Bab 11. Flashback. Ayo, menikah!

Di bawah, guyuran pancuran air. Sandra terduduk, dengan memeluk kedua kakinya. Ia meraung, tanpa takut terdengar. Menangis di taman, tidak membuatnya lega. Air matanya, masih saja terus jatuh.

"Ayo, menikah!" pinta Zamar, saat itu.

"Kau gila. Kenapa aku harus menikah denganmu?"

"Karena, kau satu-satunya wanita yang tidak akan banyak menuntut dariku. Menikah denganku, maka kau tidak perlu melakukan perjodohan."

"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyakiti Maya. Dia adalah temanku."

"Maya mengkhianatiku dan aku tidak bisa membatalkan pernikahan. Ibuku terus menangis, hingga harus dirawat. Aku tidak punya pilihan lain, selain mencari pengantin pengganti."

"Tapi, kenapa harus aku?"

"Karena, keluarga kita sudah saling mengenal. Kedatangan ibumu hari ini, membuatnya sedikit merasa lebih baik."

Sandra membisu, mungkin sedang memikirkan tawaran Zamar, yang juga memberikan keuntungan padanya. Namun, jika ada hati yang harus tersakiti, mungkin lebih baik tidak sama sekali.

"Satu tahun dan kita akan berpisah," lanjut Zamar lagi. "Aku hanya perlu menutupi wajah ibuku. Jika dalam setahun, kau ingin berpisah, aku tidak akan menahanmu. Aku tahu ini berat, tapi ini lebih baik untuk kita berdua. Menikah denganku, kau bisa bebas dari aturan orang tuamu. Dan setelah, berpisah pun, mereka tidak akan bisa mengusikmu."

"Beri aku waktu."

"Baiklah."

Malam itu, Sandra dan sang ibu, menemani Resti diruang rawat inap. Ibu Zamar tampak lemah, dengan selang oksigen di hidungnya.

"Jadi, ini putrimu?" tanya Resti dengan lemah.

"Benar. Dia dan Zamar, sudah saling mengenal."

"Kalau begitu, apa dia bersedia menggantikan Maya, di pernikahan? Tiga hari lagi dan aku sangat panik. Kau tahu, kami tidak bisa membatalkan pernikahan ini."

"Tentu saja, putriku bersedia." Ibu Sandra langsung menyetujui, tanpa bertanya terlebih dahulu pada putrinya. Dan itu, membuat Resti terharu, karena mendapat pertolongan dari sahabatnya.

Sandra sendiri membisu, tanpa berani memprotes. Keputusan ibunya adalah hal mutlak, yang tidak bisa diganggu oleh siapapun.

Akhirnya, mau tidak mau, Sandra membuat kesepakatan dengan Zamar.

Tiga hari, sebelum pernikahan. Sandra mencoba gaun pernikahan, yang seharusnya milik Maya. Entah mengapa, sangat pas ditubuhnya. Sandra menatap dirinya dalam cermin, sambil terus meminta maaf dalam hati pada sahabatnya.

May, maafkan aku. Sungguh, aku tidak punya pilihan. Maafkan aku, maafkan aku!

Sandra terus meminta maaf dengan air mata yang nyaris menetes. Gaun pengantin ini, seperti memberikan beban hati padanya. Ada rasa bersalah yang mencapai langit dan seolah tak termaafkan.

Menjelang pernikahan, orangtua Sandra, terus memberikan peringatan dan ancaman pada putrinya.

"Kau harus menikah besok, jangan membuat hal aneh. Jika kau tidak mau dinikahkan dengan teman ayahmu, yang perjaka tua."

"Aku tahu."

"Ingat, jangan katakan, pada Zamar tentang kejadian malam itu. Kau tahu, kan maksud ibu? Dia tidak akan percaya padamu, justru sebaliknya."

"Baik." Sandra memilih menurut.

Tok tok tok.

"San, kau sudah terlalu lama? Kau baik-baik saja?"

Sandra tidak menjawab. Ia menghapus air mata, lalu bangkit menyelesaikan ritual mandinya.

"Apa terjadi sesuatu?" selidik Zamar, yang mulai merasa aneh dengan sikap Sandra.

"Tidak ada. Aku hanya stress, karena banyak tugas yang harus diselesaikan bersamaan."

"Jangan membebani diri, kau bisa sakit. Kita adalah teman, kau bisa bercerita padaku." Zamar memberikan pakaian, lalu beranjak duduk.

Bagaimana aku bisa cerita, jika kau saja tidak peduli padanya? Kau tidak tahu, beratnya beban pernikahan ini. Satu tahun, terlalu lama bagiku, untuk memikulnya.

Sandra mematung, ia terisak tiba-tiba. Mungkin, ia sudah tidak mampu menahannya. Zamar yang mendengar itu, langsung bangkit.

"Kenapa? Kau sakit?"

Sandra menggeleng, dengan kepala tertunduk. "Aku tidak bisa, Za. Ini terlalu berat. Semuanya, menyalahkanku, menyudutkanku. Aku tidak bisa membela diri, karena itu kenyataan. Aku merebut tunangan sahabatku dan membuatnya terusir dari kampus." Hiks, hiks, hiks.

Zamar mendekap Sandra, membelai kepalanya untuk menenangkan.

"Siapa yang mengatakan itu? Mereka tidak tahu apa-apa, jadi jangan masukkan dalam hati."

"Aku tidak bisa, Za. Mereka benar, aku adalah seorang pelakor."

"Tidak. kau bukan wanita seperti itu!" Zamar melepaskan pelukan, menatap Sandra dengan hangat. "Aku akan membungkam mereka." Kembali memeluk Sandra.

Pelukan yang hangat dan perhatian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada getaran aneh, dalam hati Sandra. Ia merasa tenang, nyaman dan terlindungi.

Deg.

Mata Sandra membulat sempurna. Akal sehatnya, seolah memberi alarm. Ia melepaskan pelukan Zamar dan mundur perlahan.

"Terima kasih. Tapi, kau tidak perlu melakukannya. Jika kau bertindak, maka semua akan menganggapnya benar."

"Istirahatlah. Malam ini, kita akan sekamar. Tapi, aku sudah menyiapkan sofa panjang untukku."

Sandra mengangguk, lalu masuk dalam kamar mandi. Ia perlu mewaraskan pikirannya, dengan mandi.

Zamar duduk bersandar, diatas tempat tidur. Dilihatnya, foto pernikahan mereka yang terpajang. Lalu, dimana foto pertunangannya dengan Maya? Zamar masih menyimpannya dengan rapi. Dia merasa berat dan tidak rela, untuk membuangnya begitu saja.

Meski, bibir mengatakan benci dan tidak peduli. Tapi, ada rasa rindu yang menyiksanya, setiap malam. Tawa, senyum dan manjanya tertanam dalam pikiran Zamar, yang begitu sulit untuk di hapus.

Ya, Zamar belum melupakan Maya, sepenuhnya. Foto Maya masih berada dalam ponselnya. Layar depan, juga masih senyuman Maya disana.

"Kau menyerah begitu cepat, May? Aku menghancurkan impianmu, tapi kau menghancurkan hidupku."

Yah, Zamar merasa hidupnya, sudah hancur, sejak mengambil keputusan untuk menikah. Menikah dengan wanita, yang sama sekali tidak dicintainya. Entah hubungan, apa ini? Tinggal seatap, tapi seperti orang lain. Dan entah berapa lama, ini akan bertahan?

Sang ibu adalah satu-satunya alasan Zamar, untuk bertahan.

"Za, Maya kemana?" Resti bertanya dengan menekan amarah. "Dia tidak ada di apartemen dan di kampus. Sebenarnya, dia kemana? Katakan, Zamar."

"Aku mengusirnya."

"Ap-apa?" Resti terperanjat, dengan meremas dadanya. "Kenapa? Kalian akan menikah tiga hari lagi dan kau mengusirnya? Apa kesalahannya?"

"Dia menipuku dan berselingkuh dibelakangku. Dia membiayai pria lain."

Sontak Resti, merasa pusing dan hampir ambruk.

"Mama," teriak Zamar, yang juga langsung memanggil pelayan.

"Za, apa kau tidak bisa menunggu, sampai kalian menikah? Sekarang, Mama harus bagaimana? Sore ini, keluarga besar kita akan datang. Mama harus menjelaskannya, bagaimana? Kakek dan nenekmu, sangat menyayangi Maya."

"Maafkan, aku."

"Lalu, sekarang bagaimana? Kenapa tidak memberitahu Mama secepatnya?"

Wajah Resti semakin memucat, dan itu membuat Zamar panik. Lalu, mengantarkannya ke rumah sakit. Sepanjang jalan, Resti terus menangis dan menyebut nama Maya.

"Maya wanita baik-baik. Dia tidak mungkin, melakukannya, Zamar. Kau pasti salah paham, Nak. Cari Maya, sekarang!"

"Ma, jangan pikirkan itu! Zamar mohon!"

"Za, undangan sudah disebar. Mama bisa mati, karena menahan malu. Belum lagi, keluarga ayahmu, yang selalu menekan Mama. Bagaimana Mama akan mengatakan pada mereka? Mama selalu memuji Maya pada mereka." Suara Resti, semakin lemah dan tak terdengar.

"Ma, sadar, Ma." Zamar berteriak ada supir. "Cepat. Kenapa kau sangat lambat?"

"Maaf, Tuan."

🍋 Bersambung.

Terpopuler

Comments

Bu ning Bengkel

Bu ning Bengkel

dasar camar hanya melihat dari luar saja waktu pulang tahu2maya sudah tidur dengan laki2 lain hanya itu saja lansung marah2 .......lanjut......

2024-04-20

0

sherly

sherly

wah kalo amam Resti gini artinya biangnya mama si Sandra nih...

2024-05-08

0

Kartini Kartini

Kartini Kartini

dasar manusia rubah

2024-05-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Kejutan
2 Bab 2. Cincin
3 Bab 3. Bukti
4 Bab 4. Pengakuan
5 Bab 5. Berakhir
6 Bab 6. Menyerah??
7 Bab 7. Mungkin lebih baik
8 Bab 8. Hadiah terakhir.
9 Bab 9. Pengantin pengganti
10 Bab 10. Musuh dalam selimut
11 Bab 11. Flashback. Ayo, menikah!
12 Bab 12. Tempat yang aku tuju
13 Bab 13. Aku tidak bisa
14 Bab 14. Seperti ini.
15 Bab 15. Karena keadaan
16 Bab 16. Mindset
17 Bab 17. Teman??
18 Bab 18. Rindu
19 Bab 19. Untuk sang istri
20 Bab 20. Kembali
21 Bab 21. Suara Adzan
22 Bab 22. Salah paham
23 Bab 23. Belum sepenuhnya.
24 Bab 24. Mereka cucuku
25 Bab 25. Khaira dan Khaysan.
26 Bab 26. Seperti ini keluarga
27 Bab 27. Laut, saksi kita.
28 Bab 28. Di mana ayah?
29 Bab 29. Ikatan
30 Bab 30. Pencarian Huan
31 Bab 31. Temukan, siapapun!
32 Bab 32. Frustasi
33 Bab 33. Luapan hati
34 Bab 34. Mari berpisah.
35 Bab 35. Fotokopi
36 Bab 36. Rencana Resti
37 Bab 37. Menuntut hak
38 Bab 38. Musabab
39 Bab 39. Hampir dekat
40 Bab 40. Namanya Rian
41 Bab 41. Dia
42 Bab 42. Sesal (1)
43 Bab 43. Sesal (2)
44 Bab 44. Yang aku dan mereka inginkan.
45 Bab 45. Kesempatan
46 Bab 46. Momen ulang tahun
47 Bab 47. Aku benci....
48 Bab 48. Papa?
49 Bab 49. Usaha Zamar (1)
50 Bab 50. Usaha Zamar (2)
51 Bab 51. Nasehat Papa
52 Bab 52. Ego
53 Bab 53. Mengambil Hak.
54 Bab 54. Sehari saja
55 Bab 55. Permohonan Zamar
56 Bab 56. Pilihan
57 Bab 57. Memori
58 Bab 58. Semua butuh proses
59 Bab 59. Keinginan Zamar
60 Bab 60. Terusir
61 Bab 61. Karma
62 Bab 62. Mendadak
63 Bab 63. Drama malam
64 Bab 64. Masa lalu dan alasan
65 Bab 65. Waktu
66 Bab 66. Mantan
67 Bab 67. Yang terasing
68 Bab 68. Gelisah
69 Bab 69. Masalah hati
70 Bab 70. Curhat
71 Bab 71. Alasan.
72 Bab 72. Tidak lebih
73 Bab 73. Frustasi.
74 Bab 74. Shock
75 Bab 75. Dia yang datang, padaku.
76 Bab 76. Dibelakang Zamar.
77 Bab 77. Restu yang terlambat
78 Bab 78. Terpuruk
79 Bab 79. Rindu yang menyakitkan
80 Bab 80. Keputusan apa?
81 Bab 81. Tekad
82 Bab 82. Harapan yang menjadi mimpi
83 Bab 83. Suram
84 Bab 84. Aila, Mau Daddy.
85 Bab 85. Memeluk tanpa suara
86 Bab 86. Amarah
87 Bab 87. Tidak sabar
88 Bab 88. Caraku mencintaimu
89 Bab 89. Siapa Bryan?
90 Bab 90. Tujuan Ansel
91 Bab 91. Jalani, seperti air mengalir
92 Bab 92. Permintaan Maaf.
93 Bab 93. Provokasi Bryan.
94 Bab 94. Pelajaran Untuknya.
95 Bab 95. Menghilang.
96 Bab 96. Hanya
97 Bab 97. Lembaran baru (1)
98 Bab 98. Lembaran baru (2)
99 Bab 99. Kegalauan Huan.
100 Bab 100. Hubungan yang tidak seperti dulu.
101 Bab 101. Maya yang aneh.
102 Bab 102. Ada apa dengan Maya?
103 Bab 103. Final Episode
104 Pesan Author
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Kejutan
2
Bab 2. Cincin
3
Bab 3. Bukti
4
Bab 4. Pengakuan
5
Bab 5. Berakhir
6
Bab 6. Menyerah??
7
Bab 7. Mungkin lebih baik
8
Bab 8. Hadiah terakhir.
9
Bab 9. Pengantin pengganti
10
Bab 10. Musuh dalam selimut
11
Bab 11. Flashback. Ayo, menikah!
12
Bab 12. Tempat yang aku tuju
13
Bab 13. Aku tidak bisa
14
Bab 14. Seperti ini.
15
Bab 15. Karena keadaan
16
Bab 16. Mindset
17
Bab 17. Teman??
18
Bab 18. Rindu
19
Bab 19. Untuk sang istri
20
Bab 20. Kembali
21
Bab 21. Suara Adzan
22
Bab 22. Salah paham
23
Bab 23. Belum sepenuhnya.
24
Bab 24. Mereka cucuku
25
Bab 25. Khaira dan Khaysan.
26
Bab 26. Seperti ini keluarga
27
Bab 27. Laut, saksi kita.
28
Bab 28. Di mana ayah?
29
Bab 29. Ikatan
30
Bab 30. Pencarian Huan
31
Bab 31. Temukan, siapapun!
32
Bab 32. Frustasi
33
Bab 33. Luapan hati
34
Bab 34. Mari berpisah.
35
Bab 35. Fotokopi
36
Bab 36. Rencana Resti
37
Bab 37. Menuntut hak
38
Bab 38. Musabab
39
Bab 39. Hampir dekat
40
Bab 40. Namanya Rian
41
Bab 41. Dia
42
Bab 42. Sesal (1)
43
Bab 43. Sesal (2)
44
Bab 44. Yang aku dan mereka inginkan.
45
Bab 45. Kesempatan
46
Bab 46. Momen ulang tahun
47
Bab 47. Aku benci....
48
Bab 48. Papa?
49
Bab 49. Usaha Zamar (1)
50
Bab 50. Usaha Zamar (2)
51
Bab 51. Nasehat Papa
52
Bab 52. Ego
53
Bab 53. Mengambil Hak.
54
Bab 54. Sehari saja
55
Bab 55. Permohonan Zamar
56
Bab 56. Pilihan
57
Bab 57. Memori
58
Bab 58. Semua butuh proses
59
Bab 59. Keinginan Zamar
60
Bab 60. Terusir
61
Bab 61. Karma
62
Bab 62. Mendadak
63
Bab 63. Drama malam
64
Bab 64. Masa lalu dan alasan
65
Bab 65. Waktu
66
Bab 66. Mantan
67
Bab 67. Yang terasing
68
Bab 68. Gelisah
69
Bab 69. Masalah hati
70
Bab 70. Curhat
71
Bab 71. Alasan.
72
Bab 72. Tidak lebih
73
Bab 73. Frustasi.
74
Bab 74. Shock
75
Bab 75. Dia yang datang, padaku.
76
Bab 76. Dibelakang Zamar.
77
Bab 77. Restu yang terlambat
78
Bab 78. Terpuruk
79
Bab 79. Rindu yang menyakitkan
80
Bab 80. Keputusan apa?
81
Bab 81. Tekad
82
Bab 82. Harapan yang menjadi mimpi
83
Bab 83. Suram
84
Bab 84. Aila, Mau Daddy.
85
Bab 85. Memeluk tanpa suara
86
Bab 86. Amarah
87
Bab 87. Tidak sabar
88
Bab 88. Caraku mencintaimu
89
Bab 89. Siapa Bryan?
90
Bab 90. Tujuan Ansel
91
Bab 91. Jalani, seperti air mengalir
92
Bab 92. Permintaan Maaf.
93
Bab 93. Provokasi Bryan.
94
Bab 94. Pelajaran Untuknya.
95
Bab 95. Menghilang.
96
Bab 96. Hanya
97
Bab 97. Lembaran baru (1)
98
Bab 98. Lembaran baru (2)
99
Bab 99. Kegalauan Huan.
100
Bab 100. Hubungan yang tidak seperti dulu.
101
Bab 101. Maya yang aneh.
102
Bab 102. Ada apa dengan Maya?
103
Bab 103. Final Episode
104
Pesan Author

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!