2. Kamu Serius?

Vivi yang baru sadar dari pingsannya terdiam dengan wajah yang terlihat bingung. Namun sesaat kemudian, Vivi mulai mengingat segalanya. Tentang dirinya yang bunuh diri melompat ke sungai karena di tinggal calon suaminya menikah dengan wanita lain. Sedangkan dirinya saat ini sedang mengandung anak dari pria itu.

Vivi sempat sadar saat di pinggir sungai tadi dan melihat wajah Roni. Dan sekarang Vivi melihat pemuda itu lagi. Vivi jadi tahu, kalau Roni telah menyelamatkan dirinya.

"Ke.. Kenapa kamu menolong aku?! Kenapa?! Kenapa?! Aku ingin mati! Aku tidak ingin hidup lagi!" pekik Vivi segera bangun dari tidurnya. Vivi nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan ekspresi yang tidak dapat dideskripsikan.

"He.. He.. Hentikan!"

"Klangg..."

Roni sangat terkejut saat melihat Vivi meraih pisau untuk mengupas buah. Roni memukul tangan Vivi saat Vivi hendak menghujamkan pisau itu ke perutnya sendiri. Pemuda itu memegang kedua tangan Vivi.

"Lepaskan aku! Aku ingin mati! Aku tidak ingin hidup lagi! Aku ingin mati!" pekik Vivi meronta ingin melepaskan tangannya yang di pegang oleh Roni.

"A.. A.. Ayahmu.. Ke . Ke. Kecelakaan," ucap Roni membuat Vivi terkejut.

Vivi berhenti meronta dan menatap Roni dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.

"A.. A.. ayahmu.. Lu..Lum.. Lumpuh," lanjut Roni menghela napas panjang.

"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" bantah Vivi yang tidak percaya pada Roni.

Roni melepaskan tangan Vivi, lalu menunjukkan foto ayah Vivi yang terbaring di rumah sakit dengan kepala di perban. Di samping ayahnya ada ibunya yang terlihat sangat sedih.

"Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin!" pekik Vivi dengan airmata yang tiba-tiba berjatuhan dari pelupuk matanya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas seperti tak bertulang.

Selama ini, ayah Vivi menjadi supir taksi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan ibunya bekerja di sebuah toko kue untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Ayah dan ibunya sangat menyayangi dirinya dan juga adiknya. Kedua orang tuanya bekerja keras untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak bagi mereka berdua.

Roni menghela napas berkali-kali mengingat apa yang dialami oleh gadis itu dari laporan anak buahnya tadi.

"I.. I.. Ibumu A.. A.. Akan se..se semakin se.. se.. sedih ji.. ji..jika ka..ka.. kamu.. bu.. bu.. bunuh diri," ucap Roni yang membuat orang harus banyak-banyak bersabar dan nyebut.

"Jika aku mati, ibuku tidak akan sanggup membiayai kehidupan kami sekeluarga. Apalagi untuk membiayai kuliah adikku. Tapi, aku.. Aku malu untuk menunjukkan wajah ku pada orang tuaku dan orang lain. Aku telah membuat kecewa ayah dan ibuku. Bajingan itu telah mengkhianati aku, mempermalukan aku dan menghancurkan hidupku. Aku benci dia! Aku benci anak ini! Akan ku bunuh dia!" gumam Vivi dalam hati.

"Keluarlah dari perutku! Anak sialan! Keluar dari perut ku!" pekik Vivi histeris seraya memukuli perutnya sendiri.

"He.. hentikan! Di.. Dia ti..ti. tidak berdosa!" cegah Roni seraya memegang kedua tangan Vivi, agar Vivi tidak memukuli perutnya lagi.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan apa? Apa?! Ayah anak ini telah menikah dengan wanita lain dan tidak mau mengakui anak ini. Untuk apa aku mempertahankan anak ini? Aku tidak mau melahirkan dia! Aku tidak mau!"pekik Vivi menangis tergugu berderai air mata.

"Saya bisa membantu kamu menggugurkan kandungan kamu itu," ucap Fina yang tiba-tiba muncul.

Vivi sempat terkejut mendengar suara Fina. Gadis itu menatap Fina dengan air mata yang terus berderai dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sedangkan Roni menatap Fina dengan tatapan tidak percaya.

"Kenapa dokter Fina malah ingin membantu gadis ini untuk membunuh anak yang tidak berdosa dalam rahim gadis ini?" gumam Roni dalam hati yang tidak setuju dan terlihat kecewa dengan ide Fina.

"Tapi, sebelum saya membantu kamu menggugurkan kandungan kamu, kamu perlu tahu apa saja risiko jika menggugurkan kandungan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari," ujar Fina menghela napas panjang.

"Aku pikir dokter Fina benar-benar ingin membantu gadis ini menggugurkan kandungannya," gumam Roni dalam hati.

Fina duduk di kursi sebelah Vivi, agar nyaman saat berbicara.

"Dengar apa yang saya sampaikan ini. Ini adalah akibat jika menggugurkan kandungan. Pertama, menggugurkan kandungan bisa menyebabkan infeksi rahim (uterus), perdarahan hebat dan kerusakan pada rahim atau leher rahim (serviks),"

"Ke dua, menggugurkan kandungan bisa membuat kamu mengalami masalah kesuburan. Karena menggugurkan kandungan bisa membuat wanita berisiko mengembangkan infeksi rahim. Bila tidak segera ditangani, infeksi tersebut bisa menyebar ke saluran telur dan ovarium yang dikenal sebagai penyakit radang panggul,"

"Ke tiga, penyakit radang panggul yang bisa terjadi akibat aborsi juga bisa menyebabkan kehamilan ektopik pada kehamilan berikutnya, yaitu ketika sel telur tertanam di luar rahim. Aborsi juga menyebabkan melemahnya serviks, yang meningkatkan risiko wanita melahirkan sebelum waktunya. Sehingga bayi akan terlahir prematur,"

"Belum lagi, membunuh itu adalah perbuatan dosa. Di luar sana banyak wanita yang ingin memiliki keturunan. Tapi, sayangnya Tuhan tidak memberikan kepercayaan pada mereka untuk mengandung. Lalu, kenapa kamu yang di berikan kepercayaan oleh Tuhan malah ingin membunuh bayi yang tidak berdosa? Bagaimana perasaan kamu, jika kamu berada di posisi bayi dalam kandungan kamu itu?"

"Dia tidak minta di hadirkan di dalam rahimmu. Dia ada di rahim mu atas kehendak Tuhan. Kenapa kamu ingin mengambil nyawanya mendahului Tuhan?" ujar Fina panjang lebar, agar Vivi mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya.

"Akibat yang aku sebutkan itu terjadi bila dilakukan bukan oleh tenaga medis profesional, atau menggunakan metode yang tidak aman, atau di tempat dengan fasilitas terbatas," gumam Fina dalam hati tidak ingin Vivi menggugurkan kandungannya.

Sedangkan Roni yang awalnya salah paham pada Fina, akhirnya merasa lega karena Fina memberikan penjelasan secara medis untuk menyadarkan bahwa tindakan yang akan di ambil oleh Vivi adalah salah.

Saat Fina sibuk menjelaskan pada Vivi, Roni nampak sibuk mengetik di handphonenya. Setelah Fina selesai memberikan penjelasan pada Vivi, Roni pun selesai mengetik. Pemuda itu nampak menghela napas panjang.

"Apakah keputusan ku ini sudah benar? Tuhan, niatku baik. Entah di terima atau tidak, aku akan tetap berlapang dada," gumam Roni dalam hati.

Roni menghela napas berkali-kali, kemudian mendekati Vivi.

"Vi.. Vi..Vivi.."ucap Roni seraya menyodorkan handphonenya yang layarnya masih menyala pada Vivi. Pemuda itu tersenyum lembut dan terlihat tulus pada Vivi.

Vivi yang penasaran dengan maksud Roni menyodorkan handphonenya pun mengambil handphone Roni itu. Vivi membaca tulisan yang di ketik oleh Roni.

Fina yang penasaran pun ikut membaca apa yang di ketik Roni di handphonenya.

"Vivi, aku tahu, kita belum saling mengenal. Kamu sudah tahu, aku bukan manusia yang sempurna. Tapi, bayi dalam kandungan kamu itu tidak berdosa. Jika kamu berkenan, aku ingin menjadi ayah dari anak yang kamu kandung. Aku akan menikahi kamu untuk memberikan nama pada anak dalam rahim mu. Aku akan menyayangi dia seperti aku menyayangi anakku sendiri. Kita akan membesarkannya bersama-sama,"

"Namun, jika kamu tidak menyukai aku, setelah anak itu lahir, aku ikhlas, jika kamu ingin bercerai dari ku. Jangan khawatir, walaupun kita bercerai, aku akan tetap membiayai anak itu hingga dewasa," ucap Roni dalam tulisan yang di ketiknya di handphonenya itu.

Fina sangat terkejut setelah membaca tulisan itu. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menatap lekat pada pemuda yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun itu.

"Roni.. Apa yang kamu lakukan? Apa kamu melakukan semua ini karena tidak kunjung mendapatkan pasangan hidup? Atau karena kata-kata candaan ku tadi?" gumam Fina dalam hati. Kalimat yang tidak terucapkan oleh Fina. Menatap Roni dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan.

"Ka.. Kamu serius?" tanya Vivi terbata dengan tatapan tidak percaya pada Roni. Pasalnya, baru hari ini Vivi bertemu dengan Roni. Bahkan sampai saat ini Vivi tidak tahu siapa nama Roni.

Roni mengambil handphonenya dari Vivi, lalu kembali mengetik dengan cepat. Tak lama kemudian, Roni memberikan lagi handphonenya pada Vivi.

Fina yang penasaran dengan apa yang di ketik Roni pun ikut membaca apa yang di ketikan Roni di handphone itu.

"Aku serius. Jika kamu menikah dengan aku, orang tuamu tidak akan malu sebab kamu gagal menikah satu minggu lagi. Karena calon suamimu hari ini menikah dengan wanita lain. Kamu juga tidak akan malu karena anak dalam kandungan kamu itu akan memiliki ayah,"

"Selain itu, kondisi ayahmu yang sedang sakit akan memburuk karena terpukul, jika dia tahu kamu gagal menikah. Ibumu akan sangat sedih. Apalagi, jika kamu sampai bunuh diri," ujar Roni dalam tulisan yang di ketiknya di handphonenya itu.

"Tapi, apa keuntungannya buat kamu dengan menikahi aku?"tanya Vivi yang juga ingin ditanyakan oleh Fina.

...🌟"Terkadang sulit untuk membedakan antara tulus dan akal bulus."🌟...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Susetiyanti RoroSuli

Susetiyanti RoroSuli

betul dhik Nana , tulus atau akal.bulus yg tahu adalah pribadi qita masing masing

2024-01-12

5

Gagas Permadi

Gagas Permadi

baik bgt si Roni

2024-01-03

1

Uyhull01

Uyhull01

good Roni kmu siap menanggung smua resiko nya, 👍👍

2023-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!