KENAPA HARUS ABANG?

Kakak ipar? Tak ada angin tak ada hujan, namun Alfath bagai tersambar petir disiang bolong. Mulutnya menganga sambil menatap Alula. Calon kakak ipar? Kalimat itu seperti menggema dikepalanya. Apa ini artinya, Alula hamil anak Bang Aydin? Tidak, tidak mungkin. Abangnya bukan pria berengsek, Abangnya pria baik-baik.

Alula terkejut saat Alfath tiba-tiba menarik tangannya. Tanpa fikir panjang, membawa gadis itu keluar menuju teras.

"Loh, loh, loh, Al," teriak Mama Nara. Bingung dengan kelakuan anak bungsunya tersebut. Aydin, dia langsung keluar untuk melihat Alfath dan Alula.

"Jelasain sama gue, La. Apa maksud ini semua?" tanya Alfath. "Kenapa tiba-tiba lo mau nikah sama Abang gue? Jangan bilang kalau..." Dia menundukkan pandangan, tepat kearah perut Alula.

Alula tak menjawab, hanya mengangguk. Dan itu sudah membuat Alfath faham. Dengan sendirinya, tanganya lepas dari pergelangan tangan Alula. Dadanya sesak, kenapa harus abangnya, kenapa?

"Al," panggil Aydin yang berdiri diambang pintu. Dia juga bingung dengan kelakuan Alfath.

Alfath menoleh kearah Aydin. Sorot matanya langsung berubah. Jika biasanya, dia selalu menatap kagum dan penuh hormat kearah abangnya, tidak untuk kali ini. Sorot matanya penuh kebencian. Dan reflek, kedua telapak tanganya mengepal kuat.

Aydin menghampiri keduanya, hendak meminta penjelasan. Namun dengan mata memerah dan dada naik turun, Alfath berlalu. "Munafik lo, Bang. Berengsek," makinya didekat telinga Aydin saat posisi mereka tepat bersebelahan. Alfath pergi begitu saja, meninggalkan Alula bersama Aydin.

Aydin, pria itu jelas syok mendengar ucapan Alfath barusan. Baru kali ini, adiknya itu bicara tak sopan padanya.

"Al, temanku di sekolah," ujar Alula. Dia tak ingin Aydin sampai salah faham. Dia juga tak pernah menyangka jika akan berurusan dengan dua kakak beradik. Dimana dia hamil anak kakaknya, sedang adiknya menyatakan cinta padanya.

Aydin membuang nafas kasar. Sekarang dia tahu kenapa Alfath bicara seperti itu tadi. Adiknya itu pasti sangat kecewa padanya.

"Ayo masuk. Ditungguin Mama sama Ayah." Alula mengangguk, keduanya lalu masuk kedalam bersama.

Sementara Alfath, cowok itu langsung masuk kamar. Dia bahkan mengabaikan panggilan Mamanya saat melewati ruang tamu tadi. Dadanya bergemuruh, yang ingin dia lakukan saat ini, hanya melampiaskan kemarahannya. Kalau saja Aydin bukan abangnya, sudah pasti dia hajar pria itu. Tapi dia tak mungkin melakukan itu. Dia tak ingin melihat Mamanya sedih, apalagi sampai menangis jika dia berkelahi dengan abangnya.

Bughh

Arrggghh

Alfath memukul dinding kamar sambil berteriak. Kenapa harus abangnya, kenapa? Diantara jutaan pria di bumi ini, kenapa harus abangnya yang menghamili Alula? Dia bahkan sama sekali tak tahu jika abangnya ada hubungan dengan Alula.

Tubuh Alfath luruh ke lantai bersamaan dengan air matanya. "Munafik lo, Bang. Munafik," pekiknya sambil memukul lantai. Punggung tangannya terasa sakit, namun tak sebanding dengan sakit dihatinya. "Gue pikir lo pria baik-baik, tapi ternyata, lo itu berengsek." Dia terus memaki, meluapkan emosi didadanya. "Kenapa harus abangku, La. Kenapa?" gumamnya pilu sambil menepuk-nepuk dada.

Kata orang, waktu yang akan menghapus luka. Waktu juga yang akan membuat kita melupakan semua kenangan. Namun jika terus tampak didepan mata, mungkinkah dia akan bisa melupakan Alula, cinta pertamanya. Apalagi kemarin dia sempat menyatakan cinta. Kedepannya, dia tak tahu akan seperti apa bersikap pada Alula.

Sementara di ruang tamu, Alula gemetaran saat duduk disebelah Mama Nara. Segelas minuman jeruk terhidang diatas meja, tapi meskipun tenggorokannya kering kerontang minta dialiri air, dia tak berani bergerak untuk mengambil minuman tersebut.

"Jadi kamu teman sekolahnya, Al?" tanya Mama Nara. Tadi, Aydin sudah menjelaskan alasan Alfath menarik Alula keluar, ternyata mereka sudah saling kenal.

"I, iya Tante. Ka-kami s-satu kelas," sahutnya terbata.

"Jangan terlalu tegang, biasa saja," ucap Mama Nara sambil menggenggam tangan Alula yang ada dipangkuan.

"Ma, suruh minum dulu. Haus kayaknya?" Ayah Septian selalu yang paling peka.

"Astaga, Mama sampai lupa. Minumlah dulu."

Alula sangat bersyukur, akhirnya dia akan merasakan sedikit kesegaran di tenggorokan. Gadis itu meraih gelas berisi minuman jeruk yang tampak segar dengan beberapa bongkah es batu didalamnya.

Glek glek glek

Haus campur tegang, membuatnya meminum habis hingga tak tersisa.

"Mau nambah?" tanya Mama Nara.

"Gak usah, Tante. Ini juga mas_. Astaga," pekiknya saat sadar minuman dalam gelas habis tak tersisa. Wajahnya langsung memerah karena malu. Mau ditaruh mana mukanya. Calon mertuanya pasti ilfeel melihat kerakusannya. Sementara Aydin, pria itu menghela nafas sambil geleng-geleng. Satu lagi bukti jika calon istrinya itu memang doyan makan.

"Bi.." Mama Nara memanggil Bi Nur yang ada dibelakang.

"Gak, gak usah, Tante."

"Gak papa. Masih banyak stoknya didalam." Begitu Bi Nur muncul, Mama Nara langsung meminta art nya tersebut untuk membuatkan segelas minuman lagi.

"Saya juga Bi," ujar Ayah Septian. "Lihat Alula minum, kok ikutan haus."

Wajah Alula makin merah seperti kepiting rebus. Malu.....kalau bisa, ingin sekali dia membenamkan diri ditanah atau apapun, yang penting dirinya tak lagi kelihatan.

"Alula udah lama kenal sama Bang Aydin?" tanya Mama Nara.

Bukannya langsung menjawab, Alula malah plonga-plongo seperti orang bingung.

"Aku," desis Aydin yang duduk di sofa single samping Alula.

"Oh, Mas dokter maksudnya?" tanya Alula tanpa rasa berdosa. Tak tahukan dia. Kalau yang barusan itu lebih memalukan dari pada menghabiskan segelas minuman? Secara tidak langsung, ketahuan kalau dia belum begitu familiar dengan nama calon suaminya.

Mama Nara menahan tawa. "Alula tidak ingat namanya?"

"Ingat Tante. Hanya saja, tadi terlalu tegang. Jadi otaknya sedikit ngeblank."

Sekarang tak hanya Mama Nara saja yang menahan tawa, Ayah Septian ikut-ikutan. Sumpah, dia heran dengan putranya. Jadi yang seperti ini selera Bang Aydin. Anaknya itu sangat cerdas dan dewasa, dia pikir wanita yang berhasil meluluhkan hatinya juga cerdas sepertinya dan tentunya bersikap dewasa, tapi ternyata, ah sudahlah. Mungkin karena Alula sangat cantik, jadi putranya itu kecantol, batinnya.

"Wajar kok. Dulu Tante saat ketemu mertua pertama kali, juga tegang. Saking tegangnya sampai muntah-muntah."

"Beneran, Tante?"

"Ya enggaklah, becanda." Mama Nara sengaja ingin mencairkan suasana.

"Oh....kirain Tante pas ketemu calon mertua juga lagi hamil kayak Lula, makanya muntah-muntah.'

Huk huk huk

Ayah Septian langsung tersedak ludahnya sendiri. Sementara Mama Nara, langsung bengong karena candaanya malah jadi boomerang buat dirinya sendiri.

"Kenapa?" Alula bingung dengan ekspresi kedua orang tua Aydin. "Jangan-jangan, Mas dokter belum bilang ya, ka-kalau saya hamil?" Alula kembali gemetaran. Pantas saja sambutan orang tua Aydin sangat hangat, ternyata mereka belum tahu, pikirnya.

Terpopuler

Comments

May Tanti

May Tanti

Astaga kerren banget novel satu ini bikin ngakak sendiri🤣🤣🤣

2024-05-03

1

Fina Silaban Tio II

Fina Silaban Tio II

ketemu novel yg betul buat bengek 😁🤣😃

2024-05-03

0

Vivo Smart

Vivo Smart

itu minum bang bukan makan 😂

2024-05-09

0

lihat semua
Episodes
1 SAYA HAMIL
2 SALAH SASARAN
3 SALING MEMBUTUHKAN
4 MAAFKAN AKU
5 DUA PILIHAN
6 GUE HAMIL
7 SOLUSI
8 TAK MAU JADI PEMBUNUH
9 MAKAN BERSAMA
10 PENGAKUAN AYDIN
11 BUKAN TAK MAU MARAH, TAPI MALU
12 MEREKA TETAP ORANG TUA TERBAIK
13 GUE CINTA SAMA LO
14 KE RUMAH CALON MERTUA
15 KENAPA HARUS ABANG?
16 SILAKAN MARAH SAMA LULA
17 FOTO USG
18 DIUSIR
19 TAMU SAAT HUJAN
20 SUDAH MULAI JATUH CINTA
21 DASAR BOCAH
22 PENJELASAN ALULA
23 LO BERUNTUNG BANG
24 IBU KANDUNG ALULA
25 KEDATANGAN PAPA ALULA
26 SIAPA LAKI-LAKI ITU?
27 JANGAN PUKUL MAS DOKTER
28 HARI INI
29 SIAPA SILVIA?
30 TENTANG SILVIA
31 TENTANG SILVIA 2
32 MAMA JANGAN PERGI
33 PERSIAPAN PERNIKAHAN
34 PERSIAPAN PERNIKAHAN 2
35 AKAD
36 PETUAH NENEK
37 PENGANTIN BARU
38 SAMBUTAN ADIK IPAR
39 SIAP-SIAP
40 NGIDAMNYA PARA BUMIL
41 JADI IPAR
42 SAMBUTAN ISTRI
43 GAK KELUAR KAMAR
44 FIX, PURA-PURA
45 NGAMBEK
46 NANTI SAAT SUDAH PINTAR
47 GALAU
48 MISI BIKIN CEMBURU
49 CEMBURU YA?
50 BUMIL CARI GARA-GARA
51 BUKAN PENGEN NGAJAK BELAJAR
52 KESIANGAN
53 KAYAK SEMALAM
54 MENGAKULAH
55 HADIAH DARI NENEK
56 GARA-GARA RAMBUT
57 MASIH DILEDEKIN
58 KENA MULU
59 PERTEMUAN TAK SENGAJA
60 BAGAIMANA JIKA ORANG TAHU?
61 PERCAYA PADAKU
62 MOOD BOOSTER
63 JALAN-JALAN TENGAH MALAM
64 KAPAN BILANG CINTA?
65 PERASAAN INI, ARTINYA APA?
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Coba jelaskan
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 Bab 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 BAB 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 BAB 82
83 BAB 83
84 BAB 84
85 BAB 85
86 BAB 86
87 BAB 87
88 Bab 88
89 BAB 89
90 BAB 90
91 Bab 91
92 Bab 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
SAYA HAMIL
2
SALAH SASARAN
3
SALING MEMBUTUHKAN
4
MAAFKAN AKU
5
DUA PILIHAN
6
GUE HAMIL
7
SOLUSI
8
TAK MAU JADI PEMBUNUH
9
MAKAN BERSAMA
10
PENGAKUAN AYDIN
11
BUKAN TAK MAU MARAH, TAPI MALU
12
MEREKA TETAP ORANG TUA TERBAIK
13
GUE CINTA SAMA LO
14
KE RUMAH CALON MERTUA
15
KENAPA HARUS ABANG?
16
SILAKAN MARAH SAMA LULA
17
FOTO USG
18
DIUSIR
19
TAMU SAAT HUJAN
20
SUDAH MULAI JATUH CINTA
21
DASAR BOCAH
22
PENJELASAN ALULA
23
LO BERUNTUNG BANG
24
IBU KANDUNG ALULA
25
KEDATANGAN PAPA ALULA
26
SIAPA LAKI-LAKI ITU?
27
JANGAN PUKUL MAS DOKTER
28
HARI INI
29
SIAPA SILVIA?
30
TENTANG SILVIA
31
TENTANG SILVIA 2
32
MAMA JANGAN PERGI
33
PERSIAPAN PERNIKAHAN
34
PERSIAPAN PERNIKAHAN 2
35
AKAD
36
PETUAH NENEK
37
PENGANTIN BARU
38
SAMBUTAN ADIK IPAR
39
SIAP-SIAP
40
NGIDAMNYA PARA BUMIL
41
JADI IPAR
42
SAMBUTAN ISTRI
43
GAK KELUAR KAMAR
44
FIX, PURA-PURA
45
NGAMBEK
46
NANTI SAAT SUDAH PINTAR
47
GALAU
48
MISI BIKIN CEMBURU
49
CEMBURU YA?
50
BUMIL CARI GARA-GARA
51
BUKAN PENGEN NGAJAK BELAJAR
52
KESIANGAN
53
KAYAK SEMALAM
54
MENGAKULAH
55
HADIAH DARI NENEK
56
GARA-GARA RAMBUT
57
MASIH DILEDEKIN
58
KENA MULU
59
PERTEMUAN TAK SENGAJA
60
BAGAIMANA JIKA ORANG TAHU?
61
PERCAYA PADAKU
62
MOOD BOOSTER
63
JALAN-JALAN TENGAH MALAM
64
KAPAN BILANG CINTA?
65
PERASAAN INI, ARTINYA APA?
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Coba jelaskan
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
Bab 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
BAB 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
BAB 82
83
BAB 83
84
BAB 84
85
BAB 85
86
BAB 86
87
BAB 87
88
Bab 88
89
BAB 89
90
BAB 90
91
Bab 91
92
Bab 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!