GUNDIK MAFIA KEJAM
Bisingnya suara kendaraan dan teriknya matahari yang menyengat pori-pori, tak menyurutkan semangat seorang gadis bernama Saniarita.
Gadis berwajah cantik dengan postur tinggi semampai, berambut hitam ikal mayang. Ia gadis yatim piatu, lima belas tahun yang lalu, ibunya meninggal ketika Sania berusia lima tahun. Ia di titipkan oleh saudaranya ke panti asuhan di kotanya.
Ia berangkat dari kampung ingin mengubah nasibnya dengan mencari pekerjaan di kota.
Ia berdiri di depan kampus Tri Buana. dan sesekali mendengar suara kernet angkot menawari dengan sebuah pertanyaan singkat. Namun Sania hanya menggelengkan kepalanya.
Sania harus mencari alamat temannya yang bernama Dini. Sewaktu Dini pulang kampung dan bertemu Sania. Dini berjanji hendak mencarikan pekerjaan Sania di kota. Ia menyuruh Sania datang ke kota dan menemuinya.
Padahal barusan Sania menghubungi Dini sewaktu turun dari kereta api. Ia pesan, agar Sania naik angkot dan turun di Universitas Tri Buana. Dini berjanji akan menjemputnya.
Hampir tiga puluh menit Sania berdiri menunggu Dini. sesekali ia mengarahkan ponselnya ke telinganya dengan sedikit mengeluh.
"Duh Din, angkat Din."
Namun tak ada jawaban dari Dini. Sania semakin gelisah. Apalagi Sania tak tau ujung pangkal ibu kota.
Tiba-tiba dari arah samping terdengar suara laki-laki memanggil nama Sania.
"Halo, Sania! Tumben nggak bawa mobil sendiri?"
Suara panggilan itu membuat Sania Kaget. Sania mengira dua orang laki-laki yang menyapa dan menghampiri Sania adalah suruhan Dini. Sebab laki-laki itu tau namanya.
Sania tersenyum ramah pada dua laki-laki yang menyapanya. Sania menjawab dengan gugup.
"Ohhh ...ehh ...hmmm, saya ..."
"Nama kamu Sania, kan?" potong salah satu laki-laki itu.
Sania bingung dengan melirik dua laki-laki itu.
"Sudah nggak usah takut, ayo aku antar kamu," ucap salah satu dari dua laki-laki itu menggiring Sania agar masuk ke mobil.
Tanpa pikir panjang, Sania yang masih berumur dua puluh tahun, dengan polosnya segera masuk ke dalam mobil setelah mobil dibuka. Tanpa ada kecurigaan dalam benak Sania.
Namun apa yang terjadi ketika Sania berada di dalam mobil.
Sania kaget, ketakutan mulai hinggap pada dirinya. Mata sania menatap satu per satu orang yang berada di dalam mobil yang berjumlah empat orang termasuk pengemudi. Dua orang menutup wajahnya dengan kain berwarna hitam. Hanya menyisakan kedua bola matanya.
"Cepat pakai penutup wajahmu!" Teriak laki-laki yang duduk di depan dengan melempar kain hitam ke arah laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Sania lebih kaget lagi. Ia bagaikan mimpi dalam kenyataan. Tubuhnya mulai gemetar. Sania yang mengira laki-laki tadi suruhan Dini sirna sudah. Ia baru sadar kalau laki-laki yang ada di dalam mobil bukanlah suruhan Dini, melainkan orang jahat.
"Maaf, aku turun saja di sini," ucap Sania dalam kebingungan, dengan tangan menggapai-gapai pintu mobil.
"Tenang Sania, tak usah takut. Kamu akan aku antar ke temanmu" bisik salah satu laki-laki di sebelahnya yang sudah memakai penutup wajah.
"Tidak ...! Turunkan aku, turunkan!" teriak Sania panik.
Sania terus berteriak dengan tangan menggapai-gapai pintu. Yang membuat sang pengemudi marah dan berteriak dengan geram.
"Berisik tau!" mata si pengemudi melotot mengarah wajah Sania lewat kaca spion yang ada di depannya. "Ikat saja tangan dan kakinya, serta lakban mulutnya biar nggak koar-koar!" teriaknya lagi.
Dengan cepat kedua laki-laki yang ada di samping Sania menuruti perintah sopir. Ia meraih tali rafia yang dilemparkan laki-laki yang duduk di depan. Dan segera mengikat kedua tangan Sania serta menutup mulut Sania dengan lakban.
Sania terus meronta tak henti-hentinya berusaha melepas ikatan tali yang melilit tubuhnya. Namun sia-sia, lilitan itu sangat kuat. Kekuatan Sania tak mampu melawan kuatnya ikatan tali itu.
Tiba-tiba laki-laki yang ada di sebelahnya mendekap tubuh Sania. Dan entah setan apa yang merasuki otak laki-laki itu dengan membuka satu per satu kancing kemeja Sania. Serta meremas-remas sesuatu yang menonjol pada dada Sania. Dengan sesekali laki-laki itu menelan salivanya sendiri.
Sania yang sudah tak berdaya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya doa-doa yang terus keluar dari dalam hatinya.
Tak terasa air matanya meleleh dari sudut matanya mengiringi kepedihan hatinya. Kala laki-laki itu berbuat kurang ajar dengan menciumi leher jenjang Sania serta menyibakkan rambut Sania yang terurai menutupi leher.
Laki-laki itu leluasa menyapu permukaan tengkuk Sania dengan ujung lidahnya. Yang membuat bulu kuduk Sania merinding.
Kembali Sania berontak dengan menghindar dari tubuh laki-laki yang berbuat tak senonoh padanya.
"Hai, jangan di sini, dong! Nanti saja, kan sudah disediakan tempat oleh si bos," kata laki-laki sebelah Sania.
Namun laki-laki itu tak menghiraukan ucapan teman yang ada di sebelahnya. Ia semakin erat mendekap tubuh Sania yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan laki-laki itu.
"Duh, nggak tahan nih rasanya sudah ngebet," ucap laki-laki itu perlahan melepas tubuh Sania sambil mencubit bagian sensitif Sania..
Sania bingung tubuhnya gemetar. Ia tak bisa berpikir lagi. Yang ia lakukan hanya terus berontak dengan menendang-nendang kan kakinya.
Sania tak bisa mengelaknya dan tak berdaya, dirinya hanya pasrah apa yang dilakukan laki-laki di sebelahnya. Dalam hatinya mengumpat habis-habisan.
Tiga puluh menit kemudian. Mobil memasuki halaman rumah yang luas. Dengan tembok pagar menjulang tinggi. Mobil berhenti tepat disebuah bangunan besar serta pintu yang terbuat dari besi terbuka dengan sendirinya.
"Cepat turun, sudah sampai, nih!" teriak sopir cepat -cepat membuka pintu mobil. Dan mendorong Sania hingga Sania terlempar dari dalam mobil.
"Bawa dia masuk kedalam, kita bikin senang-senang dulu sebelum kita eksekusi gadis ini."
Suara mereka terdengar miris di telinga Sania. tubuh Sania semakin bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Dengan sigap seorang laki-laki meraih tubuh Sania dan mengangkatnya masuk ke dalam.
"Ya Allah, lindungi aku ya Allah!" teriak batin Sania.
Laki-laki itu menurunkan tubuh Sania dari gendongannya. Dan mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. tangan laki-laki itu secara kasar melepas ikatan tali yang melilit tangan Sania. Serta melepas paksa satu per satu pakaian Sania. Hingga tak sehelai kain pun menutupi tubuh Sania.
KREEKK ...
Lakban yang menutupi mulut Sania di lepas secara kasar oleh laki-laki itu. Hingga sania merasakan kesakitan di sekitar mulutnya.
"Biadab kamu ...!" umpat Sania setelah mulutnya sudah tak terhalang lakban.
Namun laki-laki itu tak menghiraukan umpatan Sania. Ia dengan cepat menindih tubuh Sania, serta membekap bibir Sania dengan bibirnya yang tebal.
"Hai ...! Gantian dong, minggir! Biar aku yang merenggut kesuciannya. Kan aku yang mengajak kalian!" suara lantang laki-laki yang bertubuh kekar yang tadi bertugas sebagai pengemudi.
Laki-laki yang semula berada diatas tubuh Sania berdiri. Dan merobek- robek pakaian yang berserakan di lantai hingga terkoyak. dan melempar satu per satu pakaian itu agak jauh dari tubuh Sania.
Senia menjerit histeris dan berdiri dengan menutupi sebagian tubuhnya. Ia berusaha berlari.
Namun tiba-tiba laki-laki yang berada didekatnya meraih tubuh Sania dan membaringkan lagi tubuh Sania secara paksa. Dengan di bantu ke dua temannya memegangi anggota tubuh Sania.
Sania tak henti-hentinya berteriak minta ampun.
Namun mereka malah tertawa senang dengan memandang Sania rendah, membuat tubuh Sania merinding dan ketakutan.
Laki-laki itu dengan cepat melepas pakaiannya sendiri. serta menindih tubuh Sania. Ia tak menghiraukan rintihan Sania yang sangat memilukan, dan tangisan Sania yang terus minta ampun.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Raden Aska
mantab bagus ceritanya
2023-12-15
0
Joko Irianto
rasanya nyandu pingin baca terus
2023-11-01
0
Joko Irianto
rasanya nyandu untuk baca lanjut thor
2023-11-01
0