Bab 8

"Andrea,kau yakin sopir baru itu akan datang pagi ini?".

Sekian terdiam,akhirnya Joshua membuka percakapan di ruang makan itu.Lantas,memasukkan sepotong daging rendang terakhir ke dalam mulutnya,mengunyahnya lembut sebelum menelannya sampai habis.

Andrea melirik jam dinding yang terpajang di ruang makan.Waktu menunjukkan pukul 07.36 menit,tapi sosok yang di harapkannya tak kunjung hadir.Rona di wajahnya kelihatan cemas.

"Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya sehingga dia terlambat?",tanya Andrea dalam hati.

"Mungkin dia terjebak macet,kak Josh",jawab Andrea asal.

"Dia niat kerja atau tidak sih,Mom?".

Gavi ikut berkomentar,terkesan meragukan.Sebenarnya,dia tidak suka mendengar kabar adanya sopir baru di keluarga Andersen.Itu artinya,remaja itu tak akan bisa bebas menjalani kegiatannya setiap hari.

Dari jarak radius 2 meter,Jovian berdiri tegap memandang ketiga anggota keluarganya yang lama terpisah.Matanya tak berkedip,tatkala melihat sesosok laki - laki yang begitu familiar.Dia tak sanggup menahan senyum getirnya.Terbayang,bagaimana perlakuan pria itu kepadanya saat dirinya berumur 7 - 10 tahun.

"Setelah 15 tahun,akhirnya kita bersua lagi manusia iblis",guman Jovian.

Emosinya yang menggebu,membuat rahangnya mengeras dan kaku,menciptakan bunyi gemeretak giginya yang saling beradu.Kedua tangannya terkepal erat sampai urat - urat pembuluh darah di pergelangan tangannya menonjol ke permukaan kulit.Rasanya,dia ingin melayangkan bogem mentahnya kepada manusia tanpa dosa itu.

Joshua,satu - satunya orang yang ia benci!.

Manusia yang telah menorehkan luka demi luka dalam hati dan kehidupannya.Meskipun,sudah berusia kepala 5 lebih,tak ada perubahan signifikan dari diri Joshua.Masih kelihatan awet muda dengan fisik terlihat segar bugar.Apalagi,jambang tipisnya yang memperlihatkan sisi matang serta berkharismanya laki - laki itu.

"Jangan berprasangka buruk dulu,Vi".

"Tapi,Mom-".

"Selamat pagi,Ny.Andrea".

Gavi tertegun,kata - katanya terhenti begitu saja.Di kala telinganya menangkap suara asing yang tak di ketahui siapa pemiliknya.Baik Joshua,Andrea,maupun Gavi langsung mengalihkan fokus penglihatannya ke sumber suara.Tak ketinggalan juga,Fransisca dan Lalita yang masih setia menemani sang majikan menyelesaikan rutinitas pagi itu.

Bagi ketiga wanita yang berada di ruangan itu,tentunya mereka mengenal siapa dia.Berbeda dengan Joshua dan Gavi,mereka masih bertanya - tanya dalam hati.

Di depan mereka,berdiri seorang pemuda berparas rupawan seperti dewa dalam mitologi yunani.Terlihat gagah dengan menggendong tas ransel di salah satu sisi bahunya.Rambutnya tersisir rapi.Wajahnya dingin terkesan pendiam,sorot matanya dalam dan tajam,membuat pemuda itu semakin garang.

Sepintas,Joshua berasumsi pemuda ini lebih cocok menjadi bodyguard atau pembunuh bayaran.Dengan profil yang terlihat tak memiliki rasa belas kasihan.

Mendadak,detak jantung Joshua terpacu liar.Nalurinya mengatakan pernah bertemu dengan pemuda ini,walaupun masih bimbang.Dia mengetuk - ngetukkan sendoknya ke piring.Air mukanya tampak serius,mencoba berpikir keras dan mengingat siapa pemuda ini.Akan tetapi,Joshua tak menemukan jawaban yang pasti.

Semua terasa simpang siur!.

"Siapa dia,Andrea?",tanya Joshua dingin usai mengamati pemuda itu dari ujung kaki sampai kepala.

"Oh ya,dia Jovian orang yang aku ceritakan kemarin sore,kak Josh".

"Jadi,dia sopir baru yang menggantikan Pedro?".

"Iya,Tn.Joshua",sambar Lalita penuh antusias.

"Hush...!",sergah Fransisca sambil menyentuh lengan gadis itu.

"Apa'an sih"

Perempuan paruh baya itu memberikan isyarat melalui kedipan matanya kepada Lalita agar menahan dirinya untuk tidak ikut terlalu jauh dalam pembahasan yang bukan ranahnya.

"Jovian,perkenalkan beliau adalah Joshua.Kakak saya sekaligus kepala keluarga di rumah ini".

"Dan ini putra saya,Gavi".

Secara bergantian,Andrea memperkenalkan Joshua dan Gavi kepada Jovian.Tangan kanannya menunjuk ke arah 2 orang yang berada di sebelahnya dengan senyum manis yang mengembang dari bibirnya.

"Perkenalkan saya Jovian,Tn.Joshua.Senang berkenalan dengan anda",ucap Jovian lalu mengangguk kecil ke arah Gavi sebagai salam perkenalan.

Busyet,dia sungguh berpura - pura tak mengenali ayah kandungnya?!.

Anak durhaka!.

Jovian tersenyum tipis,kelihatan kurang tulus.Rasanya berat harus bersandiwara bersikap biasa seolah tak terjadi apa - apa di depan Joshua.Meskipun,dia tahu kesalahan pria itu di masa lampau juga bukan sepenuhnya milik Joshua.Dia juga korban dari kelicikan dari sepupunya,Joseph Hendersen.

"Maaf Tn.Joshua dan Ny.Andrea,kali ini saya terlambat karena ada urusan yang harus saya selesaikan terlebih dulu",lanjut Jovian berbasa - basi.

"Tidak apa - apa,Jo.Besok jangan di ulangi lagi ya".

"Baik,Ny.Andrea".

"Mom,apakah dia juga akan mengantarkanku setiap aku ada aktivitas di luar rumah?",sahut Gavi tanpa mau melihat sekitarnya.

Remaja itu asyik mengaduk - aduk nasi di piringnya,sama sekali tak ada selera untuk makan.Dari bahasa tubuhnya terlihat dia tak nyaman dengan kehadiran Jovian.

"Ya mulai hari ini,kamu akan selalu di temani oleh Jovian.Semua fasilitas yang kamu punya akan mommy sita.Mommy tak mau kejadian dulu terulang lagi".

"Tapi aku sudah dewasa,Mom.Bukan seperti anak kecil lagi",protes Gavi.

"Jangan bandel,Vi!.Bisa gak kamu jadi anak penurut?!",tegas Andrea.

"Vi,sebenarnya yang di bilang ibumu benar,ini semua demi kebaikanmu.Paman tak mau,kamu melakukan hal bodoh lagi.Jika paman tahu kamu berulah,aku tak akan segan - segan menghukummu.Kau mengerti ?!,teror Joshua.

Gavi terdiam,di riak wajahnya ada tanda - tanda kecewa dan sedih yang mendalam.Remaja itu tak akan bisa membantah lagi,bila pamannya sudah ikut campur dalam permasalahannya.Bukannya takut atau gentar,namun Gavi sangat menghormati pria yang sudah di anggap seperti ayahnya sendiri itu.

Kejeniusan Gavi dalam jurusan tehnik informatika memang tak bisa di pandang sebelah mata.Terkadang,keahliannya itu bisa membantu pekerjaan Joshua di kantornya.Inilah yang membuat Joshua bangga dan menyayangi Gavi.Namun,ulah Gavi yang sembrono juga sempat bikin Joshua kebakaran jenggot.Oleh karena itu,Joshua dan Andrea selalu protektif dan membatasi segala fasilitas Gavi.Termasuk,gaya hidup dan pergaulan bebas!.

"Faktanya,kehidupanmu selama ini belum juga berubah,manusia iblis.Masih sama seperti dulu,menuntut setiap orang untuk mengikuti kemauanmu!.Betapa brengsek dan egoisnya dirimu!",monolog Jovian tersenyum kecut.

"Oh ya,Jo.Apa motivasimu untuk bekerja di sini?",tanya Joshua.

Di sela aktifitasnya,mengelap telapak tangannya dengan tisu,menandakan dia telah selesai dengan sarapannya.Lalu,beranjak dari tempat duduknya menghampiri Jovian.

"Saya menyukai pengalaman baru dan sebuah tantangan,Tn.Joshua.Tak peduli,jika orang lain menganggapnya itu jenis pekerjaan rendahan atau semacamnya".

Jleb!.

Hati Joshua bergetar mendengar alasan Jovian,dia menatap kagum akan sosok pemuda itu yang memiliki ketekadan hati begitu kuat dan nekad.Di jaman modern yang semakin canggih,jarang di temukan anak muda yang rendah hati dan tak malu akan status pekerjaannya,kebanyakan mereka mengutamakan penampilan dan gengsi.Ciri khas anak - anak saat ini,di tengah gempuran teknologi yang semakin berkembang pesat.

"Bagus,aku suka jawabanmu.Mencerminkan kau adalah figur pekerja keras dan bertanggungjawab!",puji Joshua menepuk pundak kokoh Jovian.

"Terima kasih,Tn.Joshua".

Meskipun,baru di puji Joshua,wajah Jovian tak berubah,datar tanpa ekspresi.Asal tahu saja,Jovian bukan tipe orang yang mudah terlena akan sanjungan dan mudah tumbang bila di terpa ujian.

Pokoknya salut,deh!.

***

Setelah acara perkenalan selesai,Jovian di antar Lalita menuju ke kamarnya selama bekerja di keluarga Andersen.

"Mau apa lagi?".

Suara bariton Jovian berkumandang di telinga pelayan itu,melihat Lalita masih berdiri di ambang pintu kamarnya.Entah apa yang terjadi,sejak tadi pelayan itu merasakan gejolak euforia yang berlebihan.Mungkinkah,dia lagi kasmaran?.

Bisa jadi?!.Toh,di awal pertemuan gadis itu sudah menunjukkan ketertarikannya kepada Jovian.

"Hmmm...kalau butuh apa - apa bilang saja kepadaku!.Aku siap membantu,Jo",ucap Lalita tersipu malu.

"Hmmm...".

"Ish,kenapa dia kaku sekali seperti batang pohon jati?",gerutu Lalita dalam hati.

"Hallo..?"

Jovian mengibaskan tangannya,membuyarkan khayalan indah Lalita.Dia terhenyak beberapa waktu,wajah pelayan itu sedikit memerah seperti udang rebus karena malu.Ingin secepatnya menghilang dari tempat itu.

"He..tak apa - apa".

Lalita langsung menghambur pergi begitu saja,membuat Jovian geleng - geleng kepala.Pemuda itu masuk ke kamar yang sebelumnya di pakai oleh Pedro,lalu menutup pintunya.Dia melempar tas ranselnya,merebahkan badannya di atas kasur empuk beralaskan seprai berwarna biru muda.Langit - langit kamar berbahan gypsum menerobos masuk ke kornea mata lelaki itu.

"Ini baru permulaan,masih banyak tantangan dan lika - liku ke depannya,Jo!".

Sadis suara Jovian yang berdesis dari sela gigi rapinya,enak di dengar,tetapi tajam dan menarik perhatian.Sekilas,pemuda itu melirik jam dinding yang tergantung di atas kamarnya.

"5 menit lagi tugas baru akan menantimu,Jo",ucap Jovian dengan suara tawa kecil menyerupai pernak - pernik sebuah lonceng gereja di hari natal.

***

Dalam waktu setengah jam,Gizza sampai di sebuah gedung pencakar langit yang tampak kuat dan megah,memamerkan keagungannya sebagai bangunan yang sulit untuk di robohkan dan di tindas semena - mena.

Northern Star!.

Perusahaan raksasa yang bergerak di bidang konstruksi dan infrakstruktur,properti,serta peritel furniture terbesar di dunia yang semakin hari semakin kuat menancapkan cakarnya di dunia bisnis.

Setelah memarkirkan mobilnya di basement,dia menuju ke ruangannya melalui lift khusus untuk staff - staff penting di perusahaan itu.Tampak,beberapa petinggi Northern Star sedang berkumpul dan menunggunya di depan pintu ruangan CEO dengan wajah panik.

Kelihatannya masalah serius!.

"Ada masalah apa,Liam?".

Gizza melewati orang - orang itu,lalu masuk ke ruangannya di ikuti oleh beberapa staff penting Northern Star dari belakang.Dia duduk di kursi kebesaran palsunya dan menatap tajam orang - orang itu.

"Ini tentang adik anda,Tn.Gizza.Sebuah video syur milik Tuan muda Xander bersama perempuan di kamar hotel Seven Six's telah tersebar di beberapa platform media sosial hari ini,Tn.Gizza",ucap Liam Brady selaku manager Norhern Star.

Liam menyerahkan sebuah ponsel berisi bukti jejak digital kelakuan bejat Xander.Tanpa ragu,pemuda itu menerima dan segera memutar rekaman video berdurasi 32 detik itu.Di sana,dia melihat Xander tanpa busana beradegan panas dengan seorang perempuan yang tak di ketahui identitasnya.

Begitu erotis dan penuh kenikmatan!.

Gizza menggeram,memejamkan matanya,lalu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut kencang.Dia benar - benar bingung dan pusing saat ini,melihat kejadian memalukan itu.Apa yang harus dia katakan kepada Jovian?.Bagaimana jika Jovian mengetahui hal ini?.Itulah sekelumit pertanyaan yang singgah di otaknya sekarang.

Brak!.

Tetiba,Gizza menggebrak meja dengan keras,meluapkan segenap amarahnya yang telah membuncah di dalam dada.Raganya di penuhi hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Dia benar - benar marah besar!.

"Sial,kenapa bisa kecolongan seperti ini?".

"Bukankah sudah ku bilang,beri sanksi seberat - beratnya pada pihak yang telah mengunggah dan menyebarkan foto atau video yang berhubungan dengan keluarga Griffiths!",lanjut Gizza.

"M-maafkan saya,Tn.Gizza.Saya teledor!".

Liam menunduk ketakutan,tak berani menatap kemarahan CEO palsu Northern Star.Dia mengaku salah akan kelalaiannya.Begitu juga dengan staff lainnya,mereka seperti berada di ruang pengadilan dan menunggu vonis yang akan di bacakan oleh sang hakim.

Bagaimana pun,jika berita ini sampai viral ke seluruh penjuru Leytonstone bahkan ke luar negeri,pasti akan mempengaruhi kestabilan perusahaaan.Dan itu akan menjadi senjata yang bakal di manfaatkan oleh pesaing - pesaing bisnisnya untuk menjatuhkan Northern Star.

"Aku ingin video ini segera di take down secepatnya!.Bagaimana pun caranya!.Kau mengerti!".

Gizza melirik sekilas Liam dengan tatapan tidak senang,membuat pria berusia 40-an tahun itu menggigil tanpa sadar.Meskipun,dia lebih tua namun Gizza tak pernah mentoleransi setiap kesalahan bawahannya.

Udah mirip sama Jovian ya?,keras kepala dan kejam!.

"B-baik,Tn.Gizza",jawab Liam terbata.

"Oke,kalian boleh keluar!",usir Gizza.

Liam dan beberapa staff lainnya mulai meninggalkan Gizza sendirian di ruang kantornya.Pemuda itu menghela nafas panjang,tidak habis pikir kenapa masalah selalu datang bertubi - tubi.

Drttt....suara ponsel berdering lagi.

Gizza buru - buru mengambil alat komunikasi itu dari saku celananya.Sebuah notifikasi pesan masuk ke benda pipihnya.

[Sayang,nanti sore aku mampir ke kantormu ya...Jangan menghindari aku lagi...I Love You...].

Gizza mendesis kesal,raut wajahnya semakin suram setelah membaca isi pesan dari seorang wanita bernama Esther Valerie.

"Menyusahkan saja!",gumam Gizza malas.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!