuk ke sebuah hotel dengan memakai pakaian pengantin bersama seorang wanita. Saat aku memanggil dia, dia malah menyuruh petugas hotel untuk mengusir aku dan mengatakan, bahwa aku adalah wanita penghibur yang menjajakan tubuh ku pada semua pria. Dia berkata kalau aku sengaja ingin menjerat dia," jelas Vivi dengan airmata yang berlinang.
Fina memeluk Vivi untuk menenangkan gadis yang akhirnya menangis sesenggukan di pelukannya itu.
"Menangis lah! Jika itu bisa membuat mu merasa lebih baik dan lega," ujar Fina seraya mengelus punggung Vivi yang bergetar karena menangis.
Sedangkan Roni hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar semua pengakuan Vivi. Entah mengapa, Roni merasa sedih saat melihat Vivi menangis. Roni tidak melihat kebohongan di mata Vivi. Roni percaya, jika Vivi jujur dan tidak mengarang cerita.
Untuk beberapa saat, Vivi menangis dalam pelukan Fina. Setelah Vivi terlihat sudah agak tenang, Fina menghapus air mata gadis itu.
Fina menatap Roni yang masih berdiri di samping ranjang Vivi tanpa berkata apapun.
"Roni, kamu serius ingin menikah dengan Vivi?" tanya Fina memastikan.
"I . I..iya, dok," jawab Roni dengan ekspresi serius.
"Vivi, apakah kamu mau menikah dengan Roni?" tanya Fina menatap Vivi dengan ekspresi yang tak kalah seriusnya dengan Roni.
"Aku..." Vivi terlihat masih bimbang dan ragu dalam mengambil keputusan.
Melihat kebimbangan dan keraguan Vivi, Fina pun mulai membuka suaranya.
"Begini, biar aku jelaskan. Ah, tidak. Biar aku promosikan Roni padamu," ujar Fina penuh senyuman sambil mencoba merangkai kata.
"Di promosikan? Apa dokter Fina menganggap aku ini produk yang akan di jual? Atau menganggap aku ini orang yang akan menawarkan jasa sebagai suaminya Vivi?" gumam Roni dalam hati. Pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang.
"Aku bukan mempromosikan jasa Roni untuk menjadi suami kamu, tapi memberitahu mu tentang siapa Roni ini. Agar kamu bisa mempertimbangkan maksud baik Roni padamu,"
"Roni adalah anak panti asuhan yang sudah tidak memiliki orang tua. Keluarganya adalah aku, Aiden, Rayyan dan Andi. Kami bersahabat sejak SMP. Kami saling mendukung, saling menolong dan saling melindungi satu sama lain, hingga saat ini,"
"Roni belum pernah berpacaran karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Selain itu, sulit mencari wanita yang tulus mau menjadi pendamping hidup Roni, karena Roni sejak kecil sudah gagap. Tapi, Roni adalah tipe orang yang tulus dan setia,"
"Jangan hanya melihat kekurangan Roni, tapi lihat juga kelebihan yang dia miliki.Jika kamu menikah dengan Roni, aku yakin, kamu pasti akan di perlakukan Roni dengan baik,"
"Dengar, Vi! Ini adalah pengalaman pribadi ku. Saat kita sudah menikah, perasaan bahagia itu datang karena rasa nyaman saat kita berada bersama pasangan kita. Karena pasangan kitalah yang akan menemani kita sampai tua. Tidak peduli seberapa tampan dan kayanya pasangan kita, kita tidak akan pernah merasa bahagia, jika pasangan kita tidak bisa membuat kita merasa nyaman dan dihargai. Dan aku yakin, Roni pasti bisa menjadi orang yang bisa membuat kamu merasa nyaman dan akan menghargai kamu,"
"Selain itu, pikirkan juga bayi dalam kandungan kamu dan juga orang tua kamu. Bagaimana malu, kecewa dan sakit hatinya orang tuamu, jika mengetahui kamu sedang mengandung dan batal menikah. Sangat jarang ada orang yang tulus seperti Roni. Kamu akan menyesal jika menolaknya,"ujar Fina panjang lebar.
...Ambillah keputusan berdasarkan pengalaman, agar tidak salah langkah dan tersesat di jalan....
...Jangan sampai menyesal kemudian, hanya karena terlambat mengambil keputusan....
...Biarkan hati kecil mengambil keputusan, tapi logika juga harus di ikut sertakan....
...Ambillah keputusan dengan penuh pertimbangan. Jangan mengambil keputusan berdasarkan keputusasaan....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
duoNaNa
outus asa
2024-04-14
2
Lina maulina
yup betul
2024-01-14
3
Gagas Permadi
sayang nya kisah novelnya cuma sedikit gak ada terusannya cuma beberapa jilid
2024-01-03
1