Berbohong

Seorang wanita cantik dengan balutan mini dress serta tas jinjing di gapit pada lengan kirinya tampak terlihat gusar. Berjalan mondar-mandir pada bording lounge bandara sembari menempelkan gadget di salah satu pendengaran dengan sambungan panggilan bahkan tak kunjung mendapat jawaban di sebrang sana.

"Kebiasaan nih orang!! Selalu aja begitu. Uda berulang kali di telpon tapi gak diangakat-angkat juga, ckkcjk" racaunya tak karuan sambil menendang tong sampah yang ada di dekatnya hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

Tidak sedikit sepasang mata yang lewat memandangnya, seakan tak ia hiraukan. Mereka hanya bagian dari sekumpulan nitizen yang julid akan pesona ayu nyonya Mahendra, Itulah yang ada dalam benak Ayana selalu, menganggap dirinya melebihi dari siapapun.

Tiba-tiba tangan dingin seseorang menutup kedua matanya dari belakang. Ayana terpekik kaget dengan tindakan orang yang bahkan tidak bisa di lihatnya sekarang. "Siapa sih, iseng banget!!! Singkirin tangan kamu sekarang, atau saya akan teriakin kamu karena sudah kurang ajar ke saya. .. Satu.. Dua.. Too.. Mnhhnh" Sebelum Ayana berteriak meminta tolong mulutnya beralih di sumpal.

"Kenapa mesti teriak gitu sih, sayang!!! " Suara itu!!! sepertinya ia mengenalnya. Ia menoleh perlahan ke sumber suara. Benar saja orang itu tak lain adalah Bima. Bima suaminya. Berani sekali dia melakukan ini pada isterinya sendiri. Apa dia sengaja mempermainkannya. Ayana memasang muka tak suka, ia harus berakting ngambek sebagus mungkin siapa tau Bima memberinya sesuatu yang di inginkannya. "Kamu??? Ngapain kamu disini???" ucapnya ketus memalingkan muka sembarang arah.

Bima menautkan kedua alisnya, bimbang, Dalam makna lain, sebenarnya ia ingin mengutarakan isi hatinya yang girang karena usahanya selama ini tidak berakhir sia-sia. Tapi apa nyalinya sebesar itu?? "Maaf... " ucapnya sedetik berlalu

"Segampang itu kamu bilang maaf. Kamu tau tidak, uda setengah jam lebih aku nungguin kamu di sini!! Aku fikir kamu gak jadi dateng jemput aku. Di telphone juga gak diangkat. Apa sih maunya!!! Oh, jangan-jangan kamu uda ada yang lain di Luar sana. Begitu"

"Kamu ngomong apa sih. Aku cuma punya kamu. Gak ada yang lain!! Please deh, gak usah memperkeruh keadaan. Lihat ke sini, Aku punya sesuatu buat kamu"

Bima merogoh saku jasnya yang tidak begitu dalam. Mencari benda yang sengaja di simpannya di sana. Dan mengeluarkannya tepat di hadapan Ayana.

Dua kertas kecil berbentuk persegi, apa ini sebuah lelucon?? Kenapa hadiah ambekan kali ini tidak sesuai dengan ekspetasi Ayana. Emas, berlian, kunci mobil keluaran terbaru atau apa kek sejenisnya. Yang bisa di pamerkan ke followersnya. Ia menarik kasar pemberian Bima dari tangannya.

"Bagaimana?? Kamu suka kan dengan hadiah kali ini" ujarnya dengan senyum merekah

Suka apanya?? Cuma tiket doang. Apa yang istimewa coba.

Ayana terpaksa mengembankan senyum termanisnya di hadapan Bima. Mengangguk setuju membenarkan perkataan suaminya. Namun kenyataaannya bertolak belakang. Semata ia lakukan untuk menghargai usaha Bima agar drama rumah tangganya berjalan sebagai mana mestinya.

"Syukurlah kalau kamu suka, aku sudah jauh-jauh hari memesan tiket itu buat kita berdua. Sudah sebulan pernikahan kita belum sempat meluangkan waktu bersama. Kali ini aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamu gak keberatan kan dengan keputusan yang aku buat??"

Ia memandang lekat manik biru di hadapannya penuh harap. Menunggu jawaban. Untuk apa yang sudah ia utarakan.

"Why not?? Sudah lama juga gak pergi liburan" ucapnya singkat

"Beneran?? " tanyanya untuk memastikan dan Ayana mengangguk. Membuat Bima girang, ia langsung menggendong tubuh Ayana ala bridle style melewati pasang mata yang kini memperhatikan keromantisan mereka berdua meninggalkan area bandara.

Dering ponsel jadul milik Dini menggema, satu panggilan masuk terpampang jelas di layar. Membuyarkan lamunan panjang Dini yang sejak tadi masih betah berada di dalam toilet. Sekilas melirik ke sumber suara sembari menyeka air matanya kasar, membenarkan posisi berdirinya. Lalu segera menekan tombol berbentuk telepon berwarna hijau di layar ponsel miliknya.

"A-assalamualaikum mbak Hanum. " sapanya memulai percakapan

Mbak Hanum adalah tetangga Dini yang berada di kampung. Sebelum pergi ke Jakarta, ia menitipkan Bapak dan adik perempuannya kepada Hanum dan keluarganya. Untuk sekedar bertukar kabar mengenai perkembangan kesehatan Bapaknya yang sedang berbaring lemah di rumah sakit.

"Waalaikumsalam ndok, ini Bapak" jawabnya di sebrang sana

"B-bapakk?? " ucapnya dengan nada bergetar

"Iya ndok ini Bapak. Kenapa sudah sampek Jakarta, kamu gak ngubungi Bapak. Eneng opo ndok"

Bapak sepertinya khawatir dengan keadaanku, apa yang harus ku katakan?? Tidak mungkin aku berkata jujur padanya. Kalau aku sudah terjun ke dunia kelam, menjadi wanita p€ nghibur. Maafkan Dini yah Pak.. Dini gak punya pilihan lain. Air mata kbali membanjiri pipinya. Ia menangis tertahan.

"Ehmm, annu Pak, Dini sibuk. Iya benar!! Dini sibuk kerja" kilahnya berbohong

"Kerja?? Wah, apik tenan ke ndok, wes intok kerjo!! " ada rasa senang di balik perkataan Bapak walaupun Dini tidak berbicara bertatapan muka dengannya

"Iya pak, Alhamdulillah... "ucapnya menimpali menggigit lidahnya memberi pelajaran karena telah berbohong

"Mira ndi?? Bapak mau bilang terima kasih sudah mencarikan anak Bapak kerja dan membantunya di sana"

"Ehmmm, mbak Mira lagi sibuk Pak. Beda block sama Dini tapi masih berada satu kompleks kok.. Agak sedikit berjauhan tempat kerjanya jadi sekarang jarang ngobrol. Sekali pun ketemu, palingan di tempat tukang sayur keliling.."

Semakin lama Dini mengobrol dengan orangtuanya, semakin banyak pula kebohongan yang tercetus dari bibir lancipnya. Ia tidak bisa terus-menerus menjabani sambungan telepon tersebut. Tapi bagaimana cara ia menyudahinya???

"Yo wes kalau gitu, sampekkan aja salam Bapak sama dia ya"

"Ya pak nanti Dini sampekin ke orangnya. Bapak di sana gak usah banyak pikiran, Nanti kondisi Bapak makin parah lagi. Ya sudah Dini tutup yah telponnya, Assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam" jawabnya di akhir panggilan.

***

"Bim, bukannya kamu dan Ayana baru pulang dari bandara?? Kenapa sekarang mau pergi lagi. Itu apaan... Bawa koper besar segala" cibirnya menghentikan langkah Bima yang diikuti Ayana di sampingnya

Diah sengaja menaikkan volume nada suaranya sedikit agak keras, agar Vivi-sang adik ipar keluar dari singgasananya. Dugaannya benar!! Pintu kamar Vivi berdecit terbuka menampakkan sosok wanita yang dinantikannya.

"Ada apa mbak"tanyanya melangkah menghampiri keberadaan mereka

"Ini Vi, si Bima mau pergi lagi. Padahal isterinya baru pulang. Apa gak capek"

"Pergi??? Kamu mau pergi kemana nak. Rumah kamu di sini. Kamu mau kemana sebenarnya?? "

"Hanya liburan beberapa hari, Ma. Gak lama kok!! "

"Liburan?? Kemana?? "

"Bali, Ma" jawab Ayana

"Kenapa mendadak sekali... Apa gak bisa diundur beberapa hari. Mama tau pasti Ayana capek baru pulang dari luar kota. Yakan?? "

Ayanan hanya tersenyum "Gak kok Ayana gak capek. Ya kan sayang.. Ya sudah Ma.. Bima pamit.. Takut ketinggalan pesawat"Baik Bima maupun Ayana bergantian menyalami kedua wanita itu. Setelah usai mereka pun melangkah pergi.

Diah mendekati Vivi yang masih menatap nanar kepergian anaknya. Ia sebenarnya tidak rela jika Bima berduan bersama Ayana. Semenjak Bima menikah, tidak ada ruang kosong bagi Vivi untuk sekedar berbincang dengannya, semua sudah diisi dengan kehadiran Ayana di kehidupannya.

" Kamu lihat sendiri. Kan?? Ayana itu seenaknya saja keluar masuk kayak begitu Emang rumah ini di kata hotel apa?? Kamu sih Vi, gak bertindak. Bisa-bisa ngelunjak tuh anak kalau begini terus"

"Jadi aku harus bagimana mbak?? Buat mereka bercerai gitu?? Gak kan?? "

"Ya kamu cari akal kek, ntah apa gitu!!! Jangan diem aja"

Vivi menarik nafas panjang "Aku ke kamar dulu mbak mau istirahat" ujarnya sebelum melangkah pergi

"Di bilangin malah kabur, ntar nyesel baru tau rasa!!! " ucapnya ngedumel sendiri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!