Bab 6

Mereka semua sudah keluar dari rumah Langit. Dan pandangan Lani sejak tadi tak berpindah dari Garra dan gadis yang bersama lelaki itu.

"Siapa dia? Apa hubungannya dengan Garra?" wanita itu bertanya pada Aldo. Dagunya menunjuk ke Mariam. Garra bahkan membukakan pintu buat gadis itu.

Lani iri. Ini pertama kalinya dia lihat Garra memperlakukan seorang perempuan dengan spesial.

"Ah ya, kau sudah lama dikantor cabang jadi tidak kenal dia. Namanya Mariam. Adik dari sahabatnya sih bos. Kerjaannya sekarang adalah mengejar cinta bos." jawab Aldo.

Alis Lani terangkat.

"Garra tidak terganggu?" seingat Lani Garra paling benci pada perempuan yang dengan sengaja mendekati apalagi menempel padanya seperti lintah. Pria itu bukan tipe laki-laki yang akan menyambut dengan senang hati kalau ada wanita yang mengejarnya. Sepengetahuan Lani memang begitu.

Aldo mengedikan bahu.

"Keliatannya bos juga suka dia, tapi masih belum ada keinginan pacaran. Menurutku, sih bos tidak begitu percaya kalau tuh cewek betul-betul suka dia atau hanya sekedar main-main. Tingkahnya saja begitu, bisa saja dia hanya main-main kan?" kata pria itu lalu masuk ke mobil.

Tadi mereka ke sini dengan mobil kantor, sedang Garra selalu menggunakan mobil pribadinya.

Di dalam mobil Garra, lelaki itu melihat keseluruhan penampilan Mariam. Astaga, gaun apa itu. Ia tidak suka gadis itu mengenakan gaun kekurangan bahan begitu. Lalu di lepaskan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Mariam, untuk menutupi bahunya yang polos. Bahkan sampai belahan dadanya cukup keliatan.

"Lain kali jangan pakai gaun model begitu lagi." katanya.

"Kenapa? Ini kan bagus." Mariam menatapnya dengan mata lebar.

"Pokoknya jangan pakai lagi." putus Garra langsung. Ia lalu menatap Mariam tajam.

"Kenapa kau ada di pesta itu? Jam berapa ini? Harusnya anak gadis sepertimu tidak keluyuran sampai tengah malam begini. Sudah kubilang tidur kan tadi? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kalau tadi yang tertembak itu kau bagaimana?" nada suara Garra meninggi. Ia tidak bisa mengontrol diri lagi. Ia terlalu khawatir sampai semarah ini. Ia tidak mau kehilangan lagi.

Hening sesaat. Mata Mariam mengerjab-ngerjab. Ini pertama kalinya pria itu memarahinya. Ia masih tidak terbiasa. Tapi ciut juga. Seorang Garra yang marah sanggup membuatnya terdiam tak berkata-kata.

Garra menghembuskan napas kasar lalu mengatur napasnya. Pandangannya beralih ke depan. Menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.

"Kau marah?"

Tak ada jawaban. Pandangan Garra terus fokus ke jalan. Napasnya masih tak beraturan akibat marah bercampur khawatir.

"Ta ... Tadi temanku memaksaku menemaninya datang ke pesta. Aktor itu adalah seniornya dikampus jadi dia malu kalau tidak datang, padahal di undang. Kamu tahu aku orangnya sangat setia kawan kan? Mana tega aku menolak. Aku juga nggak tahu akan terjadi penembakan dalam pesta itu." Mariam menjelaskan. Namun tetap saja rasa percaya dirinya tidak hilang sama sekali.

Garra memiringkan kepala menatap gadis itu lagi.

"Mulai sekarang jangan keluyuran sampai tengah malam lagi. Seminggu berjalan ini, laporkan semua kegiatanmu padaku." katanya. Mata Mariam langsung berbinar-binar.

"Apa kamu sudah bersedia jadi pacarku?"

Garra diam sebentar,

"Jangan pikir yang aneh-aneh. Aku melakukan semua ini demi keselamatanmu." kemudian ia mengelak.

Mariam mencebik. Laki-laki menyebalkan, tidak ada hati. Padahal Mariam bisa merasakan Garra juga peduli padanya. Eh malah menolaknya terus. Memangnya susah bilang iya?

"Garra!"

ketukan dari luar pintu mobil mengalihkan fokus Garra dan Marriam. Garra menurunkan kaca.

"Apa apa Lani?" yang memanggil pria itu ternyata adalah Lani. Wanita itu memperhatikan Mariam sebentar lalu kembali menatap Garra.

"Sih pengedar baru saja tertangkap. Sekarang sedang diinterogasi. Tim kita diperintahkan ke sana sekarang juga." lapor Lani.

Tadi mobil mereka yang dibawa oleh Aldo hendak pergi meninggalkan lokasi itu tapi telpon dari kantor pusat menghentikan. Lani cepat-cepat turun mendatangi Garra. Melapor ke pria yang menjabat sebagai atasan mereka.

Sebenarnya Garra sudah sangat lelah. Tapi mau bagaimana lagi, terkadang pekerjaan mereka memang harus mengorbankan waktu. Lelaki itu melirik Mariam.

"Aku harus ke kantor polisi sebentar. Kau tidak keberatan?" ia meminta pendapat gadis itu. Sebenarnya bisa saja Garra menyuruh Mariam pulang sendiri naik taksi, tapi pria itu terlalu takut. Ini sudah tengah malam. Ia khawatir Mariam tidak sampai ke rumah karena bertemu orang jahat. Malam ini ia sendiri yang akan mengantar gadis itu pulang.

"Nggak dong. Apa sih yang nggak buat pria tampan aku!" seru Mariam malah kesenangan. Lani merasa gadis itu terlalu lebay. Namun saat melihat Garra, pria itu malah tersenyum. Lani merasa aneh.

"Kenapa masih di sini?" tanya Garra menyadari Lani belum pergi-pergi.

"Ah, aku akan pergi sekarang. Sampai ketemu dikantor polisi." kata Lani sedikit salah tingkah.

"Mm." lalu Garra menghidupkan mesin mobil, siap-siap meninggalkan lokasi tersebut.

Kira-kira lima belas menit mereka sampai dikantor kepolisian pusat.

"Kau tunggu di sini. Aku ke ruang interogasi dulu, akan segera kembali. Kalau kau mengantuk tiduran di sofa. Aku akan membangunkanmu nanti." ucap Garra. Mariam mengangguk.

Ia menguap begitu Garra berbalik pergi.

Hoaamm ...

Ngantuk sekali. Gadis itu melangkah mendekati sofa, berbaring di sana sampai ketiduran. Bahkan gadis itu tidak sadar sampai Garra kembali.

Pria itu mendekati gadis yang tertidur pulas tersebut dan berlutut dihadapannya.

Wajahnya damai sekali. Garra tersenyum sembari mengatur-atur anak rambut Mariam yang berjatuhan. Gadis itu sedikit terusik. Mulutnya mencak-mencak sendiri dalam tidurnya. Dan Garra tersenyum lebar.

Bahkan waktu tidur saja, Mariam tetap menggemaskan. Pria itu melirik jam tangannya. Sudah pukul setengah dua dini hari. Ia berpikir menimbang-nimbang, lalu mengeluarkan ponsel menelpon seseorang. Mudah-mudahan masih bangun.

"Kau sakit? Tidak punya kerjaan? Kenapa menelpon orang tengah malam begini?" sembur Foster dari seberang. Garra terkekeh.

"Maaf, aku ingin bilang saat ini adikmu bersamaku. Ada kasus penembakan yang terjadi di sebuah pesta, kebetulan adikmu ada di sana juga. Aku ingin mengantarnya pulang tapi tidak enak membangunkan mama kalian tengah malam begini. Aku akan mengantarnya ke rumah saja. Bagaimana?" kata Garra panjang lebar.

"Ya ampun, kenapa anak nakal itu berkeliaran diluar tengah malam begini? Sudah di tegur berkali-kali juga. Ya sudah, antarkan saja dia ke sini." balas Foster.

"Baiklah. Aku akan segera ke sana, tunggu aku." lalu panggilan terputus. Garra menatap Mariam lagi. Ia memutuskan menggendong gadis itu karena tidak tega membangunkannya. Untung kantor sudah sepi, jadi Garra tak perlu khawatir ada yang lihat. Kalau tidak, pasti sudah beredar gosip besok.

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Garra kau mesti siap dibikin repot Mariam yeeeeaaa....

2024-11-04

0

Hariyanti

Hariyanti

mungkin sdh mulai ada rasa di hati garra 😉

2025-02-05

0

YuWie

YuWie

mulut mencak2 kiw bagaimana jal bentuknya?

2024-10-22

0

lihat semua
Episodes
1 Pengenalan Tokoh
2 Bab 1
3 Bab 2
4 Bab 3
5 Bab 4
6 Bab 5
7 Bab 6
8 Bab 7
9 Bab 8
10 Bab 9
11 Bab 10
12 Bab 11
13 Bab 12
14 Bab 13
15 Bab 14
16 Bab 15
17 Bab 16
18 Bab 17
19 Bab 18
20 Bab 19
21 Bab 20
22 Bab 21
23 Bab 22
24 Bab 23
25 Bab 24
26 Bab 25
27 Bab 26
28 Bab 27
29 Bab 28
30 Bab 29
31 Bab 30
32 Bab 31
33 Bab 32
34 Bab 33
35 Bab 34
36 Bab 35
37 Bab 36
38 Bab 37
39 Bab 38
40 Bab 39
41 Bab 40
42 Bab 41
43 Bab 42
44 Bab 43
45 Bab 44
46 Bab 45
47 Bab 46
48 Bab 47
49 Bab 48
50 Bab 49
51 Bab 50
52 Bab 51
53 Bab 52
54 Bab 53
55 Bab 54
56 Bab 55
57 Bab 56
58 Bab 57
59 Bab 58
60 Bab 59
61 Bab 60
62 Bab 61
63 Bab 62
64 Bab 63
65 Bab 64
66 Bab 65
67 Bab 66
68 Bab 67
69 Bab 68
70 Bab 69
71 Bab 70
72 Bab 71
73 Bab 72
74 Bab 73
75 Bab 74
76 Bab 75
77 Bab 76
78 Bab 77
79 Bab 78
80 Bab 79
81 Bab 80
82 Bab 81
83 Bab 82
84 Bab 83
85 Bab 84
86 Bab 85
87 Bab 86
88 Bab 87
89 Bab 88
90 Bab 89
91 Bab 90
92 Bab 91
93 Bab 92
94 Bab 93
95 Bab 94
96 Bab 95
97 Bab 96
98 S2 - bab 1
99 S2 - bab 2
100 S2- bab 3
101 S2- bab 4
102 S2- bab 5
103 S2 - bab 6
104 S2 - bab 7
105 S2 -bab 8
106 S2-bab 9
107 S2 - bab 10
108 S2 bab 11
109 S2 bab 12
110 S2 bab 13
111 S2 14
112 S2 15
113 S2 16
114 S2 17
115 S2 18
116 S2 19
117 S2 20
118 S2 21
119 S2 22
120 S2 23
121 S2 24
122 S2 25
123 S2 26
124 S2 27
125 S2 28
126 S2 29
127 S2 30
128 S2 31
129 S2 32
130 S2 33
131 S2 34
132 S2 35
133 S2 36
134 S2 37
135 S2 38
136 S2 39
137 S2 40
138 S2 41
139 S2 42
140 S2 Bab 43
141 S2 bab 44
142 S2 Bab 45
143 S2 Bab 46
144 S2 Bab 47
145 S2 Bab 48
146 S2 Bab 49
147 S2 bab 50
148 S2 Bab 51
149 S2 bab 52
150 S2 bab 53
151 S2 bab 54
152 S2 55 END
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Pengenalan Tokoh
2
Bab 1
3
Bab 2
4
Bab 3
5
Bab 4
6
Bab 5
7
Bab 6
8
Bab 7
9
Bab 8
10
Bab 9
11
Bab 10
12
Bab 11
13
Bab 12
14
Bab 13
15
Bab 14
16
Bab 15
17
Bab 16
18
Bab 17
19
Bab 18
20
Bab 19
21
Bab 20
22
Bab 21
23
Bab 22
24
Bab 23
25
Bab 24
26
Bab 25
27
Bab 26
28
Bab 27
29
Bab 28
30
Bab 29
31
Bab 30
32
Bab 31
33
Bab 32
34
Bab 33
35
Bab 34
36
Bab 35
37
Bab 36
38
Bab 37
39
Bab 38
40
Bab 39
41
Bab 40
42
Bab 41
43
Bab 42
44
Bab 43
45
Bab 44
46
Bab 45
47
Bab 46
48
Bab 47
49
Bab 48
50
Bab 49
51
Bab 50
52
Bab 51
53
Bab 52
54
Bab 53
55
Bab 54
56
Bab 55
57
Bab 56
58
Bab 57
59
Bab 58
60
Bab 59
61
Bab 60
62
Bab 61
63
Bab 62
64
Bab 63
65
Bab 64
66
Bab 65
67
Bab 66
68
Bab 67
69
Bab 68
70
Bab 69
71
Bab 70
72
Bab 71
73
Bab 72
74
Bab 73
75
Bab 74
76
Bab 75
77
Bab 76
78
Bab 77
79
Bab 78
80
Bab 79
81
Bab 80
82
Bab 81
83
Bab 82
84
Bab 83
85
Bab 84
86
Bab 85
87
Bab 86
88
Bab 87
89
Bab 88
90
Bab 89
91
Bab 90
92
Bab 91
93
Bab 92
94
Bab 93
95
Bab 94
96
Bab 95
97
Bab 96
98
S2 - bab 1
99
S2 - bab 2
100
S2- bab 3
101
S2- bab 4
102
S2- bab 5
103
S2 - bab 6
104
S2 - bab 7
105
S2 -bab 8
106
S2-bab 9
107
S2 - bab 10
108
S2 bab 11
109
S2 bab 12
110
S2 bab 13
111
S2 14
112
S2 15
113
S2 16
114
S2 17
115
S2 18
116
S2 19
117
S2 20
118
S2 21
119
S2 22
120
S2 23
121
S2 24
122
S2 25
123
S2 26
124
S2 27
125
S2 28
126
S2 29
127
S2 30
128
S2 31
129
S2 32
130
S2 33
131
S2 34
132
S2 35
133
S2 36
134
S2 37
135
S2 38
136
S2 39
137
S2 40
138
S2 41
139
S2 42
140
S2 Bab 43
141
S2 bab 44
142
S2 Bab 45
143
S2 Bab 46
144
S2 Bab 47
145
S2 Bab 48
146
S2 Bab 49
147
S2 bab 50
148
S2 Bab 51
149
S2 bab 52
150
S2 bab 53
151
S2 bab 54
152
S2 55 END

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!