Ketangkap Basah

Usai menemui dokter di rumah sakit, Bima mendapat panggilan darurat dari edward, sekretaris pribadinya. Ia mengatakan kepada Bima jika siang ini, bosnya ada pertemuan meeting dengan rekan bisnisnya yang berada di luar kota.

Awalnya Edward hanya sekedar mengingatkan Bosnya. Dan benar saja, Bima hampir lupa dengan janji yang telah dirinya perbuat. Untuk mempersingkat waktu, Edward di perintahkan untuk menyusulnya ke rumah sakit Sejahtera. Karena dari sini jarak ke Bandung akan lebih dekat dibanding dirinya harus kembali ke kantor. Mereka akan menggunakan satu mobil dengan Edward sebagai supir.

Sudah berjalan lima belas menit, tapi Edward tak juga kunjung menampakkan batang hidungnya. Membuat Bima mengeluh kesal menunggunya. Bukannya terbalik, biasanya bawahan yang menunggu atasan. Tapi sekarang atasan yang menunggu bawahannya. Bima merasa jengah, bolak-balik ia mengganti posisinya dari duduk di dalam mobil, keluar , duduk lagi, rebahan singkat,begitu seterusnya .

Teck..pintu kaca mobil di ketuk dari luar.

Tampak Edward disana, dengan posisi membungkuk dan pandangan yang menyisir isi mobil. Membuat mereka berdua saling tatap. Bima mengisyaratkan sekretarisnya itu untuk masuk, mengambil ahli kemudi.

"Maaf Pak Bima, saya terlambat!! "racaunya Edward setelah berada di dekatnya

"Kamu telat lima menit komisi di potong tiga persen" sahutnya enteng

"Tapi Pak, saya tadi-"

"Gak usah ngebantah, saya tidak mau dengar apapun alasan kamu" desisnya menyelah

Edward bungkam. Bosnya bahkan tak memberikannya kesempatan untuknya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya di perjalanan menuju ke rumah sakit, ia bertemu dengan Ayana, isteri Bima saat di traffic light. Posisinya saat itu, Ayana berada di dalam mobil yang kebetulan bersebelahan dengan motor ojol yang membawanya. Ayana tak sendiri. Ia duduk di samping kursi kemudi dengan seorang pria yang wajahnya tak begitu jelas terlihat.

Penasaran, Edward pun menyuruh driver ojol mengikutinya. Tapi sayangnya, Edward kehilangan jejak karena kembali berhadapan dengan lampu merah yang menghentikan laju kendaraannya. Alih ingin memberikan kontribusi kepada Bima malah berakhir potong gaji. Apes nian nasib Edward memang.

Perjalanan bisnis kali ini menjadi kurang menyenangkan untuk Edward.

Dering ponsel milik Bima memecah keheningan di antara mereka berdua. Tanpa menunggu lama Bima pun mengangkatnya. Dengan senyum mengemban di wajahnya, ia memulai obrolan pada seseorang di sebrang sana.

"Halo sayang.." sapanya memulai obrolan

'Sayang', itu pasti dari isteri Pak Bima, batin Edward

"Iya sayang, kayaknya nanti aku gak bisa jemput kamu. Soalnya aku ada perjalanan bisnis ke luar kota. Maaf yah, sayang" Bima seakan memberikan pengertian.

Edward yang di sebelahnya bahkan mendengar Ayana berdecak kesal.

Maaf Pak Bima speaker handphone Bapak terlalu gede. Saya gak maksud menguping pembicaraan Bapak.

"Oh, iya. Gak apa. Aku tau kamu pasti sibuk sekarang, tapi masih sempat-sempatnya curi waktu buat ngubungin aku. Iya sayang.. kamu juga. Bye, see you." Ucap Bima menutup sambungan

"Pak, maaf kalau saya lancang. Apa Bu Ayana hari ini beneran ada foto shoot??" Tanyanya hati-hati berharap Bosnya tak tersinggung dengan ucapannya

"Tadinya tidak. Ia berniat menemani saya. Tapi di tengah perjalanan, mendadak managernya mengirim pesan kepadanya. Katanya, Ada jadwal pemotretan siang ini. Dan saya fikir, tidak perlu memaksanya untuk selalu ada di samping saya "

Edward mengangguk

"Saya salut dengan Ayana, walau saya mencukupi kebutuhannya sampai saat ini. Ia masih tetap ingin bekerja. Dengan alasan cuman ingin berkarir." Timpal Bima lagi

Semoga saja, dugaanku tidak benar. Bu Ayana mana mungkin menghianati suaminya yang begitu tulus mencintainya. Mungkin saja yang tadi itu rekan kerjanya. Aku gak boleh berfikiran negatif dulu sebelum tau kebenarannya seperti apa.

"Btw, tumben banget kamu nanyain Ayana. Ada apa??" Tanya Bima penuh selidik

"B-bukan apa-apa, pak. Saya hanya... cuman.. Maaf pak, saya gak bermaksud buat menyinggung perasaan Bapak"

"Hemmm" hanya itu yang keluar dari bibir Bima.

Bima kembali mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Pikirannya melayang ntah kemana.

Selama ini Bima tak pernah membatasi ruang gerak isterinya. Dengan dalih sepenuhnya saling percaya. Tapi setelah Ayana tau kebenaran tentang dirinya. Apa kepercayaan itu masih utuh seperti sebelumnya?

Bima memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Perjalanan kita kali ini cukup melelahkan, sebaiknya Bapak istirahatlah sejenak. "Usul Edward, ia merasa tak tega melihat Bosnya yang terlihat seperti sedang ada masalah. Keputusan Edward untuk tidak memberitahukan Bima yang di lihatnya tadi adalah keputusan yang sangat tepat.

"Ya sudah, kalau begitu saya mau istirahat. Kamu supirin yang bener, jangan Sampek nabrak. Lecet sikit mobil kesayangan saya. Saya potong gaji kamu.." Ujar Bima dengan nada sedikit mengancam.

Edward bergidik mendengarnya.

Tak kan ia biarkan itu terjadi. Edward akan bekerja dengan sebaik mungkin. Mengingat potongan yang sudah menggunung, bisa-bisa bulan depan Edward gak bakalan terima gaji.

Edward melirik sekilas, tampak Bima yang sudah mulai terpejam. "Pak Bima benar-benar capek banget kayaknya" ucapnya lirih dengan kembali fokus menyetir.

**

Mension terlihat sepi. Seluruh anggota keluarga Mahendra sedang keluar. Selepas sarapan mereka menuju kesibukan masing-masing. Yang tersisa hanya ke dua belas pelayan saja beserta dua orang keamanan di luar rumah.

"Hey.. Nama kamu Ayu 'kan! kalau saya gak salah"

"I-iyya mbak.." jawabnya tergagap

" Habis ini kamu bersihin kamar tuan muda yah. Saya mau rebahan bentar!!" Titah Sri padanya.

Wanita gemuk, berambut sebahu itu kerap kali memerintahnya. Padahal kata pelayan yang lain dia bukanlah kepala pelayan bagian bersih-bersih disini tapi ia selalu bertingkah seenaknya sendiri.

"Maaf mbak, tapi saya belum selesai beberes." Tolaknya halus berharap orang yang di hadapannya tak tersinggung dengan ucapannya.

Padahal tugas yang diberikan pada Dini sekarang merupakan rutinitasnya setiap hari. Kenapa dilimpahkan kepadanya.

"Kamu mau ngebantah saya!! Oh, Uda berani rupanya yah." Cecar Sri sambil berkacak pinggang di depannya

"T-tidak mbak, saya mana berani menentang senior lama." Ucap Dini tertunduk takut

"Nah, itu tau. CEPAT KERJAKAN sana!! Tunggu apa lagi.." sergah Sri "Ayoo . Buruan..!!!' sembari mendorong tubuh lemah Dini agar secepatnya beranjak.

"B.-bbaaaikk mbak.."ucap Dini patuh. Tanpa membuang waktu, ia berjalan menuju anak tangga. Langkah kecilnya terhenti kala seorang wanita paruh baya memanggil namanya dengan sedikit berbisik, yang usianya sekitar 50 tahunan.

"Iya mbok, ada apa??"tanyanya heran

Dini menyisir sekelilingnya, Sri sudah tidak terlihat lagi di sana.

"Kamu mau beberes kamar tuan muda yah. Uda biar mbok saja yang bereskan. Kamu lanjut saja mengepelnya." Ujarnya menyamahi posisi Dini sekarang.

"Gak usah mbok, biar saya saja yang kerjakan. Ntar kalau mbak Sri tau, dia bisa marah ke saya. "

"Kamu dari tadi mbok lihat di suruh Mulu sama Sri. Mbok jadi nggak tega. Pasti kamu kecapekan, belum istirahat juga toh"

"Ehmm..."

Deheman dari ujung sana,menghentikan aktivitas mereka berdua. Dini mengenali suara itu. Lantas ia dan mbok Jum mengedarkan pandangannya. Benar saja Sri tengah melipat kedua tangan di dada dengan tatapan tajam menyalang ke arah mereka.

Terkesiap Dini mengayunkan langkahnya kembali menuju tempat yang di intruksikan Sri tadi.

"Mbok, jangan coba-coba ngebantu Ayu,yah. Biarkan dia menyelesaikan tugas yang saya berikan seorang diri. Awas saja kalau sampek kalian berbuat curang di belakang saya." Tukasnya dengan nada penuh penekanan disetiap kalimat

Mbok Jum tak begeming dan berlalu meninggalkan Sri disana.. Ia malahan bersikap acuh dengan ucapan Sri yang terkesan mengatur. Bukan hanya Ayu yang diperlakukan seperti itu di awal kerja bahkan setiap pelayan baru akan di perlakukan hal yang sama. Tak kenal usia. Mbok Jum juga pernah merasakannya.

Sri berkedudukan sebagai assisten kepala pelayan di Mension keluarga Dermawan. Ia yang paling banyak memerintah dibandingkan dengan Marni yang tak ubah adalah kepala pelayan di tempat itu.

"Kamar tuan muda sebelah mana yah. Aku lupa lagi menanyakannya pada mbak Sri. Emhh.. Kayaknya yang di pinggiran sini deh" tunjuknya pada pintu kayu berwarna kecoklatan yang terlihat sedikit mencolok.

Dini langsung menyingkap daun pintu hingga bergeser sedikit ke dalam, lalu ia nyelonong masuk.

"Permisi.. Apa ada orang di dalam" decit Dini memastikan

Nihil. Tidak ada jawaban

"Tidak ada orang di sini, baiklah aku akan mengeksekusi tempat ini serapi mungkin."

Pertama yang Dini lakukan adalah membuka kaca jendela. Keadaan ruangan ini begitu pengap nyaris hampa udara.

Bukannya tuan muda memiliki isteri?? Tapi kenapa saat membuka mata ia tak membiarkan udara segar masuk??

Sangat disayangkan, padahal udara pagi bagus untuk kesehatan.

Apa kemarin terjadi ledakan dahsyat di kamar ini??

Kenapa terlihat berantakan sekali.

Dimana pakaian kotor berserakan dimana-mana. Handuk bersimpu di atas ranjang. Bantal dan juga Selimut menonggok di bawah lantai. Sekumpulan tisu bekas pakai di lempar ke sembarang arah. Dan juga kemasan Snack ringan yang tidak di buang ke tong sampah. Padahal jelas sekali tempat pembuangan ada di dekat pintu kamar mandi.

Demeanor kalangan atas memang beda, yah.

Berbanding terbalik !!

Bedanya hanya pembawaannya saja

Dini mengumpulkan semua sampah menjadi satu, kemudian menyapunya hingga berulang kali sampai terlihat bersih. Sebelum itu, dipungutin pakaian kotor yang berserak agar tidak mengganggu. Tak lupa mengganti sprei dan juga sarung bantal. Jangan tanya yang kotor akan ditaruh kemana yang jelas akan di taruhnya ke belakang untuk di cuci oleh pelayan yang bertugas di sana.

Semua di kerjakannya dengan cekatan, hingga tak terasa menghabiskan waktu sekitar hampir setengah jam hanya untuk membersihkan satu kamar saja. Ukuran 4x6 kamar tidur milik tuan mudanya memang terbilang sangat cukup luas. Kalau di kampungnya kamar ini bisa di jadikan dua kamar tidur.

"Akhirnya selesai juga tugas ngebersihin kamar tuan muda." Dini bernafas lega. Pekerjaannya telah usai , kamar sudah tampak bersih dan wangi.

Tapi ada satu yang belum Dini lakukan. Me-lap kaca balkon kamar. "Hampir saja lupa. Bisa-bisa mbak Sri ngomel kalau masih ada yang belum bersih."

Langsung saja ia membawa perlengkapan lengkap untuk membersihkan kaca bening itu.

**

Di luar seorang wanita sedang berjalan melenggok memasuki Mension bersama dengan seorang pria. Mereka berjalan dengan sedikit berjauhan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Wanita itu tak lain adalah Ayana. Ia datang bersama sepupu Bima, lebih tepatnya pulang bareng berduaan.

"Nyonya muda, sama tuan Radit sudah pulang." Sapa Sri menyambut keduanya.

"Hemm" Ayana enggan menanggapinya. Sementara Radit berjalan mendahului Ayana menuju ke lantai atas.

"Kamar saya sudah di bersihkan?" Tanyanya kemudian

"Sudah, mbak. Semuanya sudah rapi dan wangi. Nyonya muda bisa cek sendiri. Karena saya yang ambil ahli ngebersihin nya" sahut Sri berbangga diri

"Bagus !! kan memang sudah kerjaan kamu tiap hari. Gimana sih"

Sri menyeringai sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ya sudah minggir sana. Saya mau istirahat jangan halangin jalan saya."

Sri menurut " Nyomut bentar.."cegahnya

Ayana menautkan alisnya.

"Kamu bilang apa ke saya. Ulangi sekali lagi"

"Saya punya panggilan singkat untuk Nyonya muda saya singkat jadi 'nyomut'. Gimana bagus tidak"

"Terserah kamu deh. " Ucapnya berlalu

"Nyomut mau saya bawakan makanan sekalian ke dalam kamar. " Ucap Sri agak sedikit berteriak karena Ayana berjalan sudah melewati di penghujung tangga.

"Gak usah, jangan ganggu saya. Saya mau istirahat. Kalau gak mau saya pecat" teriak Ayana disusul gebrakan pintu yang di tutup cukup keras.

Brukkk..

Sri terkejut mendengarnya. Sesambil mengelus dada.

Dini yang mendengar gebrakan pintu sama terkejutnya di dalam. Ia melihat samar-samar seseorang tengah masuk ke dalam kamar tuan mudanya. Melalui cela horden yang sedikit tersingkap. Yang tak lain adalah Ayana. Ia tengah berdiri lurus tepat di depannya.

Tapi sayang Ayana belum menyadari ada orang lain selain dirinya di dalam kamar. Karena posisi Dini tertutup horden tebal di balkon kamar.

Ayana menghempaskan tubuhnya di bibir ranjang. Ia mengeluh tubuhnya begitu lelah dan juga capek. Dini masih bisa mendengar keluh kesahnya walau dengan jarak yang sedikit berjauhan. Tak berselang lama, daun pintu terbuka kembali. Kali ini tidak di tutup dengan keras, melainkan di tutup perlahan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.

Postur bayangan itu seperti seorang pria. Dini bisa menebaknya dengan jelas walau tampak bayangan buram. Mungkin itu tuan muda Bima yang datang, pikir Dini.

Seolah acuh, Dini pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan dalih secepatnya bisa segera beristirahat.

"Sayang.. kamu kenapa kesini. Nanti kalau ada yang lihat gimana??" Nada suara Ayana terlihat panik.

Dini masih bisa mendengar percakapan mereka, meskipun sedikit berbisik.

"Kamu tenang saja. Rumah sudah sepi. Aku sudah menyuruh beberapa pelayan untuk berbelanja kebutuhan bulanan sebanyak mungkin. Sementara yang lainnya sudah aku suruh ngebersihin gudang belakang. Jadi gak akan ada yang tau aku masuk ke kamar ini. " tukasnya memberitahu

"Aku gak nyangka kamu bisa ngelakuin hal se-nekad ini. "

Ayana tampak terkekeh kecil menanggapi ide gila pria itu.

"Habisnya, aku masih kangen sama kamu" ujar pria itu dengan nada sedikit manja, Ayana menjadi gemas melihat kelakuan bayi gede yang berdiri di dekatnya itu.

Ayana bringsut menghampiri pria itu. Terdengar ketukan High heels yang beradu nyaring bersama lantai yang memecah keheningan di ruangan itu. Tak sungkan, ia mengalungkan kedua tangannya. Bergelanyut manja di sana.

Dini yang tanpa sadar menggeser tubuhnya membersihkan kaca, sontak membeku seketika. Bibirnya terkatup rapat dengan telapak tangan yang nganggur di lekatkannya.

Ayana sedang mencumbu seorang pria yang bukan suaminya. Lalu siapakah pria itu?? Wajah terlalu asing untuk Dini kenali.

Terpopuler

Comments

Yusria Mumba

Yusria Mumba

istri gila,

2023-11-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!