Konsultasi

Bima menghempaskan bokongnya kasar pada kursi kemudi. Mood-nya mendadak berubah dalam sepersekian detik berlalu. Wajahnya terlihat kesal, dengan bibir bersungut-sungut meracau tak jelas. Sengaja ia berjalan mendahului Ayana, agar wanita itu tak mendengar keluh kesahnya.

" Sayang, tega banget sih ninggalin aku. Marahnya jangan di lampiaskan ke aku juga kali. Sebel banget jadinya" gerutunya saat sudah berada di samping Bima.

"Maaf ya sayang. Aku gak maksud bersikap begitu ke kamu. Cuman aku kesel aja sama Papa. Bisa-bisanya dia belain pembantu dari pada anaknya sendiri. Padahal jelas-jelas dia yang salah kenapa gak di pecat aja sekalian. Ngapain mempertahankan ART yang gak becus kerja kayak gitu. Iya emang ibunya dulu ngurusin aku dari kecil, tapi kalau anaknya gak seulet ibunya ngapain dia gantiin bekerja di Mension kita" Cecarnya dengan nafas memburu menahan emosi

"Terus kita harus gimana?? Menentang Papa? Kan gak mungkin juga. " sahut Ayana sembari membenahi sedikit riasannya yang tidak terlihat berantakan, sesekali melirik Bima dari ekor matanya.

"Yang jelas aku gak mau dia terus-terusan bekerja di sini. " Tukasnya bersikukuh.

Bima berucap seakan tengah menanam dendam berpuluh lamanya pada wanita itu. Padahal Ayana kira mereka baru bertemu tapi seakan Bima mengenalnya secara intens. Pertanyaan itu bergelut memenuhi memori -nya saat ini. Ia menepisnya perlahan, rasanya mustahil jika Bima mengenal wanita rendahan nan kampungan itu.

"Udalah sayang gak usah di bahas lagi. Gak penting juga kan. Mending buruan kita jalan ntar telat loh " desis Ayana mengintruksi

Bima menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya. Ketakutannya tak mendasar. Wajahnya memang sebelas dua belas dengan wanita yang kerap di temuinya di apartment Alex. Tapi bukan berarti wanita itu adalah dia.

"Kamu benar, untuk apa aku ngurusin hal yang tidak begitu penting. Tanpa sadar mengabaikan bidadari ku sejak tadi yang semakin hari semakin cantik.."goda Bima melajukan kendaraannya meninggalkan Mension megah itu. Emosinya sudah kembali stabil sekarang.

"Menurut kamu, selama ini aku gak cantik gitu!" Cibirnya

"Cantik...hari ini jauh lebih-lebih cantik" timpal Bima begitu tulus, perkataannya terdengar biasa saja namun cukup untuk membuatnya tersipu.Terbukti dari wajahnya yang kian memerah. Pujian Bima mampu meluluh lantahkan perasaan Ayana.

Kalau ia boleh Jujur, Kekasihnya saja tak pernah sekalipun memuji, apalagi menyanjungnya. Lalu Bima?? Ia jauh berbeda. Kekasihnya selalu bilang kalau Bima merupakan tipikal orang yang dingin, arogan. Anti sosial, dan juga terkesan ambivert. Tapi dengannya?? Bima sedikit menyimpang.

Dan agak sedikit manja dan mengkek. Di mata Ayana, ia seperti kucing kecil yang menggemaskan. Di dekatnya, Ayana tak menampik rasa nyaman kerap ada menyelubunginya.

Disela-sela perbincangan mereka, notif pesan masuk ke gawai Ayana. Gegabah Ayana merogoh pouch kecil yang di bawanya dalam Gadino bag. Terpaku sejenak mentelaah kata demi kata yang tersirat pada pesan yang di terimanya. Sedetik kemudian alisnya bertaut, wajahnya berubah sedikit masam.

"Ada apa sayang? "Tanya Bima penasaran. Ayana sontak terkejut badan. Memalingkan pandangannya sejenak ke arah Bima.

"Ehm.. g-gak sayang. Gak kenapa-napa!

Tetiba aja assisten aku kirim pesan. Katanya jadwal pemotretan aku jamnya di majuin..Hemm.. kayaknya aku gak bisa deh ikut nemenin kamu ke rumah sakit." Ucapnya dengan helaan nafas berat, tampak kecewa

Bima berdehem. "Ya sudah, gak apa. Lain kali saja, kalau kamu tidak sibuk.. Lagian kerjaan kamu lebih penting. Bukannya kamu uda terikat kontrak sama mereka."desis Bima

"Maaf yah !! "Imbuh Ayana

Bima mengernyit, " untuk??" Selanya seketika menginjak rem untuk berhenti.

"Uda ngecewain kamu,.padahal aku niatnya hari ini bisa bareng terus sama kamu.

Maksud menebus rasa bersalahku yang kemarin itu. Aku fikir, akulah yang terlalu kekanakan. Seharusnya disaat kamu terpuruk seperti sekarang, aku nguatin kamu. Bukan malah ninggalin kamu kayak kemarin-kemarin"

"Gak seharusnya kamu ngerasa bersalah. Akulah yang patut di persalahkan. Kenapa juga aku nyembunyikan kekuranganku ini dari kamu. Bukannya seorang suami-isteri harus saling terbuka?"Bima menyeringai. Seapik mungkin ia menyembunyikan kekhawatirannya hingga tak terlihat.

" Aku akui kamu sedikit pintar menyembunyikannya begitu lama.. Aku tau kamu pasti tersiksa" sahut Ayana menerka

Tersiksa?? Benar saja, mungkinkah Bima tak merasakannya. Bahkan ia selalu di hantui ketakutan yang tak berkesudahan sampai detik ini. Nyaris ingin mati saja. Mengingat kenyataan kalau juniornya tak bereaksi terhadap sentuhan yang Ayana berikan selama ini.

Awal pernikahan ia tak pernah separnoh ini. karena dulu kebenaran belum terkuliti sama.sekali. Tapi semakin kesini Bima akui ketakutannya semakin menjadi. Jika kelak sewaktu-waktu Ayana akan berpaling. Mengingat kekurangan dirinya yang tak mampu memenuhi hasrat biologisnya.

Bagaimana tidak?

Dusta jika seorang isteri tak mencari kepuasan di luaran sana, mengingat kondisi suaminya menderita disfungsi ereksi seperti yang Bima derita saat ini.

Nasib Bima memang sungguh tragis, bahkan penyebabnya pun belum di ketahui pihak medis. Masih sebuah teka-teki.

Lucunya, kemarin malam ayahnya mengatakan ia terkena kutukan. Terdengar konyol bukan??

Bima tersenyum miring. "Tidak usah bertanya, kamu tentu tau jawabannya. Aku takut dengan ketidak sempurnaan ku ini tak bisa melengkapi bahtera rumah tangga kita. Takut kamu berpaling" ujarnya bergetar guratan kecemasan tergambar disana.

Ayana bergeming. Perkataan Bima sungguh menohok dirinya.

Dugaan Bima begitu kuat. Kenyataan memang sudah sejak lama seperti itu. Sepertinya detakan Bima telah terasa. Jauh sebelum menikah. Jujur Ayana tak pernah menaruh hati sedikitpun padanya. Jelas-jelas semua perhatian yang dia berikan padanya begitu tulus. Di dekatnya Ayana merasa nyaman. Tapi tak bisa menumbuhkan benih cinta dalam dirinya.

Mungkin hatinya sudah tersegel rapat. Hanya untuk kekasihnya. Lebih tepatnya Kekasih gelap. Pahitnya sampai sekarang hubungan mereka jalani sebatas 'backstreet '.

Sampai limit waktu tanpa batas layaknya black card/ non limit.

"Singkirkan fikiran kolot itu. Aku gak mungkin ninggalin kamu. Susah senang akan kita jalani bersama sampai maut memisahkan. Apa perlu aku bersumpah di hadapanmu sekarang, agar kamu percaya sepenuhnya padaku" Tukas Ayana sembari menaut jemari Bima lalu digenggamnya erat.

"Aku rasa lebih dari cukup...Kamu berada di sampingku sudah membuktikan semuanya.

Terimakasih sudah bertahan sejauh ini bersamaku, dan maaf karena belum bisa menjadi sosok pendamping yang sempurna untukmu. Aku berharap kita bisa seterusnya bersama-sama seperti saat ini"

Bima mengecup punggung tangan Ayana begitu lama. Dengan begitu tulusnya. Ayana bisa merasakannya dari sentuhan bibirnya yang menyentuh permukaan kulitnya. Setelahnya Bima mengada pandangannya bertemu manik coklat wanitanya. Ayana hanya tersenyum begitu singkat.

"Sayang, aku harus pergi. Maaf Moment romantis ini harus segera berakhir sekarang" desisnya

Ayana menarik perlahan jemarinya yang bertaut, agar tidak menyinggung perasaan Bima.

"Sepertinya kita berdua perlu second honeymoon. " Cibir Bima tak terima jika baru sesaat bermanja harus ditinggalkan begitu saja

"Not bad,!! asalkan tiketnya di simpan dengan baik. Aku akan ikut kemana pun tuan pergi" timpal Ayana bergelak

Bima bergegas turun, membukakan pintu untuk Ayana.. Setelah beberapa saat memberhentikan taksi. Ayana melenggang masuk, tak lupa memberi kecupan singkat di bibir Bima.

Sampai taksi itu benar-benar enyah, barulah Bima kembali memacu laju kendaraannya.

***

Tak sampai berjam lamanya, akhirnya mobil Bima mendarat sampai tujuan. Sebelum melangkah masuk, ia tenggerkan lensa berwarna hitam guna menghindari khalayak ramai. Biasanya sekitaran langkahnya berpijak, selalu ada heaters maupun paparizi yang tanpa izin mengambil gambarnya.

Memuatnya di media cetak offline or online. Menyebar berita hoax yang tidak jelas kebenarannya, dengan embel-embel meraup keuntungan dari berita yang mereka dapat. Untuk menghindari itu Bima sudah penuh persiapan dengan penyamaran seadanya, ia yakin mereka tak akan mengenalinya.

Niat awal, Bima memang ingin pergi ke kantor. Tapi setelah insiden yang tak terduga tadi terjadi. Ia jadi teringat wanita itu, dan memutuskan untuk memeriksakan kondisinya terkait penyakit yang dialaminya. Kebetulan Minggu ini belum ada jadwal kunjungan kesana.

Langkahnya terhenti ketika berada depan meja counter. Disana berdiri seorang wanita dengan rambut di Cepol ke atas, dengan name tag di sebelah kirinya. Tak lupa seutas senyum melekat di wajah ovalnya sejak tadi.

"Selamat pagi, pak. Ada yang bisa saya bantu?"sapanya ramah

"Saya ingin bertemu dengan Dr. Kalvin, kebetulan pagi ini saya sudah membuat janji temu dengannya" sahut Bima to the point

"Tunggu sebentar ya, pak. Saya konfirmasi dulu pada beliau" ujarnya seraya berkutat dengan telepon untuk menghubungi seseorang.

"Baiklah kedatangan Bapak sudah di tunggu beliau sejak tadi"ucapnya usai menyudahi panggilannya.

Bima bergegas pergi.

Benar saja, saat Bima menekan kenop pintu untuk masuk pria paruh baya berkaca mata itu sudah bersiap menunggu kehadirannya. Dengan Seraya bangkit berdiri menyambutnya " Selamat pagi pak Bima. Apa kabar?? " Sapanya sembari berjabat tangan, dan mempersilahkan Bima duduk

"Seperti yang dokter lihat, saya baik"sahut Bima terkekeh kecil

"Syukurlah.. saya sedikit khawatir karena Bapak sudah beberapa Minggu ini melewatkan jadwal pemeriksaan. Bagaimana Pak, sudah ada kemajuan sejauh ini ??" Tanya Dr. Kelvin terlihat antusias

"Kalau saya bilang 'tidak' mungkinkah itu suatu kebohongan. " Ujarnya tersenyum masam

"Maksud anda?? Pengobatan kita selama ini membuahkan hasil"

Bima bungkam sejenak. Ia bingung harus menjelaskannya seperti apa. Apa iya harus mengatakan jika "miliknya" bereaksi karena sentuhan wanita penghibur. Bukan isteri sahnya. Apa nanti kata orang??

"Hanya sesaat, dok. Bukan 'bertahan' lama" keluhnya singkat

"Kabar BAguus itu!! Bisa anda coba lain kali strateginya" tukasnya sambil menggebrak meja. Bima tampak terkejut dengan ulahnya.

"Gak apa masih ada lain hari. Kuncinya adalah sabar. Lambat laun juga akan bereaksi lama. Karena dari catatan medis Pak Bima tidak pernah mengalami cidera apapun. Jadi tidak terlalu sulit membangkitkan nya. " Jelas dokter Kelvin

"Iya dok, saya paham. Sampai berapa lama saya harus menunggu dok. Atau dokter memiliki cara lain agar saya bisa kembali seperti lelaki normal pada umumnya."

"Maaf pak, saya hanya insan biasa yang hanya bisa menyarankan saja. Selebihnya serahkan pada sang maha cipta, mungkin dengan izinnya semua akan kembali seperti sedia kala " ujarnya singkat namun sanggup menohok Bima.

"Baiklah, saya akan terus berjuang. Demi Ayana " ucap Bima lirih dengan nada bergetar di akhir kata

"Lakukan tips and trik awal yang Bapak dan Bu Ayana lakukan. Dan sering-seringlah menghabiskan waktu bersama. Besar kemungkinan terapi itu akan sedikit membantu. "Sarannya

Selanjutnya Bima pamit undur diri dari hadapan dokter Kelvin, setelah dokter tak berambut itu memberikan selembar kertas resep obat seperti biasanya.

Terpopuler

Comments

Yusria Mumba

Yusria Mumba

sabar bima,

2023-11-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!