Perhatian sang pria lajang kembali membuat hati Rinda berbunga-bunga, wanita ini merasa selalu dipahami oleh Barlin. Malam itu saat kanker otak sang anak kambuh kembali saat mereka sedang makan bersama, saat itu Rinda pergi bersama pria lajang dengan membawa anak-anak.
Saat sedang menikmati hidangan makan malam. Anak Rinda tiba-tiba terkapar kelantai dan nyaris pingsan, membuat Rinda sebagai ibu langsung berteriak histeris menyaksikan sang putra pingsan.
"Sayang ... anakku kamu kenapa?" ucap wanita itu, langsung mengangkat tubuh sang anak.
Barlin seperti orang kebingungan karena refleks, seketika pria itu langsung sadar mengambil Aldi dari gendongan Rinda dan berlari membawa bocah cilik itu, masuk ke dalam mobil. Untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
Rinda sebagai seorang ibu langsung menggendong anaknya paling kecil, memapah anak keduanya berjalan dan terlihat kesedihan di raut wajahnya, mengapa jalan hidup putranya harus seperti ini merasakan sakit.
Didalam mobil, Rinda langsung menyuruh anaknya untuk duduk. Rinda masih memangku putra pertamanya dan mencium kening sang putra berulang kali, bahkan air mata wanita itu keluar ikut membasahi pipi Aldi yang sedang dipangku.
"Kamu harus sembuh nak dan kamu harus kuat. Jangan menyerah, Sayangku." Berulang kali ucapan itu di ulangi oleh Rinda, hingga membuat Barlin yang sedang menyetir menjadi ikut bersedih.
Rinda merasa kasihan atas peristiwa satu hari sebelum kejadian Aldi pingsan, saat itu bocah cilik tersebut keluar kamar dan terbangun karena suara ribut orang tua dan membuat anaknya tersebut kepikiran dan down.
"Sebenarnya Aldi down begini, satu hari sebelum kejadian ini. Anakku, melihat aku dan suami sedang ribut di ruang tamu, anak ini keluar dan kami tak sadar dirinya mendengarkan percakapan diantara kami dan mungkin dia sudah mengetahui pekerjaan mamanya, saat itu suami ada mengucapkan kalimat, bahwa aku ini adalah seorang pelacur dengan mengarungi malam," kata Rinda menceritakan semua keluh kesahnya kepada lajang tersebut, di iringi dengan isak tangis yang membasahi pipinya.
Anaknya-anaknya melihat mama mereka sedang menangis. Mereka kebingungan karena mereka belum mengerti karena masih kecil, sedangkan putra mereka pertama sudah bisa mencerna suatu omongan yang dianggap serius.
"Mama kenapa menangis?" tanya anak-anak secara kompak, mereka kebingungan melihat mama mereka menangis, kedua putri Rinda langsung menghapus air mata wanita itu dengan tangan mereka.
Barlin hanya terdiam, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara kepada anak-anak karena takut anak kecil tersebut, mencerna omongan Orang tuanya.
"Kita bahas nanti, saja. Kita lihat keadaan ada anak-anak," sahut Barlin dengan menyetir.
Rinda mengangguk dan menoleh kepada kedua putrinya, saat masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Beruntunglah, Rinda dikarunia anak-anak sebagai pengobat pelipur lara dirinya disaat sedih, kekuatan dirinya ada dianak-anak.
"Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama ini kuat kok, tenang saja." Rinda menenangkan anaknya, dalam keadaan kebingungan melihat mamanya menangis.
"Seandainya mama tidak apa-apa, mengapa mama harus meneteskan air mata?" tanya anak-anak begitu detailnya.
Tak menyangka betapa protektifnya anak-anak bertanya, semakin bertambah umur. Mereka semakin mengerti dengan keadaan.
Tiba sekitar tiga puluh menit, mereka sampai di rumah sakit. Barlin berlari menghampiri tenaga medis, supaya cepat penanganan dalam memberikan penanganan kepada anak Rinda.
"Tolong bantu kerja samanya, anak gue sedang sakit. Butuh pertolongan medis saat ini." Begitu paniknya Barlin dan menyebut Aldi sebagai anaknya.
"Baik, Pak. Kami akan berusaha memberikan pelayanan terbaik. Silahkan tunggu di ruang tunggu," jawab sang dokter sambil tersenyum bawa semua akan baik-baik saja.
Aldi tiba saatnya ditangani oleh berapa dokter dan perawat. Mereka selaku keluarga menunggu di ruang tunggu, jantung Rinda dan Barlin berdenyut kencang. Berharap semua akan baik-baik saja.
Kedua putri Rinda menyandarkan kepala mereka ke paha sang mama, mata mereka terlihat seperti sedang mengantuk.
Berbeda dengan Naufal, malam itu pria ini mengarungi malam dengan bersama perempuan ditempat pertarungan judi, pria ini tidak peduli lagi dengan istrinya yang menjadi tulang punggung keluarga.
Sang sahabat mempertanyakan, mengapa Naufal tidak pernah mengabari istri, bawa dirinya sedang di luar. Apakah sang istri terlalu percaya dengan pria ini, hingga tidak pernah penasaran kemana pergi pria ini?
"Naufal ...," sapa sahabatnya di tempat judi malam itu.
Naufal menoleh kearah pria berumur empat puluh tahun tersebut, botak dan menyeramkan, itulah sebutan yang cocok untuk pria yang memanggil Naufal.
"Ya, ada apa?" tanya Naufal.
"Apakah kamu tidak pernah dicari oleh istri kamu, bahkan istrimu tidak pernah curiga kamu pergi kemana?" tanya pria bernama Santo tersebut.
Seketika Naufal tertawa geli, melihat pertanyaan sahabatnya yang bertemu di tempat judi tersebut. Naufal bebas kemana saja dan istrinya tidak pernah mengekang dirinya lagi.
"Pertanyaan kamu sangat lucu, buat apa istri saya mengatur kebebasan saya. Sebagai lelaki, harga diri kita ini jangan di injak-injak oleh orang lain." Naufal menertawakan pria itu saat mereka berkumpul di meja judi.
"Istrimu tidak marah?" tanya pria itu penasaran, sedangkan Santo selalu diatur oleh istrinya harus pulang sampai jam 2 malam saja.
"Buat apa dia marah? Dia saja menikmati perannya sebagai pelacur! Tentu istriku menikmati kebersamaannya dengan pria ****** dan aku menikmati bersama perempuan lain di sini," tawa pria itu lalu memeluk salah satu wanita yang berada disampingnya.
"Berarti istrimu, sudah sangat pro?" canda Santo kembali.
"Sudah pasti, tidak mungkin dirinya tidak pro di atas ranjang." Naufal terbuka kepada sahabat-sahabatnya, serta tidak enggan menceritakan aib sang istri.
"Kita sama-sama nakal dong," sahut mereka secara bersama-sama.
Naufal sudah dikabari Rinda melalui chat anak mereka sakit dan menyalahkan Naufal atas pertengkaran mereka. Hingga terdengar kenyataan oleh Aldi anaknya, putranya merasa tertampar dengan pekerjaan sang mama dan sejak saat itu juga Aldi mengetahui ayahnya pejudi berat, bahwa semua terdengar dari kamar.
Aldi sejak saat itu merasa down, demi kesembuhan bocah cilik tersebut sang ibu sampai bertarung dengan mengorbankan tubuhnya. Menjadi penikmatan para lelaki hidung belang.
Naufal tidak peduli, takut menganggu jalannya sebuah pertarungan diatas meja judi saat itu. Pria ini langsung memblokir nomor sang istri, supaya tidak menghubungi dirinya karena tidak suka diganggu.
"Suamimu bagaimana, apakah dirinya sudah tahu. Anak kalian sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ...?" tanya Barlin perhatian kepada Rinda.
Wanita itu berusaha menyembunyikan keburukan sang suami, setiap kali berusaha menutupi. Ternyata wanita ini tidak bisa dan merasa sedih untuk memendamnya sendiri di dalam hati.
"Sudah, dia menghiraukan chat itu dan tidak membalas. Walaupun dirinya membaca chat tersebut," jawab Rinda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments