Jangan Memancingku!

...“Hei, Bianca. Pulanglah, selagi aku menyuruhmu pulang baik-baik.” – Leonidas Salvatore...

Sudah 5 hari Bianca menjadi sekretaris pribadi CEO Salvatore Group. Dan 4 hari sejak kejadian ia menawarkan mencari wanita untuk CEO-nya tiduri. Selama 4 hari itu, Leon menjadi cuek terhadap Bianca. Bukan cuek karena ingin menjauhi gadis itu, tapi karena banyaknya pekerjaan yang tertunda harus ia selesaikan. Mereka sampai lembur selama 4 hari dan kurang beristirahat.

Hari ini adalah hari Jumat. Hari terakhir bekerja di minggu itu. Karena besok dan lusa adalah weekend di mana hari untuk beristirahat.

“Besok ke apartemenku,” titah Leon tanpa menghadap ke arah Bianca saat memberikan perintah.

“Besok aku ada janji yang harus ditepati,” ucap Bianca. “Apa ada sesuatu yang harus dikerjakan? Aku akan melakukannya sekarang.”

Jari Leon yang semula bergerak tanpa henti menandatangani beberapa berkas dokumen yang tertumpuk di atas mejanya, mendadak berhenti. Ia meletakkan pena yang ia pegang dan mengangkat wajahnya menatap ke arah Bianca yang saat itu sedang merapikan berkas-berkas yang sudah ia tandatangani. Gadis itu berdiri di depan meja kerjanya.

“Janji? Dengan siapa?” tanya Leon penasaran.

“Maaf, itu urusanku.”

“Ck!” Leon berdecak sebal. Ia tak bisa melarang gadis itu. Lagi pula status mereka saat ini tak lebih dari seorang atasan dan bawahan. Leon hanya bisa diam dan tak berkata apa-apa. Ia melanjutkan pekerjaannya tanpa berkomentar apa-apa.

Tanpa terasa, hari ini waktu berlalu dengan sangat cepat. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pekerjaan yang sempat tertunda terselesaikan. Tersisa beberapa perjalanan bisnis yang harus mereka lakukan minggu depan.

Hari ini Bianca yang mengemudikan mobil untuk mengantarkan Leon pulang ke apartemen. Itu karena saat ini Brad sedang kembali ke Amerika untuk mengurus Salvatore Group cabang Amerika.

“Tidur di apartemenku. Ada kamar kosong,” ucap Leon saat mobil sedang berada di lobby apartemen. “Lagian udah larut malam. Bahaya kalau perempuan pulang sendiri.”

“Aku sudah biasa, jangan khawatir,” sahut Bianca sambil tersenyum selayaknya seorang sekretaris yang ramah kepada atasannya.

“Parkir mobilnya di basement. Buatkan aku makan malam. Aku lapar,” perintah Leon yang enggan keluar dari dalam mobil tersebut. Ia sengaja menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan mata. Entah apa yang sedang ia rencanakan, yang jelas ia sedang memutar otak untuk menahan gadis itu pergi. Sejak di kantor tadi, ia menerka-nerka bahwa gadis itu pasti membuat janji dengan mantannya.

Mendapatkan perintah dari Leon, Bianca hanya diam dan menuruti perintah tanpa membantah. Ia mengemudikan mobil menuju basement dan memarkirkan mobil. Setelah itu ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Leon. Keduanya berjalan menuju lift dan tak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di apartemen.

Setibanya di apartemen, Leon bergegas ke kamarnya. Ia melepaskan jas serta dasinya dan melemparnya ke atas ranjang. Kemudian ia berjalan menuju balkon kamar dan keluar untuk menghirup udara segar malam itu.

Sesaat ia menatap pemandangan malam Kota Metropolitan dari lantai 53, mendadak langit menurunkan tangisnya ke bumi. Rintik hujan yang perlahan turun sedikit, semakin lama semakin deras.

Sementara itu, Bianca meletakkan tasnya ke atas sofa, kemudian ia melepaskan jas abu-abu yang ia kenakan. Ia berjalan menuju dapur sambil membuka kancing kemeja putih di tangannya, lalu menyingkap lengan kemeja sebatas siku. Ia juga mengikat rambutnya dengan gaya ‘Messy Bun’ membuat lehernya terekspos. Apalagi model kemeja yang ia kenakan hari itu dengan kancing kerah yang memang terbuka sebanyak dua kancing.

“Okay. Malam ini kita akan masak—”

Bianca tak dapat melanjutkan ucapannya sesaat ia membuka kulkas. Ia yang sebelumnya berfikir akan memikirkan masak apa setelah membuka kulkas, mendadak tercengang begitu mendapati isi kulkas tersebut hanya ada air mineral, alkohol dan beberapa minuman energi.

“Astaga! Dia nyuruh aku masak, tapi di kulkasnya nggak ada apa-apa?” gerutu Bianca sambil menutup pintu kulkas. Ia bergegas melihat isi-isi dari lemari dapur atas dan bawah. Siapa tau masih ada persediaan bahan baku yang tersimpan. Tapi tetap sama, tak ia temukan persediaan bahan baku yang dapat di masak.

Bianca menghela nafasnya dan berjalan menuju ke kamar Leon. Ia mengetuk pintu kamar pria itu beberapa kali, namun tak terdengar sahutan di dalam sana. Bianca pun berinisiatif membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Ia melihat pintu balkon kamar itu terbuka karena tirai di pintu tersebut menari-nari terkena terpaan angin. Samar-samar terlihat tubuh Leon sedang memunggungi pintu balkon.

Gadis itu berjalan menuju balkon. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari saku rok selutut yang ia kenakan.

“Di dapur nggak ada yang bisa di masak. Aku akan memesankan makanan online,” ucap Bianca saat berjalan mendekat ke arah Leon yang sedang menatap hujan. “Kamu mau makan apa?”

“Nggak usah. Pulang aja,” ucap Leon tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Bianca.

“Tapi kamu ‘kan belum makan malam? Atau aku pesankan secara acak saja ya?” putus Bianca sembari menatap layar ponselnya.

Karena saat itu hujan semakin deras ditambah angin yang kencang, rintikan hujannya mengarah ke balkon yang sedang dipijaki oleh Leon dan Bianca. Meskipun tak banyak, tapi kemeja yang melekat di tubuh Leon dan Bianca terkena rintikan hujan.

Sembari tangan kanan Bianca memegang ponsel mencari makanan, tangan kirinya mengusap lengan kanannya untuk memberi kehangatan karena kedinginan.

“Ayo masuk. Kamu bisa sakit kalau terus di sini,” ucap Bianca dengan mata yang masih sibuk menatap layar ponsel.

Leon yang merupakan seorang pluviophile atau seorang yang menyukai hujan, ia masih ingin berlama-lama di balkon.

“Kamu saja yang masuk. Aku masih ingin di …,” Leon terpaku begitu melihat penampilan Bianca saat itu. Kemeja putih yang terkena hujan itu mendadak transparan dan memperlihatkan bra hitam yang gadis itu kenakan. Ia melanjutkan ucapannya yang belum selesai tadi. “… sini.”

“Hei, Bianca,” panggil Leon sambil membuang wajahnya ke depan karena tak sanggup menatap gadis yang ada di sampingnya saat ini, “pulanglah, selagi aku menyuruhmu pulang baik-baik.”

Bianca menghentikan aktivitasnya. Ia menatap ke arah Leon yang sudah setengah basah. Ia bergegas memasukkan ponselnya ke dalam saku rok yang ia kenakan. Kemudian ia memegang lengan kekar Leon yang kemejanya sudah setengah basah.

“Gimana aku bisa pulang kalau kamu mandi hujan begini? Gimana kalau kamu sakit? Siapa yang akan menjagamu besok?” berang Bianca karena khawatir.

“Aku bilang pulang ya pulang. Cepat pergi sebelum aku—”

“Sebelum apa? Sebelum kamu benar-benar sakit? Terus aku nggak bisa menikmati weekend ku besok? Begitu?” sela Bianca yang berargumen sendiri bahwa ini adalah taktik Leon yang sengaja ingin membatalkan janjinya dan Rey besok.

“Sial!” umpat Leon lirih sembari mengeram kasar.

Susah payah pria itu menahan diri agar tak terpancing dengan penampilan menggoda Bianca saat ini, gadis itu malah dengan sendirinya menawarkan diri sebagai umpan untuk ia makan.

Leon pun menoleh ke arah Bianca dan menarik tangan gadis itu. Kemudian ia mendorong tubuh gadis itu sampai terpojok di pembatas balkon. Akibatnya, kedua tubuh mereka terkena hujan secara bersamaan dalam keadaan saling berdempetan.

...🫧🫧🫧...

BERSAMBUNG...

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

kamu yg mancing dah disuruh pergi2 g pergi2 pov Leon

2023-10-12

1

lihat semua
Episodes
1 Only One Night
2 Forget That Guy
3 Bermainlah Dengan Benar
4 Bibir Merah Itu ...
5 Sekretaris Pribadi adalah Istri Atasan
6 Janji yang Tertinggal di Paris
7 You Broke Me First
8 Masa Lalu Itu Datang Lagi
9 Find Another Woman
10 Jangan Memancingku!
11 Only You
12 Jangan Bertemu Dengannya!
13 It's Not Your First!
14 Beside You, I'm Happy
15 Perempuan Itu Harus Agresif
16 Apa Aku Melakukan Kesalahan?
17 Gadis Yang Ku Ajak Serius
18 Calon Mertua
19 Itu Privasiku
20 Kesalahpahaman Reinhard
21 Bermain Peran
22 My Aggressive Bos! - Part 1
23 My Aggressive Bos! - Part 2
24 My Aggressive Bos! - Part 3
25 Aku Tak Ingin Kecewa ... Lagi
26 Kekasih Leonidas Salvatore
27 Memperjelas Semuanya
28 Olahraga Pagi ...
29 Gadis Bermuka Dua
30 Mencintai Dalam Keheningan
31 Aku Tak Begitu
32 Aku Harus ke Amerika
33 Si Anak Magang
34 Reinhard Kembali
35 I Want You
36 Ingin Menguasai Salvatore
37 Aku Harus Segera Kembali
38 Tanpa Pamrih
39 Siapa Pria Beruntung Itu?
40 Maaf ... Aku Terlambat
41 Kau Akan Menjadi Milikku
42 I Like You and I Want You
43 Bertahanlah Sampai Aku Datang
44 Tunggu Aku Pulang
45 Hilangnya Kesabaran Reinhard
46 Bahasa Manusia
47 Rasa Itu Ada Sejak Dulu
48 Berhentilah Bersandiwara
49 Gentleman
50 Terima Kasih Sudah Bertahan
51 Aku Ini Kaya dan Berkuasa
52 Mengkhawatirkan Hal Yang Tak Perlu
53 Stay With Me, Hmm?
54 Sarapan Buatanmu
55 Kau Telah Mengkhianati Anakku!
56 Amarah Bella Membabi Buta
57 Pelakor vs Istri Sah
58 Apa Aku Jahat?
59 Semua Sudah Terlambat
60 Ancaman Reinhard
61 Anya ... Berbahagialah
62 Nyonya Salvatore
63 Breaking News!
64 Cobalah Mengenal Cinta
65 Ayah Darurat Untuk Janinku
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Only One Night
2
Forget That Guy
3
Bermainlah Dengan Benar
4
Bibir Merah Itu ...
5
Sekretaris Pribadi adalah Istri Atasan
6
Janji yang Tertinggal di Paris
7
You Broke Me First
8
Masa Lalu Itu Datang Lagi
9
Find Another Woman
10
Jangan Memancingku!
11
Only You
12
Jangan Bertemu Dengannya!
13
It's Not Your First!
14
Beside You, I'm Happy
15
Perempuan Itu Harus Agresif
16
Apa Aku Melakukan Kesalahan?
17
Gadis Yang Ku Ajak Serius
18
Calon Mertua
19
Itu Privasiku
20
Kesalahpahaman Reinhard
21
Bermain Peran
22
My Aggressive Bos! - Part 1
23
My Aggressive Bos! - Part 2
24
My Aggressive Bos! - Part 3
25
Aku Tak Ingin Kecewa ... Lagi
26
Kekasih Leonidas Salvatore
27
Memperjelas Semuanya
28
Olahraga Pagi ...
29
Gadis Bermuka Dua
30
Mencintai Dalam Keheningan
31
Aku Tak Begitu
32
Aku Harus ke Amerika
33
Si Anak Magang
34
Reinhard Kembali
35
I Want You
36
Ingin Menguasai Salvatore
37
Aku Harus Segera Kembali
38
Tanpa Pamrih
39
Siapa Pria Beruntung Itu?
40
Maaf ... Aku Terlambat
41
Kau Akan Menjadi Milikku
42
I Like You and I Want You
43
Bertahanlah Sampai Aku Datang
44
Tunggu Aku Pulang
45
Hilangnya Kesabaran Reinhard
46
Bahasa Manusia
47
Rasa Itu Ada Sejak Dulu
48
Berhentilah Bersandiwara
49
Gentleman
50
Terima Kasih Sudah Bertahan
51
Aku Ini Kaya dan Berkuasa
52
Mengkhawatirkan Hal Yang Tak Perlu
53
Stay With Me, Hmm?
54
Sarapan Buatanmu
55
Kau Telah Mengkhianati Anakku!
56
Amarah Bella Membabi Buta
57
Pelakor vs Istri Sah
58
Apa Aku Jahat?
59
Semua Sudah Terlambat
60
Ancaman Reinhard
61
Anya ... Berbahagialah
62
Nyonya Salvatore
63
Breaking News!
64
Cobalah Mengenal Cinta
65
Ayah Darurat Untuk Janinku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!