Terluka

Dengan raut wajah yang masih terlihat kesal, Radit melebarkan langkahnya menuju kamar miliknya. Hingga tiba di depan pintu kayu jati bercat coklat muda, ia langsung menekan kenop pintu. Dan menutupnya dengan sekali gebrak hingga menimbulkan getaran.

"Br €ngs*k, berani sekali perempuan udik itu ngancam aku kayak tadi. Coba aja kalau Bima tadi tidak datang, sudah habis tuh anak di tangan gue. " Desisnya dengan kedua tangan yang terkepal erat hingga menampakkan garis urat yang menonjol jelas

Akhhh,.. teriak Radit menggema di sudut ruangan meluapkan emosinya. Untung saja kamarnya itu kedap suara, jadi mereka yang berada di luar tidak akan mendengarnya. Bahkan semua barang yang ada di atas meja nakas di sapu bersih dengan punggung tangannya hingga jatuh dan berserak ke lantai.

Serasa belum puas meluapkan emosinya. Bedcover yang terpasang rapi, di tariknya kasar. Menyisahkan sobekan di ujung jahitannya. Semua yang ada dalam pandangannya akan terkena imbas dari amukan-nya.

"Ada apa ini, Radit?? Kok bisa kamar kamu berantakan kayak gini. " Pekik seorang wanita bersanggul tinggi yang wajahnya masih terlihat ayu walau sudah tidak terbilang muda lagi. Yang tetiba muncul dari balik pintu.

Radit menyugar rambutnya kasar setelah menoleh ke sumber suara. Ia berjalan ke arah ranjang dengan bersikap sedikit acuh dengan kehadiran Diah yang sudah pasti akan mempertanyakan hal-hal yang tidak penting kepadanya, alias kepo. Radit merutuki kebodohan-nya karena sempat lupa mengunci pintu saat masuk.

"Kamu belum menjawab pertanyaan dari Mama, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu hingga keadaan kamar kamu menjadi se-kacau ini. Apa ada masalah lagi??" Tanya Diah lagi yang saat ini sudah duduk bersebelahan dengan putra semata wayangnya.

"Gak ada apa-apa, Ma. " Kilahnya

"Mama gak percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan. Mama tau betul watak dan sikap kamu dari kecil. karena Mama adalah orang yang melahirkan kamu. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Mama, iya kan. Kamu bisa ceritain semua sama Mama, jangan sungkan. Siapa tau Mama bisa bantu kamu." Tutur Diah mencoba membujuk Radit untuk menceritakan masalah yang terjadi padanya.

Namun tekad Radit tidak goyah, ia tidak akan mengumbar rahasia sebesar itu kepada siapa pun termasuk Mamanya. Rahasia tentang hubungan gelap yang sudah terjalin lama dengan Ayana. Sebelum Bima menikahi Ayana mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Dan sekarang pun masih sama.

Awalnya Radit berupaya menyusun rencana agar Ayana mendekati Bima, dan Membuat Bima jatuh cinta kepadanya. dan bahkan diluar dugaan dengan mudahnya Bima langsung tergila-gila dan cinta mati kepada kekasihnya. Padahal Radit tau, jika selama ini Bima bukan tipikal pria yang dengan mudahnya menerima kehadiran seorang wanita di hidupnya. Karena sifatnya yang dingin, dan terbilang sangat cuek membuat kaum hawa sulit mendekatinya. Dan ada pula yang di buat patah hati karena sikap arogannya. Tapi dengan Ayana, seakan berbanding terbalik. Dan tidak di sangka, malahan sekarang berujung menjadi pendamping hidupnya.

Yah, walaupun hanya pernikahan sesaat. Karena setelah Radit berhasil mengambil seluruh asset kekayaan yang di miliki keluarga Mahendra, Ayana akan menceraikannya. . Itulah rencana besar mereka.

Seketika Radit menggeleng. " Beneran Ma, gak ada apa-apa. Radit cuman masih kesal aja sama kelakuan si Bima kemarin itu. Aku gak akan pernah bisa lupa." Desisnya dengan tatapan lurus nan tajam

'Dan juga kelakuan si pelayan baru itu' timpalnya dalam hati

Awas kamu Bima aku akan membalas perbuatan mu ini lebih dari berkali-kali lipat sakitnya"

"Yang sabar ya, sayang. Mama bisa paham perasaan kamu saat ini. Mama yakin dia gak bermaksud nuduh kamu yang bukan-bukan. Mungkin kemarin dia lagi kalut makanya bersikap seperti itu ke kamu. "Tangan Diah terulur menyentuh punggung kekar anaknya, menguatkan.

Radit menepisnya dengan bringsut berdiri membelakangi Diah.

"Mama itu yah selalu aja ngebelain Bima. Sebenarnya anak Mama itu, aku atau dia??" Sentak Radit yang semakin tersulut emosi menatap nyalang ibunya karena tak suka jika ibunya berpihak kepada sepupunya itu

Diah lantas bangkit, dengan menatap lekat anak lelakinya itu dan memberikan sentuhan lembut di pipinya . "Mama gak ada maksud ngebelain siapa-siapa di sini. Tapi Mama minta sama kamu, turunkan sedikit ego kamu di depan Bima. Jangan sampai kebencian kamu ini membawa citra buruk di depan keluarga besar Mahendra. Mama juga gak nyaman jika harus hidup berpura-pura seperti ini terus, tapi Mama harus bertahan demi kamu. Demi keselangsungan hidup kita. Mama gak mau hidup miskin di luar sana kayak dulu lagi. Mama ingin hidup berkecukupan seperti sekarang" ucap Diah dengan nada bergetar menahan tangisnya

"Tapi aku gak bisa,Ma. Bersikap seolah baik dan menerima semua aturan konyol keluarga Mahendra yang dari dulu mereka terapkan ke kita. Mereka hanya menganggap kita sebagai boneka yang mereka atur sesuka hatinya. Radit gak bisa, Ma. Nurutin perintah Mama terus-terusan kayak gitu. Maaf ma.." ujarnya sembari menangkup kedua tangan Diah yang terulur dan melepaskannya perlahan. Dan berlalu pergi begitu saja dari hadapan Diah.

Walaupun Bima dan Radit adalah saudara sepupu-an tapi hubungan keduanya tidaklah pernah akur, bahkan tak jarang bentrok dan kerap kali berselisih paham. Mungkin saja karena Radit tumbuh dan besar tanpa sosok figur Ayah di sisinya. Berbeda dengan Bima yang memiliki kasih sayang melimpah dari kedua orangtuanya.

"Dit.. kamu mau kemana nak. Radit..." Teriaknya mencoba menghentikan langkah anaknya. Tapi percuma saja Radit tidak berhenti bahkan menoleh sedikit pun ke belakang menghiraukan seruannya.

Diah berlari kecil menyusul langkah Radit yang sudah berjarak cukup jauh darinya.

Namun langkahnya terhenti kala Bima menyapanya yang akan hendak masuk ke kamarnya yang bersebrangan dengan kamar Radit

"Ada apa dengan Radit, tante" tanya Bima penasaran mendekati Tante Diah

" Bim, Tante bisa gak minta tolong sama kamu. Tolong kamu Susul-in Radit sekarang juga. Tante takut terjadi sesuatu sama dia, karena Radit tadi pergi dalam keadaan emosi yang memuncak. " Pintah Tante Diah yang terlihat panik dengan meremas ujung jarinya

"Tante tenang aja yah, Bima akan berusaha ngejar Radit. " Sahutnya lalu berlari menuruni anak tangga menuju lantai dasar tempat dimana ia bisa menemukan kendaraan yang akan mengantarkannya kepada sepupunya yang baru saja bergerak melajukan mobilnya mendahului Bima.

Tidak ingin ketinggalan jejak lebih jauh, Bima langsung menancap gas membuntuti Radit dari belakang mobilnya.

"Mau kemana si Radit malam-malam begini" racau Bima sedikit curiga dengan tujuan sepupunya kali ini.

Mobil yang di kendarai Radit tiba-tiba berhenti di ujung jalan sepi yang hanya berjejer pepohonan yang rimbun tanpa pemukiman.

Bima yang melihat dari kejauhan pun langsung memberhentikan mobilnya sedikit berjarak dengan Radit.

Saat Bima hendak turun, Radit kembali memacu kendaraannya kali ini lebih cepat di bandingkan yang tadi ia lakukan.

Lagi-lagi membuat Bima berdecak kesal karena kelakuan sepupunya yang seolah sedang mempermainkan dirinya. Apakah Radit sadar, Bima sedang mengikutinya. Akh!! rasanya tidak mungkin, sebab Bima juga sempat melihat dengan samar Radit sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang.

"Apa sih mau nya tuh, anak. Nyusahin Mulu!! Kalau bukan karena Tante Diah, gue juga gak bakal mau buntutin dia sebegitu jauh seperti sekarang" ucapnya bersungut-sungut

Bima memutuskan untuk memacu kendaraan nya kembali untuk mencari Radit. Tapi pergerakannya terhenti kala ada dua orang pria datang mengetuk kaca jendelanya dengan sebegitu keras.

"Woy.. keluar Lo. " Teriak salah satu dari mereka dengan lantang, sementara temannya yang satu lagi mengetuk kaca berkali-kali kali ini dengan sekuat tenaga.

Suasana begitu sepi,tidak ada satu pun kendaraan yang berlalu lalang di tempat itu. Sehingga suara teriakan begitu terlihat jelas di telinga Bima.

Seketika Bima mendongakkan pandangannya,

"Mau apa mereka ??"

Kedua preman kelas teri itu tidak menampakkan wajah aslinya. Karena mereka sengaja menutup identitasnya dengan mengenakan topeng yang hanya menyisahkan indra penglihatannya saja.

"Gue minta Lo keluar sekarang. Atau, gue pecahin kaca mobil Lo. " sergahnya seperti terdengar mengancam

Bima merogoh saku celananya, mengambil benda pipih dan mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang disana. Kemudian memasukkannya kembali ke tempat semula dan Gegas Bima keluar menghampiri keduanya. Tampak mereka yang bergerak mundur melihat Bima membuka pintu mobilnya.

Bukan karena takut, tapi menghindari benturan akibat dorongan dari dalam mobil karena ulah Bima.

"Katakan apa yang sebenarnya yang kalian inginkan. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang-orang seperti kalian ini" ucap Bima mencemooh

"Cuih, sombong sekali !! "

"Uda bos langsung habisi aja pria itu. Gak usah buang-buang waktu." Ujar pria yang di sebelahnya memprovokasi

Mereka pun mendekati Bima hendak menyerang. " Tunggu.. aku akan berikan berapa pun yang kalian minta tapi tolong jangan halangi saya pergi. "Cetus Bima mencegah

Di luar Nurul, Keduanya malah terbahak. Apa yang lucu?? Bukankah hal itu yang mereka inginkan darinya.

"Kami berdua tidak butuh itu. Kami hanya ingin menghabisimu."

" Menghabisi?? Jangan bermimpi. Kau bukan malaikat maut yang seenaknya mencabut nyawa orang lain begitu saja."cecar Bima

" Gak usah banyak mulut, kita buktikan saja " ujarnya menantang

Dengan isyarat gerakan mata dari pria yang di panggil "bos" itu memberi kode untuk memulai penyerangan. Seolah siap lelaki yang di sebelahnya langsung melayangkan satu pukulan kearah Bima tanpa aba-aba, sigap Bima langsung menangkisnya serta mengarahkan satu tinju tepat di rahang atas hingga membuat pria itu meringis kesakitan . Setelah berhasil mengecoh, Bima pun menghajarnya dan menendangnya tanpa ampun dan berakhir tersungkur di atas tanah.

Pria yang di panggil 'bos' tadi terlihat mengguncang tubuh lemah anak buahnya dengan kaki kananya. Tapi nihil tidak ada pergerakan sama sekali.

"Kurang a jar !!! Kali ini tidak akan aku biarkan kau lolos dari tanganku." Umpatnya dengan menggertakkan giginya geram

"Heh, masih bisa sombong. Kau bisa lihat kehebatan ku bukan. Kita lihat saja siapa yang akan kalah nantinya"

"Hahahhah, Baik. Mari kita buktikan. "

Keduanya pun beradu kekuatan dengan begitu sengit. Beberapa pukulan yang di layangkan ke Bima selalu berakhir gagal mengenainya. Karena Bima mampu menangkis dan mengelak serangannya. Begitu pun sebaliknya, nyatanya keduanya sama-sama kuat dan hebat.

Tidak kehabisan akal, Bima terpaksa harus mengeluarkan jurus andalan yang ia miliki yaitu jurus tapak raja. Jurus yang akan di keluarkannya di saat keadaan darurat maupun mendesak.

Bima mengayun tubuh pria bertubuh jangkung di hadapannya, memberi serangan kecil yang mampu di tangkisnya secara berturut-turut. Setelah sedikit lengah dan terfokus pada satu serangan. Bima langsung menggencarkan aksinya melakukan serangan utama di bagian dada pria itu.

Tak berhenti sampai di situ Bima juga dengan gerakan cepat menyerangnya tanpa ampun. Hingga pria itu lemas dan kehilangan tenaga. Kemudian ia bergerak ke belakang dan mematahkan tulang leher pria itu dan berakhir terjerembab.

"Segini saja kemampuan yang kau miliki?? Heh,.payah!!!" Ucapnya dengan tersenyum mengejek sembari menendang keras tubuh kedua pria itu

Bima memutuskan untuk kembali ke dalam mobil, untuk melanjutkan misi utamanya untuk mencari Radit. Dan karena insiden ini ia jadi kehilangan jejak sepupunya yang tak tau sekarang entah ada dimana.

Dering ponsel menghentikan langkahnya. Ada satu panggilan masuk dari Tante Diah. Pasti beliau ingin menanyakan tentang keberadaan Radit.

"Haloo Tante"

"Hallo Bim.. Gimana kamu Uda berhasil ketemu dengan Radit. Dia baik-baik aja kan??"

" Bima tadi sempat berhasil ngejar Radit tapi saat Bima hendak turun dan menghampiri Radit ia kembali memacu kendaraannya begitu cepat. Dan pada saat Bima ingin nyusulin tiba-tiba Bima di hadang dua preman Tapi Tante tenang aja Bima bisa meringkus mereka berdua hingga K.O " ujar Bima terkekeh di akhir ucapannya

Diah menarik nafas dalam di sebrang sana.

"Syukurlah.. Tante lega mendengarnya. Maafin Tante yah Bima gara-gara Tante kamu jadi kena musibah seperti itu"

"Tante ngomongnya kok gitu, semua yang terjadi sama Bima bukan sepenuhnya salah Tante."

"Iya tapi tetap saja, Tante ngerasa gak enak. "

Tanpa Bima sadar, pria jangkung yang terlihat lemah tergeletak tadi sudah bringsut berdiri. Dengan berjalan terseok tubuhnya mendekati Bima yang berdiri di samping mobilnya dengan aktivitas serius berbicara lewat telepon.

"Sekarang KAU HARRUUSS MATI..." teriaknya begitu lantang dengan menghunus senjata tajam kearah Bima.

Seketika itu juga Bima menoleh dan tidak bisa mengelak lagi serangan dadakan dari Pria itu

Dan JLEBB.. satu tusukan mengenai perut Bima.

"Bimaaaaa...." Teriak Diah histeris di ujung sana bersamaan dengan luruhnya tubuh Bima yang jatuh ke tanah

Terpopuler

Comments

Yusria Mumba

Yusria Mumba

nda resi ah, cerita putus aja begitu saja,

2023-11-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!