Pintu kamar di banting begitu keras, Bima meletakkan bobot tubuh di atas bibir ranjang. Pikirannya kalut, Sekarang ia malah terpengaruh perkataan yang di lontarkan Vivi padanya. Rasanya mustahil mengingat perjalanan cinta mereka yang begitu rumit, mana mungkin Wanitanya tega mengkhianatinya. Kepalanya berputar seakan mau pecah. Bima meremas kuat rambut miliknya, menyalurkan emosinya di sana.
"Arrghhhh... Tidak-tidak aku tidak boleh berfikir negatif seperti itu. Ayana di sana bekerja bukan untuk bermain-main. Pekataan Mama tidak sepenuhnya benar. Aku yakin Ayana hanya mencintai satu orang pria. Dan itu adalah.. Aku. " ujarnya meyakinkan
Hingga perlahan-lahan matanya terpejam, seakan semua beban masalahnya lenyap seketika. Beralih ke dunia mimpi indah bersama seorang yang bernama Ayana dan kedua buah hatinya. Senyum mengembang terukir di sudut bibir mereka masing-masing. Bima telah menemukan kebahagiaan bersama keluarga kecilnya, namun sayang itu hanya sebatas mimpi.
***** Tempat lain di waktu yang sama
"Sayang... " panggilnya dengan nada manja
"Heeemm... Iya sayang..!!! "sahutnya sembari mendongakkan pandangannya ke arah pria yang memanggilnya
"Kenapa sih kamu mesti balik besok. Kenapa gak lusa aja!!!" ucapnya sembari memainkan anak rambut yang menghalangi wajahnya yang cantik
Saat ini mereka masih saling bermesraaan di dalam sebuah apartemen yang baru saja mereka beli beberapa hari yang lalu. Tempat yang akan menjadi basecamp utama mereka saat bertemu di lain waktu.
"Ya gak bisa dong sayang!! Uda 4 hari aku ninggalin rumah mewah itu, demi bayi aku yang satu ini ( menarik ujung hidungnya yang mancung). Ntar mereka curiga lagi kalau aku ada apa-apa di luar!!! Kan kamu tau sendiri perlakuan keluarga Mahendra seperti apa. Mereka mau nerima aku sebagai menantunya aja, syukur.. . "ujarnya menyadarkan.
Ingatan pria itu seakan berputar jauh menembus masa lalu yang juga mengaitkannya masuk ke dalam kehidupan keluarga kolongmerat itu. Yang sampai detik ini menjadi ladang cuan bagi mereka berdua.
"Gimana masih ingat kan?? Ingat dong... Masa lupa"celetuknya mengejek
"I-iya ingat lah. Kan aku belum tua juga!!!. Aku ingat atas ide gila kamu itu aku rela make wig berjam-jam hanya untuk minta restu keluarga sombong dan angkuh itu. Kalau bukan karena butuh harta mereka ogah, gue ngelakuinnya" ujarnya merasa kesal jika harus mengingat kejadian itu
Untuk mendekati Keluarga Mahendra bukan perkara gampang, bukan seperti makan cabai yang habis makan terus sang empu merasakan pedas di mulutnya. Awalnya mereka menentang hubungan wanitanya dengan sang anak milyader tersebut. Apa lagi kalau bukan karena faktor ekonomi, bagi mereka Ayana tak cukup pantas untuk bersanding dengan anak semata wayangnya. Berbagai macam permasalahan datang mencoba menggoyahkan cinta palsu mereka. Dan pada akhirnya ego keluarga Mahendra bisa runtuh seketika, karena Ayana menjalankan rencana licik untuk mengambil hati mereka. Ternyata berhasil, tidak sesulit yang ia fikirkan. Sekarang ia sudah menjadi nyonya Mahendra, lebih tepatnya nyonya Ayana Mahendra dan sudah sebulan ia mendapat gelar tersebut. Dunia seperti sudah berada dalam genggamannya sekarang.
"Elleh.. Elleh.. Lucunya kalau lagi marah"
Ayana mencubit pipi pria itu gemas. Yang Langsung saja di balasnya dengan cumbuan ringan yang membangkitkan kembali hasrat birahi yang tadi sudah tersalur ingin lagi dan lagi.
****
"Mbak, saya sebenarnya mau hendak di bawa kemana sih!! Kenapa tempatnya seperti ini dan kenapa juga saya harus make pakaian terbuka juga" tanyanya dari sekian banyak pertanyaan yang ada di pikirannya hanya itu dulu yang tercetus dari bibir tipisnya.
Dini bingung apa yang harus di lakukannya sekarang. Di Satu sisi ia memang sangat butuh pekerjaan untuk membiayai pengobatan Bapak di kampung. Namun sebaliknya ia merasa sangat tidak nyaman berada di tempat itu dan berniat untuk kabur. Tapi ia tidak tau seluk beluk jalan di kota Jakarta. Apa lagi keberadaannya masih baru di kota tersebut.
"Uda ikuti saja jangan banyak tanya. Kau hanya perlu memperhatikan langkahku agar tidak tertinggal begitu jauh seperti tadi" pintahnya
"Heyy xel... " panggilnya sembari melambaikan tangan di udara
"Wop, .. Mbak Mira, Baru nongol.. kemana saja!!! "
"Biasalah... sibuk !!! Lo katanya bawa temen, mana orangnya??? "
"Baru aja cabut, Kelamaan nungguin mbaknya. Keburu kabur deh tuh orang. Takut kali yah ngeliat mbak!! "
"Apaaan!!! Lo kata gue hantu , hhahahha" ucapnya mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Mereka berdua tertawa ringan. Dengan Dini yang masih berdiri berjarak di belakang sepasang insan yang bahkan kehadiraannya belum di sadari pria bernama Axel itu karena masih terfokus pada lawan bicara yang ada di sebelahnya.
"Oh, iya.. Gue kemari mau ngenalin Lo sama stok berlian bening di rumah bordir gue. Din... Sini!!! "
Axel menautkan alisnya sebelum menoleh pada sosok wanita yang berjalan mendekatinya.
"Nah, ini dia!!! Xel kenalin dia Dini. Dini kenalin dia Axel klien langganan mbak Mira yang paling dermawan dan gak pelit cuan"
Axel tersenyum mendengar pujian Mira yang di nilai terlalu berlebihan. Wanita 35 tahun itu mengambil sebatang n! Ko t!N di saku tas kecil yang di bawa, menyalakannya, dan di hisap seketika. Tangan kirinya tidak ia biarkan menganggur, di tuangkan botol wine yang masih tersisa di gelas baru yang sudah tersedia di dekatnya.
Dini menggeleng sembari membungkam mulutnya tak percaya. Ternyata Mbak Mira yang di kenalnya dulu di kampung sudah berubah 100% setelah lama menetap di ibu kota, dengan alasan bekerja.
"Aku booking Dini sekarang!!! Berapa tarif yang mbak kenakan untuknya!!! " ujarnya to the point
Axel tau maksud wanita yang ada di sampingnya, jika ia memuji dirinya pasti Mira menyimpan makna tersembunyi di balik kata-katanya itu. Mengenalnya sudah cukup lama, Axel sudah paham apa yang diinginkannya. Lembaran kertas berharga yang berwarna merah pada nominal tertinggi di negaranya. Ia tau yang Mira butuhkan.
"Tidak banyak !!! Hanya 25 juta saja... "
Axel tersenyum kecut. Walaupun dirinya masih sedikit terpengaruh minuman alkohol. Ia masih bisa berfikir secara logika. Dan terbukti, dugaannya tak jauh dari kata meleset.
"Deal... " ucapnya menyanggupi tanpa ada transaksi tawar-menawar
Axel bangkit dari tempat duduknya. Mencoba mendekati gadis cantik yang sejak tadi hanya berdiam diri di belakang Mira, saait ini ia ingin menyentuh gadis 25 juta yang sudah menjadi miliknya untuk malam ini.
"Eiitsss... Mau kemana??? "
Wanita itu mencegah pergerrak Axel yang akan menghampiri Dini, tepat berdiri di hadapannya.
"DP dulu, baru ambil barang!!! "
Mira menautkan jarinya membentuk "saranghae" ala-ala korea yang di gosok perlahan. Sehingga membuat pria itu berdecak kesal.
"Nih ambil!!! Sebagai jaminan" ucapnya seraya memberikan kunci mobil yang baru saja di rogoh di saku celananya
"Apa ini... Gue butuh duit!!! Bukan yang beginian" berontaknya
Axel hanya tersenyum tak menghiraukan apa yang Mira katakan, melambaikan tangan diudara tanda perpisahan.. Walaupun sempoyongan tenaganya masih kuat menarik pergelangan tangan Dini. "Mbak... Tolong saya mbak.. Mbak Mira... " teriaknya kencang memohon pertolongan
Tapi apa daya, orang yang di panggilnya hanya menatap dirinya tanpa ada pergerakan sedikitpun untuk membantunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments