06

“Mile, kau harus sabar, ingat kata Kak Fio diabaikan saja dan jangan didengarkan mereka yang mengejekmu karena mereka iri,” ucap Chamile sambil mengulang ucapan yang selalu diberikan oleh Fioline kepadanya dan segera mencari kakaknya agar kakaknya tidak meninggalkan dirinya karena dirinya kuat jika bersama dengan kakak. Langkah Fioline sengaja diperlambat agar dirinya dipandang baik oleh orang-orang yang lewat sehingga Chamile berhasil menyamakan langkah kaki sang kakak. Dengan nada lembut Fioline meminta maaf jika dirinya meninggalkannya.

“Mile, maafkan aku tadi karena banyak orang-orang yang mengantre jadi aku tidak bisa menunggu,” ucap Fioline dengan nada dan muka dibuat sesedih mungkin dan tidak tega sebenarnya ketika dia meninggalkan Chamile.

“Kakak, Mile tahu kok, jadi Kak Fio tidak usah terbeban, Kakak memang baik masih memikirkan perasaan Mile,” ucap Chamile yang dia tahu jika kakaknya tidak ingin membuat orang lain mengantre lebih lama karena kakaknya menunggu dirinya namun kakaknya masih memikirkan dirinya karena kakaknya mengira jika dirinya sedih ditinggal tanpa pemberitahuan.

“Makasih ya Mile sudah mau memaafkan Kakak,” ucap Fioline yang berpura-pura bersedih agar mendapatkan simpati dari Chamile. Dan benar saja Chamile langsung simpati dan menghibur kakaknya.

“Kakak, jangan begitu, Mile tidak tega melihat kakak bersedih jadi kakak jangan sedih ya,” ucap Mile yang berusaha menghibur Fioline. “Baiklah kalau begitu, Kakak tidak mau menambah beban ayo kita ke mobil supaya Mile tidak membawa belanjaan lagi,” ucap Fioline yang semangat membuat Chamil tersenyum lega karena kakaknya bisa kembaii semangat lagi.

Mereka akhirnya sampai juga ke tempat pakiran bawah tanah dan mencari plat nomor mobil dan setelah bertemu mobil yang mereka gunakan untuk berangkat, Fioline langsung mengecek apakah sopir masih berada di dalam mobil atau tidak. Ketika dirinya melihat dari luar dan baru sadar jika kaca mobil yang ditumpangi sangat gelap membuatnya langsung menggedor mobil dengan keras membuat sopir yang pada awalnya tertidur dengan kaca yang dia buka sedikit agar dia tidak mati karena tidak ada pertukaran udara langsung terkejut bangun begitu mendengar gedoran yang cukup kuat.

“Pak, Bapak ini seenaknya malah tiduran, mau aku bilang ke Daddy?!” ancam Fioline yang langsung membuat sopir keluar dari mobil dengan panik karena mendengar nona muda pertamanya datang dan langsung mengancam pemecatan karena keteledorannya.

”Nona muda pertama, saya mohon Anda jangan memberi tahu tuan besar. Saya mengaku salah dan mohon jangan pecat saya,” ucap sopir tersebut langsung membungkuk memohon kepada nona besar pertamanya agar dirinya tidak dilaporkan oleh tuan besar dan tuannya marah hingga memecatnya. Chamile yang melihatnya merasa iba dan mengatakan agar kakaknya melunakkan hatinya supaya tidak dipecat sopir tersebut.

“Kakak jangan pecat dia Kak, kita salah karena kita tidak mengabarinya, kasih satu kali kesempatan dong, Kak,” ucap Chamile yang memohon kepada Fioline membuat ide yang langsung terlintas di benak Fioline membuatnya mengubah raut wajahnya yang awalnya galak dan kejam langsung saja berubah 180 derajat menjadi lembut dan sopan.

“Baiklah, Pak, saya tidak memberi tahu kepada Daddy karena permintaan Mile tetapi ada syaratnya jika mau diberi satu kali kesempatan. Mile, kamu diam saja dahulu,” ucap Fioline yang melihat jika sang adik tiri hendak memprotesnya karena kurang setuju dengan perkataannya sementara sopir yang mendengar jika dirinya akan diberi kesempatan meski ada syaratnya langsung saja mengiyakan syarat dari nona muda pertamanya.

“Baik nona muda pertama, saya berterima kasih dan mohon maafsebesar-besarnya atas ketidaknyamaanan Anda, dan bisa tolong katakana apa syaratnya, nona muda pertama,” ucap sopir yang masih memohon kepada Fioline agar Fioline bisa mengatakan apa yang menjadi syarat untuk dirinya.

“Untuk saat ini saya belum tetapi nanti setelah habis dari mall saya minta Anda untuk mengantarkan saya ke alamat yang akan saya share ke Anda dan jangan banyak tanya maupun bicara. Ayo Mile, kita taruh barang dahulu,” ucap Fioline dengan nada tajam yang diajukan kepada sopir setelah itu memandang adiknya dengan sorot tatapan palsu yang terlihat penuh kasih sayang membuat Chamile yang sudah terhanyut dengan tatapan tersebut langsung saja patuh begitu saja. 

“Baik, nona muda, saya tidak akan berbicara kepada siapa-siapa termasuk kepada tuan besar,” ucapnya sambil membungkukkan badannya lalu langsung membuka bagasi supaya kedua nonanya bisa memasukkan banyak barang yang baru saja dibeli di dalam mall. 

Chamile dan sopir memasukkan satu-satu barang yang Chamile beli dan Fioline beli. Sesudah memasuki semua barangnya, Chamile dan Fioline kembali masuk ke dalam mall. Sebelum mereka masuk, Fioline berpesan kepada sopir tersebut.

“Kami mau masuk kembali karena ada yang belum kami belanjakan dan jangan sampai kejadian tadi terulang kembali,” ucap Fioline dengan nada memperingati agar sopir tersebut tidak mengulang hal yang sama.

“Kak, jangan terlalu keras sama Bapak kan Mile kasian kepada Bapak sudah menunggu kita yang berjam-jam,” ucap Chamile yang membuat Fioline melunak dan menghembuskan nafasnya yang sebenarnya dia kesal dengan sikap sok baik Chamile kepada sopir rendahan.

“Baiklah, Mile, Pak, Bapak boleh masuk ke dalam mall tetapi kalau kami selesai dan menelepon Bapak langsung Bapak kembali ke mobil,” ucap Fioline yang tidak terlalu keras karena tidak ingin penilaian dirinya yang sudah dia susah payah bangun untuk merebut semuanya dari Chamile hancur karena terlalu terburu-buru. Mendengar jika kedua nonanya berbaik hati kepadanya membuat sopir tersebut berterima kasih kepada Fioline dan Chamile dengan ini dia bisa membeli boneka yang dia janjikan kepada putrinya dari uang yang dia sengaja tabung untuk boneka yang dia ketahui harganya cukup mahal.

“Terima kasih nona muda pertama dan kedua yang sudah memberikan kemurahan kepada saya, saya pasti akan mengingat ucapan nona muda Fioline,” ucap sopir tersebut membungkuk badannya dengan hormat membuat Fioline yang dalam hati menatap rendah namun merasa bangga karena mendapat hormat karena kekuasannya.

“Ya, ya, Bapak jangan seperti itu,” ucap Chamile yang tidak enak melihat sopir menunduk kepalanya berulang kali membuatnya mencegah menghormati dirinya. Melihat sikap Chamile seperti itu membuat Fioline kesal dan langsung saja meninggalkan keduanya membuat Chamile berbalik lalu berusaha menyamakan langkah kaki dirinya. Kali ini Chamile berhasil menjajarkan langkah kaki Fioline. 

Tanpa banyak bicara Chamile menjajarkan sehingga Fioline mendengus kesal namun tidak terdengar oleh Chamile.

“Kakak, ayo kita beli make up dan tas,” ajak Chamile yang langsung saja diiyakan oleh kakak tirinya itu yang sudah tidak sabar memborong make up yang terbaru dan model tas yang sudah dia inginkan yang dia ketahui ada promo hingga dirinya bisa membeli keinginannya.

“Oke, let’s go,” ajak Fioline dengan semangat melangkah dengan anggun dan percaya diri yang sudah tidak sabaran untuk memborong.

---------------------------

Aduh Mbak Fioline, apa tidak repot dan susah merawat dua wajah? Penasaran?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!