BAB 17 - Pamit

"Masih marah?"

Dibilang marah sebenarnya tidak, tapi Ameera sedikit sebal dengan Candaan Cakra beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak? Dia sudah sepanik itu, bahkan hampir saja menelpon ambulance lantaran berpikir bahwa Cakra serangan jantung atau semacamnya.

Bukan hanya itu, tapi pertanyaan Cakra setelahnya juga membuat Ameera malu setiap harinya. Ketakutan Ameera dijadikan candaan, hingga membuat Ameera terpojok seakan sangat takut kehilangan.

"Lama juga kalau ngambek ternyata ... kapan dimaafin?"

Ameera masih bergeming, sudah tiga kali Cakra mendatangi Ameera ke lokasi syuting dengan membawa seikat bunga dan cokelat agar sang kekasih luluh. Sayang, Ameera belum juga melemah bahkan menatapnya saja seakan enggan.

Bertemankan sebuah novel yang sebenarnya tidak dia baca itu, Ameera sengaja mengabaikan Cakra. Pasang surut hubungan mereka disaksikan jelas oleh Jihan, dan hal itu semakin membuat hubungan mereka terlalu nyata.

Tidak ada yang menunjukkan mereka kekasih kontrak, manjanya Ameera dan dewasanya Cakra terlalu nyata. "Sayang," panggil Cakra lagi, agaknya bersikap sabar cukup sulit bagi Cakra yang sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan.

"Ameera ...." Tidak cukup sekali, Cakra kembali bertanya begitu lembut. Namun, beberapa menit menunggu respon baik dari Ameera, sepatah kata pun belum Cakra dengar juga.

Baiklah, setelah berhari-hari belum juga mendapat respon baik, kesabaran Cakra habis juga pada akhirnya. "Bisa kita bicara baik-baik, Tan_"

Belum selesai, Cakra baru hendak mengucapkannya, Ameera sudah panik dan sontak mendekat demi bisa membungkam mulut Cakra dengan telapak tangannya. Secepat itu Ameera bergerak, bukti bahwa dia sejak tadi hanya pura-pura tuli. Panggilan Tante yang kerap Cakra gunakan sebagai candaan tersebut benar-benar menjadi senjata yang dapat membuatnya lemah tak berkutik.

"Jangan dipertegas, aku malu." Ameera gemas sendiri, bukan gemas karena suka, melainkan karena kesalnya.

Cakra yang dibekap jelas saja tidak kehilangan cara. Dia masih punya gigi untuk melepaskan diri hingga wanita itu mengibaskan telapak tangannya usai merasakan sakit akibat gigitan Cakra. "Kenapa? Mau marah lagi? Silahkan!! Kamu pikir aku baik-baik saja diabaikan begitu? Tidak, Ra!!"

Cakra menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian kembali bicara dan mengutarakan kekesalan dalam benaknya. "Sebesar itukah kesalahanku sampai teleponku saja tidak pernah kamu angkat? Jika karena candaanku kemarin kamu bisa semarah ini? Lalu bagaimana andai aku melakukan kesalahan yang lain, Meera?"

Suasana mendadak serius, Jihan yang merasa mereka kian panas memilih pergi. Sejak beberapa waktu lalu dia memang sudah curiga, Cakra dan Ameera tampak renggang. Dia pikir hanya masalah biasa, tidak pernah sedikitpun Jihan mengira jika kedua insan tersebut akan seserius ini.

"Harus dengan cara apa aku minta maaf? Marah boleh, tapi setidaknya bicara agar aku tahu mau kamu yang gimana?" Setelah kepergian Jihan, pria itu kembali melanjutkan pembicaraan dan kali ini Ameera hanya terdiam.

Diam yang terlihat, tapi sebenarnya Ameera sedang berpikir dan merasa bersalah. Niat hati hanya ingin membuat pelajaran pada Cakra agar berbatas dalam bercanda, masalah mereka justru seserius ini. Ameera seakan lupa, jika hubungan mereka hanya sebuah sandiwara yang tidak lama lagi akan berakhir jua.

"Belum juga berniat bicara denganku?" Setelah tadi sempat bicara dengan urat, kali ini Cakra melemah dan lembut seperti biasa.

Ameera yang agaknya sadar dan tengah meratapi malu hanya diam saja hingga Cakra salah mengira. "Baiklah, aku pergi ... hubungi aku jika sudah tidak marah lagi. Maaf kalau tadi agak kasar, sedikit saja aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Cakra beranjak dan menyempatkan diri untuk mengusap rambut Ameera sebelum pergi.

Cakra juga tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa dia sekeras itu menuntut Ameera memaafkannya, orang asing yang datang dan membuatnya terikat sebuah perjanjian. Padahal, Cakra bisa saja mengabaikan masalah ini, toh bukan urusan dia mau Ameera marah atau semacamnya.

Namun, beberapa hari menjalani hubungan tanpa komunikasi yang baik membuat Cakra tersiksa, dia marah dan ada kegelisahan dalam benaknya. Hingga hari ini, Ameera belum melunak, dan Cakra merasa jiwanya belum tenang juga.

"Bentar, aku pamit sama kak Ricko dulu."

Baru saja hendak melangkah, suara Ameera terdengar hingga Cakra berhenti seketika. Dia berbalik dan menyadari Ameera sudah berlari menghampiri bodyguard menyebalkan yang kembali bekerja lantaran mereka ada masalah.

Tanpa berniat mendekat juga, karena jika Cakra lakukan sudah pasti pria itu akan mengutarakan hal yang tidak Cakra senangi. Bahkan, kali ini saja Cakra bisa menyimpulkan bahwa Ricko masih melayangkan tatapan permusuhan padanya.

Terserah untuk hal itu, sama sekali Cakra tidak peduli karena yang dia fokuskan hanya Ameera, itu saja. Walau sempat kecewa, Cakra tetap tersenyum kala Ameera menghampirinya seraya berlari kecil.

"Diizinin?" tanya Cakra dengan senyum hangat, seakan lupa jika kemarin mereka teramat berjarak.

Ameera tersenyum hingga membuat Cakra mengerutkan dahi. "Kupaksa," jawabnya cepat kemudian menyambut uluran tangan Cakra yang hendak menggandengnya.

"Sebentar, kamu mau ikut memangnya sudah selesai?"

"Sudah, aku sedikit hari ini."

"Oh iya, dengar-dengar perannya Anita diganti?" Semudah itu keadaan membaik, keduanya kembali berbincang seperti biasa.

"Iya, tiba-tiba dipecat entah karena apa," jawab Ameera sebelum masuk ke mobil.

"Oh iya? Menurutmu karena apa?"

"Stres kali Julio dipenjara," jawab Ameera singkat diiringi gelak tawa yang menegaskan jika dia benar-benar merdeka. "Eh, tapi sutradaranya tiba-tiba diganti juga, apa ada hubungannya ya?" tambah Ameera yang kemudian membuat Cakra hanya mengedikkan bahu seolah tidak tahu apa-apa.

.

.

Layaknya air yang tidak berhenti mengalir, begitu juga waktu. Sejak dahulu Ameera tidak peduli tentang pergantian hari, tapi akhir-akhir ini dia seakan takut dan merasa setiap harinya berlalu begitu cepat.

Dia resah, gelisah dan tidak pernah ada ketenangan dalam hidupnya. Padahal, tujuan membuat Julio sakit hati sudah terwujud, bahkan pria itu sudah resmi ditahan atas kesalahannya, tidak terkecuali dia yang menjadi otak dari penganiayaan pada Cakra kala itu.

Begitu juga Anita, dua orang yang telah menyakitinya sudah menuai hasil dari perbuatan keji mereka. Tidak hanya hubungan yang hancur, tapi karir keduanya juga turut hancur.

Namun, semua itu tidak membuat Ameera puas dan bahagia. Sejak tadi matanya terus membasah, menatap seseorang yang seharian penuh bersamanya dalam rangka menikmati detik terakhir sebelum benar-benar berpisah.

"Terima kasih tiga bulannya, Ameera ... senang bisa mengenalmu."

Ameera tidak segera menjawab, hatinya seakan sakit mendengar kata pamit dari pria yang mengajarkan banyak hal padanya selama tiga bulan terakhir. "Jaga diri, jangan jatuh lagi ke hati yang salah ... aku berdoa, semoga Tuhan pertemukan kamu dengan laki-laki yang tahu cara menghargai dan mencintaimu nantinya."

Uluran tangan Cakra tidak juga dia sambut, hingga pria itu hanya tersenyum tipis kemudian memeluknya beberapa saat. Susah payah Ameera menahan tangis, dadanya bahkan terasa bak dihimpit bongkahan batu besar, sesak sekali.

"Masuklah, sudah malam ... nanti kamu sakit."

Ameera mengangguk pelan, wanita itu menunduk dalam-dalam kemudian berbalik dan meninggalkan Cakra yang masih terus menatapnya. Entah Cakra tahu atau tidak, tapi kini Ameera susah payah menyeka air mata yang mengucur begitu hebatnya.

Kata orang, sebuah perpisahan sekalipun caranya baik-baik akan tetap terasa sakit. Terbukti malam ini, ketika tiba di kamar Ameera benar-benar tidak kuasa menahan isak tangis.

Dia masih memberanikan diri untuk memantau Cakra dari jendela kamarnya. Walau tidak terlalu jelas, tapi Ameera yakin pria yang kini melambaikan tangan itu memberikan senyum terbaik seperti yang dia kerap berikan selama ini.

Hingga, ponsel Ameera yang bergetar mengalihkan perhatian wanita itu. Tanpa terduga, setelah menerimanya hati Ameera semakin kacau hingga memilih menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur begitu selesai membaca pesan tersebut.

"Apa maumu, Cakra!!"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

emak gue

emak gue

cepet banget tiga bulan nya😭

2024-10-22

0

Pramono Finocio

Pramono Finocio

ok

2024-08-07

3

Yuliana Purnomo

Yuliana Purnomo

akumsdh nangis.maka.thor,, sedih mereka berakhir masa kontrak nya😢😢

2024-08-07

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Bukan Sembarang Iklan
2 BAB 02 - He's My Choice
3 BAB 03 - Deal!!
4 BAB 04 - First Date?
5 BAB 05 - Dia Milikku
6 BAB 06 - Kontrak Hati?
7 BAB 07 - Tidak Bercanda
8 BAB 08 - Cuma Tidur
9 BAB 09 - Pengakuan Resmi
10 BAB 10 - Beautiful Sky
11 BAB 11 - With Beautiful Girl
12 BAB 12 - Aku Sudah Memulainya
13 BAB 13 - Mimpi Buruk
14 BAB 14 - Semua Akan Baik-Baik Saja
15 BAB 15 - Calon Menantu
16 BAB 16 - Kamu Nahkodanya
17 BAB 17 - Pamit
18 BAB 18 - Sadar Diri
19 BAB 19 - Tentukan Pilihanmu
20 BAB 20 - Terlambat
21 BAB 21 - Susah Sinyal
22 BAB 22 - Dia Terkenal?
23 BAB 23 - Malam Penuh Berkah
24 BAB 24 - Sudah Semuanya?
25 BAB 25 - Tidak Menyesal
26 BAB 26 - Tuhan Mengirimkannya
27 BAB 27 - Jangan Pikirkan Apapun
28 BAB 28 - Pesan Papa
29 BAB 29 - Pandangi Langit Sebagai Langit.
30 BAB 30 - Aku Akan Menjaganya
31 BAB 31 - Tertangkap Basah
32 BAB 32 - Nikahi!!
33 BAB 33 - Orang Yang Sama
34 BAB 34 - Dahsyatnya Tipu Daya
35 BAB 35 - Pengakuan Tak Terduga
36 BAB 36 - Kualat?
37 BAB 37 - Harus Jodoh
38 BAB 38 - Mencintai Versi Cakra
39 BAB 39 - Semua Demi Ameera
40 BAB 40 - Aku Hanya Punya Meera
41 BAB 41 - Jangan Berisik
42 BAB 42 - Jatuh Sejatuh-Jatuhnya
43 BAB 43 - Tawaran Ayumi
44 BAB 44 - Kamu Takut?
45 BAB 45 - Siapa Kamu Sebenarnya?
46 BAB 46 - Pengakuan Cakra
47 BAB 47 - Aku Menemukannya (Cakra)
48 BAB 48 - Satu Atap
49 BAB 49 - Latihan
50 BAB 50 - Menyelesaikan Masalah Dengan Masalah
51 BAB 51 - Tidak Peka
52 BAB 52 - Aneh, Tapi Nyata
53 BAB 53 - Izin Papa
54 BAB 54 - Ancaman Ameera
55 BAB 55 - Calon Suami Ngeyel
56 BAB 56 - Besok Yang Dimaksud
57 BAB 57 - Pulang
58 BAB 58 - Long Distance Relationship
59 BAB 59 - Cakra Dewasa
60 BAB 60 - Menantu Pilihan
61 BAB 61 - Lawan Main Yang Sebenarnya
62 BAB 62 - Demi Kamu
63 BAB 63 - Bukan Akting
64 BAB 64 - Meet Calon Kakak Ipar
65 BAB 65 - Mustahil
66 BAB 66 - He's My Hero
67 BAB 67 - Kamu Saja
68 BAB 68 - Terikat Masa Lalu
69 BAB 69 - Andai
70 BAB 70 - Tidak Tertarik
71 BAB 71 - Aku Hanya Punya Kamu
72 BAB 72 - Salah Sangka
73 BAB 73 - Penegasan Cakra
74 BAB 74 - Familiar
75 BAB 75 - Kandas
76 BAB 76 - Dejavu
77 BAB 77 - Budeg
78 BAB 78 - Kencan Calon Pengantin
79 BAB 79 - Turut Mengundang
80 BAB 80 - Usai Penantian Panjang
81 BAB 81 - Salah Sangka
82 BAB 82 - Pas
83 BAB 83 - Tidak Bercanda
84 BAB 84 - Pepatah Cakra
85 BAB 85 - Teman Hidup
86 BAB 86 - Kenang-Kenangan.
87 BAB 87 - Tutup Telingamu
88 Promo Karya Baru (Kama) - Pengasuh Majikan Impoten
89 BAB 88 - After Marriage
90 BAB 89 - Orang Asing
91 BAB 90 - Darah Biru
92 BAB 91 - Penolakan Cakra
93 BAB 92 - Benang Merah
94 BAB 94 - Anaconda
95 BAB 95 - Kaya Buanget
96 BAB 96 - Lemah Jika Tentangnya
97 BAB 97 - Bukan Mual Biasa
98 BAB 98 - 5 Minggu
99 BAB 99 - Cinta Setiap Hari
100 BAB 100 - Maunya Apa?
101 BAB 101 - Bukan Tukang Pijat Biasa
102 BAB 102 - Demi Anak Onta (Onty Tantik)
103 103 - Kadaluwarsa
104 BAB 104 - Jadilah Cucu Yang Berguna
105 BAB 105 - Kali Kedua
106 106 - Cakra Dengar, Kak
107 BAB 107 - Ahli Waris
108 BAB 108 - Kau Yang Berhak
109 BAB 109 - Gambaran Kita Suatu Hari
110 BAB 110 - Godaan Sang Suami
111 BAB 111 - Salah Sasaran
112 BAB 112 - Dilabrak
113 BAB 113 - End
114 BAB 114 - Sidang Akhir
115 Visual Cast - Berondong Bayaran
116 BAB 115 - Jangan Malu, Masuk Saja
117 BAB 116 - Gara-Gara Nanas
118 BAB 117 - Sambilan
119 BAB 118 - Beda Jam Terbang
120 BAB 119 - Bayi Punya Bayi
121 BAB 120 - Dunia Cakra
122 BAB 121 - Urusan Anak Muda
123 BAB 122 - Kangen, Ra
124 BAB 123 - Lebih Dari Cinta (Tamat)
125 BAB 124 - Season 2 - Calon Istri
126 BAB 125 - Season 2 - Mau Dua
127 BAB 126 - Season 2 - Pertemuan Kedua
128 BAB 127 - Season 2 - Kau Yakin?
129 BAB 128 - Season 2 - Penyebar Hoax
130 BAB 129 - Season 2 - Suka Yang Dewasa
131 Pemenang Give Away Berondong Bayaran
132 BAB 130 - Season 2 - Masih Balita
133 BAB 131 - Season 2 - Ayo Buat
134 BAB 132 - S2 - Lagsung Lamar Saja
135 BAB 134 - S2 - Bucin Dari Kecil
136 BAB 135 - S2 - Baru 2 Tahun
137 BAB 136 - S2 - Genit
138 Bukan Istri Sempurna - Desy Puspita
139 BAB 137 - S2 - Hamil Lagi?
140 BAB 138 - S2 - Belisik
141 BAB 139 - S2 - Ngamuk
142 BAB 140 - S2 - Cemburu
143 Bab 141 - Final Episode
144 PROMO KARYA BARU - ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER
145 Promo Karya Unchihah Sanskeh - Lelaki Idaman
146 Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 146 Episodes

1
BAB 01 - Bukan Sembarang Iklan
2
BAB 02 - He's My Choice
3
BAB 03 - Deal!!
4
BAB 04 - First Date?
5
BAB 05 - Dia Milikku
6
BAB 06 - Kontrak Hati?
7
BAB 07 - Tidak Bercanda
8
BAB 08 - Cuma Tidur
9
BAB 09 - Pengakuan Resmi
10
BAB 10 - Beautiful Sky
11
BAB 11 - With Beautiful Girl
12
BAB 12 - Aku Sudah Memulainya
13
BAB 13 - Mimpi Buruk
14
BAB 14 - Semua Akan Baik-Baik Saja
15
BAB 15 - Calon Menantu
16
BAB 16 - Kamu Nahkodanya
17
BAB 17 - Pamit
18
BAB 18 - Sadar Diri
19
BAB 19 - Tentukan Pilihanmu
20
BAB 20 - Terlambat
21
BAB 21 - Susah Sinyal
22
BAB 22 - Dia Terkenal?
23
BAB 23 - Malam Penuh Berkah
24
BAB 24 - Sudah Semuanya?
25
BAB 25 - Tidak Menyesal
26
BAB 26 - Tuhan Mengirimkannya
27
BAB 27 - Jangan Pikirkan Apapun
28
BAB 28 - Pesan Papa
29
BAB 29 - Pandangi Langit Sebagai Langit.
30
BAB 30 - Aku Akan Menjaganya
31
BAB 31 - Tertangkap Basah
32
BAB 32 - Nikahi!!
33
BAB 33 - Orang Yang Sama
34
BAB 34 - Dahsyatnya Tipu Daya
35
BAB 35 - Pengakuan Tak Terduga
36
BAB 36 - Kualat?
37
BAB 37 - Harus Jodoh
38
BAB 38 - Mencintai Versi Cakra
39
BAB 39 - Semua Demi Ameera
40
BAB 40 - Aku Hanya Punya Meera
41
BAB 41 - Jangan Berisik
42
BAB 42 - Jatuh Sejatuh-Jatuhnya
43
BAB 43 - Tawaran Ayumi
44
BAB 44 - Kamu Takut?
45
BAB 45 - Siapa Kamu Sebenarnya?
46
BAB 46 - Pengakuan Cakra
47
BAB 47 - Aku Menemukannya (Cakra)
48
BAB 48 - Satu Atap
49
BAB 49 - Latihan
50
BAB 50 - Menyelesaikan Masalah Dengan Masalah
51
BAB 51 - Tidak Peka
52
BAB 52 - Aneh, Tapi Nyata
53
BAB 53 - Izin Papa
54
BAB 54 - Ancaman Ameera
55
BAB 55 - Calon Suami Ngeyel
56
BAB 56 - Besok Yang Dimaksud
57
BAB 57 - Pulang
58
BAB 58 - Long Distance Relationship
59
BAB 59 - Cakra Dewasa
60
BAB 60 - Menantu Pilihan
61
BAB 61 - Lawan Main Yang Sebenarnya
62
BAB 62 - Demi Kamu
63
BAB 63 - Bukan Akting
64
BAB 64 - Meet Calon Kakak Ipar
65
BAB 65 - Mustahil
66
BAB 66 - He's My Hero
67
BAB 67 - Kamu Saja
68
BAB 68 - Terikat Masa Lalu
69
BAB 69 - Andai
70
BAB 70 - Tidak Tertarik
71
BAB 71 - Aku Hanya Punya Kamu
72
BAB 72 - Salah Sangka
73
BAB 73 - Penegasan Cakra
74
BAB 74 - Familiar
75
BAB 75 - Kandas
76
BAB 76 - Dejavu
77
BAB 77 - Budeg
78
BAB 78 - Kencan Calon Pengantin
79
BAB 79 - Turut Mengundang
80
BAB 80 - Usai Penantian Panjang
81
BAB 81 - Salah Sangka
82
BAB 82 - Pas
83
BAB 83 - Tidak Bercanda
84
BAB 84 - Pepatah Cakra
85
BAB 85 - Teman Hidup
86
BAB 86 - Kenang-Kenangan.
87
BAB 87 - Tutup Telingamu
88
Promo Karya Baru (Kama) - Pengasuh Majikan Impoten
89
BAB 88 - After Marriage
90
BAB 89 - Orang Asing
91
BAB 90 - Darah Biru
92
BAB 91 - Penolakan Cakra
93
BAB 92 - Benang Merah
94
BAB 94 - Anaconda
95
BAB 95 - Kaya Buanget
96
BAB 96 - Lemah Jika Tentangnya
97
BAB 97 - Bukan Mual Biasa
98
BAB 98 - 5 Minggu
99
BAB 99 - Cinta Setiap Hari
100
BAB 100 - Maunya Apa?
101
BAB 101 - Bukan Tukang Pijat Biasa
102
BAB 102 - Demi Anak Onta (Onty Tantik)
103
103 - Kadaluwarsa
104
BAB 104 - Jadilah Cucu Yang Berguna
105
BAB 105 - Kali Kedua
106
106 - Cakra Dengar, Kak
107
BAB 107 - Ahli Waris
108
BAB 108 - Kau Yang Berhak
109
BAB 109 - Gambaran Kita Suatu Hari
110
BAB 110 - Godaan Sang Suami
111
BAB 111 - Salah Sasaran
112
BAB 112 - Dilabrak
113
BAB 113 - End
114
BAB 114 - Sidang Akhir
115
Visual Cast - Berondong Bayaran
116
BAB 115 - Jangan Malu, Masuk Saja
117
BAB 116 - Gara-Gara Nanas
118
BAB 117 - Sambilan
119
BAB 118 - Beda Jam Terbang
120
BAB 119 - Bayi Punya Bayi
121
BAB 120 - Dunia Cakra
122
BAB 121 - Urusan Anak Muda
123
BAB 122 - Kangen, Ra
124
BAB 123 - Lebih Dari Cinta (Tamat)
125
BAB 124 - Season 2 - Calon Istri
126
BAB 125 - Season 2 - Mau Dua
127
BAB 126 - Season 2 - Pertemuan Kedua
128
BAB 127 - Season 2 - Kau Yakin?
129
BAB 128 - Season 2 - Penyebar Hoax
130
BAB 129 - Season 2 - Suka Yang Dewasa
131
Pemenang Give Away Berondong Bayaran
132
BAB 130 - Season 2 - Masih Balita
133
BAB 131 - Season 2 - Ayo Buat
134
BAB 132 - S2 - Lagsung Lamar Saja
135
BAB 134 - S2 - Bucin Dari Kecil
136
BAB 135 - S2 - Baru 2 Tahun
137
BAB 136 - S2 - Genit
138
Bukan Istri Sempurna - Desy Puspita
139
BAB 137 - S2 - Hamil Lagi?
140
BAB 138 - S2 - Belisik
141
BAB 139 - S2 - Ngamuk
142
BAB 140 - S2 - Cemburu
143
Bab 141 - Final Episode
144
PROMO KARYA BARU - ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER
145
Promo Karya Unchihah Sanskeh - Lelaki Idaman
146
Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!