Di Undang Ke Rumah Wira

Setelah menjadi client bisnisnya, Wira semakin sering memboking Rinda untuk pelampiasan sesaatnya. Saat makan siang keponakan Wira sedang bertamu ke rumah Wira seorang diri.

Mantan Barlin ingin mencari tahu, tentang kedekatan Barlin dengan wanita itu, sudah menikah tetapi Naura belum ihklas pria itu menemukan tambatan hati.

Naura ingin Barlin selamanya tak menikah dan betah single. Naura sudah sejak lama stalking status mantan. Namun pria itu tak pernah menggunggah status ke sosial media miliknya, semenjak mereka putus.

Ada rasa penyesalan, menyelimuti hati perempuan ini. Pernikahannya dengan suami tidak bahagia, suaminya selalu bersikap kasar kepadanya.

"Paman, wanita yang diundang dalam acara perayaan ulang tahun yang pakai baju warna pink itu siapa?" tanya Naura sambil menikmati makan siang dengan ikan bakar dan ayam.

Membahas wanita itu, membuat hati Wira menjadi lebih menggelora, untuk menceritakan pesona wanita itu. Bagi Wira wanita itu memiliki banyak kelebihan dari perawakan tubuh yang bagus dan raut wajah yang cantik. Serta pintar dalam urusan ranjang.

"Oh, wanita itu client paman ...," jawab Wira menyuguhkan minuman ke gelas.

"Maksudnya, client bagaimana?" tanya Naura semakin penasaran.

Wira menceritakan pertemuan, tak segan pria ini menceritakan, bahwa Rinda adalah pelacur melayani pria hidung belang. Di depan keponakan tak segan Wira untuk menceritakan pertemuan itu, soalnya Wira tahu. Keponakannya tidak akan membongkar rahasia nakalnya dengan perempuan.

"Client itu adalah teman yang menemani paman tidur di hotel." Wira tak malu menceritakan aibnya sendiri, sering memboking wanita malam untuk tidur bersamanya di hotel.

Naura terkejut mendengar pengakuan sang paman. Ternyata di tinggal oleh tante, paman nya tidak bisa menghandle nafsunya sendiri dan terngiang dalam pikir wanita ini, menilai selama ini pamannya setia ternyata bejat kelakuannya di luar.

"Cli-Client, maksudnya pelacur, Paman?"

"Ya, wanita itu namanya Rinda, dia seorang pelacur. Saat melayani paman, wanita itu sudah mencuri perhatian paman." Wira terpesona kepada wanita itu, dirinya tidak menampik suatu saat nanti. Mungkin akan meninggalkan istrinya, kalau Rinda mau menikah dengannya.

Naura syok ternyata wanita yang diundang dalam acara perayaan ulang tahun, dia pikir wanita itu adalah rekan bisnis sang paman selama ini. Ternyata wanita murahan yang menjual dirinya kepada pria.

"Paman tidak takut menjadi penyakit? Aku ingatkan, Paman! Bahaya lho, memboking wanita malam. Pasti wanita itu sudah digilir oleh banyak pria." Naura menjadi tidak setuju dengan pamannya.

"Keponakan aku, Sayang. Sudah lama paman nakal, bahkan kepada banyak perempuan malam. Sampai saat ini paman tidak pernah merasakan bahaya," jawab Wira tertawa melihat keponakannya.

Keponakannya menjadi tahu rahasia nakal pamannya, dirinya pikir pamannya akan setia dengan satu perempuan yaitu tante Naura selama ini. Ternyata tidak, banyak perempuan yang sudah dijadikan simpanan oleh pamannya sendiri.

"Paman diingatkan! Ngeyel banget, sih,"

Naura menjadi kesal sendiri, Naura menjadi berpikir. Suaminya selama mereka menikah tidak pernah menunjukkan sandi hp dan menyentuh hp nya suaminya pun tidak pernah. Suaminya melarang untuk menyentuh hpnya.

"Apakah suami aku, ikut berselingkuh seperti paman?" tanya Naura pikirannya menjadi negatif thinking.

Ternyata banyak rahasia nakal para lelaki dibelakang istri. Mereka pandai bermain rapi saja, supaya tidak ketahuan oleh istri-istri mereka.

"Keponakan paman yang polos, kamu pikir pria ini setia sama satu perempuan? Mereka mungkin terlihat setia di rumah, tetapi di luar mereka pandai bermain rapi. Supaya tidak ketahuan sama istri," jawab Wira dengan lugas, agar keponakannya mengerti dengan pria.

Ketakutan tersendiri bagi Naura, wanita ini saat berbincang-bincang dengan suami sering membuat suami suami marah. Wanita ini selalu bertanya arti sebuah kesetiaan dalam rumah tangga? Ditanya seperti itu suaminya langsung marah dan mengatakan kepada istrinya, tidak percayaan kepada suaminya sendiri.

"Pantas! Setiap kali aku bertanya kepada suami. Tentang kata setia, suami selalu marah. Mengapa harus bertanya hal yang tidak perlu dijawab," ungkap Naura.

"Kamu yakin suami kamu setia? Dari omongan dan sikap, bisa membuktikan apakah suami kamu setia atau tidak keponakanku," jawab Wira.

"Tidak, Paman."

Naura meminta kepada pamannya, untuk mengundang Rinda dalam acara makan malam di rumah pamannya. Wanita itu ingin berkenalan kepada wanita itu.

"Paman undang wanita itu, dong," ucap Naura kepo.

"Buat apa mengundang dirinya? Kamu sepertinya kepo dengan Rinda, okelah, paman akan bawa perempuan itu ke rumah ini supaya kalian berkenalan." Wira sangat menyanyangi keponakannya tersebut dan menuruti keponakannya, untuk membawa Rinda.

"Nah, gitu dong paman."

Wira mengambil handphone di saku celananya, lalu menghubungi Rinda untuk hadir dalam acara makan malam. Rinda kebetulan sedang di rumah sakit bersama Barlin. Anak Rinda masih di rawat inap di rumah sakit.

Di ruangan rawat inap sang anak, bunyi handphone berbunyi. Segera wanita ini mengambil hp dari meja. Barlin sudah berdiri terlebih dulu, lalu melihat nama yang ada di panggilan. Ternyata ada nama Wira sedang memanggil Rinda.

"Wira menghubungi ...." Barlin langsung memberikan hp kepada Rinda.

Di depan anak wanita ini tidak berani mengangkat telpon. Anaknya masih dalam masa pemulihan, wanita ini juga segan kepada Barlin.

"Angkat, dong. Ya, elah, tak berani mengangkat." Barlin sudah terbakar api cemburu, tetapi tidak menampakkan di depan anak-anak.

"Tidak, Barlin. Aku tidak berani mengangkat di depan anak-anak ...," ucap Rinda menggelengkan kepala.

Barlin sudah mengetahui, bahwa Naura adalah keponakan Wira. Wanita yang pernah menemani Barlin selama lima tahun, cinta mereka berhenti di tengah jalan karena Naura naksir sama pria yang lebih kaya dari Barlin dan wanita itu sudah ngebet ingin menikah muda.

Rinda tidak mengangkat telpon tersebut dan wanita itu, langsung mematikan tombol merah yang ada di layar hpnya. Barlin bertanya-tanya, mengapa Rinda mematikan panggilan dari pria itu.

"Mengapa dimatikan?" tanya Barlin penasaran saat di matikan.

"Aku sedang sibuk, aku mau ngasih anak-anak makan." Rinda mengambil makanan diatas meja yang sudah disiapkan oleh rumah sakit.

Barlin hanya menoleh kearah Rinda, wanita itu mengerti, bahwa pria yang menemaninya begadang di rumah sakit sebenarnya cemburuan kepada Wira.

Tetapi mereka tidak mungkin membahas masalah ini di depan anak-anak, wajah pria itu terlihat merah dan melampiaskan rasa kecewanya. Pria ini izin sebentar keluar dari ruangan untuk mencari angin.

"Aku keluar dulu, mau cari angin malam di luar," ucap Barlin, badan pria itu sudah gerah dibanjiri keringat.

"Oke ...."

Barlin keluar menikmati angin malam, dirinya masih teringat dengan Wira. Pria yang menghubungi ibu tiga anak itu, sambil merenungi ada hubungan apa Wira dan Rinda saat ini, mengapa pria itu selalu memberikan tempat spesial untuk Rinda.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!