Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan oleh Bisma, setelah sarapan Bisma mengajak anak dan juga istrinya untuk pergi ke kota. Sebelum pergi dia berpamitan terlebih dahulu kepada sang pemilik tanah.
Karena pada dasarnya gubuk yang dia tinggali menumpang di atas tanah milik orang yang tinggalnya tidak jauh dari sana, pria itu berterima kasih kepada sang pemilik tanah karena sudah diberikan kesempatan untuk tinggal.
Setelah sampai di kota Bisma langsung pergi ke sebuah perumahan, sebuah perumahan yang terlihat lumayan bagus. Karena memang perumahan tersebut dikhususkan untuk kelas menengah ke atas.
Bisma membeli rumah yang memiliki empat kamar, satu kamar utama untuk dia tiduri dengan sang istri. Satu kamar disiapkan untuk kedua putranya, Bagas dan juga Bagus.
Satu kamar dia khususkan untuk ruang penyimpanan uangnya dan juga ruangan khusus untuk Kanjeng Ratu, karena sepertinya itu lebih aman. Daripada dia harus menyiapkan dua kamar yang berbeda, itu bisa bahaya.
Bahaya karena Surti pasti akan bertanya tanya dengan dua ruangan tersebut, lebih baik dia menyiapkan satu ruangan saja. Dia bisa beralasan jika ruangan tersebut khusus untuk ruang penyimpanan uang miliknya.
Jika isinya bertanya kenapa di sana ada tempat tidur, Bisma tinggal berkata jika lelah dia bisa beristirahat di sana.
Satu kamar lagi dia jadikan sebagai kamar tamu, jika ada yang berkunjung dia bisa menginap di sana. Walaupun pada kenyataannya dia memang tidak memiliki saudara.
Karena baik Bisma ataupun Surti, keduanya merupakan anak yatim piatu yang memang tidak memiliki sanak saudara. Maka dari itu Bisma nekat melakukan pesugihan, karena ingin membahagiakan anak dan juga istrinya.
Karena selama dia sakit, tidak ada sama sekali yang peduli kepada dirinya. Tidak ada yang membantu dirinya secara gratis, jika ada yang memberikan uang, itu adalah hasil kerja Bisma sendiri.
"Masuklah, Nak. Ini kamar kalian," ucap Bisma ketika dia membuka kamar untuk kedua putranya.
Bagas dan juga Bagus terlihat begitu bahagia mereka langsung masuk ke dalam kamar itu dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Mereka terlihat begitu bahagia sekali, di sana terdapat dua tempat tidur. Walaupun mereka ditempatkan di kamar yang sama, tetapi memiliki tempat tidur yang berbeda.
Bahkan, keduanya memiliki lemari masing-masing dan juga mainan masing-masing. Ternyata Bisma benar-benar menyiapkan kenyamanan dan juga perlengkapan untuk kedua putranya tersebut.
"Apa kalian senang?" tanya Bisma.
"Sangat senang, Pak. Terima kasih," jawab keduanya dengan kompak.
"Iya, Nak. Kalau begitu kalian bersenang-senanglah di kamar baru kalian, kalian juga bisa bermain dengan semua mainan yang sudah Bapak siapkan. Bapak ingin mengajak ibu kalian untuk ke kamar utama," ucap Bisma.
"Iya, Pak," jawab keduanya.
Setelah berpamitan kepada kedua putranya, Bisma mmengajk istrinya untuk masuk ke dalam kamar utama. Surti terlihat begitu bahagia melihat kamar mereka yang begitu luas.
Jauh sekali dengan luas rumah yang dulu pernah mereka miliki di kampung, rumah ini nampak sangat luas dengan fasilitas yang lengkap.
"Kamu kemarin benar-benar menyiapkan semuanya ya, Mas? Surti suka," ucap Surti seraya memeluk lengan suaminya.
"Tentu saja aku menyiapkan semuanya, Dek. Karena aku benar-benar ingin membahagiakan anak dan juga istriku, oh iya, Sayang. Kamar yang di dekat dapur itu aku gunakan untuk tempat penyimpanan uang kita," jelas Bisma.
"Iya, Sayang. Terserah kamu aja, aku si nurut aja. Tapi setelah kita pindah ke sini, kamu nggak ada niat kerja lagi Mas? Atau mungkin mau niat bikin usaha gitu?" tanya Surti.
Bisma terdiam mendengar pertanyaan dari istrinya, karena memang dia harus memiliki pekerjaan. Atau setidaknya dia harus memiliki usaha, karena jika dia berdiam diri di rumah saja, itu sangat tidak mungkin.
Pasti akan banyak yang bertanya-tanya, kenapa dia bisa mempunyai uang yang banyak, sedangkan kerjanya hanya di rumah saja. Bisa bahaya dan bisa menimbulkan kecurigaan dari banyak orang.
"Bagaimana kalau kita jualan aja? Nanti kita nyewa tempat gitu di dekat perumahan sini, Mas lihat di dekat perumahan sini masih tidak begitu ramai yang dagang," usul Bisma kepada istrinya.
Surti nampak mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju, karena sepertinya memang mereka harus membangun usaha. Terlebih lagi Bisma memang memiliki modal untuk melakukan usaha tersebut.
"Bagaimana kalau kita membuka sebuah warung makanan gitu, Mas? Kalau untuk makanan kan' pasti laku aja," usul Surti.
"Itu lebih baik, nanti Mas akan tanya tanya. Siapa tahu kita bisa menyewa tempat di dekat sekolahan, karena Mas lihat tidak jauh dari komplek ada sekolahan gitu. Biasanya anak-anak akan suka jajan, sekalian Mas juga mau nanya nanya sekolah untuk kedua putra kita," ucap Bisma.
Bagas sudah berusia enam tahun, Bagus sudah berusia lima tahun. Setidaknya mereka harus sekolah, tetapi mungkin Bisma akan menyekolahkan mereka ke sekolah tk terlebih dahulu.
Selama di kampung mereka hidup dalam kemiskinan, kedua putranya itu sama sekali belum disekolahkan. Sepertinya lebih baik kalau dimasukkan ke sekolah tk terlebih dahulu.
"Iya, Mas. Terserah kamu aja, Surti nurut aja," jawab Surti.
Setelah mengobrol dengan istrinya, Bisma mengajak istri dan juga kedua anaknya untuk berkeliling. Bisma menunjukkan seluk beluk rumah tersebut, dia juga mengajak anak dan istrinya untuk melihat-lihat taman belakang rumah.
Di sana juga ada kolam renang, Jadi mereka tidak perlu pergi ke tempat wisata untuk menikmati wisata air yang satu itu. Surti dan kedua anak-anaknya sangat senang.
Malam telah tiba, setelah makan malam Bisma menyuruh kedua anaknya untuk tidur di dalam kamarnya. Setelah itu, dia juga mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar utama.
Malam ini Bisma tidak mengajak istrinya untuk bercinta, karena dia ingin segera pergi ke kamar yang sudah dia siapkan untuk Kanjeng Ratu.
"Tidurlah, Sayang. Mas kau kalau kamu sangat lelah," ujar Bisma.
"Iya, Mas," jawab Surti.
Sebelum Surti tidur dengan pulas, Bisma terus saja menunggui istrinya. Setelah pulas, barulah Bisma pergi ke kamar yang dia khususkan untuk Kanjeng Ratu.
Tiba di dalam kamar tersebut, Bisma langsung mengunci pintu kamar itu dengan rapat. Dia menaburkan kembang tujuh rupa yang sudah dia siapkan di atas tempat tidur.
Lalu, dia menyalakan kemenyan sesuai dengan keinginan dari Kanjeng Ratu. Tidak lama kemudian, terlihatlah kepulan asap yang masuk lewat celah jendela.
"Sayang," panggil Kanjeng Ratu yang langsung memeluk pria itu.
Bisma tersenyum dengan begitu lebar melihat kedatangan dari Kanjeng Ratu, terlebih lagi ketika dia melihat Kanjeng Ratu yang memakai pakaian seksi sekali.
"Kanjeng Ratu," ucap Bisma seraya memejamkan matanya, karena dia merasakan tangan wanita itu mulai mengusap-usap miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Ali B.U
next
2024-03-01
1