Di pertemukan kembali

"Mas... Lepaskan saya mas... Saya mohon, lepaskan saya..." lirihnya sembari memberontak, Ia tidak tau lelaki itu akan membawanya kemana, saat ini ia harus melepaskan diri bagaimana pun caranya. Seluruh upaya telah ia lakukan Namun tenaga Dini tidak sekuat pria yang menariknya.

"Suiittsss, tenang sayang... Jangan takut, aku gak akan nyakitin kamu kok. Tenang yah!!! bentar lagi kita nyampek okey" Pria itu mencoba menenangkan Dini.

" Gak... Saya gak mau ikut... Tolong mas.. Lepaskan saya" Semakin Dini memberontak. Axel semakin gencar menarik pergelangan tangannya, membuat wanita itu sesekali meringis kesakitan. Hingga sampailah mereka berdua di depan pintu kamar yang sudah di siapkan terkhusus untuk Axel yang biasa selalu di gunakan untuk sekedar bersenang-senang menghabiskan malam. Pintu tidak memakai kunci manual melainkan dengan sebuah kartu yang berbentuk seperti ATM. Ditempelkan dan secara otomatis akan terbuka. Dini belum pernah melihat benda secanggih itu, maklum saja ia hanya orang desa.

"Ayo masuk sayang... "

"Jangan tarik-tarik saya, Awww sakit tau!!!" ringisnya untuk kesekian kali

Dini berhasil menghempaskan kasar cekalan lelaki itu. Sepertinya ia sengaja melonggarkan genggamannya saat sudah berada di dalam ruangan karena ia mengira Wanita itu tidak akan kabur melihat pintu yang sudah terkunci. Kamar mewah dengan desain interior klasik yang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya di kampung. Lengkap dengan furniture dan peralatan elektronik lainnya yang mungkin jika di hitung total keseluruhannya dapat mencapai belasan juta rupiah. Dini berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Benar-benar menakjubkan.

Tidak.. Tidak apa yang aku fikirkan!! Sekarang nyawaku sedang terancam, bisa-bisanya memdominasi hal yang tidak terlalu penting. Bagaimanapun caranya aku harus bisa keluar dari tempat ini" batinnya menggeleng

"Sayaang.. Kok diam aja!! Kenapa?? Bingung yah mau gaya apa?? "

Lelaki itu tiba-tiba memeluknya dari belakang tanpa permisi, membuat Dini terpekik kaget dengan tindakannya itu. Bau alkohol menyengat di indra penciuman Dini begitu mengusiknya karena jarak mereka yang dekat tanpa meninggalkan spasi secenti pun. Dini juga bisa merasakan deru nafas yang berhembus menerpa kulit wajahnya. Semakin Menambah rasa tidak nyaman berada di ruangan itu. Jika lama-kelamaan Dini tidak bertindak ia akan menjadi mangsa pria ku rang a jar itu seterusnya.

"Apa yang kamu lakukan!!! Lepaskan.. Lepaskan saya... " teriaknya tak karuan, bukan hanya geli. Dini juga merasa jijik saat pria asing itu mengendus-endus leher jenjangnya. Ia seperti di lecehkan sebelah pihak. Malang benar nasib Dini, niat hati ingin mencari pekerjaan di ibu kota malah berakhir seperti sekarang. Ia menyesali semua kebodohannya. Semua ini karena tipu muslihat dari wanita bernama Mira yang mengiming-imingi Dini pekerjaan berpenghasilan besar yang akan mampu membiayai semua pengobatan Bapaknya di rumah sakit. Tega sekali wanita itu membohonginya. Cairan bening lolos begitu saja membasahi pipihnya. Ia sudah tidak tahan untuk menahan tangisnya lagi. Cobaan demi cobaan datang kepadanya tanpa menyisahkan jarak sedikit pun. Takdir kehidupan seolah mempermainkan hidupnya. Dadanya sesak seperti onggakan batu mengapitnya. Mungkinkah ia harus mengambil jalan buntu memberikan kehormatannya kepada orang yang tidak di kenal sama sekali.

Pria itu melepaskan pelukannya, tidak nyaman dengan posisi yang sekarang dilakukan. Ia ingin lebih dari sekedar hal itu. Lantas ia membalikkan tubuh Dini dengan kasar. Membuat sang empu kembali terkejut dan meringis menahan sakit dari efek tidakannya.

"Kenapa kamu menngis.. Apa aku menyakitimu?? " ucapnya memicingkan mata memandang setiap jengkal wajah cantik yang di hadapnnya tak lupa ia menyapu menggunakan telapak tangannya yang ukurannya dua kali lipat dari kepunyaan Dini.

Dini memejamkan matanya ketakutan, ia tidak berani menatap mata pria yang mencoba menggodanya. Dini sudah pasrah dengan apa yang akan di lakukan pria itu. Demi keluarganya, juga kesembuhan Bapaknya di Rumah Sakit ia rela menyerahkan kehormatannya.

Axel mendorong tubuh Dini ke belakang sehingga tubuhya terjatuh di bibir ranjang empuk yang sudah di hiasi kelopak bunga mawar yang harumnya semerbak berterbangan saat Dini menindihnya.

"Argghh.. " ringisnya sembari membuka perlahan kelopak matanya. Ia di suguhkan dengan pemandangan yang belum pernah ia lihat selama ini. Bagaimana tidak Axel sudah bertelanjang dada membuka kemeja yang di kenakannya dan membuang ke sembarang arah. Dini memperhatikan gerak-geriknya yang tak sengaja terekam jelas di kedua matanya. Untuk menghindari dosa yang semakin menjerumuskannya, Ia segera menutup matanya kembali.

Pengaruh alkohol belum sepenuh lepas dari tubuhnya, Axel merasakan nyeri di tengkuk lehernya tapi di paksakan untuk menikmati wanita 25 juta yang sudah terlanjur kenak DP tersebut. Ia masih sadar dengan tindakan yang di lakukannya.

******

"Bim, mau kemana pagi-pagi begini uda rapi???"

Langkah Pria itu seketika terhenti kala seorang wanita paruh baya menyapanya dengan berdiri menghadang di hadapannya. Bima tidak tau apa yang di inginkan ibunya saat ini.

"Mau pergi keluar. Uda yah Ma Bima gak mau ribut sekarang!!! " ujarnya menerobos memilih sisi lain untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda. Tapi wanita itu tidak kehabisan akal, ia sangat yakin kali ini Bima pasti akan mendengarkannya

"Kamu gak sarapan dulu, Mama uda masakin makanan kesukaaan kamu Lo" bujuk Vivi dengan secercah harapan

"Bima pamit Ma, .. " katanya berangsur pergi

"Bim.. Bima.. " bahkan berteriak pun Vivi, anak lelakinya tidak mau menghiraukan seruannya. Bener-bener anak durhaka.

"Ada apa sih, Ma. Pagi-pagi uda ribut!!! "ucap Bastian menghampiri isterinya yang tampak terlihat kesal

"Iya Vi, ada apa sih ribut-ribut" timpal Diah-Kakak ipar Vivi

Diah dan anak semata wayangnya Radit memang tinggal di rumah megah keluarga Mahendra. Sejak suaminya meninggal ia memang sangat bergantung pada keluarga tersebut.

"Ada apa Ma??? "tanya Radit sedikit berbisik yang juga penasaran dengan apa yang terjadi. Diah hanya menggidikkan bahu sebagai kode tidak tau pada Radit.

"Bima pergi nyelonong begitu aja, Pa. Dia bahkan gak ngidahkan sahutan Mama. Padahal Mama uda capek-apek masak makanan kesukaan dia. Lah malah dia langsung pergi gitu aja"

"Ini semua karena wanita itu!!! ada gak nya dia di rumah sama aja, membawa pengaruh buruk. " ujar Diah memprovokasi

Radit membenarkan perkataan ibunya, dengan mengganggukkan kepala.

"Mbak benar... . Semenjak wanita itu masuk ke keluarga kita, rasa sayang Bima menjadi berkurang ke saya. Wanita itu sudah mencuci otak Bima menjadi seperti ini. "

"Kalian berdua apa-apaan sih.. Gak ada yang salah di rumah ini. Sudah-sudah!!! Lebih baik kita balik ke meja makan. Memburuh waktu untuk sarapan. Ntar papa sama Radit telat ke kantor"

Bastian melangkah menuju meja makan yang diikuti Diah dan Radit. Sementara Vivi sudah tak berselera. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar untuk istirahat.

*****

Bima mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ke khawatirannya tidak begitu beralasan karena panggilan telepon yang tiba-tiba terputus dari sebrang sana. Tak sampai 15 menit, sampailah Bima di sebuah Apartemen yang menjadi tujuan utamanya.

Segera Turun dari mobil berlari kecil menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Dimana keberadaan seseorang tengah membutuhkan pertolongannya.

Dengan nafas yang masih memburu tak beraturan, sampailah ia di depan pintu Apartmen tempat tinggal sahabatnya. Bahkan ia sudah tak peduli akan hal itu.

"Xel... Xel.. Axel" panggilnya sembari mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada jawaban di dalam sana. Bima menekan knop pintu, alhasil pintu kebuka. Kondisi apartemen milik Axel tidak terkunci.

"Axelll.. axel... "serunya melangkah masuk mencari sesosok pria yang ia cari. Matanya menangkap makhluk cantik yang tengah di ikat di atas ranjang dengan mulut yang terbungkam.

"Siapa kamu..??? Dimana Axel... "tanya Bima pada wanita itu

"Ehmnvvkjgvbhbnjkjhb" racaunya tak jelas karena kondisi mulut di lakban

Bima mendekati gadis cantik bergaun biru tersebut. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar pintu di banting keras dari arah luar. Sigap ia berlari ke asal sumber suara, ironisnya pintu tertutup dengan sendirinya. Bahkan sekarang ia tengah terperangkap di dalam apartemen bersama wanita asing yang tidak di kenalnya.

"Buka pintunya.. Buka...!!! Siapapun tolong kami, ada orang di dalam sini. Buka..." teriak Bima sembari memukul keras pintu yang sudah tertutup rapat dan terkunci.

Sekeras apapun Bima berteriak tidak akan ada orang yang dapat mendengar karena ruangan itu kedap suara. Dreettt... Ponsel pintar miliknya bergetar ada pesan masuk dari seseorang. Mata Bima terblalak, pesan itu dari Axel. Orang yang di khawatirkan keadaannya.

"Apa ini Xel, bukannya kau dalam keadaan tidak baik. Kau berbohong padaku. Argggghhhh.... "

Bima kesal membanting benda pipih berlogo apple bekas gigitan orang itu hingga hancur berserak di lantai. . Dini yang mendengar dan melihat adegan itu memejamkan matanya ketakutan sembari berdoa kepada yang maha kuasa agar kiranya selamat dari orang asing yang sedang mempermainkan takdirnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!