Haruskah???

"Hey kau, lihat aku sekarang. Kamu sengaja kan mempengaruhi otak Axel biar dapetin tips berkali-kali lipat. Ayo ngaku!!! "bentaknya sembari mencengram dagu Dini dengan sangat keras

Sebenarnya Dini juga menyadari datangnya pria itu di sisinya walau dengan mata terpejam yang membuat ranjang bergerak naik turun karena kehadirannya. Mencoba membuka matanya perlahan, sembari menahan rasa sakit begitu menusuk lapisan kulit yang mendasar. Ia tidak tau apa kesalahan yang sudah di perbuat. Perlakuan kasar itu tiba-tiba terjadi, ntah setan apa yang tengah merasukinya sekarang.

"ehmmmbgfhGagsjksvvsjbzbb" racau Dini tak jelas sembari memberontak dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat

Seakan mengerti maksud wanita itu, Bima menarik lakban penutup yang membatasi jaringan pita suara untuk keluar. "Ehmmm, Arghh... Sakit. Tolong mas lepaskan saya... Harapan saya ada pada mas.. . Tolong bantu saya keluar dari sini saya mohon" ucapnya dengan tampang memelas belas kasihan

Bima tersenyum kecut, memalingkan pandangannya sebentar. Lalu kembali lagi. " Jangan berpura-pura polos, aku tau apa yang kau butuhkan. Lakukan tugasmu sekarang, aku akan membayarnya 2x lipat lebih dari Axel membayarmu. Itukan yang kamu mau!!! "

Apa maksud pria ini, bicaranya semakin ngacau saja. Seperti pria yang mengikatku tadi malam yang sedang mabuk. Tapi bau alkohol tidak tercium di sekitar tubuhnya. Mungkin saja indraku sedang terganggu. Yah, mungkin saja!!!ucapnya ngebatin dengan gerakan mengendus Bima layak seekor hewan peliharaaan.

Dini mencium aroma maskulin dari tubuh pria itu, tidak menemukan bau yang ia cari. Ia salah, pria yang di hadapannya sekarang dalam keadaan sadar. "Hey, kenapa diam saja, cepat lakukan!! Aku tidak punya banyak waktu!!" pintahnya kembali

Tanpa aba-aba Bima menurunkan resleting celananya, hingga terpampang jelas tonjolan dari balik kain pembungkus junior miliknya.

"Ah, apa yang kamu lakukan?? " ucap Dini sembari memejamkan matanya karena malu. Ia belum pernah melihat benda itu seumur hidupnya, ini merupakan pengalaman pertamanya. Karena predikat single masih menyandang status di KTP nya. Dini juga masih perawan belum pernah di sentuh lelaki manapun. Termasuk Axel. Hanya sentuhan kecil nan menggelitik dari Axel yang pernah ia rasakan selebihnya belum pernah ia rasakan.

***Kejadian semalam

"Mas.. Tolong jangan sentuh saya, Tolong lepaskan saya"ucap Dini kesekian kali memohon

Namun pria itu seakan tidak perduli dengan rengekan yang keluar dari mulutnya. Ia menatap Dini seperti hewan buas yang siap menerkam mangsa hidup-hidup. Ia sudah tidak sabar menunggu lama lagi. Sekarang posisi Axel sudah menindih Dini yang sudah berada di bawahnya. Membuat wanita itu merinding ketakutan, ia belum berpengalaman dalam memuaskan pria di ranjang. Karena pekerjaan sebagai p€ la ¢ur itu baru saja di sandangnya beberapa jam lalu.

Pria itu dengan gencar mengelus wajah cantik Dini yang terlihat mempesona jika di perhatikan dari jarak dekat. Bahkan sekarang ia tidak bisa Mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wanita itu. Alih-alih ide jahat terbesit di benak fikirannya, Ia menggapai lampu LED yang berada di atas meja nakas. Menayunkannya ke udara. Dan..

"Akhhhhh... "jerit Axel kesakitan. Darah mengucur deras di keningnya. Dini berhasil menyingkirkan tubuh Axel dari hadapannya. Ia langsung bergegas berjalan menuju arah pintu keluar. Namun sayang langkahnya tidak secepat Axel, ia menarik paksa pergelangan tangan Dini. Mengikatnya dan menyumpal mulutnya dengan lakban coklat yang berhasil ia dapati keberadaannya di dalam laci kecil yang berada tak jauh darinya. Hingga terakhir membanting tubuh Dini ke bibir ranjang hingga membuat wanita itu pingsan tak sadarkan diri

" Kenapa kamu masih bengong, ayo lakukan!!! "sentak Bima membuat ia tersadar dari lamunan panjangnya

Bima kesal dengan sahabatnya, ia seperti sedang di permainkan. Bagaimana mungkin seorang budak p€ la ¢ur mampu menyembuhkan penyakit impoten yang di deritanya. Hal yang tidak masuk akal yang belum pernah di cobanya sebulan ini. Semua berkat ide gila Axel yang tercantum di dalam pesan singkat yang baru saja di terimanya. Ia sengaja merencanakan semua ini demi menjebak Bima datang ke apartemen untuk melakukan pijat rileksasi juniornya agar dapat hidup kembali. Kalau memang hal tersebut dapat membuatnya menjadi pria normal, kenapa tidak???.

"Apa anda tidak malu, memperlihatkan asset berhargamu kepada wanita lain, cepat naikkan realeting celanamu. Aku bahkan tidak ingin melihatnya" ucapnya masih dengan mata yang terpejam

Mulut wanita itu menyulut emosi Bima, Ia sudah dengan lancang merendahkan kehormatan Bima sebagai kaum lelaki.

"Kau bilang tidak ingin, bukan ??? Baiklah kalau begitu aku akan memaksamu melakukannya dengan caraku sendiri" Tangan Bima meraih tengkuk wanita yang ada di hadapannya, mendorong mulutnya agar lebih dekat dengan miliknya yang masih tidur manja

Merasakan ada hal aneh yang mengusiknya, mata Dini terbuka. Ia terlonjak kaget. Bukan hanya mata yang sudah ternoda kini bibirnya juga ikut-ikutan ternodai.

"Lakukan tugasmu sekarang!! Bangunkan dia. Jangan biarkan dia terus tertidur"

Dini terus berontak, tapi lelaki itu terus saja memaksanya untuk melakukan hal yang tidak diinginkannya. Jika saja tangannya tidak terikat, mungkin saja pria itu akan bernasib sama dengan temannya yang cidera karena benturan benda keras yang di layangkannya. Mau tak mau Dini melakukannya dengan mata terpejam. Ingat terpaksa!! Bukan atas dasar kemauannya.

Selang beberapa menit, Bima tersenyum puas miliknya yang terkulai berhasil Bangun. Tidak sia-sia sahabatnya mengirim wanita bayaran untuk membantunya.

"Sudah, hentikan!!! Enyahlah dari hadapanku" ujarnya sembari menyingkirkan tubuh lemah Dini

Sebelum beranjak Bima merapikan celana yang sudah terobrak-abrik karena ulahnya. Bima junior pun sudah masuk terlebih dahulu sebelum wanita itu mencuri pandangannya untuk melihat miliknya lagi. Selain malu, Bima juga risih jika kepunyaannya terus-menerus di lihat oleh wanita lain selain isterinya. Untung saja sejak tadi wanita itu melakukannya dengan mata terpejam, jika tidak?? Ntahlah paya Nak berkata-kata.

"Bim... Uda siap belum??? " suara berat pria mengejutkan aktivitasnya yang masih membenahi kancing celananya

"Gue bener-bener uda sembuh, bro.. Thanks yah uda kasih wanita percobaan buat ngetes kekuatan junior gue" ucapnya tersenyum lepas menepuk pundak sahabatnya dan berangsur pergi.

Axel masih terpelongo tidak percaya. Rencananya berhasil, satu hal yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Dan sekarang menjadi nyata. Ia melemparkan pandangannya kepada Dini yang masih terikat tangan dan kakinya. Tanpa membuang waktu Axel segera melepaskan ikatan tersebut. Dini terbebas. Bahkan sekarang rasanya ia ingin mengeluarkan semua isi di dalam mulutnya. Sebelum meninggalkan Axel, ia tak lupa meninggalkan bekas tamparan di pipi pria itu tanpa mengeluarkan satu kata pun.

"Awww.. Kenapa gue yang jadi sasaran wanita itu.!!! Ini semua karena si Bima. Dia yang bertindak gue kenak imbasnya"Axel memegangi bekas telapak tangan Dini yang nyeri

Uekkk... Dini mengeluarkan semua rasa mengganjal di mulutnya ke dalam wastafel, termasuk isi perutnya yang ikutan bergejolak. Setelah selesai langsung berkumur-kumur sebanyak 7 kali. Tubuhnya luruh seketika jatuh ke lantai. Pikirannya masih melayang, kejadian menggelikan itu masih terbayang di otaknya. Ia sudah di lecehkan secara sepihak oleh seorang pria yang tidak di kenalnya. Tanpa sadar cairan bening kembali mengairi pipi chubbynya.

"Ya Allah, aku sudah melakukan dosa besar. Ampuni aku!! Ini murni bukan keinginanku... Aku terpaksa melakukan nya. Maafkan Dini Pak... Maafkan Dini.. "ucap Dini di sela isak tangis nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!