Sebuah kutukan??

Mobil memacu dengan sangat kencang, membelah jalan ibu kota yang tidak terlalu padat di kala pertengahan malam. Pencahayaan lampu di sekitar bangunan kokoh yang usai di lewatinya seakan bergerak mundur menjauh dari pandangannya. Hal ini pertanda bahwa tempat yang ingin di tuju akan segera sampai.

Tin..

Suara klakson mobil pemberi isyarat di nyalakan. Tampak seorang pria paruh baya dengan seragam putih dinas keamanan tengah mengintip di balik celah pagar yang tingginya dua kali orang dewasa tersebut.

Bima langsung membuka kaca spionnya memberi tanda agar pria itu membukakan pintu untuknya. Pintu otomatis terbuka dengan sistem digital sekali tekan menggunakan remote control. Tampak sebuah bangunan megah bak istana yang berdiri sekitar 5 meter dari pos keamanan yang di jejakinya. Salah satu penjaga, mendekat ke arah Bima yang tengah berdiri menyandar di dekat mobil dengan posisi pintu mobil kemudi yang terbuka "Pak, seperti biasa!!" Pintahnya pada pria itu disertai anggukan kepala. Mengambil ahli, mengemudikan mobil miliknya.

Sementara pria yang satunya menutup gerbang kembali dengan melakukan tindakan yang sama seperti sebelumnya. Memberi hormat sebelum bertugas kembali di dalam pos penjagaan.

Tinggallah Bima sendiri yang berjalan kaki menuju bangunan megah tempatnya bernaung sejak kecil. Rutinitas itulah yang selalu ia lakukan saat pulang larut malam.

Tujuannya agar tidak mengganggu kenyamanan orang yang ada di dalam rumah. Yah walaupin, kecil kemungkinan mereka tidak mendengarnya. Dikarenakan jarak gerbang utama dengan bangunan yang cukup jauh. Bahkan suara riuh kendaraan di luar saja tidak bisa di tangkap pendengaran orang di dalam rumah megah itu. Tapi tidak membuat Bima bertindak sesuka hatinya. Ia bukan tipe orang yang grasak-grusuk dalam bertindak.

Sementara di dalam garasi besar di dekat bangunan megah itu, mobil kepemilikan tuannya sudah mendarat dengan aman. Sebelum beranjak pergi, pria berseragam putih itu seperti mendengar suara aneh dari dalam mobil. Ia melihat kebelakang melalu pantulan cermin diatas kursi kemudi tetapi tidak menemukan apapun di sana. Bulu kuduknya berdiri, hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya

"Jangan-jangan ada hantu di sekitar sini. Ikhh... " celotehnya ngelantur bergidik.

Sangkin pengecutnya, ia lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Dengan kondisi pintu mobil terbuka dan kunci yang di biarkan ya menggantung. Benar-benar ceroboh.

Bima berhasil masuk ke dalam rumah menggunakan kunci cadangan yang selalu di bawanya kemana-mana. Ia sengaja menduplikat kunci tersebut agar memudahkannya keluar masuk ke dalam bangunan megah itu. Matanya menyisir ke segala arah menggunakan penerangan ponsel seadanya. Karena ruangan itu begitu gelap.

Sampai kedua pupilnya melebar saat melihat seorang berdiri tepat di depannya. Ia terperanjat kaget, memundurkan langkahnya. "Ngapain kamu ngendap-ngendap kayak maling. "suara bariton itu menyadarkannya

Suara itu seperti "Papa???"

"Ikut Papa sekarang. Papa mau bicara sama kamu."titahnya tegas penuh penekanan

Bastian sengaja tak tidur untuk menunggu kepulangan anaknya. Pasalnya ada satu hal penting yang harus di bicarakan padanya..

Bastian menggiring Bima ke taman belakang rumah. Selain tempatnya sepi, di sana juga tidak akan ada yang bisa mendengar percakapannya dengan Bima.

"Kenapa Pa,.??" Ucap nya memulai percakapan setelah langkah Bastian terhenti menghadap ke arahnya.

"Papa,.hanya mau balikin surat ini sama kamu"

Ia mengulurkan sebuah amplop putih dari dalam bilik saku celananya. Sebuah amplop seputih salju bercoretkan tinta berwarna hijau muda lengkap dengan simbol kesehatan. Seketika Bima pasif, untuk menerimanya. Bagaimana bisa surat terkutuk itu ada di tangan Papa?? batinnya bertanya-tanya

"Papa nemuin surat itu terjatuh saat kamu hilang kendali kemarin. Awalnya Papa gak ada maksud untuk membukanya. Karena rasa penasaran yang menggebu akhirnya Papa membacanya tanpa seizin kamu. Maafin Papa" sesalnya berucap

"Apa benar kamu mengalami disfungsi ereksi??"

Bima tampak memejamkan matanya. Meremas kuat amplop itu, menyalurkan emosinya disana. Terlihat dari buku tangannya yang mengetat. "I..Iyya benar, Pa" ucapnya dalam satu tarikan nafas

"Sejak kapan nak?? Apa kamu pernah mengalami sebuah insiden hebat, makanya kamu memiliki penyakit itu"

"Sepertinya tidak Pa, Bima gak pernah ngalamin hal sebelum itu"

"Ya Allah kenapa ini bisa terjadi. Apa yang harus kita lakukan. Sekarang!!"

"Ntahlah Pa, Bima juga nyaris menyerah menghadapi penyakit ini. Serangkaian pemeriksaan sudah Bima lakukan di berbagai luar dan dalam negeri tapi nihil Pa. Gak nemuin titik terang juga. "

"Mungkin ini salah satu penyebab, kamu bertengkar dengan Kinan??" Tanyanya yang di anggukan cepat oleh Bima

"Apa mungkin karena kutukan itu???" Gumamnya pelan yang masih dapat di dengar oleh pria di depannya

"K..KUUUTUKAN?? APA MAKSUDNYA Pa??" Cekal Bima cepat

Tubuh tegap Bastian luruh saat itu juga. Seakan bobot yang dipikulnya begitu berat, sehingga ia tidak bisa menopangnya. Matanya berkabut, seolah cairan bening akan jatuh dari pangkalnya.

"Maafkan Papa, nak. Papa sungguh amat menyesal"

Melihat reaksi Bastian, membuat Bima bingung. Batinnya masih penuh tanya. Ada satu hal yang pria berdarah Minang itu sembunyikan darinya. Tapi apa??

"Untuk apa Papa minta maaf. Gak ada yang patut di persalahkan karena penyakit yang Bima derita ini, termasuk Papa"

Bastian tersenyum miring, membenahi letak lensanya. Sembari mengusap cairan bening sebesar biji jagung di bawah matanya kasar. Di tuntunya Bima ke tempat duduk yang tersedia di taman itu Pikirannya menerawang jauh di atas sana sembari bibirnya berucap kata demi kata memperjelas kisahnya. Kisah Masa Lalunya....

Flasback***

"Lepaskan aku... Lepaskan... Apa Yang akan kalian lakukan padaku!!! Be de bah... Lancang sekali kalian berdua, membuatku tersiksa seperti ini!!! Lepaskan.... " ucap Ratih memberontak sambil sesekali meringis sakit pada bagian perutnya.

Yah, saat ini dirinya tengah berbadan dua. Hasil buah cintanya dengan lelaki kaya yang selalu menemani malam kelamnya.

"Diamm kau wanita si @ lan. Ikuti saja langkah kami sekarang. Jangan banyak protes, sebentar lagi kau juga akan tau!!! "

Wanita itu ditarik paksa begitu saja sejak turun dari dalam mobil jeep yang baru saja terparkir di sebuah daerah terpencil. Pepohonan lebat di sisi kanan kiri berderet menjuntai hampir mencakar langit saat ini masih mereka lintasi. Bahkan tak habis terjejaki. Satu bangunan tempat tinggal pun tak tampak di tempat itu.

Ratih tidak perduli lagi dengan penampilannya yang lusuh dan sudah terlihat berantakan. Pemberontakan yang sedari tadi ia lakukan adalah penyebab utamanya. Dengan sekuat tenaga dirinya kembali mencoba melepas cengkraman pria bertubuh kekar di sisi kanan dan kirinya.

"Aku jamin keselamatan kalian sekarang sedang di ujung tanduk. Akan ada seseorang yang datang menyelamatkanku. Dan kalian semua akan habis di tangannya." ucapnya lantang mengancam berharap kedua orang yang ada di sampingnya akan lari ketakutan

Sebelum mobil melejit ke tempat terpencil itu, ia sudah menghubungi sang kekasih agar menyelamatkannya dari tangan-tangan pria kurang ajar yang sengaja menculiknya. Bukan hanya itu, Ratih juga sengaja memasang GPS agar keberadaannya dapat di temui dengan mudah oleh sang pujaan hati.

"Hahaha... Bercelotehlah sesuka hatimu. Tidak akan ada orang yang akan mampu bisa menebus hutan selebat ini. Mimpi saja sana!!! '' katanya menyindir

Sampailah mereka di pekarangan gubuk tua yang bangunanya sudah usang nyaris tak berpenghuni. Ratih masih berada dalm cengkraman dua pria tanpa respon untuk melepas. Hingga penglihatannya menangkap objek seseorang yang di nanti-nantikan kan kedatangannya sejak tadi. Berharap pria itu bisa menolong dirinya.

"Mas, akhirnya kamu datang juga. Tolong aku... Selamatkan aku dari mereka.. " pintah Ratih dengan tatapan nanar penuh harap pada pria yang sekarang berada di hadapannya.

"Apa yang kalian berdua lakukan pada kekasihku.. Hahaah... Tidak tau kah ia sekarang tidak secantik Ratih yang awal bertemu denganku. Cepat bawa dia masuk!!! Aku bosan menunggu kinerja kalian yang lambat kaya siput" hardiknya dengan suara meninggi

Ratih membulatkan matanya. Bibirnya bergetar, ia ingin berucap sesuatu "Apa maksud semua ini mas... Aku yakin kamu datang kemari karena khawatir kan sama aku. Khawatir sama anak kita kan, mas... Yakan sayang... " ucapnya lirih nyaris serak

Tetes air bening membasahi pipinya yang semula kering. Ia yakin pria yang disayang berhadapan dengannya itu tidak akan mungkin tega melakukan hal sedemikian. Apalagi sama darah dagingnya sendiri di dalam kandungan yang hampir mulai tampak membesar.

"Bawa dia ke dalam sekarang. Mbah Santun sudah menunggu kedatangannya sejak tadi. "

Perintah terakhir yang ia ucapkan sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah tua yang diyakini sebagai rumah dukun aborsi.

"Lepaskan... Lepaskan saya.. "berontaknya kembali

Namun tenaga yang di keluarkan tidak sebanding dengan dua pria yang ada di sampingnya. Terpaksa ia harus melangkah ngikuti arah laju mereka berdua.

24 tahun yang lalu juga di sebuah taman dekat kota pada waktu yang bersamaan seorang bocah balita berjenis kelamin laki-laki sedang bermain bercanda gurau bersama seorang wanita. Yang tak lain adalah Ibu dari anak tersebut. Hanya sekedar mengisi ke kosongan untuk menunggu yang di nantikan kehadirannya oleh sang buah hati beserta dirinya.

"Pa.. Pa..pa..?!!"panggilnya terbata

"Iyyya nak sebentar lagi Papa dateng nyamperin kita di sini. Sabar ya nak!!! " bujuknya sambil menaruh beberapa mainan dari paper bag yang di bawahnya

Sambil menepih kearah sisi kanan saat situasi aman terkendali, si anak tak rewel. Ia segera mengocek tas brended miliknya. Mendial nomor telepon yang terdaftar dalam kontak di ponsel miliknya.

Tut.. Tutt... Tak ada jawaban di sebrang sana. Tak pantang menyerah, kembali ia menghubungi nomor ponsel itu. Kedua.. Hingga ke tiga kalinya mencoba, hanya pemberitahuan seorang operator wanita bahwasannya nomor ponsel sang pemilik tak aktif.

"Minum.. Sekarang ramuan ini!!! Ayo minum... " pintahnya memaksa

Dengan menyodorkan segelas air berwarna keruh dihadapannya yang di duga adalah cairan berupa campuran ramuan yang sejak tadi sudah diracik sang dukun. Aroma tajam yang menyengat membuat Ratih enggan meminumnya, perutnya terasa terkocak-kacik seperti ingin muntah saat itu juga.

"Apa lagi yang kau tunggu, ayo cepat minum... "

Ratih menggeleng tak setuju. "Tega sekali kamu mas, bayi di rahim aku darah daging kamu sendiri. Anak ini anak kamu, anak buah cinta kita. Sampai hati kau ingin melenyapkannya. Kalau memang kau tak mau mengakui dan mempertanggung jawabkan semua yang kita lakukan. Biarlah aku yang akan membesarkan anak ini sendiri, tanpa campur tanganmu. Aku sadar aku telah tertipu daya janji manismu, menyesal pun tak ada gunanya. Sekarang tolong lepaskan aku.. Kasiani aku.. Demi bayi ini.. " ucapnya bergetar terisak pilu

Mengatupkan kedua tangannya memohon kebebasan. Hanya hal itu yang bisa ia lakukan sekarang, membuat perlawanan pun percuma. Tenaga yang ia miliki tidak sebanding dengan keempat pria yang berada di tempat itu. Ia sudah terkepung jauh di hutan belantara. Yang tidak tau seluk beluk daerahnya.

"Tidak... Jangan coba-coba membuat penawaran denganku. Kau fikir aku orang bodoh yang bisa kau tipu dengan air mata buayamu. Anak itu akan menjadi senjata utamamu untuk menghancurkan keluarga kecilku. Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Bayi yang di dalm perutmu harus binasa sekarang.. "

Pria itu mengisyaratkan kepada dua anak buahnya untuk kembali mencengkram kedua tangan Ratih.

"Jangan mas, tolong... Jangan lakukan itu... Tidak.. Aku tidak akan meminum ramuan mematikan itu.. "

"Suka tidak suka.. Mau tidak mau.. Bayi itu harus mati.. " ucapnya seraya meminumkan paksa ramuan penggugur kandungan pada Ratih

Tak lupa pula ia mencekal dagu Ratih agar minuman masuk sepenuhnya kedalam mulutnya. Walau ada sedikit cairan yang mengalir keluar yang tak berhasil masuk.

Tetap saja setengah dari ramuan telah ia minum. Membuatnya agak sedikit lemas. Mungkin pengaruh obat yang diminun sudah bereaksi begitu cepat. Ia jatuh terkulai di pembaringan tempat tidur yang tersedia di tempat itu

"Coba saja kau menurut seperti ini, aku tidak sampai berlaku kasar seperti sebelumnya" ujarnya sambil mengelus anak rambut yang berantakan menutupi wajah Ratih.

"Sekarang bagaimana mbah, selanjutnya apa yang harus kita lakukan"tanyanya

"Sabar sedikit, kita perlu menunggu... "

"Akkhhhjjh... Akhhhhhhh sakit.. Sakit sekali perut ku.. Akhhh... "

Pria itu panik mendekat kearah Santun berada. "Bagaimana ini mbah, apa yang akan kita lakukan sekarang. Aku tidak tega melihat ia merintih kesakitan"

"Hehh, tenang saja. Hal itu biasa terjadi. Tunggu saja beberapa menit, ntar juga dia akan tenang dengan sendirinya. Ramuan itu sedang bereaksi. Sebentar lagi calon jabang bayi di kandungannya tidak akan bertahan. Percayalah padaku.

"Akhhh.. Sakiiiit...sakitttt.. Be de bah kamuuu mas. Dasar Manusia berhati iblis.. Tidak akan ku maafkan... A-aku berrrsuuummmpah Bima ttidak akan mendaaapatt ketuurrrunann. Adiknyyya tidddakk akaannn berreaksi terhhhadap wanita mannnapun. Akhhhhh.. Kecuaaliii dengan cinnnta..akhhh..."

Pada saat kutukan di cetuskan petir menyambar dari segala arah. Seolah semesta mengabulkan permohonanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!