Dengan langkah tertatih wanita bertubuh mungil itu menjejaki kakinya keluar dari kamar tuannya. Hati dan pikirannya masih di selimuti berbagai pertanyaan yang masih melintas dan belum sepenuhnya terjawab. Penglihatannya tidak mungkin salah. Ia sangat yakin jika pria yang sebelumnya bersama Ayana bukanlah tuannya. Dari postur tubuh, wajahnya, bahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki Dini masih merekam jelas di memory akan rupa pria yang bermesraan dengan Ayana.
Dini mengetuk kepalanya dengan buku jarinya pelan. Ia merutuki kebodohannya, jika saja Dini tadi tidak pingsan mungkin kejadiannya tidak akan se-kacau ini.
Dan sekarang Tuan Bima sangat marah padanya. Padahal Dini tidak bermaksud untuk me-memukulinya tadi.
Belum lekang kejadian tadi pagi Uda nambah masalah baru lagi. Nasib Dini berasa sudah di ujung tanduk saja. Apakah ia akan berakhir di pecat hanya karena masalah ini. Memikirkannya hanya membuat kepala Dini semakin berdenyut saja
"Aww.. " ringisnya saat ketukannya menyentuh dahi yang memar karena sempat terantuk meja.
"Kenapa aku tidak sadar, ada cidera di sini. Rasanya kepalaku sedikit pusing." racau Dini seketika
Dini gak sadar akan tatapan tajam di ujung sana yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya sejak awal keluar dari kamar miliknya. Emosi memuncak Ayana pun tidak bisa di kontrol lagi, ia pun melabrak Dini dengan mendorongnya kuat hingga keseimbangannya goyah hingga terjengkang ke lantai.
"Mbak, kok tiba-tiba dorong saya. Apa salah saya mbak" keluh Dini yang masih dengan posisinya.
"Masih nanya lagi, salah Lo apa. Hah.. Ngapain kamu masuk ke kamar saya. Lancang sekali kamu!! Jangan-jangan kamu mau godain suami saya, iya!!! Dasar pembantu genit. " Cecar Ayana ketus
Gadis polos itu seketika menggeleng, dengan pandangan yang tertunduk tak berani menatap sedikitpun pada lawan bicaranya.
"M-mbak nya salah paham. Dini gak ada niatan seperti itu. Dini tadi hanya nge-.."
" Uda, gak usah banyak alesan. Saya gak mau denger apa pun penjelasan dari kamu. Saya gak ada waktu. " Seketika Ayana memotong ucapan Dini hingga ia pun terdiam.
"Uda sana nyingkir dari hadapan saya. Hush jauh-jauh.. ntar alergi saya kambuh karena bersentuhan kulit kamu yang kusam itu" ujarnya mengibas telapak tangannya ke udara agar Dini bergerak menepi.
"Ada apa ini yana. Kenapa ribut-ribut seperti anak kecil begitu." seorang pria jakun berkumis tipis tiba-tiba hadir di tengah pertengkaran mereka.
"Kamu tanya aja sama dia. Aku males ngeladenin orang kelas bawahan seperti dia. Buang-buang waktuku saja ." Ucap Ayana seketika membuka kenop pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar miliknya
Sedangkan Dini masih terpelongo bersitatap dengan pria yang tengah berdiri di depannya. Wajah pria itu seperti tidak asing baginya??
Ahh, Dini ingat!! Pria ini yang ada di dalam kamar tuan tadi siang. Dini tidak salah menebak, benar saja pria inilah dalang di balik kekacauan yang menimpah nya. Tak lain adalah Pria yang tengah bercumbu di lihatnya tadi dengan Mbak Ayana.
Dini meremas kuat kemeja yang di berikan Bima tadi padanya. Menyalurkan kekesalan disana. Seperti layaknya tengah memeras kain yang hendak di jemur.
"Hey ... Kenapa jadi bengong" lelaki itu dengan sengaja menjentikkan kedua jarinya untuk mengubah fokus Dini yang tengah melamun.
Seketika Dini terkesiap.
"Loh, ini kemeja saya. Kenapa bisa ada di kamu. " Hentaknya dengan merebut paksa kemeja miliknya, dan di gapitnya pada lengan kirinya.
"E-emm , a..nu mas. Saya tadi di suruh tuan Bima untuk mencucinya."sahut Dini tergagap berterus terang
Aduh gawat !!! Kok bisa aku keceplosan ngomong gitu sama pelayan ini. Bagaimana kalau dia nanti ngadu ke Bima kalau kemeja ini punyaku, bakal ruwet urusannya.
Lelaki itu terlihat celingukan ke sana-kemari. Melihat sekeliling, layaknya maling yang takut ketahuan sang pemilik rumah. Lantas dirinya mencengkram dan menarik tangan Dini agar mengikutinya.
"Mari ikut saya." Pintahnya
"Saya mau hendak di bawa kemana , mas" ujar Dini seakan memberontak. Namun tenaga nya tidak sebanding dengan pria itu, membuatnya seakan pasrah dengan mengikuti perintahnya
Setelah menemukan tempat yang di rasa aman, ia pun menghempaskan Dini kasar. Hingga Sang empu hanya meringis pelan.
"Kamu tadi bilang Bima nyuruh kamu mencuci kemeja saya ini, benar." Tanyanya kembali untuk memperjelas jawaban yang Dini katakan tadi.
"I-iyaa, benar.." sahut Dini
Lelaki itu menyugar rambutnya kasar, ada raut kekecewaan tergambar jelas di wajah tampannya. Dalam hati ia merutuki dirinya karena telah lalai dalam bertindak.
"Terus.. apa lagi yang dia katakan."tanyanya lagi
"Ti-dakk ada. Tuan Bima hanya mengatakan itu saja. Dan menyuruh saya untuk pergi. "
Semula ia menanggapi jawaban Dini dengan menganggukkan kepalanya. Namun detik itu juga wajahnya kian berubah,terlihat suntuk dan tampak khawatir. Dini menangkup semua pergerakannya sedetail mungkin.
"Tunggu.. kamu bilang kamu disuruh Bima? Perasaan Bima baru saja datang dan masuk ke kamarnya. Kok bisa kamu disana dan Ayana tengah berada di luar??"
Deg.. kalimat itu begitu menyohok dan semakin menyudutkan nya. Dini semakin risau harus berkata apa pada lelaki yang ada di hadapannya ini. Ia begitu ingin tau secara detail perjalanan Bagaimana ia bisa sampai ke kamar itu di saat yang bersaman.
"Sebenarnya saya tadi lagi ngebersihin kamar tuan Bima." Ucap Dini enteng. Berterus terang mungkin adalah solusi yang tepat baginya. Karena serapat-rapatnya bangkai yang di tutupin pasti akan tercium juga.
"M-maksudnya??"pekiknya seperti terkejut
"Iya, saya tadi lagi ngebersihin kamar tuan dan memergoki sepasang kekasih yang sedang berbuat mesum di dalam sana. " Cecarnya dengan nafas yang kian memburuh karena arahnya yang tertahan sejak tadi
"A-apa?? Kamu melihat orang-"
"Dan orang itu adalah mas sendiri. Benar kan?? " Dini menatap tajam lelaki itu dan memotong ucapannya. Ia tidak ingin memberikan kesempatan pria murahan sepertinya untuk bicara.
Selain tidak pantas, ia juga sudah kehilangan harga dirinya sebagai predikat pria yang bermartabat.
"Jaga ucapan kamu, yah. Wanita s* @lan!! " Makinya hingga berani melayangkan tangan di hadapan wanita bertubuh mungil tersebut
Dengan Sigapnya Dini menahan tangan kokoh yang hendak mendarat mengenai pipi kananya. Menepisnya kasar. Hingga terayun jauh ke posisi semula.
"Jangan beraninya main tangan sama perempuan. Saya bisa saja mengungkap kebenaran ini di depan tuan Bima saat ini juga. Kartu truf Bapak ada di tangan saya. Jadi jangan bertindak seenaknya sama saya"
"Oh, kamu ngancam saya." Ujarnya dengan smirk mengejek.
"Saya gak ada maksud untuk mengancam bapak. Saya mengatakan semuanya, untuk menyadarkan pikiran bapak yang sedikit melenceng dari peredaran. Hentikan mengganggu rumah tangga Mbak Ayana, dia sudah punya keluarga. Bapak harus sadar akan hal itu" tukas Dini bermaksud ingin menyadarkan
"Cukup!! Kamu sudah kelewatan.. kamu memfitnah saya berselingkuh dengan isteri sepupu saya sendiri. Perbuatan kamu tidak bisa di benarkan. Saya akan tuntut kamu"
Radit semakin menjadi. Ia menarik pergelangan tangan Dini dan menyeret tubuhnya layaknya karung beras yang tidak ternilai.
"Lepaskan.. saya Pak. Jangan tarik lengan saya lagi. Sakit..lepaskan!!!"
Dini seketika memberontak mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman pria itu.
"Lepaskan pelayan itu, Radit..." Suara bariton dari ujung lorong sana menghentikannya
Sontak membuat keduanya seketika menoleh bersamaan. Cengkraman Radit pun merenggang, sehingga Dini bebas bergerak dengan leluasa untuk membebaskan diri.
"Tuan.."ucap Dini lirih memanggilnya
Perlahan derap kaki yang beradu pada lantai mendekati mereka, hingga berdiri di sisi keduanya
"Untuk apa kamu bersikap kasar sama Ayu seperti itu. "
"Bukan urusan kamu. Aku hanya memberi pelajaran kepada pelayan baru ini biar dia gak bersikap kurang ajar sama majikannya" tukas Radit menatap tajam ke arah Dini seakan ingin menelannya hidup-hidup
"Buat apa?? Dia hanya gadis polos yang kesehariannya hanya berbenah rumah. Kenapa kamu rela membuang waktu mu hanya untuk mengurusinya. Bukannya seorang Raditya Angkasa adalah orang yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Mengapa tiba-tiba jadi over seperti ini " Cecar Bima menyekak sepupunya
Membuat Radit tak bergeming. Dan melangkah pergi dari hadapan Bima detik itu juga. Dada kedua pria itu seakan beradu tonjos saat Radit melewati Bima yang menghalangi jalannya.
Amarah kebencian tergambar jelas di wajah keduanya. Apakah sebelumnya mereka memiliki hubungan yang kurang baik.Seperti ada tembok pembatas diantara keduanya nyaris tidak ada kata damai.
Dini yakin setelah ini, dirinya tidak akan bisa hidup tenang dan nyaman. Mungkin sekarang ia bisa terbebas dari cengkraman Radit. Tapi seterusnya mungkin pria itu akan terus mengusik dan mengganggunya. Dan bahkan mungkin dia akan mendepak Dini dari Mension ini. Dini sudah siap dengan konsekuensi yang akan di tanggung nya di kedepan hari.
"Kamu ngapain masih di situ. Uda kerja lagi sana. Malah bengong" sergah Bima
"B-bbaik tuan.."sahutnya terperanjat dan sedikit gugup dan bergegas melangkah pergi.
Namun Bima menghentikannya. Seketika berucap
"Satu hal lagi, yang perlu kamu ingat. Jangan terlalu Ge Er karena sudah saya bela di depan Radit. Ini saya lakukan bukan karena saya respect sama kamu. Hanya sebuah kebetulan saja. Saya paling tidak suka melihat jika ada seorang pria bertindak kasar kepada seorang wanita. " Ucap Bima melebarkan langkahnya mendahului Dini yang masih diam terpaku mentelaah perkataan majikannya.
"Ge ER?? apa maksudnya??" pekik Dini tak mengerti
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments