Aurora sekarang tertidur lelap begitu juga dengan semua penghuni mansion.
namun hanya satu orang yg tidak bisa tidur,orang itu adalah Rey.
Rey tidak bisa tidur seperti biasanya,jika di kantor ia akan mengerjakan dokumen sampai dini hari baru bisa tidur.
entah apa yg membuat ia turun dari tempat tidur empuknya dan berjalan menuju sebuah kamar di antara kamar kedua putranya.
Rey membuka pintu kamar itu,ia melihat kamar yg remang-remang itu.
namun ia tak perduli,yg ia tatap adalah sosok.yg sedang tertidur lelap di atas kasur itu.
ia duduk di pinggir kasur itu dan menatap lekat wajah sosok yg tertidur lelap itu.
"maafkan aku yg selama ini menjadi ayah yg buruk untuk mu"gumam Rey lirih.
"kau sangat mirip dengan Alora"ucap Rey sambil membelai lembut wajah sang putri.
tanpa Rey sadari cairan sebening kristal keluar dari kedua matanya.
tit....
cklek...
lampu ruangan itu menyala.
"Yaya tidak menyalahkan Daddy"ucap Aurora membuka matanya dan bangun duduk di atas kasurnya sambil menatap wajah terkejut Rey.
padahal tadi Aurora sedang melatih kekuatan bela dirinya tapi, dari kejauhan instingnya merasa ada yg berjalan menuju kamarnya.
dengan cepat ia menghapus keringat nya dan melompat masuk ke dalam selimut dan berpura-pura tertidur,ia ingin tau siapa yg tengah malam itu ingin bertamu ke kamarnya.
"kau...kau pasti membenci ku"ucap Rey menggantung.
Aurora tersenyum lalu dengan kedua tangan kecilnya ia meraih wajah Rey dan menghapus air mata yg tersisa di pipi Rey.
"No.aku tidak membenci Daddy,,Yaya tau alasan Daddy yg selama ini belum ingin bertemu dengan Yaya"ucap Aurora.
"tapi Yaya tak mengetahui semua alasan Daddy,yang Yaya tau karena Yaya miyip mommy, Daddy belum bisa mengikhlaskan kepeygian mommy kan??"ucap Aurora.
Rey entah mengapa sangat sensitif dengan orang -orang yg membahas tentang mendiang istrinya.
tanpa sadar Rey mencekik leher Aurora dan melemparnya ke dinding.
"siapa yg membuat mu membicarakan istri ku"ucap Rey marah,pikirannya sudah kacau ia tidak mengetahui jika yg ia cekik dan ia lempar adalah putri kecilnya yg baru berusia 3 tahun.
darah keluar dari pelipis Aurora,namun Aurora tetap mempertahankan kesadarannya ia meraih remote kamarnya dan menekan mode ruang kedap suara yg sudah ia modifikasi.
Rey tak terkendali pun menghancurkan segala yg ia lihat.
"Alora kenapa kau meninggalkan ku arrggg..."teriaknya frustasi.
setelah cukup lama membanting dan menghancurkan barang-barang Rey terduduk di lantai tak berdaya,sedangkan kini kamar Aurora sudah bagaikan kapal pecah.
Aurora berusaha bangkit dari duduknya sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya,di tambah kepalanya sedang terluka.
"sial sepertinya tulang-tulang banyak yg patah,di tambah kepala ku bocor.tapi...." batin Aurora sambil menatap Rey.
"syukurlah Daddy bisa meluapkan kesedihannya,jadi aku tak mempermasalahkan semua yg terjadi dengan ku" batin Aurora.
kemudian Aurora berjalan tertatih-tatih mendekati Rey.
Rey merasakan pelukan kecil di lehernya.
Rey membuka matanya yg sembab dan melihat tubuh kecil itu memeluk dirinya.
"da... Daddy....maafkan Yaya....yg mengungkit tentang mommy,ya.... Daddy pasti teyuka dan juga sedih,tapi apakah Daddy tau apa yg Yaya yasakan??hiks"ucap Aurora sambil menangis memeluk leher Rey.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Ayu Pratiwi
orang tua y tolol ap gimana anak sekecil itu di banting
2024-09-25
2
Oi Min
Rey terlalu mencintai istrinya sampe dia lupa segalanya. seharusnya kmu lbh mnyayangi Aurora, krna dia peninggalan terakhir dri orang yang kmu cintai Rey..... jgn gila kmu
2024-08-01
2
Ani Ani
DIA fikir kan hati DIA aja tak fikir hati Anak nya
2024-07-31
0