Salah orang

Dengan tingkat ke-kepoan yang melambung tinggi. Dini yang masih berdiri di tempatnya, gemetaran sedikit memiringkan tubuhnya menghadap dua insan yang masih dengan aktivitas intim yang mereka lakukan.

Gerakan memutar posisi pun mereka lakukan. Sehingga terpampang jelas wajah pria tersebut yang sekarang tengah memandang lekat Ayana dengan smirk nakalnya. Wanita itu tampak terengah kehabisan pasokan oksigen karena terlalu lama bercumbu.

Pria berhidung bangir, dengan kumis tipis. Tingginya kira-kira 173 cm, dengan mata sipit. Bisa jugalah di sebut Oppa versi pribumi.

Bukannya sudah jelas kalau di dinding kamar terpampang figuran dua insan yang saling bergandengan tangan yang sudah terikat janji suci pernikahan. Tapi kenapa pria itu nekad menjadi orang ketiga diantara mereka.

Nyonya Ayana bahkan tanpa sadar telah berkhianat, dengan berselingkuh di belakang tuan muda.

Apa mereka berdua sudah hilang akal??

Perbuatan mereka sudah menyalahi norma susila yang berlaku. Kalau di kampung tempat Dini tinggal, besar kemungkinan mereka sudah di arak warga. Ada juga yang sampai di bakar hidup-hidup, di usir, bahkan ada pula yang di cemooh hingga mati bunuh diri.

Macam-macamlah.

Tapi di kota besar ini. Mungkin perselingkuhan sudah menjadi garam dalam kehidupan.

Kalau tidak di tambahkan, akan terasa hambar dilalui.

Apa yang harus Dini lakukan sekarang.

Menyambangi mereka?? atau tetap berdiam diri di sini.

Dini bingung. Ia perlu berfikir. Bertindak akan jauh lebih berfaedah dari pada harus menjadi penonton dalam adegan biru tersebut.

Alih-alih menimbulkan efek jerah bagi kedua insan lawan jenis yang terperangkap nafsu setan, yang kerap masih menyambangi keduanya.

Mereka yang berbuat kenapa jadi Dini yang risau.?? Biarlah. Untung-untung menambah amalan.

Karena Yang bengkok harus di luruskan. Jika tidak mereka akan terus kebablasan.

Dini memberanikan diri, mengayunkan langkahnya mendekati ranjang king size yang masih bergemuruh suara decakan dan lenguhan yang keluar dari bibir Ayana yang terkesan menjijikan di pendengaran Dini.

Telinganya seakan ternodai.

Susah payah ia mengeluarkan keringat untuk membersihkan kamar seluas itu, nyatanya harus kotor karena perbuatan maksiat yang mereka berdua lakukan. Dini benar-benar tidak rela.

Kebetulan posisi pria selingkuhan nyonyanya itu, membelakanginya jadi ia bisa langsung bertindak.

Dini telah siap. Kedua tangannya mengepal erat di pegangan kemoceng, dengan kuda-kuda siap menyerang musuhnya.

Namun tiba-tiba saja kemeja pria itu di hempas kasar mengenai wajahnya. Penglihatan Dini menjadi buram. Yang seharusnya pukulannya mengarah kiri malah meleset ke kanan sebab sang pelaku bergerak aktif di ranjang sana. Alhasil suara erangan Ayana kembali mengusik indranya. Dan Dini pun terjerembab membentur meja nakas.

"Eugh .." lenguh Dini menahan rasa sakit di dahinya. Bersamaan kesadarannya pun perlahan mulai hilang.

**

**

Sejak menapaki kaki di convention center, Bima terlihat sangat gelisah. Firasatnya menjadi tidak enak. Ada sesuatu hal yang tengah mengganggu fikirannya saat ini.

Dengan tiba-tiba saja ia teringat dengan Ayana. Pertanyaan ambigu muncul di benaknya 'Sedang apa isterinya saat ini'. Dan 'Apa ia baik-baik saja sekarang??'

Sikap aneh yang di tunjukan Bima sejak tadi, bahkan tak pernah bisa lepas dari pandangan sang Assisten pribadinya, Edward. Bima lebih banyak diam. Sesekali hanya melirik sekilas dan mengangguk membenarkan pertemuan jamuan bisnis dengan klien penting yang masih saja berlangsung.

Yang mana Edward sendiri yang menjadi perwakilan dari perusahaan Mahendra Adi Yaksa. Setelah Edward usai mempresentasikan di depan klien bisnis penting, ia pun menghampiri Bosnya.

"Muka Bapak terlihat pucat, Apa Bapak sakit??" Tanya Edward khawatir

"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya saja, sepertinya aku ingin balik secepatnya. Kamu bisa kan mengurusnya."tukasnya

Edward seketika bungkam. Belum juga sampai satu jam mereka sampai dan sekarang Bima ingin pulang. Keperluan mendesak apa yang membuatnya ingin meninggalkan jamuan penting ini?

"Tapi, Pak.. apa-"

Perkataannya terpotong. Kala Bima menyelah-nya

"Saya harus pergi, Ward. Kamu tangani semuanya hingga selesai." Ujarnya seraya bringsut berdiri dan pamit pergi kepada rekan bisnis yang hadir.

Bosnya selalu saja seperti itu, jika sudah menjadi tekadnya tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Bahkan Edward pun tidak bisa berbuat apa- apa. Selain pasrah akan keadaannya sebagai bawahan.

Bima menyisir langkah keluar koridor dengan tergesa. Pikirannya semakin kalut saja. Ketika panggilan telepon tak mendapat jawaban dari sang empunya. Ia khawatir jika firasatnya benar, kalau Ayana sedang dalam masalah.

Feeling seorang suami memang kuat, nyatanya isterinya bukan sedang dalam bahaya, melainkan tengah bergulat mesra dengan pria lain di belakangnya.

Klakson mobil meriuhkan telinga, mengusik dua sejoli yang masih bergempur keringat dengan aktivitas panas yang sejak beberapa jam tadi mereka lakukan. Permainan lantas terhenti kala Ayana mendorong kasar pria yang tengah menggagahinya tanpa ampun.

Arghh..keluh pria itu tanpa sadar.

"Ada apa??" tanyanya spontan tak terima dengan perlakuan Ayana yang kasar padanya.

"Kamu gak denger ada suara klakson mobil. Mobil itu pasti mobil Bima. " Cetus Ayana yang tampak panik seketika

"Ckck, Mustahil!! Bukannya dia pergi ke luar kota. Kamu sendiri yang bilang tadi"

"Mana aku tau. kenapa juga dia balik secepat ini. Yang terpenting sekarang kamu harus pergi dari tempat ini !! Cepetan. Sebelum Bima datang. " Titah Ayana yang langsung saja ia patuhi. Bergegas pria itu keluar dari kamar Ayana sambil memakai kembali boxer miliknya dan mengambil pakaiannya yang tercecer.

Sementara Ayana beberes ranjang yang berserakan dan merapikan penampilannya yang terlihat sedikit berantakan.

"Tenang Ay, kamu harus bersikap tenang. Jangan sampai Bima curiga kepadamu" gumam Ayana bermonolog dengan dirinya sembari mengatur nafasnya yang masih belum stabil.

Kenop pintu di tekan, bersamaan pandangan Ayana mengarah ke daun pintu hingga tatapannya bertemu dengan Bima.

"Sayang.. kamu Uda balik??" tanya Ayana sekedar basa-basi. Menyembunyikan rasa gugupnya ia tersenyum tipis kepada sang suami.

"Yah.." sahut Bima

Perasaannya berubah menghangat kala sebuah senyum merekah tengah menyambutnya. Tadinya Bima sempat khawatir tentang keadaan Ayana, tapi setelah melihatnya Ia bisa bernafas lega.

"Aku Uda coba ngubungin kamu dari tadi. Aku fikir kamu kenapa-napa, makanya aku langsung bergegas pulang. Tadi di depan aku ketemu mbak Sri, dia bilang katanya kamu sudah balik beberapa jam yang lalu. Makanya aku buru-buru nyamperin kamu" Tukas Bima menjelaskan

Ayana meraih gawai miliknya yang tergeletak di meja nakas. Sejenak Ayana mendengus kasar, ternyata Bima sudah missed call dengan jumlah yang cukup mencengangkan 'sekitar dua puluh kali'.

"Maaf sayang, aku tadi ketiduran. Dan handphone tadi aku silent. Kamu pasti khawatir banget yah sama aku. I'm sorry.." Kilah Ayana dengan nada rendah seakan merasa bersalah tengah mengabaikan Bima

Bima melangkah mendekat. Menangkup wajah Ayana yang seakan pas di telapak tangannya.

"I't okey, baby. " Desisnya

Ayana mengerucutkan bibirnya.

"Kamu gak usah cemberut gitu. Ntar cantiknya hilang loh." goda Bima menaikkan kedua alisnya

"Pasti kamu ninggalin meeting hanya karena masalah sepele ini. Aku gak tau harus seneng, atau apa. Aku hanya mau ngucapin terima kasih karena kamu sudah menjadikan aku prioritas kamu di atas kepentingan segalanya. Terima kasih.. " ucap Ayana lirih dengan netra yang sudah berkabut

"Hey, kenapa jadi melow drama begini. Sudah sepantasnya seorang suami memperioritaskan isteri. Bukankah sudah menjadi kewajibannya hingga akhir hayat nanti"

"Aku beruntung memilih kamu sebagai calon pendamping hidupku.."

Bima menutup bibir Ayana dengan telapak tangannya. Mengusapnya begitu sensual.

"Shhiitt, seharusnya aku yang mengatakannya, sayang. "

Bima menatap dalam manik coklat wanitanya. Wajahnya perlahan mendekat kala bibir ranum Ayana tengah memikat hasratnya untuk mencumbunya. Tidak ada lagi jarak di antara keduanya.

"B-bentar sayang... Kamu tunggu disini dulu. Aku mau ke bawah sebentar ada urusan" cegah Ayana saat Bibir Bima hampir mendarat di miliknya.

Ia langsung beranjak pergi meninggalkan Bima seorang diri yang masih terdiam membeku.

Tanpa sadar Bima mengumpat, frustasi karena keinginannya tidak tersampaikan.

"Ayana mau kemana sih, apa ada hal yang lebih penting di bandingkan menghabiskan waktu bersama suaminya. Ckckck, ada aja halangan setiap ingin bermesraan. Shitt!!" Lagi-lagi Bima menyeruakkan emosinya di dalam kamar dengan menendang apapun yang ada di sana.

"Lebih baik aku mandi saja, siapa tau pikiran akan lebih fresh dengan menghabiskan waktu berendam lama disana" pikirnya

Bima melepas semua pakaian yang ia kenakan, menyisahkan kaos polos dan celanan pendek.

"Akhh..." Teriak seorang wanita yang tengah berdiri menghadapnya dengan telapak tangan menutup di kedua matanya.

Sontak Bima terperanjat kaget dan menoleh ke sumber suara.

"Dasar mesum, pria penggoda.. Gak tau malu!! Berani-beraninya berselingkuh dengan majikan saya. Rasakan ini. Dan ini" Dini memukul Bima dengan membabi buta walau hanya menggunakan kemoceng

Ia belum sadar kalau pria yang diserangnya adalah Bima, tuan muda di rumah itu.

"Stop..stop... Siapa kamu. Beraninya masuk ke dalam kamar saya tanpa izin. " Pekik Bima seketika tersulut emosi mencekal pergelangan tangan Dini.

Seketika Dini tercengang. Ia mengerjap sejenak tak percaya.

"Oh, lagi- lagi kamu. Perempuan si pembuat onar !! Keluar dari kamar saya sekarang. Cepetan."

"Maaf tuan sa..ya.. "

"Saya gak mau mendengar apapun alasan kamu. Saya bilang keluar.!! Keluar..!! hardiknya

Dengan langkah tertatih, Dini melangkah pergi.

"Ehh, mau kemana??"cegah Bima lantas langkah Dini pun terhenti dan berbalik

"Bapak kan yang suruh saya keluar. Saya mau pergi lah pak. Jangan buat saya bingung, pak" ujar Dini serba salah

"Pintu keluar itu ada di sebelah sana. Yang itu kamar kecil. Gimana sih!!" Desisnya kesal

"Oh, iya pak. Saya lupa."

Dini terlihat kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.

"Kamu bawa kemeja ini. Bukan milik saya!!"

Bima mencampakkan sebuah kemeja kotak-kotak yang dipungutnya.

"Tapi pak, ini juga bukan.."

"Ya sudah sana pergi, tunggu apa lagi. Malah bengong."

"I..yaa p-pak" ujar Dini berlalu menghilang sekejap dari pandangan Bima

"Bisa-bisanya perempuan itu menyelinap di kamarku. Dan apa yang dilakukannya di tempat ini. Aku harus menuntut kejelasan setelah ini. Dasar perempuan pembuat onar." Protes Bima masih dengan emosi yang masih menyulut.

Ia berlalu masuk ke dalam bilik kecil, menuntaskan niatnya yang sempat terhalang oleh Dini

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!