Hampir di pecat

Singkat bergelut dalam pertanyaan yang mengitari isi kepalanya. Bima berjalan mendekati wanita yang tengah asyik dengan aktivitasnya. Wanita dengan tubuh semampai, dengan rambut di kepang dua itu terdengar sedang melantunkan lagu yang liriknya 'sambal ijo' dengan gestur tubuh yang meliuk ke sana kemari.

Bima hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Dan semakin dekat menghampiri.

"Sedang apa kamu di sini??" Tanya Bima mengejutkan

Wanita itu terkesiap, sangkin kagetnya selang air yang semula diarahkan ke tanaman mendadak berubah arah. Air menyembur deras mengenai Bima. Jas dan celana yang ia kenakan semua basah. Bahkan kemeja dalam pria itu juga merembes basah. "Ah.. hentikan saya bilang. Stop..stop" teriaknya

"Maaf Pak saya gak sengaja" sahutnya dengan selang masih mengarah ke Bima. Ia panik tak karuan.

"MMAtTtiin dulu kerannya!!! " bentak Bima semakin emosi

"Saya gak tau Pak, dimana letak kerannya!! Tapi akan saya coba untuk Carikan, sebentar!!! "

Dini mencampakkan selang air yang pegangnya. Ia biarkan air mengalir membanjiri pekarangan. Sementara wanita itu sibuk mencari keran air untuk dimatikan. Bima sudah berdiri Dengan tangan yang di lipat di depan dada. "Ngapain kamu disini??"

"Mau cari putaran keran. Kan Tadi Bapak sendiri yang suruh matiin." Jawabnya enteng

"Bukan itu maksud saya, sedang apa kamu di sini!!!" Tanyanya kembali kali ini sedikit meninggi

"Kan tadi saya Uda bilang ke Bapak, saya mau matiin air. Saya masih bingung dimana letaknya keran itu. Kenapa Bapak masih nanya??? "Sahut Dini rada kesal sebab pria itu datang mengusiknya.

Padahal Dini berusaha mengalihkan pandangannya ke segala arah guna mencari alasan untuk menghindar. Malah pria itu nekad menghampirinya dengan kondisi badan yang sudah basah kuyup. Dini bahkan bisa melihat bentuk pahatan pria itu dibalik kemejanya yang basah. Bahkan tonjolan di sekitar selangkangannya dapat di lihat dengan jelas. Seolah ingatannya berputar jauh pada kejadian di malam itu.

Dini segera menepisnya, menggelengkan kepalanya tanpa sadar.Yang pergerakannya masih di awasi Bima.

"Ya ampun Tuan.. Kenapa jadi basah begitu??" Seru seorang wanita yang buntal berambut pendek tengah menghampiri mereka.

"Kamu tanya aja sama perempuan ini!! Dia yang membuat saya menjadi basah seperti ini" ucapnya ketus. Wajahnya tampak kesal, rahangnya mengeras. Dengan nafas yang memburu, menahan emosi. Kemudian Bima menjejaki kakinya meninggalkan dua wanita itu yang masih bersitegang disana.

Wanita buntal itu beralih menatap Dini penuh horor, mengintimidasi dengan sorot matanya.

"Kamu yah, baru pertama masuk kerja Uda ber-ulah. Saya suruh kamu nyiram tanaman di pekarangan ini. Bukan malah nyiram tuan muda. Bisa kerja gak sih!!" Cecarnya ikutan sewot

"M-maaf mbak, saya gak sengaja. Tadi Tuan muda datang mengejutkan saya. Jadi saya reflek mengarahkan selang ke arahnya. Sekali lagi saya minta maaf" ujarnya tertunduk lesu

"Eleh, alasan aja. Nasib kamu di ujung tanduk sekarang. Berdoa aja semoga kamu tidak di pecat." Wanita itu pun berlalu setelah mengatakannya.

Menyisahkan Dini sendiri. Berdiam diri terpaku di sana. Ia sungguh amat menyesal, karena kecerobohannya mungkin kejadian tersebut tidak akan terjadi. Awalnya juga Dini tidak percaya apa yang di lihatnya. Pria yang melecehkannya ternyata adalah pemilik Mension megah yang sekarang menjadi tempat bernaungnya beberapa jam lalu.

Sempat terlintas di benaknya, inikah mungkin jawaban doa-doa yang terus di panjatkannya.

Tersesat di tempat asing, memudahkan dirinya menemukan pekerjaan yang halal seperti yang selama ini diinginkannya. Ia juga terbebas dari jeratan Mira yang terus menerus menjerumuskannya. Dini sangat bersyukur. Tapi kenyataannya berbanding terbalik.

Keluar dari kandang macan, masuk kandang singa.

Ini sama saja menggali kuburannya sendiri.

Pria yang sama. pria yang tega melecehkannya malam itu. Sungguh Dini tak habis fikir dengan permainan takdir hidup yang di jalaninya sekarang. Dalam diam, Dini menghela nafas dalam. Menguatkan hati dan pikirannya. Mengingat tujuan utamanya datang ke kota untuk mengais rupiah demi biaya pengobatan Bapaknya di kampung.

Dini harus bertindak, ia tak boleh kehilangan pekerjaan ini. Minta maaf adalah solusi yang tepat untuk menyelamatkannya.

***

Berbekal keberanian dalam dirinya, Dini sudah menjejaki kaki di ruang tamu yang cukup luas. Dini tak menampik furniture dan barang-barang yang bertengger di tempat itu begitu mahal dan elegan. Red karpet yang terbentang dari ujung pintu utama hingga ke lantai atas, mengingatkannya pada animasi kerajaan dongeng yang sering ia lihat di buku dan majalah.

Dini berdecak kagum melihatnya. Ia belum pernah menginjakkan kaki ke rumah semewah ini. Bahkan untuk menjaga kebersihan, Dini berpijak tanpa alas kaki. Ia meletakkannya di ujung teras rumah.

Takut kalau ada orang yang mengambilnya nanti.

Pandangannya menyisir seluruh sudut ruangan. Hingga terhenti pada bingkai figuran keluarga yang terpampang tepat di sisi kananya. Di sana terlihat sepasang suami isteri yang mengembangkan senyum ke kamera. Di tengah mereka, ada seorang lelaki yang tengah membungkuk, merangkul keduanya tapi dengan tatapan seperti es. Dingin tak berekspresi.

Tak salah lagi, rumah ini adalah milik keluarganya. Ia

"Siapa kamu??" tegur wanita itu mengejutkan Dini.

Seketika ia menoleh ke sumber suara. Diujung tangga sana terlihat seorang wanita cantik dengan balutan mini dress sedang menatap tajam ke arahnya. Ia menapak turun tangga menggandeng seorang lelaki yang tak asing dilihatnya. Dia?? Pria itu. Pekiknya hampir tak terdengar.

"Sedang apa kau disini?? Gelagat mu terlihat mencurigakan. Jangan bilang kamu maling. " Tuduhnya pada Dini saat jaraknya sudah hampir dekat.

Dini menggeleng. " Bukan mbak, saya bukan maling. Saya hanya.."

"Masih ngelak lagi?? Uda ke tangkep basah juga. Kayaknya keamanan di rumah ini harus di perketat lagi!! Bener gak sayang??" Ujarnya pada lelaki itu meminta pembenaran

Bima berdehem mengiyakan.

"Mau apa lagi kamu ke sini. Ingin Membuat masalah lagi?? Pergi sana. saya tak mau melihat kamu disini." Sergah Bima tanpa kasian sedikit pun

"T-tolongg tuan, jangan pecat saya. Saya masih butuh pekerjaan ini. Maafkan kesalahan saya. Saya gak sengaja melakukannya. Sungguh.." ucapnya memelas berharap pengampunan dari sang majikan

Ayana mengerutkan dahinya. "Oh.. jadi dia yang uda buat kamu basah kuyup kayak tadi. Lancang sekali kamu, Dasar pembantu!!" Cecar Ayana tak terkendali menjalar emosi

Dini mengerjap. Di pandanginya wanita yang di hadapannya. Wajahnya seketika tak asing. Tapi dimana ia pernah melihatnya.

"Di bilangi malah bengong. Uda sana pergi. Suami saya gak mau ngelihat muka kamu lagi" Ayana bergerak maju mendorong tubuh lemah Dini yang hendak menghampirinya, dan Bima.

Untung saja cepat Bastian menopangnya, kalau tidak mungkin Dini akan terbentur meja hias kaca di belakangnya.

"Apa-apan ini,Bima.. Kenapa kalian begitu kasar terhadapnya" sergah Bastian menengahi perdebatan,.di susul dengan Vivi dan Diah yang tiba-tiba datang dari arah dapur.

"Perempuan itu sudah kurang ajar,Pa. Menyiram Bima layaknya tanaman. Mana gara-gara dia Bima jadi telat sekarang."protesnya kesal

Benar juga, Bastian juga merasa janggal.

Bukannya tadi Bima sudah berangkat. Kenapa ia balik lagi ke rumah. Ia fikir ada barang yang tertinggal, lupa dibawanya.

"Lebih baik pecat saja dia." usul Ayana gamang

"Tidak.. Papa gak akan memecat perempuan ini. Dia ini anak Bi Ratnah. Kamu tau kan, beliau sudah banyak berjasa kepada keluarga kita. Dan sekarang kita harus membalasnya. "

"Maksud Papa apa?? Bukannya Bi Ratnah sudah mengundurkan diri dan tidak bekerja lagi" sanggah Bima heran.

Bi Ratnah adalah assisten rumah tangga yang paling lama mengabdi di keluarga Mahendra. Ia juga yang merawat Bima sejak kecil. Beberapa bulan lalu Bi Ratnah pamit pulang kampung dan hingga sekarang belum terdengar kabar beritanya. Dan sekarang kata Papa, perempuan ini adalah anaknya. Mustahil. Mana mungkin anak seorang dari assisten rumah tangga merabak jadi wanita penghibur.

"Papa baru dapat kabar, beliau sudah tiada. Jadi kerabatnya menitipkan Ayu kepada keluarga kita."

Dini hanya tersenyum masam. Sebenarnya batinnya tidak ikhlas jika nama pemberian ayahnya di ganti dalam hitungan jam. Mana kata buyutnya dulu harus menyembeli satu kambing lagi.

Terpaksa saja ia lakukan demi mendapatkan pekerjaan. Mereka mengira Dini adalah Ayu. Anak assisten rumah tangganya yang baru datang dari kampung. Karena sudah kepergok masuk, Dini terpaksa harus berbohong demi menyelamatkan hidupnya.

"Terserah Papa deh, mau siapapun dia. Bima gak peduli!! " Cecar Bima berlalu pergi, diikuti Ayana yang membuntutinya dari belakang.

Bastian beralih pandang menatap perempuan belia di depannya yang hanya menampik senyum terpaksa sejak tadi.

"Sudah, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Gak usah pedulikan mereka." Seru Bastian membuat hati Dini sedikit menenang. Ia takkan kehilangan pekerjaannya, hanya karena pria arogan dan juga sombong itu. Sikapnya terkesan berbanding terbalik dengan pria yang dihadapannya. Terlihat begitu tulus dan perduli, padahal Dini hanya sebatas ART baru yang belum lama dikenalnya.

Harapan Dini saat ini hanya satu, semoga Ayu yang asli tidak datang di waktu dekat. Sebab ia belum siap jika harus kehilangan pekerjaannya lagi. Sedikit terbilang egois memang, tidak ada pilihan lain bagi Dini karena secepatnya ia harus bisa membayar uang perobatan sang Ayah di rumah sakit dalam waktu dekat.

"Baik, Tuan besar.." sahut Dini berlalu pergi melanjutkan pekerjaan yang terbengkalai.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!