Sejak Dini memutuskan untuk pergi bersama Mira, ia terlihat murung dan tak bersemangat. Seperti yang dirinya lakukan sekarang hanya duduk manis melipat tangannya di atas meja bartender, layaknya pelajar yang siap dengan materi yang berlangsung. Bukan dari guru melainkan dari wanita yang datang bersamanya.
"Kamu lihat pria yang di pojok sana deh. Dari penampilan yang mbak lihat, dia bukan orang sembarang. Kayaknya macan yang satu ini cocok buat kamu. Mumpung dia masih sendiri, Coba kamu deketi dia sekarang. Mana tau dia mau ngebooking kamu malam ini" ujarnya dengan tidak memindai netranya sejak tadi.
Sadar karena tak ada jawaban di sampingnya, Mira menjadi kesal. "kamu dengerin gak dari tadi yang mbak omongin" perkataannya sedikit meninggi. Hingga Dini tersentak dari lamunan panjangnya.
Ia mendapati Mira yang berkesiap meluapkan emosinya kepadanya. Namun di tepisnya segera, untuk kembali bersikap tenang di depan Dini.
"Dini sayang... Kamu mau duit bukan?? Di sana ada mesin penghasilnya. Jadi tugas kamu, rayu dia. Mudah bukan??" Suaranya melantun nyaring namun terkesan memaksa
Pria berumur dengan rambut keriting dan perut buncit. Benar-benar menjijikan, keluhnya dalam hati.
"Se...karangg mbak"ucap Dini gugup,
"Gak Sayang, Lusa!!! Yah, sekarang dong. Masak tahun depan keburu koit tuh Bapak di rumah sakit" sengajanya merendah di nada terakhir agar Dini tak mendengar ucapannya.
Dengan langkah terseok Dini berjalan kearah pria yang duduk dengan beberapa botol minuman memabukkan di depannya. "PE..permiisii Pakkk.. apakah Bapak perlu bantuan??"
Seketika gestur pria itu terhenti, yang tadinya ia ingin menenggak minuman yang di tuangnya. Ia urungkan karena melihat sosok wanita cantik dan seksi datang menghampirinya. Ia terlihat mempesona. Bagaimana tidak balutan gaun abu-abu yang terlalu pendek memperlihatkan paha putih mulus miliknya. Belum lagi tonjolan dua benda padat yang sedikit terekspos menambah kesan sensual. Wajar saja jika pria itu enggan berpaling menatapnya.
"Bantuan apa yang ingin kau tawarkan padaku, wanita cantik" ucapnya menarik pergelangan tangan Dini.
Hingga keseimbangan tubuhnya goyah dan terjatuh di atas sofa empuk di dekat pria itu. Dini panik seketika. Pria itu dapat melihat dengan jelas pergerakan Dini yang tampak kakuh, membuat dirinya semakin gencar untuk menggoda wanita seksi di dekatnya.
"Ma-mmaaf Pak, sepertinya saya salah orang. Sa..yaa permisi.."
Dini hendak ingin bangkit meninggalkan pria buncit itu, tapi langkahnya tertahan karena pelukan yang kuat tiba-tiba di layangkan di tubuh rampingnya. Pria itu tertawa puas karena berhasil mengungkung sebuah asset berharga yang belum pernah ia jumpai. Alias langkah.
Wanita dengan tatapan senduh, alis tebal, hidung mancung dengan wajah blasteran arab jarang di temui di tempat hiburan malam yang kerap ia kunjungi .
"Kamu tidak salah orang sayang, mendekatlah padaku. Aku tidak akan melepaskanmu malam ini." Ucapnya penuh penekanan
"Lepaskan saya Pak.. lepaskan..." Berontak Dini sekuat tenaga, tapi percuma. Tenaga yang ia miliki tidak sebanding dengan tenaga pria buncit itu, walau tingkat kesadarannya tidak melebihi 50%.
Tanpa aba-aba, Dini langsung di bopong meninggalkan tempat keramaian itu. Dini meronta tak karuan hingga suaranya nyaris serak. Berulang kali ia menjerit meminta tolong, tidak satu pun yang mendengar dan menghiraukan. Wajar saja di dalam club' itu sangat berisik karena musik yang berdentum cukup keras, di tambah dengan aktivitas lalu lalang masing-masing manusia disana.Sebelum pergi, Dini sudah memberi isyarat kepada Mira yang memantaunya dari jauh sejak tadi untuk membantunya. Tapi ia malah acuh berlenggok memainkan gelas di tangannya. Sembari tersenyum ke arahnya. Dini tidak mengetahui apa maksud wanita itu, yang jelas ia sudah masuk perangkap Mira untuk kedua kalinya.
Brukk..
Tubuh tegap seorang pria menabrak mereka dari belakang. Lantas langkah Pria buncit itu oleng seketika dan terjatuh. Alhasil Dini yang berada dalam gendongan pun ikutan tersungkur hingga meringis kesakitan.
"Kalau jalan pake mata. "Celutuk Bima tanpa rasa bersalah
Pria itu bangkit dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Hei, beraninya kamu anak muda. Jelas-jelas kamu yang salah, kenapa malah jadi nyalahkan saya" ujarnya menggerakkan gigi geram. Suasana menjadi memanas kala Bima hendak pergi begitu saja tak menghiraukan seruan pria yang di tabraknya. Menyisir sudut ruangan tidak menemukan sosok wanita yang ia cari, membuat pria buncit itu semakin terbakar emosi.
"Sudah berani mengganggu kesenanganku berarti cari ma Tii!!!" Gumamnya mengumpat yang masih bisa di tangkap indra Bima
Kerah kemeja Bima di tarik kasar dari arah berlawanan. Sebelum satu pukulan mendarat di pelipisnya, ia menangkisnya terlebih dahulu. Serta melayangkan satu pukulan maut tepat di rahang pria buncit itu.
Arggggh.. teriaknya meringki. Hantaman keras membuatnya kembali tersungkur di atas lantai. Dan Bima segera melenggang pergi.
Di tempat yang berbeda, seorang wanita tengah menikmati kesibukannya dengan berbelanja di salah satu butik ternama di kota itu. Tangannya sudah menjinjing beberapa paper bag, tapi ia belum cukup puas dengan nominal yang di keluarkan dari pembelian barang branded tersebut. Ia harus berpindah cepat ke tempat lain agar limit kartu berkurang setengah dari jumlah kapasitas tagihan setiap harinya. Dalam arti ia harus menghabiskan uang 500 juta per hari, barulah ia merasa cukup.
Uang dengan jumlah segitu, tidak akan membuat keluarga Mahendra bangkrut bukan?? Pasalnya keluarga tersohor dan milyader itu memiliki kelipatan kekayaan yang tidak ada habisnya. Mereka memiliki jaringan bisnis yang tersebar di penjuru negeri. Wajar saja kalau Ayana selalu menuntut uang jajan lebih kepada suaminya untuk memenuhi penampilan glamour yang kerap kali di pamerkan.Tak lama ponselnya berdering. Dengan wajah berbinar, ia pun mengangkatnya.
"Hallo sayang.." sapanya manja
"Kamu dimana ?? Kenapa aku telpon gak diangkat-angkat " ujarnya terdengar tak bertele-tele ada rasa kesal di sana
"Ihh, kok kamu marah-marah sih. Ada apa. Hah"
"Kamu bilang apa sama Bima, kenapa dia jadi setemperamen gitu sama aku."
"Yah, aku bilang aja!! Aku gak akan balik ke rumah beberapa hari ini. Terus apa masalahnya??"
"Bukan..bukan itu. Maksudnya. Pembahasan mengenai aku, Ayana "
"Ou,.Aku bilang aja sama dia. Kalau hubungan kita mau balik kayak dulu lagi. Dia gak boleh mindahin kamu sesuka hatinya gitu" jawabnya enteng
"Kamu sadar gak apa yang uda kamu lakuin!! Itu sama aja kamu ngebongkar rahasia yang selama ini kita tutup rapat-rapat. Kamu tentunya pahamkan???"
Ayana bungkam, ia terlalu gegabah dalam bertindak. Semua dia lakukan hanya demi melindungi kekasihnya.Gak ada maksud lain.
"Sudahlah aku tak ingin berdebat denganmu. Tuutt .." sambungan terputus padahal bibir Ayana bergerak ingin mengutarakan sesuatu. Ayana mendengus kesal. Ia merutuki kebodohannya.
Aku harus kembali ke rumah mewah itu, masalah ini gak boleh di biarkan berlarut-larut, batinnya meyakinkan.
Dengan Deruh nafas yang masih tak beraturan Dini menghentikan langkahnya di depan sebuah mobil mewah yang terparkir di gedung itu. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur karena telah berhasil lolos dari cengraman babi buncit yang menyerangnya begitu ganas.
Di satu sisi, Bima terlihat gusar menyisir outdoor dengan sangat teliti. Ia tengah mencari keberadaan seorang wanita yang dulu pernah membangkitkan hasrat biologisnya.
"Kemana lagi tuh cewek. Cepat sekali larinya. Aku yakin dia masih ada di sekitar sini"
Tanpa Dini sadar, sejak tadi ada sepasang mata yang menangkap gerak-geriknya. Mulai Dini yang duduk diam termenung. Hingga dirinya menghampiri pria buncit itu. Semua terekam jelas di memorinya. Bima memantau layaknya paparazi. Awalnya ia datang ke tempat itu untuk mencari hiburan dan bersenang-senang. Melupakan sejenak keluh kesahnya, dengan menenggak bergelas-gelas minuman yang di pesannya. Nyatanya semua sia-sia. Bukannya melupakannya, malahan ia semakin teringat akan persoalannya yang dihadapinya.
Di tengah kebimbangan itu, pandangannya tertuju pada wanita cantik menjadi sorotan kala dirinya menjejaki kaki di club' itu bersama seorang mu cikari yang Bima kenal. Kalau Bima tak salah namanya Mi..Ra.
Drett.. ponsel Bima bergetar. Kesadarannya kembali seketika. Ia merogoh saku celana kain bagian belakang. Ada notif pesan masuk disana. Ia langsung membuka dan membacanya. Sudut bibirnya terangkat, ia segera menaruhnya kembali.Setelah itu ia bergegas meninggalkan bangunan yang tidak pernah redup di malam hari itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments