BAB 16 - Kamu Nahkodanya

"Bulu matamu jatuh, sebentar."

Ameera memejamkan mata, seperti biasa agaknya dia memang terlalu berharap dalam segala sesuatu yang Cakra lakukan. Entah karena usianya yang terlalu dewasa hingga semua tindakan Cakra justru ditanggapi berbeda, atau cara Cakra memperlakukannya memang wajar menjadi alasan Ameera salah menduga.

Sudah kali kesekian, dan yang malu jelas Ameera sendiri. Terbukti dengan Cakra yang tampak santai memperlihatkan bulu mata Ameera, bahkan sempat memuji kecantikan mata Ameera. "Nih simpen, biasanya ada yang kangen," tambah Cakra kemudian, mau tidak mau Ameera menerima pemberian Cakra dengan senyum kaku.

"Mitos."

"Fakta, waktu aku kecil mamaku pernah bilang begitu."

Sedikit saja tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika Cakra salah tingkah setelah saling menatap dengan jarak sedekat itu. Menyadari hal itu, Ameera hanya menghela napas kasar kemudian meraih ponselnya sebagai cara untuk menutupi perasaannya.

Niat hati hanya berusaha menghilangkan kegugupan, hati Ameera justru kembali tersayat begitu membaca ujaran kebencian yang masih terus menerus tertuju pada Cakra. Padahal, terhitung mulai hari ini isu miring terkait Julio sudah menyebar ke seluruh media.

Harusnya, dengan berita itu sudah sangat cukup untuk membuat Cakra bebas dari sanksi sosial yang dia terima. Sayang, beberapa pihak masih terus memojokkan Cakra dan menganggap bahwa pria itu tidak ada bedanya seperti Julio.

"Kamu lihat apa?"

Cakra yang tampak penasaran kini mendekat bahkan tidak segan bersandar di bahu Ameera, seakan sengaja membuat jantung Ameera kembali bergelora setelah sebelumnya sempat mereda.

"Hm, bukan apa-apa, tidak perlu dilihat." Secepat mungkin Ameera menutup ponselnya, dengan alasan ingin menjaga hati Cakra.

Selemah itu Cakra di mata Ameera, padahal bullyan dan ujaran kebencian adalah hal biasa, bahkan makanan sehari-hari sejak Cakra duduk di sekolah dasar. "Oh iya? Coba lihat kalau bukan apa-apa."

"Cakra, jang_"

Selain tidak banyak bicara, Cakra juga kerap bertindak tanpa bertanya. Seakan tidak peduli diizinkan atau tidak, Cakra santai saja membuka ponsel Ameera sedikit memaksa dengan cara yang terlampau halus.

Terpaksa, Ameera yang tidak bisa bertindak banyak hanya bisa pasrah dengan harapan Cakra tidak akan tertekan setelahnya. Sedikit saja tidak pernah dia melepaskan Cakra dari pandangan demi memastikan bagaimana ekspresi Cakra setelahnya.

"Sudah kukatakan tidak perlu dilihat, Cakra ... mereka memang tidak berhati jika sudah menghakimi."

Jauh dari dugaan Ameera, pria itu justru tersenyum tipis kemudian mengembalikan ponsel Ameera. Tidak ada kesedihan di sana, yang ada hanya senyum hangat dan wajah tenang Cakra di sana.

Bukannya bahagia, Ameera justru megerutkan dahi dan dibuat bingung sendiri "Kok santai? Nangis kek, kamu sedang dihujat, Cakra ... sadar?"

Cakra tergelak, pertanyaan Ameera terlalu lucu hingga membuat perutnya sakit. "Memang harus begitu? Kamu dengar, Ameera ... ketika dijatuhkan, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan hanya diam. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku jangan membenarkan anggapan mereka?" tanya Cakra menatap Ameera lekat-lekat hingga wanita itu bergeming seketika.

"Jika aku selemah itu hanya karena ketikan, maka sama saja aku membenarkan tuduhan mereka bukan?" tambah Cakra lagi kemudian kembali bersandar di pundak Ameera.

Ameera menghela napas panjang, mental Cakra yang diserang, tapi hati Ameera yang sakit. "Kamu tidak marah pada mereka? Apa perlu salah-satunya kujebloskan ke penjara juga?"

"Tidak perlu, Meera. Biarkan saja mereka, nanti juga lelah sendiri," ucap pria itu kemudian. Sesederhana itu Cakra menghadapi masalah, sama sekali dia tidak pusing walau beberapa penggemar Ameera memberikan julukan tak senonoh padanya.

"Sampai kapan? Aku benar-benar muak melihatnya." Ameera mengepalkan tangan. Sebelum ini dia biasa saja, tapi melihat Cakra terlihat santai dan mengampuni orang-orang itu Ameera seolah tidak terima, sungguh.

"Sampai nanti, besok-besok juga berhenti, tidak akan selamanya, Sayang."

Mendengar ucapan Amera, dia semakin sebal lagi. Bagi Cakra mungkin hal ini bukan masalah, tapi bagi Ameera sangat-sangat masalah. Dia tidak setulus itu, mana bisa dia biasa saja kala Cakra dihina dengan kata-kata tak pantas semacam itu.

Terlebih lagi, hinaan tentang status Cakra dan anggapan bahwa Cakra adalah pria modal tampang yang hanya menjadi beban Ameera. Tanpa meminta izin lebih dahulu, Ameera kembali membeberkan kepada publik terkait hubungan mereka.

Sudah jelas dengan maksud agar orang-orang yang mengusik kehidupan pribadi Cakra agar segera berhenti. Tidak tanggung-tanggung, Ameera mengancam akan menindak tegas siapapun yang masih berani menilai buruk kekasihnya.

"Pinter banget ngancemnya, dari dulu kamu begini ya?"

Terlalu fokus memikirkan caption yang pantas untuk klarifikasi keduanya, Ameera sampai tidak sadar jika Cakra memantau aktivitasnya. Dia gelagapan sementara Cakra hanya tersenyum tipis seraya menatapnya.

"Jangan protes, kamu mungkin bisa santai saja, tapi aku tidak, Cakra."

"Hm, kamu nahkodanya, Ameera aku ikut saja." Ucapan Cakra mengandung sejuta makna tersirat yang tidak bisa Ameera simpulkan, hendak bertanya juga percuma karena kini Cakra tampak lelah dan memejamkan mata di pundaknya.

.

.

Salah-satu candaan Cakra yang terdengar mustahil sejak lama ialah dinafkahi seseorang yang sudi mengangkatnya sebagai anak. Ya, harapan berbalut canda seorang anak yang lelah dengan kerasnya dunia dan kejamnya ibu kota itu sama sekali tidak pernah Cakra duga akan menjadi kenyataan.

Bukan orangtua angkat, tapi Cakra sendiri bingung hendak menyebut Ameera apa. Dibilang sugar mommy terlalu berlebihan, dibilang kakak angkat juga tidak tepat karena jika sedang berdua yang justru terlihat lebih dewasa adalah Cakra.

"Kamu dari mana saja? Kok telat jemputnya." Seperti hari ini contohnya, Cakra telat dua menit dan Ameera sudah cemberut seakan Cakra telat dua jam.

"Masa iya? Cuma dua menit juga."

"Kamu tahu tidak? Dalam kamus orang pacaran, telat satu menit itu artinya ada yang berbeda ... kenapa? Rasa sayangmu mulai berkurang?" tanya Ameera berkacak pinggang, sementara Cakra hanya menghela napas panjang seraya menggigit bibir lantaran tak kuasa menahan gemasnya.

"Mana ada."

Cakra mengedipkan mata. Pria itu kian mendekat dan tanpa ragu menarik Ameera dalam pelukan, jelas saja tindakan semacam itu membuat Jihan yang sejak tadi menemani Ameera memilih pergi sebelum nanti malu sendiri.

Tidak mau kalah manisnya, Ameera membalas pelukan Cakra. Tatapan Ameera tertuju pada Anita yang duduk tidak jauh di antara mereka, kebetulan sekali Cakra datang dan ini adalah kesempatan untuk menari-nari di atas luka Anita, selingkuhan mantan pacarnya.

"Kasihan, montok-montok begitu tidak ada yang peluk!!" Dari kejauhan Ameera membatin, semakin Anita kesal semakin dia bersemangat hingga tanpa sadar pelukannya terlalu kuat.

"Ssshh, aah!! Meera sebentar."

Andai Cakra tidak meringis, mungkin dia tidak akan sadar jika pelukannya terlalu erat. Setelah mendengar keluhan Cakra, barulah Ameera sadar dan sontak melonggarkan pelukannya. "Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Hm?" tanya Ameera panik melihat Cakra yang menekan dadanya kuat-kuat.

"Cakra bilang!! Apanya yang sakit?"

"Ra, aawwh ya, Tuhan aku belum mau mati, Ra." Cakra menggigit bibir, jelas saja Ameera semakin panik bahkan beberapa orang di lokasi kini menjadikan mereka pusat perhatian.

"Cakra please jangan bercanda!! Apanya yang sakit?"

"Sarangheo," ucapnya seraya memberikan telunjuk dan ibu jari yang berbentuk simbol cinta khas negeri gingseng tersebut.

"Basi!!"

Bukan hanya senyum, tapi gelak tawa Cakra terdengar begitu nyata. Ameera yang sempat pucat pasi lantaran khawatir dengan keadaannya mendadak kesal lahir batin hingga tanpa sadar mencubit perut Cakra sekuat-kuatnya .

"Rasain, mau kucubit sampai beneran mati?"

"Hahaha cubit saja kalau tega, dimana lagi kamu bisa dapetin pacar begini, Ameera," tantang Cakra lantaran yakin Ameera tidak akan tega, tanpa terduga Ameera justru menjawab tantangan Cakra hingga pria itu merasakan sakit dan pedas luar biasa di bagian perutnya. "Sssh, Sayang jangan di sini ... banyak orang, malu."

Ameera frustrasi, dia mengusap kasar wajahnya dan kini memijat pangkal hidung usai Cakra berhasil menarik perhatian dengan caranya melepaskan diri. "Kenapa? Sini cubit lagi, biar kamu ditangkap atas kasus penganiayaan anak dibawah umur!!"

"Anak dibawah umur apanya? 23 tahun itu dewasa, Cakra."

Melihat Ameera yang memerah, Cakra semakin tertantang dan dia gemas sendiri melihatnya. "Kalau 23 dewasa, lalu 31 apa? Tua ya?"

"Fosil! Puas kamu?!"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Halimah As Sa'diyah

Halimah As Sa'diyah

🤣🤣🤣🤣😭😭

2025-01-03

0

Pramono Finocio

Pramono Finocio

ok

2024-08-07

1

Pramono Finocio

Pramono Finocio

ok

2024-08-07

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Bukan Sembarang Iklan
2 BAB 02 - He's My Choice
3 BAB 03 - Deal!!
4 BAB 04 - First Date?
5 BAB 05 - Dia Milikku
6 BAB 06 - Kontrak Hati?
7 BAB 07 - Tidak Bercanda
8 BAB 08 - Cuma Tidur
9 BAB 09 - Pengakuan Resmi
10 BAB 10 - Beautiful Sky
11 BAB 11 - With Beautiful Girl
12 BAB 12 - Aku Sudah Memulainya
13 BAB 13 - Mimpi Buruk
14 BAB 14 - Semua Akan Baik-Baik Saja
15 BAB 15 - Calon Menantu
16 BAB 16 - Kamu Nahkodanya
17 BAB 17 - Pamit
18 BAB 18 - Sadar Diri
19 BAB 19 - Tentukan Pilihanmu
20 BAB 20 - Terlambat
21 BAB 21 - Susah Sinyal
22 BAB 22 - Dia Terkenal?
23 BAB 23 - Malam Penuh Berkah
24 BAB 24 - Sudah Semuanya?
25 BAB 25 - Tidak Menyesal
26 BAB 26 - Tuhan Mengirimkannya
27 BAB 27 - Jangan Pikirkan Apapun
28 BAB 28 - Pesan Papa
29 BAB 29 - Pandangi Langit Sebagai Langit.
30 BAB 30 - Aku Akan Menjaganya
31 BAB 31 - Tertangkap Basah
32 BAB 32 - Nikahi!!
33 BAB 33 - Orang Yang Sama
34 BAB 34 - Dahsyatnya Tipu Daya
35 BAB 35 - Pengakuan Tak Terduga
36 BAB 36 - Kualat?
37 BAB 37 - Harus Jodoh
38 BAB 38 - Mencintai Versi Cakra
39 BAB 39 - Semua Demi Ameera
40 BAB 40 - Aku Hanya Punya Meera
41 BAB 41 - Jangan Berisik
42 BAB 42 - Jatuh Sejatuh-Jatuhnya
43 BAB 43 - Tawaran Ayumi
44 BAB 44 - Kamu Takut?
45 BAB 45 - Siapa Kamu Sebenarnya?
46 BAB 46 - Pengakuan Cakra
47 BAB 47 - Aku Menemukannya (Cakra)
48 BAB 48 - Satu Atap
49 BAB 49 - Latihan
50 BAB 50 - Menyelesaikan Masalah Dengan Masalah
51 BAB 51 - Tidak Peka
52 BAB 52 - Aneh, Tapi Nyata
53 BAB 53 - Izin Papa
54 BAB 54 - Ancaman Ameera
55 BAB 55 - Calon Suami Ngeyel
56 BAB 56 - Besok Yang Dimaksud
57 BAB 57 - Pulang
58 BAB 58 - Long Distance Relationship
59 BAB 59 - Cakra Dewasa
60 BAB 60 - Menantu Pilihan
61 BAB 61 - Lawan Main Yang Sebenarnya
62 BAB 62 - Demi Kamu
63 BAB 63 - Bukan Akting
64 BAB 64 - Meet Calon Kakak Ipar
65 BAB 65 - Mustahil
66 BAB 66 - He's My Hero
67 BAB 67 - Kamu Saja
68 BAB 68 - Terikat Masa Lalu
69 BAB 69 - Andai
70 BAB 70 - Tidak Tertarik
71 BAB 71 - Aku Hanya Punya Kamu
72 BAB 72 - Salah Sangka
73 BAB 73 - Penegasan Cakra
74 BAB 74 - Familiar
75 BAB 75 - Kandas
76 BAB 76 - Dejavu
77 BAB 77 - Budeg
78 BAB 78 - Kencan Calon Pengantin
79 BAB 79 - Turut Mengundang
80 BAB 80 - Usai Penantian Panjang
81 BAB 81 - Salah Sangka
82 BAB 82 - Pas
83 BAB 83 - Tidak Bercanda
84 BAB 84 - Pepatah Cakra
85 BAB 85 - Teman Hidup
86 BAB 86 - Kenang-Kenangan.
87 BAB 87 - Tutup Telingamu
88 Promo Karya Baru (Kama) - Pengasuh Majikan Impoten
89 BAB 88 - After Marriage
90 BAB 89 - Orang Asing
91 BAB 90 - Darah Biru
92 BAB 91 - Penolakan Cakra
93 BAB 92 - Benang Merah
94 BAB 94 - Anaconda
95 BAB 95 - Kaya Buanget
96 BAB 96 - Lemah Jika Tentangnya
97 BAB 97 - Bukan Mual Biasa
98 BAB 98 - 5 Minggu
99 BAB 99 - Cinta Setiap Hari
100 BAB 100 - Maunya Apa?
101 BAB 101 - Bukan Tukang Pijat Biasa
102 BAB 102 - Demi Anak Onta (Onty Tantik)
103 103 - Kadaluwarsa
104 BAB 104 - Jadilah Cucu Yang Berguna
105 BAB 105 - Kali Kedua
106 106 - Cakra Dengar, Kak
107 BAB 107 - Ahli Waris
108 BAB 108 - Kau Yang Berhak
109 BAB 109 - Gambaran Kita Suatu Hari
110 BAB 110 - Godaan Sang Suami
111 BAB 111 - Salah Sasaran
112 BAB 112 - Dilabrak
113 BAB 113 - End
114 BAB 114 - Sidang Akhir
115 Visual Cast - Berondong Bayaran
116 BAB 115 - Jangan Malu, Masuk Saja
117 BAB 116 - Gara-Gara Nanas
118 BAB 117 - Sambilan
119 BAB 118 - Beda Jam Terbang
120 BAB 119 - Bayi Punya Bayi
121 BAB 120 - Dunia Cakra
122 BAB 121 - Urusan Anak Muda
123 BAB 122 - Kangen, Ra
124 BAB 123 - Lebih Dari Cinta (Tamat)
125 BAB 124 - Season 2 - Calon Istri
126 BAB 125 - Season 2 - Mau Dua
127 BAB 126 - Season 2 - Pertemuan Kedua
128 BAB 127 - Season 2 - Kau Yakin?
129 BAB 128 - Season 2 - Penyebar Hoax
130 BAB 129 - Season 2 - Suka Yang Dewasa
131 Pemenang Give Away Berondong Bayaran
132 BAB 130 - Season 2 - Masih Balita
133 BAB 131 - Season 2 - Ayo Buat
134 BAB 132 - S2 - Lagsung Lamar Saja
135 BAB 134 - S2 - Bucin Dari Kecil
136 BAB 135 - S2 - Baru 2 Tahun
137 BAB 136 - S2 - Genit
138 Bukan Istri Sempurna - Desy Puspita
139 BAB 137 - S2 - Hamil Lagi?
140 BAB 138 - S2 - Belisik
141 BAB 139 - S2 - Ngamuk
142 BAB 140 - S2 - Cemburu
143 Bab 141 - Final Episode
144 PROMO KARYA BARU - ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER
145 Promo Karya Unchihah Sanskeh - Lelaki Idaman
146 Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 146 Episodes

1
BAB 01 - Bukan Sembarang Iklan
2
BAB 02 - He's My Choice
3
BAB 03 - Deal!!
4
BAB 04 - First Date?
5
BAB 05 - Dia Milikku
6
BAB 06 - Kontrak Hati?
7
BAB 07 - Tidak Bercanda
8
BAB 08 - Cuma Tidur
9
BAB 09 - Pengakuan Resmi
10
BAB 10 - Beautiful Sky
11
BAB 11 - With Beautiful Girl
12
BAB 12 - Aku Sudah Memulainya
13
BAB 13 - Mimpi Buruk
14
BAB 14 - Semua Akan Baik-Baik Saja
15
BAB 15 - Calon Menantu
16
BAB 16 - Kamu Nahkodanya
17
BAB 17 - Pamit
18
BAB 18 - Sadar Diri
19
BAB 19 - Tentukan Pilihanmu
20
BAB 20 - Terlambat
21
BAB 21 - Susah Sinyal
22
BAB 22 - Dia Terkenal?
23
BAB 23 - Malam Penuh Berkah
24
BAB 24 - Sudah Semuanya?
25
BAB 25 - Tidak Menyesal
26
BAB 26 - Tuhan Mengirimkannya
27
BAB 27 - Jangan Pikirkan Apapun
28
BAB 28 - Pesan Papa
29
BAB 29 - Pandangi Langit Sebagai Langit.
30
BAB 30 - Aku Akan Menjaganya
31
BAB 31 - Tertangkap Basah
32
BAB 32 - Nikahi!!
33
BAB 33 - Orang Yang Sama
34
BAB 34 - Dahsyatnya Tipu Daya
35
BAB 35 - Pengakuan Tak Terduga
36
BAB 36 - Kualat?
37
BAB 37 - Harus Jodoh
38
BAB 38 - Mencintai Versi Cakra
39
BAB 39 - Semua Demi Ameera
40
BAB 40 - Aku Hanya Punya Meera
41
BAB 41 - Jangan Berisik
42
BAB 42 - Jatuh Sejatuh-Jatuhnya
43
BAB 43 - Tawaran Ayumi
44
BAB 44 - Kamu Takut?
45
BAB 45 - Siapa Kamu Sebenarnya?
46
BAB 46 - Pengakuan Cakra
47
BAB 47 - Aku Menemukannya (Cakra)
48
BAB 48 - Satu Atap
49
BAB 49 - Latihan
50
BAB 50 - Menyelesaikan Masalah Dengan Masalah
51
BAB 51 - Tidak Peka
52
BAB 52 - Aneh, Tapi Nyata
53
BAB 53 - Izin Papa
54
BAB 54 - Ancaman Ameera
55
BAB 55 - Calon Suami Ngeyel
56
BAB 56 - Besok Yang Dimaksud
57
BAB 57 - Pulang
58
BAB 58 - Long Distance Relationship
59
BAB 59 - Cakra Dewasa
60
BAB 60 - Menantu Pilihan
61
BAB 61 - Lawan Main Yang Sebenarnya
62
BAB 62 - Demi Kamu
63
BAB 63 - Bukan Akting
64
BAB 64 - Meet Calon Kakak Ipar
65
BAB 65 - Mustahil
66
BAB 66 - He's My Hero
67
BAB 67 - Kamu Saja
68
BAB 68 - Terikat Masa Lalu
69
BAB 69 - Andai
70
BAB 70 - Tidak Tertarik
71
BAB 71 - Aku Hanya Punya Kamu
72
BAB 72 - Salah Sangka
73
BAB 73 - Penegasan Cakra
74
BAB 74 - Familiar
75
BAB 75 - Kandas
76
BAB 76 - Dejavu
77
BAB 77 - Budeg
78
BAB 78 - Kencan Calon Pengantin
79
BAB 79 - Turut Mengundang
80
BAB 80 - Usai Penantian Panjang
81
BAB 81 - Salah Sangka
82
BAB 82 - Pas
83
BAB 83 - Tidak Bercanda
84
BAB 84 - Pepatah Cakra
85
BAB 85 - Teman Hidup
86
BAB 86 - Kenang-Kenangan.
87
BAB 87 - Tutup Telingamu
88
Promo Karya Baru (Kama) - Pengasuh Majikan Impoten
89
BAB 88 - After Marriage
90
BAB 89 - Orang Asing
91
BAB 90 - Darah Biru
92
BAB 91 - Penolakan Cakra
93
BAB 92 - Benang Merah
94
BAB 94 - Anaconda
95
BAB 95 - Kaya Buanget
96
BAB 96 - Lemah Jika Tentangnya
97
BAB 97 - Bukan Mual Biasa
98
BAB 98 - 5 Minggu
99
BAB 99 - Cinta Setiap Hari
100
BAB 100 - Maunya Apa?
101
BAB 101 - Bukan Tukang Pijat Biasa
102
BAB 102 - Demi Anak Onta (Onty Tantik)
103
103 - Kadaluwarsa
104
BAB 104 - Jadilah Cucu Yang Berguna
105
BAB 105 - Kali Kedua
106
106 - Cakra Dengar, Kak
107
BAB 107 - Ahli Waris
108
BAB 108 - Kau Yang Berhak
109
BAB 109 - Gambaran Kita Suatu Hari
110
BAB 110 - Godaan Sang Suami
111
BAB 111 - Salah Sasaran
112
BAB 112 - Dilabrak
113
BAB 113 - End
114
BAB 114 - Sidang Akhir
115
Visual Cast - Berondong Bayaran
116
BAB 115 - Jangan Malu, Masuk Saja
117
BAB 116 - Gara-Gara Nanas
118
BAB 117 - Sambilan
119
BAB 118 - Beda Jam Terbang
120
BAB 119 - Bayi Punya Bayi
121
BAB 120 - Dunia Cakra
122
BAB 121 - Urusan Anak Muda
123
BAB 122 - Kangen, Ra
124
BAB 123 - Lebih Dari Cinta (Tamat)
125
BAB 124 - Season 2 - Calon Istri
126
BAB 125 - Season 2 - Mau Dua
127
BAB 126 - Season 2 - Pertemuan Kedua
128
BAB 127 - Season 2 - Kau Yakin?
129
BAB 128 - Season 2 - Penyebar Hoax
130
BAB 129 - Season 2 - Suka Yang Dewasa
131
Pemenang Give Away Berondong Bayaran
132
BAB 130 - Season 2 - Masih Balita
133
BAB 131 - Season 2 - Ayo Buat
134
BAB 132 - S2 - Lagsung Lamar Saja
135
BAB 134 - S2 - Bucin Dari Kecil
136
BAB 135 - S2 - Baru 2 Tahun
137
BAB 136 - S2 - Genit
138
Bukan Istri Sempurna - Desy Puspita
139
BAB 137 - S2 - Hamil Lagi?
140
BAB 138 - S2 - Belisik
141
BAB 139 - S2 - Ngamuk
142
BAB 140 - S2 - Cemburu
143
Bab 141 - Final Episode
144
PROMO KARYA BARU - ISTRI RAHASIA DOSEN KILLER
145
Promo Karya Unchihah Sanskeh - Lelaki Idaman
146
Promo Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!