Tak dinyana pertemuan selanjutnya antara Airin dan Bastian terjadi pada saat Airin mengikuti lomba lari Half Marathon 5 Km dan 10 Km yang diadakan di dalam rangka merayakan ulang tahun kotanya, Airin yang sangat bersemangat mengikuti lomba lari tersebut kaget karena yang ikut membuka acara dan melepas peserta adalah Bastian!
Iya Bastian yang mendadak selalu muncul di pikiran Airin, tentu saja ditambah dengan bumbu rasa kesal kepada orang ini mendadak ada di event lomba lari hari ini.
Padahal Airin sempat berpikir sesosok Bastian adalah manusia yang tidak mau membuang keringat hanya demi acara seperti ini, pastinya Bastian banyak membentuk otot-ototnya di gym.
"atau apa dia mengejar aku ya? Ah tidak mungkin.. Sadar woi.. siapa pula aku ini" lamun Airin.
Winda yang ikut juga dalam lomba lari ini, mulai menggoda Airin. "Rin ada Pak Bastian tuh, wah keren ya, pantesan ikutan buka acara ini. Sponsornya dari perusahaan dia ternyata, eh.. Apa kita ga usah ikutan lari yuk, ikutan konvoi numpang naik mobil rombongan mereka aja? Palingan mereka ga ikutan lari" kata Winda.
"ih emang kita ini siapa Win? Saudara bukan, sahabat juga bukan" dasar ah kamu ini". Balas Airin.
Saatnya tiba melepas peserta lari, begitu Airin dan Winda melesat di depan Bastian, ternyata respon Bastian biasa saja.
"Duh rugi deh aku mikirin orang itu dari tadi" sesal Airin.
Dan tentu saja setelah semua peserta berangkat Bastian ikut berlari bersama peserta. Dengan memakai kaca mata hitam, Bastian mulai melesat berlari meninggalkan peserta yang lain. Dan menyusul Airin..
Di Km ke-2 pertama, sejauh ini masih lancar peserta masih antusias, begitu masuk Km ke-4, Winda sudah mulai mengeluh, dan membujuk Airin untuk mundur.
Airin yang memang sudah mentargetkan akan melampaui 5 Km, tentu saja menolak.
Walaupun setelah sampai Km ke-5 peserta sudah mendapatkan hadiah, terutama apabila masih berstatus pelajar, namun Airin bertekad untuk sampai ke Km ke-10, hadiah jalan-jalan keluar negeri yang ditawarkan membuat Airin semakin bersemangat.
Di Km ke-5 Winda akhirnya memutuskan berhenti, "ga apa-apa deh, aku disamain ama pelajar" udah ga kuaaat kata Winda" dan melambaikan tangan meninggalkan Airin yang masih terus berlari.
Sekarang tinggal Airin dan peserta lain yang masih semangat untuk melanjutkan lomba lari ini.
Ketika Km ke-7 sudah mau dilewati, seseorang tiba-tiba menyejajarkan langkah larinya dengan Airin, dan menyapa Airin. Sontak Airin yang menengok kesamping kanannya kaget melihat Bastian dan terjatuh.
Bastian menghentikan larinya dan membantu memeriksa keadaan Airin.
"waduh maaf, saya tidak bermaksud mengagetkan Mba Airin, saya tadinya hanya mau menyemangati Mba, dan berlari bersama". Bastian meminta maaf.
Airin yang meringis kesakitan mencoba berdiri lagi dan akan melanjutkan larinya, mendadak terjatuh lagi. Untungnya ditahan Bastian.
Bastian memanggil tim medis dan segera menggendong Airin ke rerumputan dipinggir jalan. Sebenarnya Airin protes pada saat digendong, namun protesnya kalah sama rasa sakit yang kerasa bagai disengat lebah di kakinya ini.
"Sepertinya kakinya terkilir ini Mba, sudah seharusnya Mba berhenti. kemungkinan pergelangan kakinya bergeser, dan harus diperiksa lebih lanjut oleh dokter" seorang tim medis menjelaskan.
Airin yang masih kesakitan menjawab " padahal tinggal sebentar lagi ini garis finish, kalau boleh saya jalan aja ya? Saya bisa seret kaki saya agar sampai ke garis finish"
"wah jangan Mba, bisa tambah parah nantinya, Ini kakinya udah bengkak banget mba, kami kasih pereda nyeri, Mba masih kesakitan kan?
Lagipula garis finish masih 2 km lagi" jawab seorang tim medis.
"saya kenal Mba ini, biar saya aja yang anter ke rumah sakit" kata Bastian.
Dengan menumpang ambulans Bastian menemani Airin ke rumah sakit terdekat dengan event lomba lari tersebut.
Selama di ambulans keduanya terdiam bungkam seribu bahasa, terlihat rasa kecewa di wajah Airin dan wajah bersalah Bastian.
Bastian menata kata-katanya kembali dan mengulang permintaan maafnya ke Airin. namun Airin masih enggan menjawab.
Selama Airin ditindak di rumah sakit, Bastian mengurus dan menemani Airin, sampai beberapa jam kemudian Airin akan pindah ke ruang rawat inap, dan diantar dengan kursi roda serta kaki kanan yang sudah di beri gips.
Karena kakinya di gips, dokter menyarankan agar Airin dirawat inap, agar bisa dipantau terus, sampai diperbolehkan untuk pulang. Airin menolak dan bersikeras untuk pulang hari itu juga.
"saya tidak perlu menginap Dok, lagipula kaki saya sudah tidak begitu sakit lagi ini, udah enakan malah tidak ada rasanya ini" Airin memohon.
"bukan tidak sakit Bu, ini kan kaki ibu masih ada efek obat yang saya kasih, jadi memang tidak kerasa sakit, saya khawatir saja nanti tambah parah kalau ibu banyak gerak di rumah" jawab dokter, jangan sampai kembali kesini anda harus dipasangin pen di kaki ya.
Bastian yang mendampingi Airin, agak geli mendengar Airin yang mendebat dokternya.
"tolonglah lah Mba Airin, untuk sementara disini dulu, saya yang akan bertanggung jawab mengurus semuanya, saya juga yang akan menghubungi keluarga Mba Airin nanti" pinta Bastian.
"Anda pikir saya ga punya mulut untuk telepon mama saya dan bilang saya sakit, yang sakit kan kaki saya bukan mulut saya" balas Airin sewot.
"iya saya faham, ini sebagai bentuk permintaan maaf saya, walaupun seandainya Mba Airin tidak mau memaafkan saya, tapi setidaknya saya mohon patuhilah perintah dokter, agar Mba Airin cepat sembuhnya". Ujar Bastian tulus.
Melihat Bastian yang sangat bersungguh-sungguh meminta maaf, akhirnya Airin mengangguk dan jadilah kenangan mendapat medali lari marathon 10 Km hari ini menjadi ambyar dan berganti menjadi kenangan mendapat gips di kaki.
"Ah ini sih bukan jodoh namanya, kebetulan yang membawa kesialan" rutuk Airin dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
kuia 😍😍
Terima kasih sudah menghibur! 😊
2023-09-14
0