Selama seminggu lebih Karina membawa anak-anaknya liburan di luar negeri. Pada hari ke delapan Karina memutuskan kembali ke Italia atas perintah ayahnya.
Anak-anaknya terlihat sangat bahagia menatap langit cerah dari dalam mobil.
Karina selalu berharap kebahagiaan akan selalu menyertai putra-putrinya kelak. Ia tidak ingin takdir hidupnya sama seperti anak-anaknya.
Semasa hidup Karina, ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kini semasa hidup putra-putrinya. Mereka juga harus kekurangan kasih sayang dari ayahnya.
Gavin selalu berusaha mengatur kencan buta untuk Karina. Namun, tak ada satupun dari mereka yang bisa mencintai anak-anaknya dengan tulus. Karina merasa tidak membutuhkan seorang pria di dalam hidupnya. Hanya saja terkadang ia berpikir kalau dirinya sudah sangat egois membiarkan anak-anaknya harus tumbuh tanpa kedua orang tua yang utuh.
Setibanya di depan mansion yang sangat megah. Karina melangkah masuk ke dalam mansion bersama ketiga anaknya. Ia melihat ibu tirinya menatapnya dengan sinis. Sementara sang ayah dengan cepat memanggil Karina.
"Kemarilah." panggil Gavin dengan wajah datar.
"Ada apa?" tanya Karina dengan wajah tak kalah datar.
"Padre akan mengirim mu ke salah satu negara di asia tenggara untuk bertemu dengan seorang investor muda. Padre berharap kau bisa memenangkan hati investor kali ini. Karena ia memiliki banyak koneksi di dunia bawah yang tidak bisa dianggap enteng."
"Padre tidak mau bisnis haram Padre terbongkar ke publik."
Ya, ayah Karina merupakan seorang mafia berdarah dingin. Ia tidak segan-segan menghukum anaknya jika berani berbuat salah. Karina pernah merasakan sakitnya di hukum cambuk dan tubuhnya terkadang dicap dengan besi panas yang sampai hari ini masih membekas di tubuhnya.
"Apa Padre akan selalu bersikap egois seperti ini! Padre hanya mementingkan kepentingan pribadi Padre sendiri. Sementara Padre tidak pernah bertanya bagaimana perasaan ku hari ini. Bagaimana pekerjaan ku hari ini. Bagaimana suasana hati ku hari ini. Apa aku sudah makan atau belum. Padre hanya selalu ingat dengan semua pekerjaan harus aku kerjakan dengan sempurna dan sesuai keinginan Padre! Aku bukan mesin yang tidak punya hati! Aku punya rasa lelah dan butuh support system!" teriak Karina mengeluarkan unek-unek yang selama 10 tahun ini wanita itu pendam dalam hatinya.
"Ketiga cucu ku sedang ada disini. Jangan meninggikan suara mu di depan cucu-cucu ku!" ketus Gavin terlihat menahan kemarahannya.
"Rania! bawa ketiga cucu ku ke kamarnya!" perintah Gavin kepada istrinya dengan wajah datar. Ia tidak mau ketiga anak itu mendengar pertengkarannya dan putrinya.
"Mengapa harus aku?"jawab Rania berniat menolak perintah Gavin.
"Apa kau berminat menolak perintah ku!" geram Gavin menatap istrinya dengan tajam.
Dengan wajah kesal sekaligus takut Rania berniat membawa ketiga cucu-cucu suaminya ke kamar mereka.
"Cih! Jauhkan tangan kotor mu itu dari ketiga anak-anakku!" bentak Karina melangkah mendekati anak-anaknya.
Rania langsung melengos begitu saja meninggalkan ruangan tamu menuju kamarnya.
"Kemana kau akan mengirim ku kali ini!" tanya Karina tanpa membalikkan tubuhnya menatap lawan bicaranya.
"Indonesia."
Satu kata itu mampu membuat tubuh Karina menengang. Ia seakan-akan sedang meredam segala emosi yang sudah mendarah daging di dalam dirinya.
Negera yang sampai hari ini akan selalu menjadi negara yang paling tidak ingin Karina kunjungi.
Karina kemudian melanjutkan langkahnya mengandeng ketiga anaknya menuju kamar mereka. Namun, pertanyaan ayahnya menghentikan langkahnya.
"Apa kau akan pergi kesana?"
"Menurut mu apa aku bisa menolak semua perintah mu!" jawab Karina dengan ketus.
"Aku tahu kau akan selalu menuruti perkataan ku. Karena sampai hari ini kau masih mencari keberadaan wanita itu!" ujar Gavin tanpa ekspresi.
Karina mengabaikan perkataan ayahnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar ketiga anaknya yang bersebelahan.
#
#
Indonesia
Seorang wanita memutuskan kembali ke Indonesia bersama ketiga anaknya. Ia berniat menitipkan ketiga anaknya bersama Josephine selama bekerja nanti.
Mereka melangkah keluar dari bandara sembari mengenakan kaca mata hitam yang menutupi bola mata berwarna hazel mereka.
Karina juga memutuskan membeli wig untuk menutupi kepala putrinya. Ia tahu kalau putrinya terkadang insecure dengan keadaannya yang tidak sempurna seperti kedua saudaranya.
"Karina!" panggil seorang wanita yang sangat familiar di mata mereka berempat.
"Jos!Aunty!" sahut mereka bersama.
"Astaga. Kalian terlihat sangat cantik dan tampan hari ini. Sampai-sampai aku tidak mengenal kalian." puji Josephine tersenyum menggoda kearah ketiga anak kembar Karina.
"Stop aunty! Aku tidak suka dengan pujian mu!" celetuk Oscar memalingkan wajahnya ke samping.
Sementara Ocean kecil dan Nica tersenyum lebar mendengar pujian Josephine.
"Siapa dulu dong. Anak Mama."celetuk Nica tersenyum lebar mendengar pujian Josephine.
"Ayo. Supir pribadi ku sudah menunggu kita di depan." Josephine membantu Karina membawa barang-barang milik mereka berempat.
Oceanica tersenyum tipis memperhatikan orang-orang di sekitarnya dari balik kaca matanya. Ia senang akhirnya tidak perlu lagi merasa minder dengan kepala botaknya.
Sementara Ocean dan Oscar mengacuhkan wajah-wajah penasaran orang-orang saat tanpa sengaja bertemu dengan mereka. Mereka terlihat saling bergandengan dengan mengikuti langkah Karina dan Josephine.
#
#
Saat sudah berada di dalam mobil. Karina meminta supir Josephine agar menghentikan mobil saat tiba di toko bakery sekitar jalan raya nanti. Ia ingin membawa buah tangan untuk kedua orang tua Josephine. Meskipun mereka jarang bertemu karena orang tua Josephine terkadang sangat sibuk dengan bisnis mereka. Namun, Karina ingin memberikan buah tangan sebagai oleh-oleh atas kepulangannya.
"Tunggu di dalam bersama aunty. Mama mau membeli kue untuk kakek dan nenek."kata Karina dengan lembut.
"Apa kalian ingin makan sesuatu?" tanya Karina menatap ketiga putranya.
"Mama, Nica mau ikut. Nica mau sekalian ke toilet." ujar anak perempuan Karina dengan suara lirih.
"Apa kamu ingin pup?" tanya Karina dengan wajah cemas. Ia takut putrinya tiba-tiba mengeluarkan pup nya di dalam mobil.
"Tidak. Nica cuma mau buang air kecil." cicitnya dengan takut-takut.
Karina akhirnya bernapas lega mendengar penuturan putrinya. Ia kemudian menggendong putrinya turun dari mobil.
Karina melangkah masuk ke dalam toko bakery sembari mengandeng putrinya.
Saat sedang antri di depan kasir. Karina tanpa sengaja melihat seorang pria yang sangat ia benci. Karina mengacuhkan keberadaan pria itu saat sedang mengantri membayar kue miliknya di depan kasir.
Sementara Oceanica sedang berada di dalam toilet seorang diri.
Saat sudah selesai membayar belanjaannya. Karina melangkah menuju toilet melihat keadaan putrinya. Ia takut Nica membutuhkan bantuannya.
"Sayang, apa kamu sudah selesai buang air kecil?" tanya Karina mengetuk pintu kamar mandi toko bakery itu.
Ceklek
Nica keluar dari toilet dengan pakaian yang sudah basah.
"Kenapa dengan pakaian kamu?" tanya Karina dengan perasaan cemas.
"Nica kurang berhati-hati saat menghidupkan air WC, Ma." lirih Nica merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang. Sebaiknya kita segera kembali ke mobil. Mama takut kamu kedinginan." ujar Karina mengandeng tangan putrinya ke luar dari toilet.
Saat mau keluar dari toko bakery itu. Seorang pria mencegat langkahnya.
"Karina..." gumamnya dengan suara lirih. Ia kemudian menatap anak perempuan yang digandeng Karina dengan seksama.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang! saya tidak mengenal Anda!" ketus Karina menarik tangan putrinya kembali melangkah menuju mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚘𝚌𝚎𝚊𝚗 𝚗𝚒𝚑 𝚢𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚊𝚛𝚒𝚗𝚊
2025-02-22
0
Ani Ani
orang kalau dah sakit hati akan dendam selama lama nya
2024-08-12
0
Wirda Lubis
jangan perdulikan
2024-02-17
2