Kutukan Desa Janggala Sukma
"Saya sangat berharap, kalau kalian bisa pembantu pihak kepolisian dalam memecahkan kasus tersebut. Karena, itu adalah kasus yang sangat besar. Tapi sangat sedikit sekali pihak yang memiliki bukti. Kalian paham bukan apa yang saya maksud?" Tanya Pak Bandri.
Tri Haryati, atau yang lebih dikenal dengan Yati. Adalah seorang wartawan surat kabar. Dia bekerja bersama dengan sahabatnya yang bernama Iwan Suryadi. Meskipun mereka hanya bekerja berdua saja, tetapi mereka berdua sudah banyak membantu kepolisian dalam memecahkan kasus-kasus misterius. Dalam sebuah penyelidikan, tentunya para pihak kepolisian akan sangat membutuhkan kehadiran para wartawan. Namun, kehadiran Yati dan Iwan sangat-sangat dibutuhkan oleh hampir semua kalangan. Karena mereka berdua sudah sukses dalam karir mereka.
Pada hari itu, atasan mereka yang bernama Pak Bandri, mengutus mereka berdua ke sebuah hotel berbintang. Ada sebuah kasus pembunuhan seorang pengusaha muda kaya raya yang bernama Bagas Mantari. Bagas kabarnya dibunuh di hotel tersebut, beberapa hari yang lalu. Namun, hingga saat ini kabar itu masih simpang siur. Apalagi pihak kepolisian juga bersikap tidak biasa. Yang di mana seharusnya mereka sudah mengusut kasus tersebut. Tapi sampai hari ini tidak ada perkembangan apapun. Bahkan mereka terkesan enggan untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis tersebut.
Entah bagaimana awalnya, sehingga berita ini hanya sampai dari mulut ke mulut, tanpa ada kejelasan sedikitpun. Tapi yang membuat Pak Bandri yakin adalah, hotel tempat Bagas Mantari menginap sekarang sudah ditutup secara total. Tidak ada satupun orang yang boleh ke sana, termasuk Yati dan Iwan. Jadi, tugas yang diberikan oleh Pak Bandri adalah tugas yang tidak resmi. Pak Bandri juga mengatakan, kalau hal ini sama sekali tidak diketahui oleh para penegak hukum. Kalau mereka berdua sampai ketahuan, maka 'Pena Kota' yang akan dipertaruhkan.
"Kalau ini memang kasus yang dirahasiakan oleh para kepolisian, maka kita semua bisa terkena masalah Pak." Kata Iwan dengan nada tegas.
"Justru itu Iwan! Bayangkan, bagaimana reaksi masyarakat kalau sampai kasus ini menyebar? Mereka pasti akan antusias untuk mencari beritanya. Dan koran-koran dari perusahaan inilah yang akan dicekal oleh mereka. Polisi? Mereka tidak akan berani melakukan apa-apa, kalau masyarakat tahu, kitalah yang membongkar kasus tersebut." Jawab Pak Bandri.
Iwan dan Yati saling tatap satu sama lain. Memang, Pak Bandri adalah orang yang sangat nekat dalam hal apapun. Karena itulah dia dipercaya oleh pemilik perusahaan, untuk mengelola perusahaan tersebut. Di tangan Pak Bandri, 'Pena Kota' telah berhasil menjadi perusahaan surat kabar terbesar. Siapa yang tidak tahu 'Pena Kota'? Semua orang membaca koran-koran yang mereka cetak setiap hari. 'Pena Kota' selalu menyediakan berita-berita yang panas dan terbaru. Bagi Pak Bandri, tidak ada yang namanya rahasia. Semua hal memiliki celah untuk dibongkar.
"Maaf Pak. Saya rasa, untuk kali ini saya harus menolak permintaan Bapak. Jujur Pak, ini hal paling gila yang pernah kami lakukan. Dan...."
"Hey... Yati! Yati! Yati! Lihat dirimu sekarang. Sudah berapa hal gila kalian berdua lewati bersama? Hah? Dan semua orang mengenal kalian. Tri Haryati! Dan Iwan Suryadi!" Ucap Pak Bandri sembari tertawa membanggakan kedua anak didiknya itu.
Pak Bandri yang selama ini mendorong Iwan dan Yati untuk berkembang. Dulu, Yati dan Iwan hanyalah karyawan biasa. Bahkan mereka tidak pernah dilirik oleh pemilik perusahaan. Tapi sekarang, jangankan pemilik perusahaan, anak kecil saja bisa menyapa mereka berdua ketika bertemu di jalan. Sebuah pencapaian luar biasa yang dilakukan oleh Yati dan Iwan. Dan semua itu berkat Pak Bandri, yang tidak pernah bosan dan lelah menjadi mentor untuk mereka berdua. Sehingga mereka bisa sukses seperti sekarang ini. Punya rumah dan mobil mewah.
Yati dan Iwan hanya bisa menghargai nafas mendengar ucapan Pak Bandri. Mau dibantah seperti apapun, Pak Bandri tetap akan menjadi pemenangnya. Dia selalu bisa membereskan semua masalah. Karena sering kali melakukan tindakan yang nekat, Iwan dan Yati kerap menjadi sasaran orang-orang tidak bertanggung jawab. Namun dengan pengaruh yang Pak Bandri miliki, Iwan dan Yati masih bisa selamat sampai sekarang. Bahkan sangat jarang ada orang yang berani macam-macam dengan mereka berdua. Karena resiko yang mereka tanggung akan sangat besar jika harus berurusan dengan Pak Bandri yang punya segalanya.
"Bagaimana? Tentunya kalian tidak meragukan pendapat saya bukan?"
Yati pun mengangguk, tanda kalau dia mengiyakan perintah dari atasannya itu.
*
*
Saat sudah di luar kantor, Iwan mencecar Yati dengan berbagai perkataan. Iwan merasa tidak setuju dengan rencana Pak Bandri, yang menugaskan mereka untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Karena pada dasarnya, itu adalah tugas pihak kepolisian. Bukan tugas utama mereka sebagai wartawan. Tugas mereka berdua adalah menyiapkan dan menyiarkan berita kepada masyarakat luas. Bukan mencampuri urusan orang dengan mengulik permasalahan yang menurut Iwan sangat mengerikan itu. Iwan merasakan firasat yang tidak enak, tidak seperti biasanya.
"Ti! Kamu kenapa harus nurut terus sama Pak Bandri? Dia itu sakit jiwa Ti!" Ucap Iwan yang kesal.
Sembari berjalan menuju parkiran, mereka berdua terus berdebat. Karena Iwan sama sekali tidak suka dengan keputusan Yati, yang tidak meminta persetujuan darinya terlebih dahulu.
"Wan! Jaga mulut kamu! Kita bisa dipecat kalau sampai ada yang dengar!" Jawab Yati yang juga sama-sama kesal, karena Iwan terus saja mengoceh.
"Tapi Ti.."
"Iwan! Pak Bandri sudah berjasa besar buat kehidupan kita. Rumah mewah. Mobil mewah. Tidak semua orang punya Wan."
"Iya Ti. Aku tahu. Aku tahu. Tapi, sampai kapan kita akan terus seperti ini Ti? Aku tidak mau menua di tempat ini. Lihat kamu sekarang. Umurmu sudah masuk 27 tahun. Aku? 32 tahun Ti! 32 Tahun!"
"Lantas?!"
"Ti. Kita pikirkan hal lain saja. Kita keluar dari perusahaan ini. Kita bangun usaha sama-sama. Uang kita sudah lebih dari cukup. Dan kita tidak harus menjadi karyawan selama-lamanya."
"Wan. Aku sudah memimpikan ini semua sedari dulu. Menjadi orang yang dikenal banyak orang. Siapa yang tidak kenal kita sekarang? Semua mengenal kita. Dan itu semua berkat siapa? Pak Bandri! Dia orang tua kita satu-satunya. Kamu ingatkan? Dulu kita hanya tinggal di panti asuhan."
Iwan sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Seperti biasanya, Iwan selalu dikalahkan oleh pendapat Yati, yang selalu benar. Iwan dan Yati dulunya memang tinggal di sebuah panti asuhan. Mereka berdua tidak pernah tahu siapa orang tua kandung mereka. Dan Pak Bandri yang selama ini telah menyekolahkan mereka. Memberikan kehidupan yang layak untuk mereka berdua. Bahkan, sudah seperti orang tua kandung mereka sendiri. Pada akhirnya, Iwan terpaksa harus mengikuti Yati. Kemanapun Yati pergi, Iwan selalu saja ingin ikut. Dia tidak pernah mau pisah dengan Yati.
"Ya sudah. Kita fokus saja. Aku ikut denganmu."
"Bagus! Karena itulah yang seharusnya kamu lakukan." Jawab Yati.
Mereka kemudian menaiki mobil mewah mereka masing-masing, yaitu Mercedez-benz Seri S. Mobil yang sangat digemari oleh orang-orang kaya pada masa itu. Tidak sulit bagi mereka berdua untuk mendapatkannya. Dengan upah besar yang mereka dapatkan, mereka bisa membeli apa saja yang mereka mau. Termasuk mobil mewah tersebut. Mereka berdua pergi ke rumah mereka masing-masing, untuk menyiapkan segala keperluan yang mereka butuhkan. Karena dalam tugas kali ini, mereka berdua harus bisa menyamar menjadi orang biasa. Jika mereka menggunakan identitas mereka sebagai seorang wartawan, maka mereka akan mendapatkan masalah besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Eki Baihaki
kak boleh di jadikan bahan buat konen
2023-12-15
1
Tiana
uppp
2023-11-04
1