Sudah berulang kali Bima mencoba menghubungi ponsel milik isterinya. Tapi tidak ada jawaban dari sebrang sana. Wajar saja kalau dia merasa kecewa atas sikap Bima yang sudah membohonginya, tapi setidaknya berikan satu kali kesempatan untuknya untuk bisa memperbaiki hubungan bahtera tersebut. Jangan menghindar dan tak memberi kabar seperti ini.
"Dimana kamu sayang, apa kamu begitu marahnya padaku. Sampai-sampai panggilan dariku selalu kau abaikan. Tau tidak?? kalau aku di sini khawatir sama kamu. Tolong angkat teleponnya" ujarnya setelah operator mempersilahkan untuk membuat pesan suara di akhir sambungan.
Jalan pintas itulah yang terpaksa Bima lakukan karena aplikasi hijau milik Ayana sendiri sedang tidak aktif. Ntah disengaja atau bukan yang penting pesan tersebut sudah diterima oleh pemiliknya.
Pintu di ketuk dari luar ruangan, suara lembut wanita terdengar melantun di pendengaran Bima. Ia yakin itu adalah Mamanya, yang sudah mencoba berulang kali untuk membujuknya untuk keluar dari bilik kamar dengan alasan menawarkan sarapan di waktu yang sudah terbilang siang.
Dengan bermalas-malasan Bima melangkah mendekat ke kenop pintu dan membukanya. "Akhirnya anak ganteng Mama keluar juga." Ucapnya tersenyum sumringah sembari menyodorkan nampan berisi makanan lengkap dengan jus buah segar dan segelas air putih.
"Mama Uda siapin makanan kesukaan kamu nih ambil. Jangan lupa di makan yah, sayang. Mama ke dapur dulu" ungkapnya kembali dan berlalu pergi tanpa menghiraukan panggilan Bima yang menolaknya.
Makanan yang tersaji di atas nampan begitu menggugah selera, apalagi dengan aroma ciri ikhas dari bumbu rempah yang di racik dalam makanan tersebut. Beh, restoran bintang lima pun lewat!!! Tapi tidak untuk sekarang, Bima sedang tidak berselera makan mengingat permasalahan yang di alami belum menemukan titik terang. Di letakkan nampan itu di sembarang arah,.kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar untuk menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja nakas.
"Bim,.kamu mau kemana?? " Cegat Bastian yang tidak sengaja melintas berpapasan dengan Bima.
"Mau keluar Pa, ada urusan. " Jawabnya enteng
" Kamu gak ngantor?? " Tanyanya dengan cepat Bima pun menggeleng
"Ayo dong Bim, jangan begini terus. Perusahaan masih membutuhkan kamu loh. Kamu ini CEO perusahaan Mahendra Adi Yaksa apa kamu lupa?? Ada ribuan karyawan nasibnya bergantung sama perusahaan kita. Dan semua itu adalah tanggung jawab kamu, tanggung jawab kita.."
"Tapi Pa.. Bima hanya"
"Iya Papa paham betul kamu masih memiliki masalah pribadi yang belum terselesaikan.Tapi Bim, jangan jadikan itu sebagai alasan kamu. Bersikaplah profesionalisme sedikit saja. KeMana Bima yang dulu yang Papa kenal."
Papa benar.. kenapa sekarang aku menjadi orang yang tidak tentu arah seperti ini. Masalah pribadi seharusnya tidak membuatku terpuruk secara terus-menerus. Aku harus mengesampingkan masalah pribadi diatas kepentingan perusahaan. Batinnya tersadar
"Kamu mau kemana??" Tanya Bastian bingung saat Bima memutar niatnya untuk kembali menuju tangga penghubung kamar miliknya.
"Bima mau siap- siap ke kantor Pa" jawabnya singkat meninggalkan Bastian yang masih diam terpaku di tempatnya.
*****
Seperti biasa setelah sarapan, Dini tidak bisa tinggal diam melihat meja makan yang masih terlihat berantakan. Di punguti satu per satu piring kotor itu dan diangkutnya ke wastafel pencuci piring. Sisa makanan yang di dalam wadah ia simpan kembali ke tudung saji agar nanti bisa di panaskan kembali saat pulang. Untung-untung menghemat biaya pengeluaran selama ia menetap di Apartemen mewah milik Mira. Berulang kali Mira sudah mengatakan kalau Dini tak perlu repot-repot memasak. Ia bisa memesan melalui aplikasi online seperti yang dilakukan pemilik apartemen itu. Semenjak Dini berada di tempat itu menjadi bersih dan terawat. Mira menyadari kalau Dini memang anak yang rajin.
"Loh,Din.. kenapa kamu masih belum siap-siap. Bukannya hari ini kamu ada panggilan di tempat kerja baru?? " Suara parau wanita yang baru saja masuk seketika menghentikan aktivitasnya.
"Iya mbak, sebentar lagi Dini siap-siap." Tak lama Dini berucap, notif pesan masuk terlihat menyala di layar ponselnya yang tergeletak di atas meja dapur. Tanpa ba-bi-bu Dini langsung membukanya. Wajahnya seketika berubah. Dengan penasaran Mira yang sejak tadi mengamati gerak-gerik Dini pun curiga. "Ada apa Din??'
"Panggilan kerja Dini di batalin mbak. Kata pihak outlet mereka, pegawai yang kemarin resign bakal balik lagi. Dan berhubung Dini juga belum ada pengalaman di bidang barista, mereka gak bisa menjamin kalau Dini bakal diterima. " Jelasnya diakhir kalimat menarik nafas panjang
"Dini.. Dini.. kamu kira cari kerjaan di ibu kota segampan yang kamu fikir"
Ponsel Dini kembali menyala, kali ini bukan sebuah pesan singkat. Melainkan panggilan sambungan dari kampung halamannya. Padahal baru kemarin malam Dini memberi kabar kepada Bapaknya kalau dirinya dalam keadaan baik-baik saja di perantauan agar ia tak khawatir. Tapi mengapa sekarang mbak Hanum menelponnya lagi. Dini beradu pandang kepada wanita di hadapannya yang mengedikkan badannya sembari pergi dengan segelas air putih yang dibawahnya.
"H-haloo, assalamu'alaikum mbak.." sapanya di awal sambungan
"Dini.. kamu kenapa lama sekali ngangkat teleponnya. " Ucapnya bergetar tanpa menjawab salam
"Maaf mbak tadi Dini lagi sibuk, ada apa yah, mbak?? " Tanyanya heran
"B-bapakk kamu Din.." Hanum tercekat, ia seperti tak tega memberi kabar buruk itu kepada Dini
"Bapak kenapa mbak. Bapak baik-baik aja kan???"teriak Dini histeris karena khawatir
"Kondisi Bapak kamu semakin memburuk Din, Batuknya semakin parah. Malahan sekarang banyak ngeluarin cairan merah kental di mulut dan hidungnya. Mbak Uda bawa Bapak ke puskesmas seperti biasa. Tapi kata suster, perobatan yang selama ini gak akan mampu mentolenir penyakit Bapak kamu. Ia harus di bawa ke rumah sakit agar mendapat perawatan secara intensif. Mbak gak punya uang Din, untuk bawa Bapak kamu ke sana. Lagian uang yang kamu kirim Dua hari yang lewat Uda habis untuk perobatan" cecar Hanum panjang lebar
"Ya Allah, bagaimana ini?? Dini juga gak punya uang untuk saat ini mbak. Tapi mbak tenang saja Dini akan usahain secepatnya ngirim uang ke kampung. Mbak tolong jagain Bapak sama Ayu di sana. Masalah biaya mbak gak usah khawatir biar itu jadi tanggung jawab Dini"
"Ya sudah, mbak tunggu kabar dari kamu yah secepatnya. Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.." sambungan pun berakhir.
Bagaimana ini, aku gak punya uang untuk ngirim biaya pengobatan Bapak di kampung. Uang kemarin tinggal sisa 50 ribu buat nyambung hidup. Mana mungkin cukup. Atau aku pinjam saja sama mbak Mira, mana tau ia bisa bantu kesulitan yang aku hadapi sekarang.
Dini bergegas menemui Mira. Mencarinya di semua sudut ruangan tapi tidak juga ia temukan. Salah satu tempat yang belum ia cari adalah kamar. Mungkin dia sekarang tengah istirahat karena tidak pulang satu malaman ini. Sesampai di depan ruangan yang menjadi tujuannya, ia langsung mengetuknya dengan gegabah.
"Masuk aja Din.. gak di kunci kok"
Dini nyelonong masuk saat sudah diizinkan. Walaupun awal perbincangan Mira sempat marah karena Dini telah mengganggu jam istirahatnya. Ia bahkan tak peduli akan hal itu, dalam benaknya yang paling terpenting bagaimana ia mendapat pinjaman uang untuk biaya perobatan.
"Apa?? Pinjam uang?? Bukannya dua hari yang lewat saya Uda kasih uang hasil mel 0nte mu. Apa kurang cukup."
"Uang 5 juta yang mbak kasih sudah habis. Hanya tersisa 50 ribu buat nyambung hidup saya di sini. Mana mungkin cukup untuk ngirim biaya rumah sakit. Saya mohon mbak bantu saya kali ini saja, saya janji bakal balikin uang itu secepatnya" ujarnya mengatupkan kedua tangan di depan dada
"Baiklah aku akan meminjamkannya untukmu"
Mira bangkit mendekat ke arah lemari pakaian. Membukanya dan menekan tombol pin brankas yang ada di sana. Setelah di rasa cukup, ia menghampiri Dini kembali untuk memberikan sejumlah kelipatan uang berlembar merah itu padanya. "Aku tidak bisa meminjamkan uang dengan nominal yang banyak, aku hanya punya segini. Itu pun kalau kamu bersedia menerimanya."
"Gak apa mbak. Ini juga lebih dari cukup!! Terima kasih mbak atas bantuannya" Ucapnya dengan sudut bibir yang melengkung
" Kalau begitu saya permisi dulu, mau ngirim uang ini ke kampung. Mbak lanjutin aja istirahatnya. Maaf sudah mengganggu.." ucap Dini sembari melangkah pergi
Dini..Dini bodoh banget sih kamu. Itu uang memang punya kamu. Aku memang sengaja mengkorup uang hasil itu untuk ngebeli barang branded incaranku selama ini. Makasih yah Dini, sayang. Sering-sering aja seperti ini, ungkapnya tersenyum menang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments