Jason melihat bahwa kedua wanita cantik itu tengah dalam kondisi mabuk sedangkan ketiga lelaki yang mengikuti mereka tidak terlalu mabuk. Namun sepertinya mereka berteman semua.
Seorang lelaki yang terlihat lebih tampan bernama Andy Chen, tuan muda dari keluarga Chen yang berada di urutan keempat terkaya di kota Danjia. Dia datang bersama dua orang temannya yang juga berasal dari keluarga yang berada.
Sementara dua wanita yang mabuk itu keluar dari dalam mini market sambil membawa secangkir kopi untuk meredakan mabuk mereka. Kedua wanita itu duduk di depan Jason dengan santai.
Kemudian dari dalam mini market ketiga pemuda yang mengikuti mereka juga turut duduk bersama dua wanita itu dengan masing-masing membawa sebotol bir.
“Kalian belum puas minum di diskotik tadi?” tanya seorang wanita cantik itu.
“Nona Pang, kami belum merasa puas minum. Kamu sudah ingin pulang,” sahut Andy Chen.
“Keluarga Pang? Apakah dia Cecilia Pang? Atau Monika Pang?” bisik orang-orang di belakang Jason.
Mata semua orang di tempat itu melihat ke arah kelima orang-orang kaya yang duduk di depan mini market itu. Wanita itu adalah Cecilia Pang, putri kedua dari keluarga terkaya peringkat satu di kota Danjia.
“Yang ingin pulang itu kami. Kalian seharusnya meneruskan minum di sana, tidak perlu mengikuti kami pulang,” sahut Cecilia Pang dengan wajah dingin sambil menyesap kopinya untuk menghilangkan rasa mabuknya.
“Benar, aku pikir kalian bisa melanjutkan bersenang-senang di tempat itu,” timpal teman wanita dari Cecilia Pang.
“Ah, mana bisa kami tetap minum di sana tanpa mengantar dua tuan putri kembali ke rumah dengan selamat,” sahut salah satu teman laki-laki Andy Chen.
“Benar, nona Shang. Kami tidak boleh membiarkan dua bidadari cantik pulang dalam keadaan mabuk. Kami harus memastikan kalian tiba di rumah dengan selamat,” sambung teman lelaki lainnya.
Ketiga laki-laki itu begitu pandai mengeluarkan kata-kata pujian. Mereka memang berangkat bersama-sama menuju ke diskotik tempat nona Shang tampil. Dia adalah Joan Shang, seorang penyanyi yang cukup terkenal di kota Danjia.
Malam ini dia sedang tampil mengisi acara di sebuah diskotik di kota Danjia. Joan Shang adalah sahabat dari Cecilia Pang, sehingga dia yang datang mengantarnya ke diskotik tersebut.
Tiba-tiba datang beberapa orang preman berbadan kekar ke mini market tersebut seraya memeriksa orang-orang di sana. “Siapa diantara kalian yang telah memukul anak buahku?” Teriak salah seorang yang berpakaian seperti karateka datang ke tempat tersebut.
“Ah, sepertinya malam ini menjadi lebih panjang,” gumam Jason ketika melihat rombongan orang-orang itu.
Mereka memeriksa semua orang di tempat itu termasuk kelima orang dari keluarga kaya itu. “Hei, apa yang kamu lakukan?” Cecilia Pang terlihat kesal ketika dirinya disentuh oleh seorang preman itu.
Wajah Cecilia Pang terlihat jijik melihat ke arah preman-preman yang datang itu. Namun wajah Joan Shang tampak pucat karena cemas.
Andy Chen berdiri menepis tangan dari preman jalanan itu lalu menampar wajahnya.
Plak!
Preman itu terjatuh karena tamparan Andy Chen mengenai pipinya. Wajah para preman itu terlihat marah menatap ke arah Andy Chen. “Siapa kamu? Mengapa kamu menamparnya?” Boss preman itu mendekati Andy Chen.
“Aku Andy Chen dari keluarga Chen. Orang ini berani menyentuh temanku, apa kamu merasa tidak senang aku menamparnya?” kata Andy Chen.
“Keluarga Chen? Apa kamu tahu kami siapa? Kami adalah dari geng Serigala Putih. Aku Wong Jun, salah satu komandan geng Serigala Putih.” Boss preman itu memperkenalkan dirinya. Dia mengetahui tentang keluarga kaya di kota Danjia, namun dia tidak pernah takut dengan mereka..
Ada dua geng besar di dunia bawah kota Danjia, salah satunya adalah geng Serigala Putih ini. Mereka tidak mengenal takut meskipun kepada pejabat polisi, dan mereka menjadi besar kepala serta semena-mena mengganggu penduduk kota.
Konon kabarnya mereka memiliki dukungan dari pihak militer yang markasnya terletak tak jauh di luar kota Danjia. Hal inilah yang membuat bahkan keluarga kaya tidak berani menyentuh mereka.
“Geng Serigala Putih? Ah, mati aku!” Andy Chen kemudian merasa ketakutan setelah mendengar nama geng mereka.
“Boss, itu dia!” Seorang bawahan preman yang tadi ditampar oleh Jason sambil menunjuk kepada Jason.
Orang-orang dari geng Serigala Putih segera mengelilingi Jason yang masih tampak tenang menyesap kopinya.
Ketika orang-orang dari geng Serigala Putih mengurung Jason, orang-orang di sekitarnya segera pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tidak ingin menjadi korban dari perkelahian yang akan terjadi.
Andy Chen kini merasa lega karena terbebas dari fokus bos preman itu. Dia segera menghindar bersama teman-temannya dan pergi menjauh. Demikian juga dengan Joan Shang dan Cecilia Pang yang kemudian masuk kembali ke dalam mobil mereka untuk menghindari terkena imbas dari pertarungan nantinya.
Dari dalam mobil, mereka menonton apa yang akan terjadi. Joan Shang tampak ketakutan, namun Cecilia Pang melihat ke arah kerumunan. “Kasihan anak itu, dia ditakdirkan bermasalah dengan geng Serigala Putih dan mati muda,” gumam Cecilia Pang.
“Kamu masih memikirkan orang lain. Bagaimana dengan kita?” kata Joan Shang dengan cemas.
“Joan, kamu tenang saja. Aku akan menelpon kepala pengawal keluarga Pang untuk datang kemari. Mereka akan menjemput kita,” sahut Cecilia Pang.
Cecilia Pang kemudian menelpon Yuan Li, kepala pengawal keluarga Pang untuk datang menjemputnya setelah memberitahukan kejadian di mini market itu.
Begitu mendengar kata-kata Cecilia Pang, Yuan Li segera mengumpulkan beberapa orang untuk pergi menjemput nona muda keluarga Pang agar tidak terjadi sesuatu dengannya.
Sementara itu, Jason masih terlihat tenang menyesap kopinya. Tidak sedikitpun dia merasa khawatir dengan orang-orang yang mengepungnya.
Wong Jun, salah satu komandan geng Serigala Putih yang berpakaian karateka itu pun duduk di depan Jason sambil membakar cerutunya.
“Hei nak, apakah kamu yang memukul dan mematahkan kedua kaki anak buahku? Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu itu.” kata Wong Jun dengan wajah geram dan tatapan tajam pada Jason.
“Aku hanya menginjak semut, apakah aku harus bertanggungjawab?” sahut Jason dengan santai.
Brakk!
“Aku berusaha untuk bicara baik-baik denganmu. Tapi sepertinya kamu tidak peduli dengan hal ini,” Teriak Wong Jun yang memang sangat emosional.
Jason tersenyum melihat wajah Wong Jun. “Apakah yang kamu maksud semut wanita itu?” cibirnya.
Mata Wong Jun berkedut mendengar perkataan Jason. Dia sudah tidak bisa menerima sikap Jason yang tampak acuh tidak mempedulikan dirinya serta mengejek bawahannya.
“Jangan menyesal jika aku membunuhmu hari ini,” ancam Wong Jun.
“Hehehe… aku sudah pernah mati. Kenapa aku harus takut untuk mati?” sahut Jason sambil terkekeh.
“Beri pelajaran anak ini!” Perintah Wong Jun pada orang-orang geng Serigala Putih yang mengelilingi Jason.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
MATADEWA
Hajar preman2 kampung.....
2025-03-02
0
Atuk
🌟🌟🌟🌟🌟
2025-01-14
0
Kopi Hitam
seruuu wooyy..
2024-10-01
0