Liburan yang gagal

"Ini bayaran buat kamu!!! Ambil semua sisanya, dan satu lagi.. Sudah saya potong pajak!! Jadi kamu tidak perlu berterima kasih ke saya"ucapnya sambil menyesap aroma nikotin yang sumbunya baru di nyalakan

Sebuah amplop coklat muda di banting keras di atas meja tamu di ruang tengah. Itulah yang di lakukan wanita itu dihadapan Dini. "Kenapa masih bengong, ambillah!! Uang itu cukup ngebiayain perobatan jalan ayahmu. Klien juga ngasih kamu bonus, Lumayan untuk ngebeli alat makeup sama baju baru untukmu. Karena kulihat baju yang ku pinjam terlalu kebesaran jika kau kenakan"

Mira memperhatikan gelagat Dini

"A-anu mbak.. Ssaayaaa.. "ujarnya terbata, lidahnya seakan keluh

"Iya saya tau kebutuhan kamu terbilang banyak, dan uang tersebut akan segera berhambur ke lubangnya masing-masing. Tapi tenang Din, mbak punya kastil baru untuk kamu malam ini. Mbak yakin dia gak kalah tajir dari klien kita semalam. Kamu itu cukup dandan yang cantik sisanya mbak yang ngatur"

Mira kembali menyesap sepuntung r*k*k yang terselip di jarinya. Ada ketenangan sendiri yang merasuk diri Mira saat menikmatinya benda tersebut. Kepulan asap mengudara memenuhi seisi ruang yang tidak begitu luas. Bahkan benda ukuran beberpa inchi itul mampu menyesakkan pernapasan. Termasuk Dini yang duduk berhadapan dengan sang pembuat asap. Hingga membuatnya sesekali terbatuk.

"Maksud saya, bukan itu. Mbak sebenarnya saya mau bilang ukhuk.. Saya mau berhenti dari kerjaan ini. " ujarnya sembari memecah sekumpulan asap dengan tangannya yang mengudara

"Kamu yakin din?? Ntar nyesel gak punya duit. Cari kerjaan di Ibu kota ini gak gampang. Apalagi butuhya 1x24 jam. Apa coba yang mau di kerjain kalau bukan m€ la¢ur. Tapi semua keputusan ada di kamu. Mbak gak bisa maksain kehendak. Hanya bisa ngarahin aja!! "

"Ia mbak.. Terima kasih atas semuanya. Tempat tinggal, yang nyaman, makanan, pakaian. Semua pemberian Mbak Mira. Saya ucapkan terima kasih. "

"Terus.. Apa planing kamu selanjutnya. Masih mau menetap di kota ini atau mau balik ke kampung"

"Saya mau fokus cari kerjaan aja mbak, yang halal untuk ngebiayaain perobatan jalan Bapak sama biaya sekolah Hani. Kasian mereka kalau di kasi uang yang tidak halal terus"

"Heh.. Dini.. Dini...kok bisa yah ada orang senaif kamu. " umpatnya kesal

"Apa mbak?? Sepertinya mbak mengatakan sesuatu!! "

"Gak ada.. Mbak gak ngomong apa-apa!! hanya ingin minta tolong ke kamu untuk ngambilin minum di belakang. Boleh yah. Boleh dong!!"

"Oh, mbak haus?!! Sebentar yah Dini ambilkan minum.. " ucapnya langsung beranjak ke dapur. Sementara Mira masih dengan aktivitasnya sembari memainkan gadget kesayangannya.

"Heh, gue harus nyiapin target untuk nanti malam. Iya kali gue nganggur. Ini dia nih, si Duren Sawit (Duda Keren Banyak Duit) . Gue yakin banget!! Dia butuh service extra. Uda seminggu dia gak dateng, kangen juga gue"

Tangan jail Mira segera menyalakan panggilan ke kontak nomor tersebut. Tersambung. Tapi belum di angkat. Mira sabar menunggu hingga menit panggilan berakhir. Nihil, tidak ada jawaban. Ia pantang menyerah, malahan dengan sengaja melakukan panggilan untuk kedua kalinya. Dan, berhasil. Sambungan telepon terhubung tapi bukan mas Anto yang mengangkat melainkan seorang wanita.

"Hallo, dengan siapa disana?? " sapanya di sebrang sana

"Ehmm, saya Mira bu sales agen Asuransi. Ingin menawarkan jasa produk perusahaan kami kepada Bapak Anto. Apakah benar ini dengan nomor ponsel Bapak Anto???" ucapnya berbohong

"Oh, iya benar. Saya isterinya. Mas Anto sedang di kamar kecil jadi tidak membawa ponselnya. Apakah ada pesan yang perlu saya sampaikan?? "

"Iya bu, bilang saja pihak asuransi langganannya tadi menghubunginya!! :

''Ya sudah kalau begitu, nanti saya sampekkan kepada beliau"

Tutt.. Panggilan sambungan di putus sepihak.

"Siapa Ma?? " suara berat dari sebrang sana menghentikan aktivitasnya

"Ehmm, ini Pa,. Agen Asuransi langganan Papa nawarin produk baru mereka. Kalau gak salah namanya tadi itu Mi-Mi.. mMirra.. Iya Mira"

"Mira?? Tumben dia nelpon??"racaunya nyaris tak jelas

"Kenapa Pa?? "senggak wanita itu

"Bukan apa-apa Ma, Abaikan saja, Lagian gak penting-penting Amat!!! Ya sudah Papa mau pergi ntar telat lagi" pamitnya berlalu meninggalkan wanita itu

"Mbak Mira habis teleponan sama siapa?? " tanya nya penasaran, Bukan karna terlalu mencampuri urusan orang lain tapi wajah Mira begitu bersih tegang, sehabis menerima telepon. Lantas ia menaruh curiga. Nampan yang di bawanya dari dapur ia letakkan di atas meja. Disuguhkannya tepak di hadapan wanita yang memesannya. Langsung saja Mira mengambilnya dan di teguk hingga tandas "Bukan siapa-siapa.." jawabnya bersamaan meletakkan kasar gelas kosong yang di pegangnya.

****

Ayana mengerucutkan bibir tipisnya, sudah hampir setengah jam ia hanya memperhatikan Bima mengobrak-abrik isi tasnya tapi tidak menemukan sesuatu yang ia cari. Apa liburan kali ini bisa berjalan dengan baik tanpa ada tiket. Nyatanya tidak!! Dan sekarang dia malah berakhir di mobil dengan kesibukannya sendiri tanpa memperdulikan Ayana yang sudah mulai bosan menemaninya.

"Belum ketemu juga?? Uda lah batalin aja. Aku juga uda gak mood lagi buat pergi"

"Bersabarlah sebentar lagi, sayang. Aku yakin sekali, tiket itu sudah aku selipkan di tas ini. Tidak mungkin aku lupa meletakkannya"

Bima kukuh dengan pendiriannya. Tanpa patah semangat, dirinya terus mencari. Sementara Ayana sudah tidak sabar lagi untuk menunggu sesuatu yang tidak berujung kejelasan seperti sekarang. Dalam diam Ayana melangkahkan kaki keluar dari dalam mobil. Hanya tersisa waktu 15 menit keberangkatan, ia yakin bisa menemukannya sebelum itu.

Akhirnya Bima menemukan titik terang, dua buah tiket terselip di kursi kemudi. Bahkan sekarang seluruh isi koper sudah berserakan karena ulahnya. Tapi ia puas, Senyum senang tergambar di wajahnya. Tidak ada yang lebih menggembirakan dari pada menemukan tiket yang akan mengantarkan masa depan cerahnya.

"Sayang.. Aku sudah menemukannya"teriaknya girang nyaris tak ada jawaban

"Sayang.. Sayang.. "panggilnya menyusuri sekitaran tempat Ayana berada.

Ting.. Satu notifikasi pesan masuk ke handphonenya. Pesan itu dari Ayana. "Akhhh.. S! AL bisa-bisanya rencanaku gagal lagi" umpatnya frustasi

Ayana memutuskan untuk kembali ke rumah. Karena ia fikir suaminya tidak akan mampu menemukan tiket yang hilang itu. Ia juga berpesan kepada Bima untuk kembali secepat mungkin. Tanpa pikir panjang mobil segera melejit pergi meninggalkan bandara untuk kedua kalinya. Ia ingin segera bertemu dengan wanitanya untuk meminta maaf karena kecerobohan yang telah di perbuat. Mobil menyalip mendahului pengendara dengan begitu cepat sehingga hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit,ia sudah sampai di rumah.

"Bim, balik lagi?? Ada yang ketinggalan?? " tanya Diah menghentikan aktivitasnya menyiram tanaman karena heran melihat tingkah laku keponakannya yang kembali lagi ke rumah

"Ayana mana tante?? "tanyanya grasak-grusuk

"Ayana??bukannya dia tadi pergi sama kamu!! "

Bima langsung nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa menjawab pertanyaan Diah. "Dasar anak gak tau sopan santun, di tanya malah diem aja. Ayana benar-benar membuat pengaruh buruk di hidup Bima" rutuknya

"Sayang.. Angkat dong teleponnya!! Kamu dimana??? " ucapnya dengan nada khawatir

Sudah berjam-jam Bima mencoba menghubungi Ayana tapi ponselnya tidak aktif. Apa dia kecewa dengan Bima makanya ia sengaja menghindarinya. Tidak mungkin, karena isi pesan yang diterimanya tadi biasa saja.

Ia mendaratkan bokongnya di bibir ranjang sambil mandangi layar ponsel yang menyala dengan panggilan yang terus di cobanya. Sudah bersusah payah dan sedikit tergesa-gesa Bima menyiapkan kejutan di dalam bilik kamar menyambut Ayana. Tapi orang yang ditunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya.

"Dari mana saja kamu?? "

"Tadi Ayana ada kerjaan dadakan di luar, Ma. Makanya terlambat pulang.. "elaknya memberi pembenaran

"Nah, itu pasti Ayana!!! "racaunya bangkit melangkah ke luar menyambut kedatangan isterinya.

Baik Vivi maupun Ayana sedang bersih tegang. Tanpa menyadari kehadiran Bima di antara mereka.

"Sayang. .. Kamu uda pulang!! Ayo kita masuk aku sudah menunggu kamu dari tadi. Kenapa sayang.. Mama.. " ucapnya memecah keheningan

"Ehmmm, gak apa sayang. Mama cuma tanya aku dari mana kok baru pulang"

"I-iya Bima. Kenapa sih kamu curiga mulu sama Mama. "

"Ya uda yuk,!! kita ke kamar pasti kamu capek kan, sayang" ucap Bima mengajak isterinya meninggalkan Vivi yang masih menatap kosong kepergian mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!