BAB ENAM

Elang tersenyum sambil menyodorkan setangkup roti isi pada istrinya yang sudah rapi dengan pakaian kantor.

Elang memang se- perfect itu. Bahkan untuk sarapannya dan sarapan istrinya, Elang terbiasa membuatnya sendiri.

Maurin belum bangun, Maurin akan tinggal bersama Sus Erie. Dan biasanya Marin bangun lebih siang.

"Tidur mu nyenyak, Sayang?" Elang kecup kening wanita itu lalu duduk di hadapannya.

"Lumayan." Flory tersenyum membalas tatapan suaminya, Elang tampak lebih cerah dari biasanya. "Ada apa ini? Pak dosen?"

"Satu minggu lagi anniversary. Kita mau ke mana? Bali? Paris?" Elang memainkan jarinya di atas punggung tangan Flory.

Wanita itu mencebik. "Perusahaan lagi banyak produk baru yang keluar Elang. Maaf ya, lain kali saja kita pergi."

Elang kecewa, tapi menerima. "Ok, tidak masalah. Kita bisa rayakan di rumah saja. Kita bikin tenda di halaman belakang. Gimana? Suka?"

"Boleh... Maurin pasti suka." Flory setuju, ini bukan ajakan camping Elang yang pertama, Elang memang sering meminta waktu berkualitas untuk dia dan putrinya.

Jari-jari Elang masih bermain-main di punggung tangan Flory. Tentu ini hal yang tidak biasa sekali. "Kamu kenapa sih?"

"Aku pulang telat." Elang selalu tidak enak saat izin untuk pulang lebih lambat. Karena, istrinya akan meminta alasan yang masuk akal untuk kegiatannya.

"Untuk?"

"Disertasi beberapa siswa khusus." Elang sudah yakin alasan itu sudah masuk akal, tapi Flory masih menatap dirinya dengan tajam.

"Kamu takut aku selingkuh?"

"Aku punya mata-mata asal kau tahu."

Elang tertawa pelan. Lelaki itu beranjak dari duduknya, menempelkan pipi di pipi Flory hingga mendekap dari belakang. "Aku sangat mencintaimu dan asal kau tahu."

Flory terdiam sejenak. Sesekali melirik wajah Elang yang selalu tampan. "Kamu terlalu perfect. Aku punya ketakutan sendiri. Dan tolong jaga kepercayaan aku sebelum aku..."

"Apa?" Tiba-tiba Elang mengerut keningnya.

"Mungkin akan menyerah," kata Flory.

"Sstt... Bicara apa kau ini!" Elang mundur untuk menatap seksama wajah cantik Flory yang kemudian menatap matanya lembut.

"Sekarang habiskan sarapannya, kita langsung ke kantor." Elang yang akan antar Flory, dan biasanya sopir akan menjemput jika Elang tak bisa tepat waktu.

Flory setuju untuk memakan sarapannya, sebelum Elang antar Flory ke kantor Millers corpora. Sudah cukup lama Flory menjadi bagian dari MC-GROUP, ia ditempatkan di divisi keuangan sebagai direkturnya.

CEO MC-GROUP masih Om Axel kembaran ayahnya, dan komisaris perusahaan tersebut masih King Miller, sepupunya.

Ada Glory, kembarannya yang juga bergabung dengan perusahaan tersebut. Wanita itu baru saja turun dari mobilnya seorang diri.

Ketika Flory juga turun dari mobil, Flory terpaku menatap seksama raut Elang yang seperti tersihir untuk menatap kembarannya.

"Elang!"

"Hmm?" Elang baru berpaling dari Glory setelah Flory menepuk pipinya.

"Kamu tertarik sama kembaran ku?"

Elang terkikik, mana mungkin itu terjadi, Elang hanya memandang Flory di sana. "Aku cuma ingat saat kau sekurus dia."

"Jadi dengan artian. Kamu lebih suka Glory dari Flory yang gemuk?" tukas Flory.

"Kau selalu salah paham. Aku hanya sedang rindu Flory yang ramping. Kamu akan lebih cantik setelah diet, Sayang. Percayalah, itu demi kebaikan mu juga."

Elang menghela napas setelah melihat raut kecut Flory. "Kamu marah?"

"Besok aku akan diet lebih keras. Bila perlu tidak makan sama sekali. Bukan kurus, kau akan menemukan mayat ku, mungkin." Flory pergi setelah bicara itu.

"Flory... Sayang..."

Elang mendengus, Flory selalu ketus ketika dia berusaha mengingatkan. Inilah yang tidak Elang sukai dari Flory, tak mau berusaha menyenangkan dirinya.

Tiba di lobby, Kiandra menyambut kedatangan Flory sambil meraih tasnya. Kemudian, pria itu mengiringi langkah sang Nyonya.

"Kian!" Flory bicara tanpa menatap pria beristri dan beranak satu itu. Kiandra maju untuk mendengarkan atasannya.

"Apa menurut mu, aku gemuk?"

"Hah?" Kiandra sedikit terkejut. Kenapa atasannya harus bertanya soal fisik, yang jelas Flory sempurna untuk urusan itu.

"Sudahlah, lupakan!" Flory menepis setelah sadar pertanyaannya akan membuat Kiandra menjadi salah paham. Keduanya berlanjut ke lift dan masuk bersama-sama.

➿➿➿➿

^^^➿➿➿➿^^^

Di gedung yang berbeda. Para karyawan di perusahaan yang memproduksi minyak itu berdiri menunduk di masing-masing meja kerja, demi menyambut kedatangan direktur utama.

Liam Bagaskara, pria yang berjalan melewati para karyawan dan karyawati itu. Semalaman tadi Liam tak tidur, Liam tampak datang dengan mata yang sedikit berkantung.

"Hari ini ada kunjungan ke Bogor, Pak." Liam melewati gadis berbusana formal yang lantas berjalan di sisinya.

"Atur saja." Liam tak pernah bicara banyak, hanya seperlunya saja dia berucap. Kursi itu, kursi tinggi di kantor ini, kursi yang dia dapat setelah menyelesaikan tiga program studi di Inggris.

Liam duduk, lalu gadis bernama Serena menyuguhi map. "Ini berkas yang kemarin Pak Liam minta."

Liam masih bergeming dengan pandangan kosong. Semenjak pertemuannya dengan Flory malam tadi, Liam tak pernah bisa fokus pada apa pun.

Waktu pun bergulir, terik matahari sudah cukup tinggi, Liam harus bertolak ke Bogor untuk sebuah pertemuan.

Restoran fine dining, akhir dari segala kegiatan Liam di kota ini. Liam baru selesai makan, ia menjabat tangan kliennya lalu tersenyum kecil dan pergi.

Serena sudah pulang dengan mobilnya sendiri, karena meski memiliki sekretaris, Liam tak pernah mau satu mobil dengan gadis itu. Billy tunangannya selalu membatasi ruang geraknya di kantor dan di mana pun.

"Chyntia!" Liam berceletuk melihat sepupu perempuan Billy duduk bersama seorang pria tampan yang cukup familiar.

"Bang Liam!" Chyntia berdiri kikuk setelah terpergok mencium seseorang. Dan pria di sisinya hanya mengalihkan pandangan ke arah Liam dengan ringan.

"Ngapain kamu di sini?"

Liam kenal dengan wajah pria itu. Ya, dosen yang Billy bilang pacaran dengan Chyntia, Elang Gazza suami Flory tentu saja.

"Chyntia sama dosen Chyntia. Kami lagi diskusi..." Belum selesai ucapan Chyntia, Liam sudah pergi meninggalkan mereka.

Liam mengakhiri kekesalan tak beralasan itu dengan memukul setir mobilnya kencang kencang. "Argh! Ada apa dengan ku ini hah?!" teriaknya.

Liam meremas rambut di kepala pusingnya, menghentakkan punggung di sandaran jok kemudi miliknya. Kenapa rasanya sakit memergoki suami Flory berselingkuh, apa urusannya?

Liam meraih ponselnya, dia lantas melacak keberadaan Flory dari postingan terakhir yang Flory unggah. Dia masukan nomor telepon Flory ke suatu aplikasi demi mengetahui di mana wanita itu sekarang.

Liam mengontak mobilnya, bergegas menuju lokasi yang sudah dia pastikan akan ada Flory di sana. Liam terbiasa mengebut, Bogor Jakarta tidak akan lama baginya yang mantan pembalap liar.

Sebelumnya Flory terlacak di rumah dan berakhir di mall ini. Mall terbesar tempat yang Liam datangi, dari Bogor sore hingga sampai ke parkiran basement ini, waktu sudah berangsur malam.

Beruntung perjalanannya tidak sia-sia. Karena benar saja, setelah cukup lama menunggu di sini, Flory muncul dan berjalan bersama sesosok gadis kecil.

Tak lama dari pernikahan Flory bersama Elang, Liam sempat mendengar kabar jika Flory dikaruniai seorang anak.

Liam keluar dari mobilnya, berjalan gagah menyatroni mantannya. Ya, mantan, mantan yang pergi setelah dia sakiti lima tahun lalu.

Brakkk...

Belanjaan Flory terjatuh di lantai. Liam berkerut kening mendapati pemandangan ini, lagi-lagi Flory ketakutan saat dia datang.

"Mami...." Gadis berwajah oriental itu bingung dengan tingkah laku ibunya. Tiba-tiba saja gemetar dan meringkus dirinya. "Ayok masuk mobil Sayang..."

Maurin duduk di kursi khusus balitanya. Lalu, Liam dengan sigap menarik pergelangan tangan Flory yang semakin bergetar hebat ketika menatap matanya.

"Flo! Kita harus bicara!"

"Tolong!" Teriakan Flory membuat beberapa pria berseragam scurity berlari. Datang dan meneriaki Liam dengan bengis. "Heh!"

Liam menarik Flory untuk menyungkur wajah menangis di dadanya. "Kami suami istri. Kami hanya sedang bertengkar. Mohon maaf kami baik-baik saja," kilahnya.

"Benar begitu, Nyonya?" Scurity itu tentu tak mudah percaya, dia memandang wajah Flory yang akhirnya tak pernah tega jika sampai Liam di adili mereka. "Dia suami Nyonya?"

Setelah cukup lama bergeming, Flory menganggukkan kepalanya. "Benar."

Liam tersenyum tipis.

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

benar pasti putri flo anak liam yang oriental/Shhh//NosePick//Grievance/

2025-01-20

0

Tiffany_Afnan

Tiffany_Afnan

hati² jawabanmu kian.. tkutnya slh dikit pindah alam 🤭

2024-12-10

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Maurin anaknya Liam ... gimana kejadiannya????

2025-03-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!