Tubuh Bastian bergetar hebat, dengan Isak tangis yang tak mampu ia bendung sejak awal bercerita. Tatapannya lurus ke depan, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tidak pernah membayangkan betapa keji dirinya dulu. Menggugurkan janin dalam perut seorang wanita, yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri. Apakah ia masih layak disebut manusia saat itu?? Tapi karma tetap berjalan, dan kutukan itu benar-benar terjadi.
Tapi kenapa harus Bima yang harus menanggung beban atas kesalahan yang ia perbuat. Kenapa bukan dia saja.
"M-maafkan Papa. Papa bukan sosok figur ayah yang baik untuk kamu. Maafkan PApa.. Papa sungguh teramat menyesal. Kejadian itu terjadi begitu saja.. Papa gak ada niat untuk membunuh ibunya.." Ucapnya bergetar
Rahang Bima mengeras, matanya menyorot tajam bak pisau belati yang siap menghunus musuh. Ada pancaran ke kecewaan di dalamnya.
"Apakah mereka di kubur dengan layak Pa??" Titahnya penuh penekanan
Bstian hanya diam tertunduk. Hingga membuat emosi Bima semakin memuncak.
"Aku tekankan sekali lagi, apa anda menguburkan mereka dengan layak? Jawab Pa!! JANGAAN DIAM SAJA !!!"
Ia menggeleng, membuat Bima tersenyum kecut dan membuang pandangannya ke sisi lain.
"Arggghhh.." teriaknya frustasi setelah beberapa saat
"Bim, maafin Papa.. Maaf-iin Papa."
"Dan Mama?? Apa ia juga belum tau rahasia besar ini!!!" Tanya Bima kembali dan ia pun menggeleng.
"Papa menjalin hubungan dengan wanita itu di belakang Mama..Dan menutup rapat rahasia sebesar ini bertahun-tahun lama darinya. Apa Papa gak sadar, kalau tindakan bodoh Papa ini menghancurkan banyak pihak. Bukan perempuan malang itu saja. Tapi juga Mama"
Bastian bersimpuh di hadapan anaknya. Dengan cepat Bima menjauhkan dirinya dengan sedikit berjarak.
"Papa seorang CEO Mahendra Adi Yaksa adalah seorang PEMBUNUH. Benar-benar kenyataan yang pahit untuk diterima" Bima tersenyum miring. Menyembunyikan rasa sakit dan kecewa yang dalam.
"Apa yang harus Papa lakukan untuk menebus kesalahan yang Papa perbuat di masa lalu nak. Papa gak tau harus berbuat apa sekarang. Kamu mau melenyapkan Papa, silahkan nak!! Kalau memang jalan itu terbaik, Papa siap berkorban"katanya hilang akal
"Untuk APA??? Semua itu gak ada gunanya Pa. Sama saja aku mengulang tragedi 24 tahun lalu yang Papa lakukan. Dengan menjadi seorang pembunuh."
"Lantas. Bagaimana?? Penyakit yang kamu derita begitu serius nak. Papa gak bisa ngebayangin kalau kamu akan hidup menjadi pria yang tak normal selamanya. Pasti sungguh amat tersiksa. Papa ngerasa itu akan sulit, mengingat kau tidak akan bisa.memiliki keturunan. Dan.."
Bima menarik nafas dalam. Kutukan?? Yang benar saja. Di zaman era modern begini masih percaya hal begituan. Nyatanya hal itu sulit dipercaya. Dan tak masuk logika.
"Papa gak perlu khawatir soal itu. Semua yang Bima alami gak ada kaitannya dengan masa lalu Papa. Dan aku juga gak percaya yang namanya KUTUKAN. Semua itu hanya mitos!! Jadi Stop nyalahin diri Papa kayak gini"cercah Bima dengan wajah yang sulit diartikan.
"Bagaimana kalau apa yang Papa bilang itu benar adanya. Kita harus melakukan berbagai cara untuk menghilangkan kutukan itu..." perkataannya terpotong kala jari telunjuk Bima dilayangkan tepat didepan bibir ayahnya
"Aku gak mau denger Papa nyangkut pautin masalah Papa dengan apa yang aku hadapin sekarang. Papa hanya perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi di masa lalu. Ini masalah serius, gak bisa di biarkan berlarut-larut. Papa bahkan selalu di hantui dengan rasa bersalah, dan gak bisa menjalani hidup dengan nyaman. Bukan begitu??"
Walaupun tindakan Bastian begitu tak manusiawi dalam benaknya. Tapi dia juga seorang manusia biasa yang tidak sempurna dan penuh kekhilafan. Bima benar, ini sudah waktunya menebus kesalahan yang pernah di perbuat. Tapi ia masih ragu dan benar-benar belum siap. Itu sama aja dengan menggali kuburannya sendiri, reputasinya akan hancur seketika. Begitu pula bisnis dan usaha yang tersebar di berbagai penjuru kemungkinan besar akan terkena imbasnya.
"Gak!!! Papa rasa Belum saatnya. Kamu gak mikir, dampak ke depannya seperti apa. Tolong kasih Papa waktu untuk berfikir"
"Iya tapi mau Sampek kapan Pa???"
Bima bangkit berdiri, memutar kedua bola matanya jengah. Sepertinya Ia sudah kehabisan kata-kata. Berdebat panjang lebar pun tak ada gunanya. Mengingat sifat keras kepala Bastian yang sudah mendarah daging mungkin akan sulit menerima dari masukan orang lain. Bahkan sampai detik ini pun ia enggan menjawab pertanyaan darinya. Lebih baik Bima memilih mengalah dan segera pergi dari tempat itu.
"Kamu mau kemana??" Cegahnya menghentikan pergerakan langkah Bima
"Bima mau istirahat. Capek. Papa juga jangan kelamaan di sini ntar Sakit!!." Ucapnya penuh penekanan dan bergegas masuk
Seolah bertindak acuh padahal jauh di lubuk hati yang terdalam ia merasa kecewa atas sikap Bastian yang tidak mau menerima usulannya.
Yang ia katakan memang benar, hal itu dapat berdampak buruk bagi bisnis mereka. Tapi mau bagaimana lagi, kejahatan tetaplah kejahatan. Ayahnya harus menerima hukuman sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan.
Tanpa mereka sadar, sejak tadi ada seseorang wanita yang mengamati dan mendengar perbincangan mereka. Mulai dari awal hingga berakhirnya obrolan. Sebelum Bima melintas, orang tersebut segera bersembunyi. Menghindari kontak mata dengan Bima.
Setelah di rasa aman, ia langsung mendekati pria yang masih duduk termenung di taman itu. "PApa !!?!"panggilnya mengejutkan
Bastian terlonjak, menyadari kehadiran seorang wanita di sampingnya yang berdiri dengan posisi melipat kedua tangannya di depan dada.
"Papa ngapain malam-malam duduk di sini sendirian ??? Bukannya Bima uda masuk tadi!!" Ucap Vivi mencibir
DeG.. denyut jantungnya berdetak cepat. Bastian tampak pucat. Suasana kembali menegang kala kehadiran Vivi saat itu. Dalam hati penuh tanya, mungkinkah ia telah mendengar semua percakapannya dengan Bima??
"Kenapa Pa?? Kok diem aja di tanya. Di jawab dong kalau isterinya ngomong" sepertinya wanita bertubuh ramping dan berkulit putih itu sengaja menyudutkan pria yang berada di dekatnya. Dengan maksud ingin memancing pria yang berkedok suaminya itu untuk berkata jujur padanya. Ia sudah mendengar semua percakapan mereka tadi. Dan Vivi mau Bastian berbicara terus terang tanpa ada yang harus di tutupi darinya.
"Ehmm, Mama kenapa bangun, bukannya tadi.."kalimatnya terpotong kala Vivi kembali menyelah.
"Gak usah berkelit, Mama tanya Papa sedang apa disini? Sama Bima juga. Apa ada hal serius yang kalian bicarakan Sampek harus berada di luar ruangan seperti ini."
"Bu-bukan apa-apa, hanya membahas soal bisnis saja"ucapnya berbohong
"Bisnis?? Malam-malam begini ngebahas hal begituan. Emang bener yah!! Anak sama Bapak sama aja gila kerja" cibirnya
Perasaan kecewa, emosi bercampur aduk dalam dirinya. Namun Vivi berusaha sabar, ia akan mengikuti permainan ini hingga detik penghabisan. Padahal ia sengaja menghampirinya agar ada keterbukaan diantara mereka berdua. Nyatanya apa??
Bastian masih saja menutupi aib yang sudah lama di sembunyikannya darinya. Bahkan Vivi tak sadar jika lelaki yang teramat di pujanya selama ini tega menduakan cinta tulusnya. Menutup rapat rahasia besar itu bertahun-tahun. Tega kamu Pa!!! Selingkuh di belakang aku. Kamu anggap aku apa? Boneka yang bisa kamu mainin sesuka hatimu, Umpatnya kesal
Bastian bangkit dari duduknya dan menghampiri Vivi yang masih diam di tempatnya. "Ayo kita masuk, udara begitu dingin. Aku takut nanti kamu akan masuk angin" titahnya lembut penuh perhatian
Vivi menatap nyalang kearah Bastian melalui ekor matanya, tapi pria itu tidak menyadarinya karena pandangannya lurus kedepan sambil menuntun langkah mereka.
"Kamu salah Pa, udaranya tak sedingin tadi. Bahkan sekarang terasa amat panas kala kamu kembali berbohong kepadaku. Perlahan-lahan aku akan membongkar semuanya." Batinnya kukuh
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments