Vivi yang baru sadar dari pingsannya terdiam dengan wajah yang terlihat bingung. Namun sesaat kemudian, Vivi mulai mengingat segalanya. Tentang dirinya yang bunuh diri melompat ke sungai karena di tinggal calon suaminya menikah dengan wanita lain. Sedangkan dirinya saat ini sedang mengandung anak dari pria itu.
Vivi sempat sadar saat di pinggir sungai tadi dan melihat wajah Roni. Dan sekarang Vivi melihat pemuda itu lagi. Vivi jadi tahu, kalau Roni telah menyelamatkan dirinya.
"Ke.. Kenapa kamu menolong aku?! Kenapa?! Kenapa?! Aku ingin mati! Aku tidak ingin hidup lagi!" pekik Vivi segera bangun dari tidurnya. Vivi nampak mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan ekspresi yang tidak dapat dideskripsikan.
"He.. He.. Hentikan!"
"Klangg..."
Roni sangat terkejut saat melihat Vivi meraih pisau untuk mengupas buah. Roni memukul tangan Vivi saat Vivi hendak menghujamkan pisau itu ke perutnya sendiri. Pemuda itu memegang kedua tangan Vivi.
"Lepaskan aku! Aku ingin mati! Aku tidak ingin hidup lagi! Aku ingin mati!" pekik Vivi meronta ingin melepaskan tangannya yang di pegang oleh Roni.
"A.. A.. Ayahmu.. Ke . Ke. Kecelakaan," ucap Roni membuat Vivi terkejut.
Vivi berhenti meronta dan menatap Roni dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"A.. A.. ayahmu.. Lu..Lum.. Lumpuh," lanjut Roni menghela napas panjang.
"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" bantah Vivi yang tidak percaya pada Roni.
Roni melepaskan tangan Vivi, lalu menunjukkan foto ayah Vivi yang terbaring di rumah sakit dengan kepala di perban. Di samping ayahnya ada ibunya yang terlihat sangat sedih.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Tidak mungkin!" pekik Vivi dengan airmata yang tiba-tiba berjatuhan dari pelupuk matanya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas seperti tak bertulang.
Selama ini, ayah Vivi menjadi supir taksi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bahkan ibunya bekerja di sebuah toko kue untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Ayah dan ibunya sangat menyayangi dirinya dan juga adiknya. Kedua orang tuanya bekerja keras untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak bagi mereka berdua.
Roni menghela napas berkali-kali mengingat apa yang dialami oleh gadis itu dari laporan anak buahnya tadi.
"I.. I.. Ibumu A.. A.. Akan se..se semakin se.. se.. sedih ji.. ji..jika ka..ka.. kamu.. bu.. bu.. bunuh diri," ucap Roni yang membuat orang harus banyak-banyak bersabar dan nyebut.
"Jika aku mati, ibuku tidak akan sanggup membiayai kehidupan kami sekeluarga. Apalagi untuk membiayai kuliah adikku. Tapi, aku.. Aku malu untuk menunjukkan wajah ku pada orang tuaku dan orang lain. Aku telah membuat kecewa ayah dan ibuku. Bajingan itu telah mengkhianati aku, mempermalukan aku dan menghancurkan hidupku. Aku benci dia! Aku benci anak ini! Akan ku bunuh dia!" gumam Vivi dalam hati.
"Keluarlah dari perutku! Anak sialan! Keluar dari perut ku!" pekik Vivi histeris seraya memukuli perutnya sendiri.
"He.. hentikan! Di.. Dia ti..ti. tidak berdosa!" cegah Roni seraya memegang kedua tangan Vivi, agar Vivi tidak memukuli perutnya lagi.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan apa? Apa?! Ayah anak ini telah menikah dengan wanita lain dan tidak mau mengakui anak ini. Untuk apa aku mempertahankan anak ini? Aku tidak mau melahirkan dia! Aku tidak mau!"pekik Vivi menangis tergugu berderai air mata.
"Saya bisa membantu kamu menggugurkan kandungan kamu itu," ucap Fina yang tiba-tiba muncul.
Vivi sempat terkejut mendengar suara Fina. Gadis itu menatap Fina dengan air mata yang terus berderai dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sedangkan Roni menatap Fina dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa dokter Fina malah ingin membantu gadis ini untuk membunuh anak yang tidak berdosa dalam rahim gadis ini?" gumam Roni dalam hati yang tidak setuju dan terlihat kecewa dengan ide Fina.
"Tapi, sebelum saya membantu kamu menggugurkan kandungan kamu, kamu perlu tahu apa saja risiko jika menggugurkan kandungan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari," ujar Fina menghela napas panjang.
"Aku pikir dokter Fina benar-benar ingin membantu gadis ini menggugurkan kandungannya," gumam Roni dalam hati.
Fina duduk di kursi sebelah Vivi, agar nyaman saat berbicara.
"Dengar apa yang saya sampaikan ini. Ini adalah akibat jika menggugurkan kandungan. Pertama, menggugurkan kandungan bisa menyebabkan infeksi rahim (uterus), perdarahan hebat dan kerusakan pada rahim atau leher rahim (serviks),"
"Ke dua, menggugurkan kandungan bisa membuat kamu mengalami masalah kesuburan. Karena menggugurkan kandungan bisa membuat wanita berisiko mengembangkan infeksi rahim. Bila tidak segera ditangani, infeksi tersebut bisa menyebar ke saluran telur dan ovarium yang dikenal sebagai penyakit radang panggul,"
"Ke tiga, penyakit radang panggul yang bisa terjadi akibat aborsi juga bisa menyebabkan kehamilan ektopik pada kehamilan berikutnya, yaitu ketika sel telur tertanam di luar rahim. Aborsi juga menyebabkan melemahnya serviks, yang meningkatkan risiko wanita melahirkan sebelum waktunya. Sehingga bayi akan terlahir prematur,"
"Belum lagi, membunuh itu adalah perbuatan dosa. Di luar sana banyak wanita yang ingin memiliki keturunan. Tapi, sayangnya Tuhan tidak memberikan kepercayaan pada mereka untuk mengandung. Lalu, kenapa kamu yang di berikan kepercayaan oleh Tuhan malah ingin membunuh bayi yang tidak berdosa? Bagaimana perasaan kamu, jika kamu berada di posisi bayi dalam kandungan kamu itu?"
"Dia tidak minta di hadirkan di dalam rahimmu. Dia ada di rahim mu atas kehendak Tuhan. Kenapa kamu ingin mengambil nyawanya mendahului Tuhan?" ujar Fina panjang lebar, agar Vivi mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya.
"Akibat yang aku sebutkan itu terjadi bila dilakukan bukan oleh tenaga medis profesional, atau menggunakan metode yang tidak aman, atau di tempat dengan fasilitas terbatas," gumam Fina dalam hati tidak ingin Vivi menggugurkan kandungannya.
Sedangkan Roni yang awalnya salah paham pada Fina, akhirnya merasa lega karena Fina memberikan penjelasan secara medis untuk menyadarkan bahwa tindakan yang akan di ambil oleh Vivi adalah salah.
Saat Fina sibuk menjelaskan pada Vivi, Roni nampak sibuk mengetik di handphonenya. Setelah Fina selesai memberikan penjelasan pada Vivi, Roni pun selesai mengetik. Pemuda itu nampak menghela napas panjang.
"Apakah keputusan ku ini sudah benar? Tuhan, niatku baik. Entah di terima atau tidak, aku akan tetap berlapang dada," gumam Roni dalam hati.
Roni menghela napas berkali-kali, kemudian mendekati Vivi.
"Vi.. Vi..Vivi.."ucap Roni seraya menyodorkan handphonenya yang layarnya masih menyala pada Vivi. Pemuda itu tersenyum lembut dan terlihat tulus pada Vivi.
Vivi yang penasaran dengan maksud Roni menyodorkan handphonenya pun mengambil handphone Roni itu. Vivi membaca tulisan yang di ketik oleh Roni.
Fina yang penasaran pun ikut membaca apa yang di ketik Roni di handphonenya.
"Vivi, aku tahu, kita belum saling mengenal. Kamu sudah tahu, aku bukan manusia yang sempurna. Tapi, bayi dalam kandungan kamu itu tidak berdosa. Jika kamu berkenan, aku ingin menjadi ayah dari anak yang kamu kandung. Aku akan menikahi kamu untuk memberikan nama pada anak dalam rahim mu. Aku akan menyayangi dia seperti aku menyayangi anakku sendiri. Kita akan membesarkannya bersama-sama,"
"Namun, jika kamu tidak menyukai aku, setelah anak itu lahir, aku ikhlas, jika kamu ingin bercerai dari ku. Jangan khawatir, walaupun kita bercerai, aku akan tetap membiayai anak itu hingga dewasa," ucap Roni dalam tulisan yang di ketiknya di handphonenya itu.
Fina sangat terkejut setelah membaca tulisan itu. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu menatap lekat pada pemuda yang sudah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun itu.
"Roni.. Apa yang kamu lakukan? Apa kamu melakukan semua ini karena tidak kunjung mendapatkan pasangan hidup? Atau karena kata-kata candaan ku tadi?" gumam Fina dalam hati. Kalimat yang tidak terucapkan oleh Fina. Menatap Roni dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan.
"Ka.. Kamu serius?" tanya Vivi terbata dengan tatapan tidak percaya pada Roni. Pasalnya, baru hari ini Vivi bertemu dengan Roni. Bahkan sampai saat ini Vivi tidak tahu siapa nama Roni.
Roni mengambil handphonenya dari Vivi, lalu kembali mengetik dengan cepat. Tak lama kemudian, Roni memberikan lagi handphonenya pada Vivi.
Fina yang penasaran dengan apa yang di ketik Roni pun ikut membaca apa yang di ketikan Roni di handphone itu.
"Aku serius. Jika kamu menikah dengan aku, orang tuamu tidak akan malu sebab kamu gagal menikah satu minggu lagi. Karena calon suamimu hari ini menikah dengan wanita lain. Kamu juga tidak akan malu karena anak dalam kandungan kamu itu akan memiliki ayah,"
"Selain itu, kondisi ayahmu yang sedang sakit akan memburuk karena terpukul, jika dia tahu kamu gagal menikah. Ibumu akan sangat sedih. Apalagi, jika kamu sampai bunuh diri," ujar Roni dalam tulisan yang di ketiknya di handphonenya itu.
"Tapi, apa keuntungannya buat kamu dengan menikahi aku?"tanya Vivi yang juga ingin ditanyakan oleh Fina.
...🌟"Terkadang sulit untuk membedakan antara tulus dan akal bulus."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susetiyanti RoroSuli
betul dhik Nana , tulus atau akal.bulus yg tahu adalah pribadi qita masing masing
2024-01-12
5
Gagas Permadi
baik bgt si Roni
2024-01-03
1
Uyhull01
good Roni kmu siap menanggung smua resiko nya, 👍👍
2023-12-17
1