Itu Privasiku

...“Aku tinggal di lantai berapa, itu privasiku. Lalu, sarapan bareng? Pacarku sedang menunggu di apartemen, jadi … aku nggak punya waktu untuk sarapan atau makan dengan orang lain." – Leonidas Salvatore...

Akibat alasan yang Bianca buat saat pulang kerja semalam, ia terpaksa benar-benar melakukannya. Yaitu mendatangi kuburan kedua orangtuanya yang sudah lama meninggal.

Bianca mengatakan kepada Leon bahwa ia akan pergi ke kuburan pada sore hari, karena pagi ia masih membutuhkan istirahat sembari membenahi rumahnya yang berantakan. Leon mengiyakan permintaan Bianca.

Leon yang sudah terbiasa bangun pagi, ia merasa sulit jika harus terbangun saat matahari sudah berdiri sejajar di atas kepalanya. Pria bertubuh atletis itu pun melakukan rutinitas pagi yang biasa ia lakukan saat di Amerika. Yaitu olahraga pagi. Ia turun ke lantai dasar untuk menuju ke tempat gym yang memang sudah menjadi fasilitas apartemen.

Pria yang mengenakan kaos olahraga itu melakukan pemanasan tubuh sebelum melakukan olahraga pagi. Setelah itu, ia melihat ke arah peralatan fitness yang sedang menganggur. Ada treadmil. Ia pun berjalan menuju treadmil.

“Kak Leon?!”

Suara centil seorang gadis terdengar tak asing di telinga Leon. Ia yang baru saja ingin menyalakan treadmil, mendadak melihat ke arah suara yang menyebut namanya. Dan dugaannya ternyata benar. Suara yang memanggilnya tadi berasal dari suara gadis yang cukup enggan ia temui.

“Wah, ternyata Kak Leon tinggal di apartemen ini juga?” tanya Cindy dengan girang.

Leon hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Cindy. Kemudian ia kembali menghadap ke depan dan menghidupkan treadmil. Lalu ia berjalan perlahan sembari mengikuti gerakan treadmil.

“Ngapain sih dia di sini?” gerutu Leon tak senang.

“Kak … Kakak tinggal di lantai berapa? Unit berapa?”

“Oh iya, ntar kita sarapan bareng ya?”

“Kakak mau sarapan di mana? Atau mau aku masakin nggak?”

Dengan penuh kekesalan, Leon menekan tombol ‘pause’ di treadmil dan membuat alat tersebut terjeda. Ia menatap tajam ke arah Cindy dengan mata elangnya yang benar-benar menunjukkan ketidaknyamanan.

“Aku tinggal di lantai berapa, itu privasiku. Lalu, sarapan bareng? Pacarku sedang menunggu di apartemen, jadi … aku nggak punya waktu untuk sarapan atau makan dengan orang lain,” terang Leon dengan suara yang ketus.

Bukannya malah menciut, Cindy semakin tak tahu malu. “Aku ikut, boleh? Sekalian kenalan dengan pacar Kak Leon? Kita ‘kan keluarga?”

“Keluarga? Keluarga macam apa yang mengharapkan pernikahan? Seharusnya keluarga ‘kan nggak boleh menikah?”

Mendengar jawaban yang begitu ketus dan dingin dari Leon, Cindy mendadak bungkam dan tak bisa berkata-kata. Wajahnya yang semula girang mendadak muram dan sedih. Mungkin ia berfikir dengan ia menunjukkan wajah yang sedih, Leon akan merasa bersalah kemudian meminta maaf padanya. Tapi ia salah, karena Leon, pria dingin itu sama sekali tak peduli dengan drama yang sedang gadis itu perankan.

“Enyahlah dari pandanganku,” gerutu Leon pelan namun dapat didengar oleh Cindy.

“Kak ….”

“Apalagi sih?!” gerutu Leon dalam hati.

“Kalau Kakak mau, main aja ke apartemenku. Aku ada di lantai 39 unit 3911.”

“Oh God! Kenapa sih nih cewe bego banget? Kalau mau ke beda lantai ‘kan harus ada acsess card?!” batin Leon menahan kesal. Karena tak ingin ikut bodoh dengan kebodohan gadis itu, Leon hanya tersenyum tipis bahkan senyuman yang sudah susah payah ia paksakan.

Pria itu tak melanjutkan olahraganya. Ia menjadi kesal dan bergegas pergi dari tempat itu meninggalkan Cindy yang masih berada di sana.

“Ck! Sok jual mahal, ntar juga dikasih daging mentah langsung pasrah dan berserah diri. Dasar cowok!” cibir Cindy dalam hati.

...🫧🫧🫧...

Drrtttt… Drrttt…

Ponsel Bianca bergetar. Dengan mata yang masih tertutup, ia meraba-raba kasurnya mencari ponselnya. Saat benda pipih itu berada di genggamannya, ia membuka matanya dalam keadaan tak sadar dan sekilas melihat layar ponsel. Ada sebuah panggilan video dari Leon. Karena kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya, Bianca mengangkat panggilan tersebut.

^^^“Good morning, Sayang.”^^^

“Hmm. Morning too, Sayang,” sahut Bianca dengan suaranya yang masih mengantuk.

^^^“W-what? Coba katakan lagi?! Hmm?”^^^

Leon terkejut setengah mati saat panggilan sayangnya dibalas oleh Bianca. Moodnya yang semula hancur berantakan di pagi hari gara-gara pelacur itu, mendadak kegirangan. Wajahnya menjadi cerah.

^^^“Baby … katakan sekali lagi, please?”^^^

“Morning too, Sayang.”

Leon ternganga seketika. Ia menggigit bibirnya menahan gemas dengan tingkah laku Bianca. Andai gadis itu ada di sisinya saat ini, pasti wajah gadis itu sudah ia hujani ciuman tanpa henti. Entah gadis itu kesulitan bernafas atau tidak, ia tak peduli.

^^^“Love you, Bianca.”^^^

Leon mengatakannya dengan sepenuh hati. Entah kenapa baru sekarang ia bisa merasakan bahwa seindah ini rasanya jatuh cinta. Seperti ada kupu-kupu yang sedang memenuhi hatinya. Kenapa ia baru merasakannya sekarang? Apa ia boleh bertingkah seperti anak SMP yang sedang puber?

“Love you too, Le—”

Bianca tersentak dan tak melanjutkan ucapannya. Matanya yang semula tertutup karena masih mengantuk, mendadak terbuka dengan lebar. Ia langsung duduk dengan rambut yang berantakan. “M-maaf. Tadi itu—”

^^^“No. Itu murni bukan kesalahan.”^^^

^^^“Aku juga udah merekam videonya sejak tadi.”^^^

“What?!” Bianca terkejut bukan kepalang. Ia melihat ke arah dadanya yang mengenakan baju tidur satin tanpa lengan. Dengan sigap ia menutup dadanya yang bahkan menampakkan sebuah garisan yang begitu indah. Ia menutupi belahan dadanya menggunakan selimut dengan wajah yang memerah.

“A-aku akan menelefonmu lagi.”

^^^“No. Jangan akhiri panggilannya.”^^^

“Leon. Aku baru bangun tidur,” rajuk Bianca sambil memasang wajah yang cemberut. Ia merapikan rambutnya menggunakan jarinya.

^^^“Aku tau.”^^^

“Jadi, biarkan aku mengakhiri panggilan ini.”

^^^“No. Aku masih merindukanmu. Jadi, jangan akhiri panggilannya.”^^^

“Tapi—”

^^^“Kalau kamu matiin, aku bakalan ke sana sekarang juga.”^^^

Leon mengancam Bianca sembari menahan tawa. Bianca yang berfikir bahwa pria itu bisa saja serius dengan ucapannya, ia langsung mengiyakan dengan mengangguk pelan.

^^^“Nah, sekarang kamu tiduran lagi. Aku akan menemanimu istirahat.”^^^

Bianca mengerutkan keningnya sesaat. Namun, ia hanya mendengarkan perintah Leon. Ia berbaring menyamping sambil memegang ponsel di tangannya.

^^^“Tidurlah. Lanjutkan istirahatmu.”^^^

“Terus, kamu ngapain?”

^^^“Memperhatikanmu.”^^^

“Argh! Ntar juga ketemu. Daripada video call aku, mending kamu video call pacar kamu deh.”

^^^“Pacar? Sudah ku bilang, 'kan? Aku nggak—”^^^

“Ya ya ya. Mulut buaya mau dipercaya,” rajuk Bianca sambil memejamkan matanya.

^^^“Hey, aku bukan buaya!”^^^

“Mana ada maling yang mau ngaku.”

Leon hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat kelakuan menggemaskan Bianca. Pikirnya gadis itu belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Jadi ia tak begitu mengindahkan ucapan Bianca yang menuduhnya mempunyai kekasih selain dirinya. Ia menatapi wajah Bianca sambil tersenyum sendiri.

...🫧🫧🫧...

...BERSAMBUNG......

Terpopuler

Comments

asmara wati

asmara wati

uuuh.. maaf ya,leon dah punya daging mentah sendiri kok, bersih dan higienis, yang icip baru Leon doang

2023-10-18

2

Rita

Rita

cepetan clearin dulu slh phm bianca ke kamu Leon blm lg g tau bkln ada sandiwara apalg ntar yg dilakukan clara

2023-10-17

1

Rita

Rita

ehem

2023-10-17

1

lihat semua
Episodes
1 Only One Night
2 Forget That Guy
3 Bermainlah Dengan Benar
4 Bibir Merah Itu ...
5 Sekretaris Pribadi adalah Istri Atasan
6 Janji yang Tertinggal di Paris
7 You Broke Me First
8 Masa Lalu Itu Datang Lagi
9 Find Another Woman
10 Jangan Memancingku!
11 Only You
12 Jangan Bertemu Dengannya!
13 It's Not Your First!
14 Beside You, I'm Happy
15 Perempuan Itu Harus Agresif
16 Apa Aku Melakukan Kesalahan?
17 Gadis Yang Ku Ajak Serius
18 Calon Mertua
19 Itu Privasiku
20 Kesalahpahaman Reinhard
21 Bermain Peran
22 My Aggressive Bos! - Part 1
23 My Aggressive Bos! - Part 2
24 My Aggressive Bos! - Part 3
25 Aku Tak Ingin Kecewa ... Lagi
26 Kekasih Leonidas Salvatore
27 Memperjelas Semuanya
28 Olahraga Pagi ...
29 Gadis Bermuka Dua
30 Mencintai Dalam Keheningan
31 Aku Tak Begitu
32 Aku Harus ke Amerika
33 Si Anak Magang
34 Reinhard Kembali
35 I Want You
36 Ingin Menguasai Salvatore
37 Aku Harus Segera Kembali
38 Tanpa Pamrih
39 Siapa Pria Beruntung Itu?
40 Maaf ... Aku Terlambat
41 Kau Akan Menjadi Milikku
42 I Like You and I Want You
43 Bertahanlah Sampai Aku Datang
44 Tunggu Aku Pulang
45 Hilangnya Kesabaran Reinhard
46 Bahasa Manusia
47 Rasa Itu Ada Sejak Dulu
48 Berhentilah Bersandiwara
49 Gentleman
50 Terima Kasih Sudah Bertahan
51 Aku Ini Kaya dan Berkuasa
52 Mengkhawatirkan Hal Yang Tak Perlu
53 Stay With Me, Hmm?
54 Sarapan Buatanmu
55 Kau Telah Mengkhianati Anakku!
56 Amarah Bella Membabi Buta
57 Pelakor vs Istri Sah
58 Apa Aku Jahat?
59 Semua Sudah Terlambat
60 Ancaman Reinhard
61 Anya ... Berbahagialah
62 Nyonya Salvatore
63 Breaking News!
64 Cobalah Mengenal Cinta
65 Ayah Darurat Untuk Janinku
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Only One Night
2
Forget That Guy
3
Bermainlah Dengan Benar
4
Bibir Merah Itu ...
5
Sekretaris Pribadi adalah Istri Atasan
6
Janji yang Tertinggal di Paris
7
You Broke Me First
8
Masa Lalu Itu Datang Lagi
9
Find Another Woman
10
Jangan Memancingku!
11
Only You
12
Jangan Bertemu Dengannya!
13
It's Not Your First!
14
Beside You, I'm Happy
15
Perempuan Itu Harus Agresif
16
Apa Aku Melakukan Kesalahan?
17
Gadis Yang Ku Ajak Serius
18
Calon Mertua
19
Itu Privasiku
20
Kesalahpahaman Reinhard
21
Bermain Peran
22
My Aggressive Bos! - Part 1
23
My Aggressive Bos! - Part 2
24
My Aggressive Bos! - Part 3
25
Aku Tak Ingin Kecewa ... Lagi
26
Kekasih Leonidas Salvatore
27
Memperjelas Semuanya
28
Olahraga Pagi ...
29
Gadis Bermuka Dua
30
Mencintai Dalam Keheningan
31
Aku Tak Begitu
32
Aku Harus ke Amerika
33
Si Anak Magang
34
Reinhard Kembali
35
I Want You
36
Ingin Menguasai Salvatore
37
Aku Harus Segera Kembali
38
Tanpa Pamrih
39
Siapa Pria Beruntung Itu?
40
Maaf ... Aku Terlambat
41
Kau Akan Menjadi Milikku
42
I Like You and I Want You
43
Bertahanlah Sampai Aku Datang
44
Tunggu Aku Pulang
45
Hilangnya Kesabaran Reinhard
46
Bahasa Manusia
47
Rasa Itu Ada Sejak Dulu
48
Berhentilah Bersandiwara
49
Gentleman
50
Terima Kasih Sudah Bertahan
51
Aku Ini Kaya dan Berkuasa
52
Mengkhawatirkan Hal Yang Tak Perlu
53
Stay With Me, Hmm?
54
Sarapan Buatanmu
55
Kau Telah Mengkhianati Anakku!
56
Amarah Bella Membabi Buta
57
Pelakor vs Istri Sah
58
Apa Aku Jahat?
59
Semua Sudah Terlambat
60
Ancaman Reinhard
61
Anya ... Berbahagialah
62
Nyonya Salvatore
63
Breaking News!
64
Cobalah Mengenal Cinta
65
Ayah Darurat Untuk Janinku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!