Di kamar yang sudah tampak terlihat terang benderang miliknya, Bima sedang di introgasi layaknya sang pencuri yang sudah tertangkap basah melakukan kecurangan. Kecurangan yang dianggap sudah merugikan sebelah pihak, tak lain adalah Ayana sendiri.
"Selama ini kamu sengaja nyembunyiin semua dari aku, iya begitu!! Keterlaluan kamu Bim.." ucapnya kesal membuang pandangannya ke luar jendela.
"Maafin aku sayang... semua ini salahku, andai saja waktu itu aku jujur sama kamu. Pasti kejadiannya tidak akan seperti sekarang. Aku terlalu pengecut, tapi semua ini aku lakukan karena aku gak mau kehilangan kamu. Aku takut kalau kamu pergi ninggalin aku sendiri.. please kamu maafin aku yah"
Bima merengkuh tubuh ramping isterinya dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk lehernya. Berharap mendapat pengampun dari Ayana atas semua kebohongan yang di perbuatnya selama ini. "Aku perlu waktu Bim, beri aku ruang sedikit saja untuk berfikir. Boleh kan??'" Ucapan Ayana sontak membuat pelukannya melonggar, ia paham pembahasan ini akan berujung pada keretakan rumah tangga mereka. Ia tidak mau hal itu terjadi, sebaiknya ia harus cepat bertindak.
"Gak sayang, jangan hukum aku seperti itu. Aku gak sanggup harus berpisah dari kamu!!" Pintah Bima memohon
Pandangan mereka bertemu. Bima meraih jemari lentik milik wanitanya, di kecupnya lama. Seakan tak rela bila Ayana meninggalkannya. "Siapa bilang, aku mau ninggalin kamu. Aku hanya butuh waktu Bim, mengertilah" cabiknya sembari menarik cepat pergelangan tangan yang di genggam Bima. Kemudian tanpa basa-basi ia pun beranjak pergi meninggalkan Bima yang masih diam terpaku menatap kosong punggung Ayana yang hilang di balik pintu.
Arghhh...Bima membanting perabotan yang ada di atas meja nakas semua habis ludes di hancurkannya hampir sudah tak memiliki bentuk. Rahangnya mengeras, sorot matanya begitu tajam tak ayal seperti orang yang sedang kerasukan makhluk halus. Hingga pandangannya tertuju pada objek yang membuat amarahnya semakin memuncak. Yaitu ranjang yang masih bertabur kelopak bunga mawar segar, bahkan harumnya saja masih menusuk indra Bima. Tempat terkutuk yang menjadi dasar permasalahan yang terjadi hari ini. Di tariknya kasar pembungkus springbed itu, di buangnya sembarang arah hingga sisa kelopak yang ada berhamburan menerpa wajahnya seperti hujan. Hujan mawar tepatnya.
"Lihat dirimu sekarang Bim, betapa menyedihkannya dia. Takdir seakan mempermainkan hidupmu. Apa kau yakin Ayana akan menerimamu, setelah ia tau kekurangan dalam dirimu saat ini. Apa masih pantaskah kau disebut pria sejati. Sepertinya tidak!! Lebih tepatnya kau disebut pecundang.. yah!! Pecundang."
Prang .. satu pukulan keras mendarat di cermin. Ia mendapati dirinya berada di dalam cermin dalam versi Bima lain. Bima yang menghujatnya dengan kata-kata cemoohan, dengan tega tertawa lepas di atas penderitaan yang sedang di alami. Cairan merah kental menetes deras menodai lantai marmar yang semula putih bersih menjadi bercak merah dimana-mana.
Mendengar keributan di dalam kamar miliknya, semua anggota keluarga datang berduyun. "Astagfirullah, Bima!!! Ada apa ini?? Kenapa berantakan begini..." seru Vivi kaget saat membuka pintu kamar anak semata wayangnya yang sudah nyaris seperti terkena serangan Bom Hiroshima beberapa abad lalu yang diperkirakan dirinya belum lahir.
Vivi berlari menghampiri anaknya yang sudah terduduk lesu menghadap jendela luar dengan pikiran yang berkecambuk.
Apa yang terjadi nak, kenapa kamu jadi begini. Dan lihat ini.. tangan kamu terluka. .. Sini biar Mama obatin.." ucapnya seraya memberi isyarat kepada iparnya untuk mengambilkan kotak P3K di dalam laci yang tak jauh dari jangkauannya.
"Bima..Bima ada-ada saja kelakuannya" Ucap Radit sambil berlalu pergi, ia malas melihat drama percintaan Bima yang tidak ada habisnya.
"Ini pasti karena ulah wanita itu!! Mama kan sudah bilang sama kamu..."
"Ma..mama.." ujar Bastian memberi kode supaya Vivi tidak melanjutkan lagi perkataannya, Bagaimana pun juga emosi Bima belum sepenuhnya reda. Selain itu ia tidak mau mencampuri urusan pribadi anaknya, menyangkut rumah tangga adalah perkara sensitif yang tidak bisa diumbar termasuk pada keluarganya sendiri. Terkecuali pihak bersangkutan yang membuka suara.
"Uda selesai kan Ma, Tolong biarkan Bima sendiri. Bima mau istirahat!!"pintahnya saat Vivi telah usai memakaikan perban di pergelangan tangannya
"Tapi Bim.." dengan cepat Bima mengatupkan kedua tangannya memohon kepada semua orang yang masih stay di dalam kamarnya untuk keluar .
"Ayo, Ma.. biarkan Bima istirahat."Ajak Baskoro menuntun isterinya. Dengan berat langkah Vivi dan yang lain pun meninggalkan Bima seorang diri.
Sementara Bima bersedih merenungi nasibnya, justru berbanding terbalik dengan Ayana. Duduk santai menikmati alunan musik jazz di sebuah cafe. Di hadapannya sudah di suguhkan segelas lemonade kesukaannya. Pandangannya menyisir seluruh sudut ruangan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Hingga beberapa saat orang yang di cari menampakkan dirinya dari balik pintu masuk cafe yang tak jauh dari tempat ia berada.
"Kamu dari mana aja si sayang...aku kangen banget sama kamu. " Ucapnya sembari berhambur kedalam pelukan pria yang sejak tadi di nanti kehadirannya.
"Ya ampun sayang.. Ngapain sih kamu ngajak aku ketemuan di tempat ini. Nanti kalau ada orang yang kenal terus ngeliat kita gimana?? Bisa habis aku sama Bima.Lagian kita tadi baru aja ketemuan. Masak iya kamu Uda kangen lagi. " Ucapnya berdecak kesal
"Oh, jadi kamu gak kangen nih, ceritanya sama aku. Ya Uda aku pergi aja, beres kan??" Ayana bangkit berdiri. Tapi dengan cepat pria itu mencekal pergerakannya "Eitss, kamu mau kemana?? Aku belum siap ngomong. Uda main pergi aja"
"Habisnya kamu sih, gak asyik. Masak iya wanita secantik aku begini harus kesepian malam ini"
"Lah, bukannya nanti kamu balik ke rumah Bima. Kenapa harus kesepian kan ada dia disana yang temenin kamu"
"Gue lagi ngambek sama dia!! Mana mungkin gue balik malam ini ke rumah. "
"Iya aku tau. Tapi masalah kalian apa separah itu??'
"Bima impoten.." ucap Ayana to the point
"What??? Kamu serius.?? Gak lagi becanda kan??" Tanyanya memastikan
Ayana mengangguk "Bagus dong, dengan begitu keluarga Mahendra tidak akan mendapatkan keturunan. Dan peluang kamu untuk menguasai perusahaan itu juga semakin besar. Ya gak??"
"Kamu bener sayang, sekarang titik lemah Bima sudah ada di tangan kita. Dan tugas kamu hanya mengendalikannya saja. Gak lama lagi perusahaan Mahendra akan jatuh ke tanganku."
"Aku juga Uda capek ngejalanin nikah pura-pura sama dia. Aku kan cintanya sama kamu..bukan Bima. Kapan yah kita bisa publish hubungan ini. Capek backstreet Mulu!!"
Pria itu bangkit dari tempat duduknya menghampiri Ayana yang terlihat masam membuang pandangannya. "Gimana kalau sekarang aku ajak kamu ke suatu tempat. Aku jamin kamu bakal suka. Disana kita akan menghabiskan malam berdua. Tidak ada orang yang akan mengusik kita. Termasuk Bima." Bisiknya tepat di telinga Ayana
"Kamu yakin?? Ntar Bima bisa curiga, kalau.." pria itu dengan sengaja menempelkan jari telunjuknya di depan bibir wanita di hadapannya.
"Aku Uda atur semuanya. Kamu tidak usah khawatir." Ungkapnya menenangkan membuat bibir Ayana melengkung. Mereka berdua pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Dengan berjalan bergandengan tangan sembari bercanda ria. Hingga tak sadar ada seseorang wanita yang jalan melintas ke arahnya. Dan terjadilah insiden tabrakan yang tak bisa di elakkan.
"Kalau jalan pake mata mbak, jangan main nabrak aja" celetuk Ayana geram karena tas jinjing kesayangannya terjatuh di lantai.
"Maaf mbak, saya gak sengaja. Sekali lagi saya minta Maaf.." ucapnya tertunduk sembari mengambil barang itu dan memberikannya pada Ayana
Ia langsung merampasnya kasar dari tangan wanita itu. "Gak usah pegang-pegang. Ini tas mahal. Kamu gak akan sanggup untuk membelinya. "
"Uda sayang, Ayo kita pergi!! Buang-buang waktu.. "kata pria di sampingnya menimpali. Mereka berdua pergi meninggalkan Wanita yang di tabraknya tadi tanpa rasa bersalah. Jelas-jelas merekalah yang salah. Tapi wanita tersebut rela menjatuhkan harga dirinya untuk meminta maaf untuk menghindari keributan. Dini hanya menarik nafas panjang dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments