Ditemani oleh Josephine, Karina mencari kontrakan untuk ia tinggali. Sampai saat ini Karina belum mengetahui berita mengenai tuduhan-tuduhan palsu tentang dirinya. Seberapa banyak masyarakat menghujani Karina dengan kalimat sumpah serapan.
"Karina, apa kamu yakin tinggal sendiri di rumah sekecil ini? Kenapa kau tidak menyerah saja dan kembali pulang ke negara asal mu." tukas Josephine menatap rumah yang akan ditinggali oleh Karina dan anak-anaknya kelak.
"Aku tetap dengan pendirian ku, Jos! Aku tidak mau kembali dan harus hidup dengan keluarga penghianat itu." cetus Karina dengan aura membunuh. Mengingat kejadian masa lalu membuat darahnya tiba-tiba mendidih.
"Lagian aku masih ingin mencari keberadaan wanita itu." tambah Karina menghela napas panjang.
"Karina, sebaiknya kamu menghentikan pencarian mu. Karana kita tidak pernah tahu apakah Mama mu masih hidup atau tidak." celetuk Josephine cukup perihatin dengan jalan hidup sahabatnya.
"Aku ingin melihat makamnya kalaupun dia sudah mati." balas Karina dengan wajah datar.
Josephine tidak lagi melanjutkan perkataannya. Ia tahu Karina memiliki sifat yang sedikit keras kepala. Berdebat pun tak ada gunanya untuk meruntuhkan pendirian Karina.
"Ayo, masuk. Aku ingin melihat kondisi di dalam rumah." tukas Karina membuka pintu rumah kontrakan sederhana itu.
Suasana di rumah kontrakan itu terasa sedikit pengap. Mungkin karena sudah lama tidak di tempati oleh penghuni sebelumnya. Sehingga mereka harus membersihkan rumah itu sampai bersih agar layak ditinggali.
Josephine meskipun anak orang kaya. Namun, ia dengan senang hati membantu Karina membersihkan rumah kontrakannya.
"Jos, kau tidak perlu membantu ku. Aku takut tangan mu lecet." ucap Karina menghentikan kegiatan Josephine mendekorasi ulang letak kursi sofa di ruang tamu kecil itu. Ia harus memindahkan kursi itu dari tempatnya meskipun jarak antara kursi yang satu dengan kursi yang lain tidak berjauhan.
"Come on, Karina. Harusnya kau mengatakan kalimat itu pada dirimu sendiri." balas Josephine tetap melanjutkan pekerjaannya.
Josephine tahu kalau seorang ibu hamil tidak seharusnya mengangkat barang-barang berat. Jadi, Josephine berinisiatif sendiri melakukan pekerjaan yang sedikit berat. Sementara Karina diminta untuk menyusun pakainya, menyapu dan mengelap tempat-tempat tertentu yang Karina rasa harus sedikit berdebu.
Mereka membersihkan dan menata ulang beberapa peralatan di kontrakkan Karina hingga menjelang malam. Saat perut mereka sudah lapar. Josephine berinisiatif sendiri memesan go food untuk mempersingkat waktu.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Karina menatap Josephine.
"Aku sudah memesan makan malam untuk kita. Kau tidak perlu repot memasak makan malam untuk kita." jawab Josephine mengelap keringat yang membanjiri wajahnya.
"Maafkan aku sudah merepotkan mu, Jos." lirih Karina dengan suara sangat pelan menunduk beberapa saat.
"Bukankah aku sahabat mu? sudah sepatutnya aku membantumu." kata Josephine dengan suara lembut.
"Jangan khawatir tentang apapun. Karina aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjadi rumah untukmu selama kau belum bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai mu dengan tulus." tambah Josephine tersenyum hangat.
"Jos...." lirih Karina dengan mata berkaca-kaca. Ia tiba-tiba merasa melow saat mendengar penuturan Josephine.
"Jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan untuk hal yang membuatmu tidak bahagia, Karina. Bahagia lah dengan caramu sendiri. Bahagia tidak selalu berarti harus memiliki apa yang kau cintai. Tapi, definisi bahagia itu adalah dimana kau bisa menjadi diri mu sendiri dan dimana kau bisa dihargai dan diperlakukan dengan baik." kata Josephine dengan tatapan tulus.
Hiks
Hiks
Hiks
"Aku terlalu bodoh mengharapkan cinta Ocean selama dua tahun ini. Andaikan aku tidak memaksakan kehendak ku dari awal. Aku yakin hidupku akan bahagia saat ini." curhat Karina mengutarakan perasaannya.
"Karina... kita tidak bisa mengulang masa lalu ataupun memutar waktu untuk kita kembali memilih. Karena waktu akan terus berjalan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Bahwa kamu bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi." petuah bijak Josephine. Gadis itu tahu, kalau Karina akhir-akhir ini cendrung memiliki sifat yang melow dan gampang menangis.
Karina tersenyum tulus mendengar petuah bijak yang disampaikan oleh sahabatnya. Ia merasa beruntung bertemu dengan sahabat seperti Josephine.
Tak beberapa lama go food pesanan Josephine datang. Gadis itu bergegas menyajikannya di atas meja makan.
Tiba-tiba Karina ingin mual saat mencium aroma makan yang dibeli Josephine. Karina langsung menutup mulut dan hidungnya agar aroma itu tercium olehnya.
Hoek
Hoek
Hoek
Josephine terkejut melihat Karina berlari ke kamar mandi sembari memuntahkan cairan bening.
"Karina are you okey?" tanya Josephine dengan cepat sembari memijit tengkuk leher Karina.
"Jos, aku tidak bisa mencium aroma makan itu. Aku sangat ingin makan masakan Ocean."
Hiks
Hiks
Hiks
Karina tidak bisa menghentikan keinginannya itu. Ia benar-benar sangat ingin makan masakan Ocean.
Sementara Josephine tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak mungkin meminta Ocean memasak makan untuk memenuhi ngidam Karina.
"Coba kami ngidam hal lain. Aku pasti bisa mengabulkan permintaan mu, Rin. Tapi masalahnya aku tidak pernah dekat dengan Ocean. Bagaimana mungkin aku berani meminta hal seperti itu kepadanya." lirih Josephine sedikit pusing dengan ngidam Karina.
Karina menghela napas panjang dan berkata lirih.
"Lebih baik kamu makan malam duluan. Rasa mual ku belum bisa dikondisikan."
"Tapi, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Ayo makan sama-sama.Tidak masalah kalau kamu hanya makan sedikit saja." saran Josephine tidak mungkin membiarkan Karina menunda makan malamnya.
Karina akhirnya mengalah dan mengikuti langkah Josephine kembali ke meja makan.
Saat kembali ke meja makan. Lagi-lagi Karina harus mual dan memuntahkan cairan bening dari perutnya.
Hoek
Hoek
Hoek
"Udah Jos. Aku sudah tidak sanggup mencium aroma makanan itu. Aku merasa tubuhku lemah dan sedikit pusing." lirih Karina dengan suara lemah.
"Baiklah. Lebih baik kamu istirahat di kamar saja." Josephine memapah Karina sampai kamarnya.
Karina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Josephine kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan malamnya.
Saat Josephine sudah tidak ada lagi di kamarnya. Karina menangis dalam diam. Ia tidak percaya kalau anak-anaknya menginginkan hal yang tidak bisa Karina wujudkan.
"Sayang, maafkan Mama tidak bisa mewujudkan keinginan kalian."
Hiks
Hiks
Hiks
Lama Karina menangis hingga matanya bengkak. Karena terlalu lama menangis. Karina akhirnya tertidur lelap.
Saat Josephine kembali ke kamar Karina. Ia melihat wanita itu sudah tertidur lelap. Karena tidak tega membangunkan wanita itu. Josephine pulang tanpa pamit karena sedari tadi kedua orang tuanya memintanya segera kembali.
Saat mobil Josephine sudah mulai menjauh dari kontrak Karina. Seorang pria terlihat turun dari sebuah mobil mewah. Ia melangkah mendekati rumah kontrakan Karina dan masuk ke dalam tanpa izin sang pemilik.
Pria itu menata beberapa menu makanan di atas meja. Kemudian mengamati kondisi rumah kontrakan Karina. Ia terlihat menghela napas beberapa kali sebelum melangkah masuk ke dalam kamar Karina.
Pria itu menatap wajah Karina dengan sedikit lebih lama. Hingga ia kembali keluar dari kamar Karina. Namun, saat akan keluar dari kediaman wanita itu. Pria itu memutuskan kembali masuk ke rumah dan melangkah menuju kamar Karina. Ia mengelus lama perut sedikit buncit wanita itu sembari menatap wajah tidur lelap Karina tanpa ekspresi.
"Maaf." hanya kalimat itu yang terucap dari bibir tipisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
𝚘𝚌𝚎𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚑 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐... 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚊𝚏
2025-02-22
0
Ani Ani
ada yang disemiyai kan
2024-08-12
0
Shinta Dewiana
ocean kak...apa maksudnya
2024-07-24
0