Perjodohan Bayi

Elvan dan Rafa sudah sampai di kediaman kakek mereka, yaitu kakek Arkan dan Alina nenek mereka. Ada juga Gita istri Alan yang sudah menunggu kedatangan saudara yang datang dari jauh. Dan dua wanita lagi yang tidak dikenali oleh Elvan dan Rafa.

"Perkenalkan, El, Raf. Ini Shafa istriku dan ini Najwa adikku. " Ali memperkenalkan orang yang tidak dikenal oleh Elvan dan Rafa.

Namun saat mereka mengulurkan tangan, kedua wanita itu tidak menyambutnya tetapi hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

"Maaf." ujar Elvan yang mengerti kalau mereka pasti tidak mau disentuh oleh seseorang yang bukan mahram.

"Tidak apa-apa. Ayo silahkan duduk. " kata Ali.

Mereka duduk dan berbincang hangat saat ini. Beruntungnya nenek mereka Nisa selalu mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak dan cucunya. Jadi di saat seperti ini, ilmu mereka bermanfaat.

"Istri dan adikku keluaran pesantren, El. Jadi, mereka menjaga diri mereka dengan menaati hukum islam yang berlaku. Tidak seperti kita. Tapi sejak menikah, alhamdulillah pengaruh baik dari istriku menular kepadaku. " cerita Ali kepada sepupunya itu

El dan Rafa mengerti sekarang. Ternyata mereka adalah wanita-wanita yang tidak mudah disentuh. Sama seperti nenek mereka.

"Jadi, apakah ini maksud kakek. Aku harus mencari sosok wanita yang masih murni. Seperti nenek Nisa dulu " batin Elvan.

"Wa, sini atuh. Jangan keluar masuk aja. Aa' mau tanya sesuatu sama kamu. Apa ada di pesantren mu sosok wanita yang belum pernah terlihat oleh siapapun? " tanya Ali kepada adiknya.

"Maksud Aa'? "

"Di pesantrenmu apa ada sosok wanita muslimah yang sholehah. " Ali mengulang pertanyaannya lebih singkat, agar adiknya mengerti.

Semua orang yang mendengarkan perbincangan kakak beradik iti hanya menggelengkan kepala.

Elvan sendiri tidak menyangka kalau Ali akan bergerak cepat mencarikan wanita sholehah untuknya. Dia hanya tersenyum kecut, padahal dia kan baru datang dan belum beristirahat sama sekali.

Dilihatnya Najwa masih berfikir keras dan mengingat-ingat apakah ada sosok seperti itu di pesantrennya. Setelah lama berfikir...

"Aha, ada A'. Namanya kak Aida Fatimah, dia adalah putri dari Kyai Amir pemilik pesantren. Orangnya... aku nggak tau A' soalnya dia pakai cadar. Tapi kalau ngaji, beuh suaranya merduuuuu banget. Terus dia juga seorang hafidzah. Kalau habis maghrib dia selalu mengajarkan ngaji kepada anak-anak kecil yang masih belajar ngaji. Orangnya sabaaaarrrr banget,nggak pernah marah meskipun muridnya bandel."

Entah mengapa saat Elvan mendengarkan penggambaran sosok Aida Fatimah hatinya merasa bergetar, darahnya seakan bergejolak. Dan jantungnya seperti dipompa begitu cepat.

"Tapi apa kamu nggak pernah lihat wajahnya, dek." tanya Ali penasaran.

"Enggak, A'. Kak Aida itu benar-benar menutup tubuhnya dengan sempurna. Hanya jari-jari tangan dan matanya saja yang terlihat. " kata Najwa.

"Memangnya kenapa sih. " tanya Najwa penasaran.

"Najwa, kamu bisa antar aku ke tempatnya Aida? " cetus Elvan tiba-tiba tanpa memikirkan apa yang dia katakan.

Semua orang melongo mendengar permintaan Elvan. Pasalnya mereka sendiri belum tahu soal Aida.

Sedangkan Alan terkekeh mendengar permintaan keponakannya itu. Sepertinya Elvan tertarik pada sosok Aida setelah mendengar cerita dari Najwa.

"Bersabarlah, El. Hari ini kamu dan Rafa Istirahat dulu. Kalian baru sampai. Besok, aku akan mengantarkan kamu ke pesantren Kyai Amir. Jangan terburu-buru. " ujar Alan sambil terkekeh.

"Alan benar, sebaiknya kita makan dulu. Lalu kalian berdua segera beristirahat." kata Kakek Arkan yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan anak dan cucunya.

Mereka akhirnya makan malam bersama dengan tenang. Diselingi obrolan ringan diantara mereka. Sejak tadi Rafa mencuru-curi pandang kepada sosok Najwa. Entahlah, kenapa tiba-tiba dia tertarik pada sosok wanita itu. Padahal sebelumnya, dia adalah sosok yang anti wanita.

"Raf, kamu tau nggak. Tadi waktu Najwa cerita tentang sosok Aida, tubuhku langsung bergetar. Kamu tau nggak apa artinya itu. " tanya Elvan kepada pria es itu.

Dan sepertinya Elvan salah bertanya, karena Rafa hanya menggedikkan bahunya acuh.

"Ah, sial kenapa aku lupa kalau yang aku ajak bicara adalah gunung es. Kau mana bisa merasakan yang beginian, karena hidupmu hanya kau habiskan untuk membaca buku dan dokumen. " gerutu Elvan.

"Lalu kenapa kau mengajakku, tidak mengajak Ryder saja. " Si gunung es itupun mulai bicara.

"Sebaiknya aku mengajak manusia es dari pada mengajak manusia pembawa masalah. " kata Elvan lalu dia membaringkan tubunya.

Di luar kamar, Arkan dan Alan serta Ali sedang berbicara serius tentang Elvan dan Aida. Mereka tidak menyangka kalau Elvan akan terpancing dengan ucapan Najwa tentang sosok Aida.

"Bagimana, yah. Apa kita harus memberitahu Kyai Amir tentang kedatangan Elvan? " tanya Alan kepada ayahnya.

"Sepertinya memang kita harus memberi tahu Kyai Amir. Jika dia tidak diberitahu, aku takut pak Kyai akan shock. Namun jika sudah diberitahu Kyai Amir pasti akan bersiap menyambut kedatangan Elvan. " ucap Arkan.

"Baiklah, kalau begitu Aku akan menghubungi Kyai Amir kalau cucu dari penyuntik dana pondok pesantren nya sudah datang. Untuk menjemput jodohnya. " kata Alan sambil terkekeh.

"Maksudnya? " tanya Ali yang tidak mengerti pembicaraan kedua orang tua di hadapannya.

Alan menceritakan kepada Ali apa yang sebenarnya terjadi. Tentang hubungan keluarga mereka yang di Turki dengan pondok pesantren milik Kyai Amir itu.

Flashback

Dulu 20 tahun yang lalu, Erhan dan Nisa pernah berkunjung ke Indonesia. Dan berjalan-jalan di sekitar pesantren dengan berjalan kaki. Kala itu pesantren belum ada, tapi mereka melihat sebuah rumah sederhana dengan sebuah bangunan yang terbuat dari bambu, namun banyak anak-anak ngaji di dalamnya.

Erhan dan Nisa mendekat dan melihat-lihat disekitanya. Ustadz Amir mendekati kedua sejoli yang sedang melihat-lihat muridnya yang sedang mengaji. Dan bertanya kepada mereka.

"Apa ada yang bisa saya bantu?"

Nisa dan Erhan saling berpandangan dan tersenyum kepada ustadz Amir. Mereka akhirnya berbicara kesana kemari, ustadz Amir mengatakan kalau dia ingin memiliki sebuah pesantren agar bisa membagi ilmunya dan Ilmunya bisa bermanfaat di dunia dan di akhirat dan bisa jadi amal jariyah kelak.

Erhan tersenyum, dan dia pun menawarkan sebuah kesepakatan kepada ustadz Amir. Seorang anak bayi baru lahir yang berada dipangkuan Nisa inilah yang akan menjadi penentunya.

"Saya akan membuatkan pesantren untuk anda Ustadz. Bahkan saya akan menggelontorkan dana ke pesantren itu tiap bulannya, jika anda mau. Tapi dengan satu syarat. " ucap Erhan dengan mantap.

"Maksud anda? Syarat? "

"Iya, satu syarat. Aku meminta seorang putri mu yang masih bayi ini untuk menjadi cucu menantuku kelak. Aku ingin kau menjaga dan merawatnya dengan baik. Menjadikannya sebuah berlian yang tak tersentuh. Jadikan Dia seorang wanita yang lemah lembut tapi juga berkarakter kuat. Kelak 20 tahun lagi dia akan di jemput oleh cucuku. Dan akan menjadi cucu menantuku. "

Ustadz Amir dan istrinya saling berpandangan mereka benar-benar tidak menyangka kalau pria di hadapannya memberikan penawaran yang aneh kepadanya. Apa mungkin? sebuah pesantren? itukan membutuhkan biaya yang banyak.

"Bagaimana ustadz. Jadi kedatangan saya kemari ingin melamar anak anda itu, dengan sebuah pesantren sebagai seserahan. Saya bukan penipu atau pembohong. Jika anda tidak percaya, anda bisa datang ke rumah pak Ibnu. Untuk mengetahui kebenarannya."

Setelah beberapa hari ustadz Amir mencari tahu tentang Erhan melalui pak Ibnu, akhirnya ustadz Amir menyetujui rencana perjodohan putri bungsunya dengan cucu Erhan yang bernama Elvan. Perjodohan itu hanya diketahui Pak Ibnu, Arkan dan Alan sedangkan keluarga di Turki tidak tahu sama sekali.

Nisa memberikan sebuah kalung bertahtakan cincin berlian kepada bayi kecil itu dan mengalungkan keleher si bayi.

"Ini adalah pengikat anakmu, kalau dia sudah menjadi calon menantu kami kelak. Jika dia sudah dewasa gunakan cincin itu dijarinya,atau menunggu cucu kami yang menyematkannya di jarinya nanti" kata Nisa sambil tersenyum melihat wajah cantik bayi yang berada dalam gendongan ibunya.

Sejak saat itu, ustadz Amir dan istrinya menjaga Aida Fatimah dengan ketat, bahkan dalam berpakaian. Dia menggunakan pakaian tertutup, agar tidak ada seorangpun yang bisa melihat kecantikannya selain suaminya kelak. Aida sendiri sudah tahu, kalau dia sudah bertunangan dengan seorang pria sejak dia bayi dari kedua orangtuanya. Dan memberikan pesantren ini sebagai seserahan untuknya dan keluarga.

Sejak tahu hal Itu Aida semakin menjaga dirinya, dari semua orang. Dia hanya akan menyerahkan dirinya nanti untuk suaminya yang sudah membantu keuangan keluarganya selama ini. Aida diajarkan untuk tidak menjadi kacang yang lupa akan kulitnya.

Flashback Off

Di rumah Kyai Amir.

Kyai Amir yang sedang bersantai tiba-tiba mendapat telpon dari Alan. Beliau langsung mengangkat panggilan dan menyapanya.

"Hallo, Assalamu'alaikum. Ada apa nak Alan? " sapa Kyai Amir.

"Wa'alaikum salam. Maaf mengganggu, Kyai. Cuma mau mengabarkan, besok saya dan Ali akan datang ke pesantren mengantarkan seseorang. "

"Oh, ya silahkan saja, Nak Alan. Memangnya siapa yang akan kemari? " tanya Kyai Amir penasaran.

"Calon suami Aida dari Turki sudah datang Kyai. "

Deg.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Lha. patas aja Erhan memberi syarat buat Elvan utk cari jodoh di Indonesia, ternyata udah mereka siapin dr dulu tah jodonya... jd Elvan ini tinggal jemput aja...

2024-06-11

1

Elizabeth Zulfa

Elizabeth Zulfa

oh... jdi mreka udah dijodohin dri kcil toh... pntes aja elvan lngsung brgryar hatinya dengerin perihal sosok Aida

2024-03-19

1

Ryani

Ryani

uhhh so sweet

2023-12-11

1

lihat semua
Episodes
1 Wasiat
2 Terbang Ke Indo
3 Perjodohan Bayi
4 Aida Calon Istri Orang?
5 Kedatangan Dua Pria
6 Layu Sebelum Berkembang
7 Berlian Yang Tak Tersentuh
8 Ponsel Jadul
9 Jodoh Wasiat Kakek
10 Rencana Ke Indonesia
11 Kebenaran Tentang Aida
12 Kau Adalah Calon Istriku
13 Kesiapan Aida
14 Kedatangan Keluarga
15 Mengejutkan
16 Aida
17 Hati Seorang Rafasya
18 Melihat Wajah Aida
19 Lamaran
20 Kesepakatan Dua Keluarga
21 Keinginan Zoya
22 Permintaan Zoya
23 Jawaban Najwa
24 Pertunangan
25 Kenangan
26 Brian dan Salsa Menyapa
27 Pernikahan
28 Dibalik Niqab
29 Tidur Bersama
30 Nasehat Abi
31 Masalah
32 Keputusan Aida
33 Berpamitan
34 Sesuatu Yang Tertunda
35 DP
36 Pernikahan Dan Perpisahan
37 Panggilan Itu?
38 Nyonya Muda
39 Kekesalan Elvan
40 Insecure
41 Memperkenalkan Istri
42 Sisi Lain Aida
43 Obrolah Keluarga
44 Belanja
45 Penyerahan Diri
46 Seperti Pinguin
47 Alasan Sakit
48 Sebuah Kenyamanan
49 Meminta Bantuan Zia
50 Obrolan Para Wanita
51 Aida Sakit
52 Mempermalukan
53 Pingsan
54 Hamil
55 Tetaplah Sehat
56 Periksa Kandungan
57 Kebersamaan
58 Kepergian Elvan
59 Gibahan Para Istri
60 Senjata Makan Tuan
61 Keadaan Najwa
62 Memberi Pengertian
63 Dejavu
64 Menangkap Alex
65 Salah Paham
66 Kencan
67 Rencana Alex
68 Rencana Yang Terbongkar
69 Kedatangan Sarah
70 Diusir
71 Akhir Dari Alex
72 Periksa Kehamilan
73 Hukuman Untuk Anita
74 Operasi
75 Perbedaan Twins
76 Wajah Aida
77 Telepon
78 Musa Dan Mirza
79 Kembali Ke Rumah
80 Resepsi
81 Expart 1
82 Intermezzo
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Wasiat
2
Terbang Ke Indo
3
Perjodohan Bayi
4
Aida Calon Istri Orang?
5
Kedatangan Dua Pria
6
Layu Sebelum Berkembang
7
Berlian Yang Tak Tersentuh
8
Ponsel Jadul
9
Jodoh Wasiat Kakek
10
Rencana Ke Indonesia
11
Kebenaran Tentang Aida
12
Kau Adalah Calon Istriku
13
Kesiapan Aida
14
Kedatangan Keluarga
15
Mengejutkan
16
Aida
17
Hati Seorang Rafasya
18
Melihat Wajah Aida
19
Lamaran
20
Kesepakatan Dua Keluarga
21
Keinginan Zoya
22
Permintaan Zoya
23
Jawaban Najwa
24
Pertunangan
25
Kenangan
26
Brian dan Salsa Menyapa
27
Pernikahan
28
Dibalik Niqab
29
Tidur Bersama
30
Nasehat Abi
31
Masalah
32
Keputusan Aida
33
Berpamitan
34
Sesuatu Yang Tertunda
35
DP
36
Pernikahan Dan Perpisahan
37
Panggilan Itu?
38
Nyonya Muda
39
Kekesalan Elvan
40
Insecure
41
Memperkenalkan Istri
42
Sisi Lain Aida
43
Obrolah Keluarga
44
Belanja
45
Penyerahan Diri
46
Seperti Pinguin
47
Alasan Sakit
48
Sebuah Kenyamanan
49
Meminta Bantuan Zia
50
Obrolan Para Wanita
51
Aida Sakit
52
Mempermalukan
53
Pingsan
54
Hamil
55
Tetaplah Sehat
56
Periksa Kandungan
57
Kebersamaan
58
Kepergian Elvan
59
Gibahan Para Istri
60
Senjata Makan Tuan
61
Keadaan Najwa
62
Memberi Pengertian
63
Dejavu
64
Menangkap Alex
65
Salah Paham
66
Kencan
67
Rencana Alex
68
Rencana Yang Terbongkar
69
Kedatangan Sarah
70
Diusir
71
Akhir Dari Alex
72
Periksa Kehamilan
73
Hukuman Untuk Anita
74
Operasi
75
Perbedaan Twins
76
Wajah Aida
77
Telepon
78
Musa Dan Mirza
79
Kembali Ke Rumah
80
Resepsi
81
Expart 1
82
Intermezzo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!