Menentukan pilihan

Mobil sport keluaran terbaru mendarat begitu lejit di area parkiran luas sebuah bangunan kokoh bergaya kasual, dengan miniatur modern yang tertata apik di sisi depan. Tampak seorang pria tampan berjas silver yang baru saja keluar dari dalam mobil yang di kendarainya. Ia berjalan melewati beberapa pasang mata yang menatapnya dengan berbagai argumen positif yang masih bisa ia dengar.

"Selamat Pagi Pak Bima..." Sapa pria berseragam dinas keamanan sembari membukakan pintu koridor untuknya.

Bima hanya berdehem saja, melangkah masuk dengan ciri khas yang selalu ia tunjukkan pada khalayak. Sifat arogan dan cuek itulah yang selalu membuat karyawan takut jika harus bertatapan langsung dengannya.

"Selamat Pagi Pak Bima, selamat datang kembali di perusahaan Mahendra Adi Yaksa..." Ucapnya membungkuk hormat

Dia adalah Edward, sekretaris sekaligus kaki tangan yang menghandle seluruh pekerjaan selama Bima tidak ada di perusahaannya. Semua tugas dan tanggung jawab selalu di tanganinya dengan baik.

"Gak usah terlalu formal, serahkan semua dokumen laporan bulan ini. Aku ingin lihat sudah sejauh mana perkembangan perusahaan kita saat aku tidak memegang kendali" tegasnya saat melintas di meja kerja Edward menuju ruangannya. " Dan satu lagi, tolong sampaikan pada seluruh Kasubag untuk menghadiri rapat darurat membahas masalah ini. 20 detik lagi laporan itu harus ada di atas meja saya, waktu berjalan di mulai dari sekarang..." Ucapnya berlalu meninggalkan Edward yang sudah sand by di depan monitor kerja miliknya.

Untung saja ia sudah mempersiapkan laporan itu kemarin, jadi ia tidak perlu kelimpungan mengerjakannya di waktu yang sesingkat itu. Naluri Edward sempat terdetak, bahwa bosnya akan datang secara tiba-tiba ke kantor tanpa mengabarinya. Dan benar saja, dugaannya tak meleset. Ia harus double ekstra bekerja jika Bima berada di kursi ke dudukannya.

Laporan telah usai di cetak, ia harus segera menyerahkannya pada Bima sebelum limit waktu habis. Jika sampai terlewat biasanya Bima akan memberikan potongan income sebesar 10℅, ia tidak akan membiarkan itu terjadi padanya.

Buru-buru ia bangkit berjalan menuju ruangan Bima. Sebelum masuk seperti biasa ia mengetuk pintu terdahulu sebelum masuk ke dalam ruangan kaca transparan milik atasannya. Bima mengijinkannya masuk tapi sebelum mendekat ia harus menggunakan hand stainetaizer untuk mensterilkan dirinya. Itu adalah hal lumrah yang di lakukan karyawan sebelum masuk ke dalam ruangan Bima. Mereka di wajibkan membawa benda cair tersebut sebagai bukti mata di saat menghadap sang CEO. Sungguh berlebihan, sungut Edward.

"Ini laporan yang Bapak minta, silahkan di cek terlebih dahulu Pak mana tau ada yang terlewat"

"Okey.. semuanya aman..."

" Baiklah, kalau begitu saya pamit undur dari hadapan Bapak. Permisi Pak.."

"Siapa yang nyuruh kamu pergi begitu saja. Tetap di tempat kamu sekarang..."

Edward patuh seperti layaknya robot yang di kendalikan. Pandangannya tidak pernah lepas dari orang yang berpengaruh di perusahaan itu. Sampai keningnya berkerut mengisyaratkan adanya kejanggalan dalam lembaran kertas yang di berikan.

"Kok bisa??? Bagaimana mungkin." Ucap Bima ternganga. Laporan pemasukan bulan ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang di keluarkan perusahaan. Dan itu dalam kurun waktu yang singkat selama ia tidak datang memprospek kendali. Di remasnya kuat kertas polos berpoles tinta hitam tersebut, dan membuangnya di tempat sampah yang tak jauh darinya. Matanya melirik tajam ke arah Edward yang tertunduk gemetar. Ia yakin Edward sudah mengetahui sebelum dirinya, makanya ia tak berani menatap.

Bima menghembuskan nafas kasar. Sebelum pergi, ia meminta Sekretaris pribadinya untuk memulai rapat detik itu juga. Untunglah sebelum masuk ke ruangan, ia sudah mengirim pesan ke grup Kabag untuk bersiap menghadiri rapat dadakan.

Terdengar suara pintu di ketuk dari luar ruangan, padahal rapat sudah berlangsung 20 menit sejak Bima mengintruksi bawahannya. Tapi orang itu nekad masuk untuk menghadiri rapat walau sudah datang terlambat. " Maaf Bim, saya gak tau kalau kau akan mengadakan rapat dadakan."

"Keluar!!!" Hardiknya

"Tapi Bim.."ujarnya enggan pergi

"Saya bilang keluar dari ruangan ini sekarang. Atau.. saya akan bertindak keras untuk mengusir kamu."

Tatapan mereka beradu. Sama-sama memperlihatkan guratan emosi di dalamnya Hingga tanpa sadar Kedua tangan Radit mengepal. Seakan siap melayangkan pukulan ke arah Bima yang di hadapannya.

Ia marah karena Bima tidak lagi menghargainya, bahkan dengan terang-terangan mempermalukannya di depan semua orang. Harga dirinya seakan di injak-injak saudara sepupunya. Ia bersumpah akan menghabisi Bima saat ini juga.

"Kamu gak terima!! Mau mukul saya. Silahkan.." ucapnya menantang. Edward yang ikut serta dalam ruangan itu pun mengambil tindakan untuk menyuruh semua karyawan untuk pergi dari tempat itu secepatnya.

"Kamu sadar gak apa yang sudah kamu lakukan itu, hampir membuat perusahaan kita bangkrut. Tau gak??" Timpalnya

"Emang apa yang sudah aku lakukan ??emang kamu punya bukti apa untuk mengkambing hitamkan aku di dalam masalah perusahaan kali ini "

"Oh, kamu masih ngelak yah, lihat ini!! Lihat baik-baik. Apa yang sudah kamu perbuat. " Radit mengambil kertas yang di layangkan di hadapannya dengan kasar.

"Gak ada yang salah dengan kertas ini, sejauh ini masih aman terkendali. Apa yang jadi masalah??"

"Kamu benar-benar membuatku naik darah, dit. " Bima sudah maju satu langkah untuk melayangkan satu pukulan ke wajah pria itu sembari menarik kerah kemeja yang dikenakannya namun tindakannya terhalang karena Edward dengan sigap menghentikannya.

"Sabar Pak,.sabar...jangan ribut di tempat ini. Malu sama karyawan yang lain." Ucapnya mencegah

Bima melonggarkan cengkeramannya, dan mundur selangkah menjauh dari Radit. "Jabatan kamu sebagai Manager strategi saya copot. Kamu saya pindahkan ke bagian cleaning service. Dan untuk menutupi kesalahan yang kamu perbuat. kamu tidak akan menerima gaji sampai kurun waktu yang saya tentukan. " Ujarnya sebelum meninggalkan Radit sendiri di ruangan itu

Argggg... Bima $i Alan... Kenapa tuh anak bisa balik lagi sih ke perusahaan ini. Jelas-jelas kemarin malam dia begitu histeris menangisi kepergian isterinya. Kenapa sekarang jadi berbanding terbalik. Kalau begini ceritanya, usahaku untuk nyingkirin dia dari sini bisa gagal. Umpat Radit sembari menyalurkan emosinya lewat benda yang di sekelilingnya.

"Aku harus segera bertindak, yah!! Benar..." Radit merogoh saku jasnya untuk mengambil gadget dan menghubungi seseorang di sebrang sana.

****

"Kurang mbak?? Bagaimana mungkin uang yang aku kirim gak cukup untuk biaya perobatan bapak. Ya sudah kalau begitu nanti Dini usahakan mengirimkannya lagi. Tapi Dini gak bisa janji di hari ini juga. Iya mbak Dini ngerti. Dini tutup dulu ya telponnya, Assalamu'alaikum..." Dini menarik nafas panjang setelah sambungan telepon usai.

Ia bingung harus berbuat apa. Uang pinjaman baru saja ia kirim, tapi nominalnya kurang untuk biaya perobatan. Hanum tidak bilang berapa jumlah uang yang di mintanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Saat ini saja ia belum memiliki pekerjaan. Ntahlah memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pecah. Ia berjalan lesu memasuki apartment Mira.

"Kamu kenapa?? Kok mukanya di tekuk begitu??"

"Mbak, saya boleh gak minta tolong, sekali lagi"

Alis Mira menaut. "Minta tolong apa?? Katakanlah, aku tidak memiliki waktu banyak, karena ada satu klien yang ingin bertemu denganku"

Dengan ragu Dini mengutarakan maksudnya "Dini boleh gak pinjam duit mbak lagi. Soalnya uang yang tadi kurang untuk biaya perawatan Bapak di rumah sakit. "

"Pinjam uang lagi?? Kamu kira aku mesin ATM Din. Yang setiap waktu bisa memberimu uang secara cuma-cuma. Kalau perlu uang, yah kerja dong!! Gimana sih!!" Ujarnya bersungut

"Iya mbak Dini tau, tapi masalahnya Sampek sekarang Dini belum ada panggilan kerja. Dini bingung harus minta tolong ke siapa selain mbak Mira yang Dini kenal di sini. "

Terbesit ide jahat di otak Mira. "Gimana kalau kamu ikut aku, me lacur lagi. Kayak kemarin. Kan lumayan buat tambah-tambahan biaya pengobatan Bapak kamu. "

"Tapi mbak... Dini Uda berjanji akan mencari duit yang halal setelah malam itu."

"Halah Din.. Din.. orang kamu Uda gak pe Ra Wan aja kok. Ngapain jual mahal. Lagian kan kamu butuh duit saat ini. Hal instan yang mampu mencapainya yah jadi wanita penghibur. Apa lagi coba!!"

Mbak Mira benar, aku tidak ada pilihan lain selain mengambil jalan pintas itu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana Bapak bisa sembuh dari penyakitnya. Pikirnya pendek

"Ya sudah, tungguin Dini mau siap-siap dulu." Ujarnya di sertai anggukan cepat dari Mira

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!