Siapa dia?

Dini menggeliat,

Sekujur Tubuhnya terasa kebas serta kram.

Mati rasa. Terutama pada bagian betis dan paha miliknya. Yang di jadikan titik tumpuan untuk menghalau berat badannya saat tertidur.

Yah, lebih tepatnya ketiduran di dalam mobil yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Waktu itu ia sempat ingin kabur dari kejaran pria mesum yang ingin membawanya paksa. Tapi untung saja ada seorang pria asing yang menabraknya dan terjatuh. Dan Dini mengambil kesempatan emas itu untuk spooring.

Dini gundah. Perkara tak tau harus kemana, dan mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Ia meyakini langkah kaki itu pasti orang yang sedang mengejarnya. Dini tak sengaja menemukan sebuah mobil sport berwarna cream terparkir di dekatnya.

Berhubung kondisi mobil unset, Dini nekad masuk ke dalam seperti layaknya sang pemilik aslinya.

Dini bersembunyi dalam diam. Agar tidak di ketahui keberadaannya. Hingga Dini terlelap dengan posisi yang tidak mengenakkan di sekujur tubuhnya.

Ia ingin melanjutkan bobo cantiknya. Takkala sadar waktu fajar sudah menyingsing begitu condong masuk ke cela mobil yang di tumpanginya.

"Hoaaamm, sudah pagi. Ternyata!!! " Seru Dini dengan sebelah mata yang masih mengatup. Menggaruk rambutnya hingga menjuntai tak karuan bentuknya.

Perlahan Dini bangkit. Duduk menyandar di jok belakang. tepatnya sejajar dengan kursi kemudi. Sembari mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.

Tiba-tiba dari arah pintu garasi terlihat dua orang pria berseragam serba putih. Tak lupa dengan pentungan di tangan kirinya.

Membuat Dini bergidik ngeri. Mau tak mau ia kembali bersembunyi, takut mereka mengetahui keberadaannya.

"Mat, kamu ini!! Mobil di biarkan terbuka begitu saja. Mana kunci masih di gantung di sini lagi. Kalau ada maling datang. Menyambar mobil mahal milik si tuan Bima. Bisa habis kamu!!" Ucapnya ngedumel

"Sorry.. Bray. Tadi malam aku itu terlanjur Wedi. Eneng Hantu nengkene!! " Sahutnya dengan bulu kudu yang tiba-tiba meremang mengingat kejadian tadi.

"Kamu itu hantunya!! Mana ada setan' takut sama setan " cibirnya terkekeh

"Ealah, tak kasih tau juga gak percayo!! Suara ne, menggek- menggek ngono kok. Aku yakin iku pasti Hantu penghuni rumah ini"

Somat menirukan suara yang di dengarnya kemarin malam. Walaupun sedikit agak berbeda dari suara pemiliknya. Dini yang masih mendengar pembicaraan mereka pun terkekeh geli.

Dini sudah paham kalau itu adalah suaranya yang mendengkur keras saat tertidur. Suara itu selalu berbunyi nyaring saat Dini kelelahan. Adiknya yang memberitahukannya waktu itu. Saat ia masih tidur sekamar dengannya, dikampung.

Terbukti!! Ternyata itu bukan karangan fiktif dari adiknya

"Ya Uda sana!! Panasin mobil Tuan muda. Katanya beliau akan berangkat ke kantor lebih awal hari ini" instruksinya sebelum pergi

"Iya. Sewot !!"

Pergi..?? Pemilik mobil ini akan pergi. Aku harus cepat turun segera. Seru Dini yang terlihat gelisah.

Satu ide jail kembali muncul. Dini membuat suara layaknya seorang yang mendengkur. Kali ini nadanya agak alay dan dibuat-buat. Mungkin pria itu akan takut dan kabur seperti tadi malam.

Dan rencananya pun berhasil. Security penakut itu lari terbirit-birit. Hingga sekali terjungkal karena terjegal kakinya sendiri.

Keadaan kembali normal. Mereka tidak akan mendengar teriakan security penakut itu karena suara mesin mobil yang menyala. Dini bisa memanfaatkan kesempatan untuk keluar dari dalam mobil.

Merenggangkan otot dan sarafnya yang menegang. Sampai tak terasa saat dia berdiri. Sedikit oleng belum bisa melangkah stabil.

Ia berjalan perlahan. Mengendap-ngendap layaknya maling. Dirasa aman ia pun melangkah ke dalam sebuah rumah kecil, yang letaknya tak jauh dari garasi mobil tadi.

"Eh, tunggu. Kamu mau kemana??"

Suara serak seseorang mengejutkan Dini yang hendak melangkah masuk ke rumah itu. Karena Dini lihat pintu tidak di kunci. Maksudnya ia akan mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum masuk. Tapi sekarang. Dini malah terjebak dengan pilihannya sendiri. Dini takut orang itu akan salah sangka. Dengan menuduhnya maling karena masuk tanpa izin Apa ia bisa melarikan diri seperti tadi. Atau mungkin dia akan diarak masa. Dini tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya.

Gemetar Dini mengedarkan pandangannya tepat di hadapan seorang wanita gemuk, berbibir tebal, bergaya rambut bop. Sedang mendelik ke arahnya. Dini merasa takut. Wanita itu seakan ingin menelannya bulat-bulat.

°

°

Ayana sudah bangun sejak tadi pagi. Rutinitas yang bahkan tak biasanya ia lakukan. Ayana akan bangun pada jam 9 atau 10, tanpa harus menyiapkan sarapan atau kebutuhan lain dari suaminya. Tapi seakan dunia berputar, tidak sesuai rotasi.

Ayana sudah menyiapkan sarapan khusus untuk suaminya, Bima. Lebih tepatnya satu porsi sandwich saja. Ayana juga telah menyiapkan kemeja, jas dan keperluan lain untuk dipakai Bima. Ia sudah memilih warna yang senada dengan dress yang di pakai. Biar terlihat seperti couple pasangan serasi.

Ayana memiliki tubuh yang ideal, tingginya 170 cm. Dengan berat badan yang proposional tak elak dirinya bekerja sebagai model. Hidungnya sedikit mancung, dagunya lancip, yang Bima suka dari Ayana adalah mata coklatnya yang indah. Karena tatapan itulah, Bima tergila-gila padanya. Nyatanya semua hanya imitasi belaka. Dengan rambut yang dibiarkan diurai bergelombang di ujungnya. Ia menata satu piring yang tak kunjung usai sejak 15 menit yang lalu. Ayana ingin sarapan kali ini terlihat berkesan di mata suaminya. Walau sebatas roti berlapis.

Bima menuruni anak tangga. Diikuti dengan Vivi, Bastian dan yang lainnya di belakangnya. Bersaman itu pula sandwich ala Ayana telah siap di piringnya. Bima memakai stelan yang di pilihkan Ayana untuknya. Ia semakin terlihat girang akan hal itu

"Selamat pagi, sayang!! " Sapa Ayana hangat sembari menghampiri Bima. Mengecup keningnya singkat.

Perasaan Bima menjadi tak karuan. Jantungnya berdegup kencang, perlakuan Ayana begitu hangat padanya. Padahal jika di ungkit jauh beberapa hari yang lalu keadaan mereka tidak dengan terbilang baik. Dan berbanding terbalik Ayana seakan mengesampingkan egonya untuk kembali dan menelepon Bima agar segera balik tadi malam. Tapi saat pulang Bima mendapati sang isteri sedang tertidur pulas dan tak tega membangunkannya. Dan sekarang berakhir di meja makan dengan santapan sarapan sandwich berbentuk hati. Sejalan kapan Ayana sekreatif ini.

Sebulan pernikahan mereka, Bima belum pernah di suguhkan makanan sepiring pun dari tangan Ayana. Semua makanan yang tersedia berasal dari jari mahir beberapa asisten rumah tangganya. Yang berjumlah kurang lebih 12 orang. Setiap orang memiliki tugas yang berbeda-beda, kecuali bagian dapur, memiliki 1 koki dan 2 assisten peracik bumbu.

Ayana menggeser kursi dan mempersilahkan Bima untuk duduk. Jelas saya gerak-gerik Ayana memicu rasa curiga terhadap anggota keluarga lain. Tidak termasuk Bima sendiri. Di perlakukan bak raja di pagi hari sangat menyenangkan bukan??

Bima berdecak ria dalam hatinya.

"Terima kasih" tak sadar bibir Bima mengucapkannya. Ayana hanya membalasnya dengan mengulum senyum lebar. Lalu ia memberi isyarat agar menikmati makanan yang disediakan di hadapan Bima.

Bima mengangguk patuh dan mulai menyantapnya perlahan.

Dari sebrang sana tampak Diah terlihat grusuk melihat keromantisan Keponakannya. Bukan karena iri, mungkin saja karena ia tidak terlalu menyukai kehadiran Ayana di keluarga Mahendra sejak dulu. Sama halnya dengan Vivi.

"Loh, Radit mana mbak. Kok gak ikut sarapan bareng kita??" Tanya Bastian yang merasa janggal sebab ada satu anggota keluarga yang belum ngumpul di meja makan.

Benar saja, Bima sejak tadi tak melihat batang hidung sepupunya itu. Apa mungkin Radit sengaja menghindarinya. Tapi Bima bersyukur sebab Radit sekarang sudah berubah dan menjadi sedikit dewasa. Karena biasanya kalau ada masalah ia pasti mengadu pada Mamanya. Berakhir Bima yang selalu terpojok karena ulahnya. Berharap mendapat perlindungan dari mereka.

"Kayanya sebentar lagi dia turun. Mungkin masih di kamarnya." Sahut Diah sekenanya

Tak berselang, Radit muncul menuruni anak tangga. Penampilannya terkesan biasa saja, memakai celana kulot dan kaos rumahan yang biasa ia kenakan. "Radit.. kamu kok belum siap juga. Katanya mau ke kantor" Diah tampak heran saat melihat anaknya yang belum rapi di jam segini. Bahkan raut wajah Radit sedikit masam. Apa yang terjadi padanya??

"Ini juga Uda siap kok,Ma. Ada yang salah"

"Wajar saja Radit berpenampilan seperti itu, nantinya baju yang ia kenakan juga akan di ganti dengan seragam cleaning service. " Sahut Bima gamblang setelah ******* makananya masuk ke kerongkongan

Mata Diah membulat tak percaya. Dentingan sendok yang semula riuh, kembali hening. Semua menjeda aktivitasnya.

Vivi yang memilih bungkam sejak tadi menyeruakkan suara "Cleaning service??? Apa maksud kamu Bima. Jangan bercanda"

"Siapa yang bercanda, Ma. Bima serius. Memang Radit tidak lagi menjabat sebagai Manager strategi. Bima sudah memindahkan di bagian Cleaning "

Wajah Radit menegang, emosinya kian naik. Terlihat dari buku jarinya yang mengatup. Bima tak akan bersuara jika Radit tidak memancingnya terlebih dahulu. Sepupunya itu terlalu lihai bermain peran. Sebelum dia menyudutkan Bima, terlebih dulu Bima menjatuhkannya.

"Tapi kenapa Bima!! Bukannya kinerja Radit selama ini terlihat kompeten. Bahkan ia selalu menghandle semua pekerjaan dengan baik. " Bantah Diah meninggikan Suaranya.

Melihat anggota keluarga bersitegang, Bastian sebagai kepala rumah tangga pun menengahinya. "Sabar, mbak. Mungkin Bima punya alasan tersendiri untuk itu. Jangan terbawa emosi dulu"

"Gimana saya mau sabar, sementara anak saya di tempatkan pada pekerjaan yang tak layak. Bahkan tak setaraf dengan latar pendidikannya."

"Maaf Tante kalau saya lancang. Sebagai pemimpin saya harus bersikap profesional. Tidak timpang sebelah, dan memihak. Semua harus setara!! Tak ada yang membedakan antara karyawan dengan anggota keluarga." Tukasnya.

Bima menyudahi sarapannya. Dan bringsut berdiri hendak pergi. Tapi lengannya seperti ada yang menahan. Benar saja. Ayanalah yang melakukannya.

"Kesalahan apa yang sudah di perbuat Radit. Sampai kamu bersikap seperti ini. " Bima menglerai tangan isterinya perlahan. Tak ingin menyakiti dan mengungkit kesalahan yang Radit lakukan.Ia memilih bungkam.

Dan pergi dari tempat itu dalam keadaan diam.

Lebih baik begitu seterusnya.

Karena baginya, mengutarakan kebenaran akan lebih sakit jika orang lain yang mencetuskan.. Selebihnya Radit- lah yang berhak menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya.

"Jelaskan Radit, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba jabatan kamu di lengser Bima"

Kata-kata itulah yang masih bisa di tangkup indra pendengaran Bima. Karena posisi Bima belum jauh dari meja makan, tempat terjadi perdebatan. Ia sengaja berjalan perlahan, guna menguping pembicaraan antar keluarga besar itu.

"Radit di fitnah, Ma. Ada orang yang sengaja mengkambing hitamkan Radit. Menggelapkan sejumlah uang perusahaan. Padahal Sepeserpun Radit gak pernah mencicipinya dari uang haram itu"

Jelas saja, di depan keluarga Radit menolak keras bukan dia pelakunya. Tapi Bima sudah memegang kartu truf-nya. Bahkan semua bukti nyata tengah menyeretnya. Ia tidak bisa berkilah di depan Bima. Tapi di belakangnya. Radit pintar memutar balikkan fakta.

Saya fikir kamu sudah sepenuhnya berubah, ternyata masih sama!! Dasar Childish. Desisnya

Bima melebarkan langkahnya menuju mobil yang tengah terparkir di depan rumah. Tapi langkahnya terhenti kala sepasang matanya menyorot seorang wanita yang tengah menyiram tanaman hias di pekarangan rumahnya.

Siapa wanita itu??

Seperti tak asing baginya.

Berentet pertanyaan memenuhi isi kepalanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!