Rinda mengajak Barlin untuk ikut bersamanya di acara ulang tahun Wira, client dari Rinda tersebut. Pria itu akan merayakan ulang tahun yang ke 50 tahun.
Barlin menerima ajakan Rinda, mereka pergi dalam acara ulang tahun tersebut, saat melangkahkan kaki. Dalam acara ulang tahun tersebut, sepertinya Barlin tidak lupa dengan hotel tersebut.
Hotel tersebut sering dipakai oleh keluarga mantan kekasih Naura. Setiap ada acara khusu keluarga Naura, pria itu selalu diajak khusus oleh mantan kekasih.
Memandang hotel tersebut, dalam hati Barlin berharap, semoga client Rinda tidak dari keluarga besar Naura. Mantan yang telah meninggalkannya, demi menikah dengan pria lain.
"Sepertinya, aku tidak lupa dengan hotel yang ini, ah tidak mungkin, mungkin hanya kebetulan saja," gumam Barlin didalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Rinda hendak mengandeng tangan Barlin saat itu. Namun, Barlin merenung, seperti ada yang sedang dipikirkan. Rinda tidak ingin banyak bertanya, lalu mendekatkan tangannya. Untuk digandeng sama Barlin sebelum memasuki hotel.
Wira tidak membawa istri dan anak karena sedang berada di luar negeri. Nampak keluarga besar, sedang menikmati jamuan makan malam tersebut.
"Hay, Pak. Saya menepati janji saya, untuk datang dalam acara," ucap Rinda tangannya tidak melepas tangan Barlin.
Wanita ini ada utang budi, Wira sudah menolongnya. Disaat suaminya mempunyai hutang berjudi, saat itu Rinda harus mendapatkan pinjaman selama masa waktu satu hari.
Wira berdiri menyambut kedua orang tersebut dengan menyalami. Namun, tak terlihat raut kebahagian Wira, saat wanita itu membawa pacarnya. Wajah cemburu pun, terlihat dari raut wajahnya saat itu.
"Terimakasih sudah datang ...," kata Wira menyalin tangan keduanya.
Keduanya dipersilahkan, untuk mengambil meja kelas vip. Saat keduanya permisi dan baru melangkahkan kaki berapa langkah menuju meja vip. Ada suara perempuan baru datang, memasuki ruangan private yang di boking oleh Wira.
"Hay, Om. Maaf, kami terlambat datang lebih awal," sapa perempuan tersebut.
Baru berapa langkah menghentakkan kakinya saat itu. Barlin seperti mengenal, suara dari balik belakang yang menyapa Wira tersebut seperti suara, seorang perempuan yang pernah dikenalnya di masa lalu.
Barlin menghentikan langkah, terlihat Rinda menatap kearah Barlin. Menjadi tanda tanya bagi Rinda, mengapa Barlin berhenti ketika mendengar suara perempuan itu? Rinda menoleh kebelakang, lalu diikuti oleh Barlin membalikkan kepalanya.
Saat Barlin membalikan badan, mata keduanya saling bertemu. Saat itu Naura mengandeng suaminya dan sudah mempunyai anak. Tatapan rindu pria itu tidak bisa ditutupi, ketika sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan masa lalunya.
"Ada apa, Sayang? Apakah kamu mengenal perempuan itu?" tanya Rinda dengan suara pelan.
Naura sedikit menunduk, saat itu Naura menikah tidak memberitahu Barlin. Wanita itu menyembunyikan tanggal pernikahannya dari Barlin.
Suami Naura menoleh kearah keduanya yang saling menatap, demi menghindari adanya percakapan diantara mereka, lalu Naura mengandeng tangan suaminya. Untuk mencari meja khusu untuk mereka bertiga duduk dengan anaknya.
"Sayang ayo cari meja ...." Naura memapah tangan suaminya yang sedang mengendong anak.
Ternyata saat melihat mantan kekasih, bibir pria itu. Ingin menyapa kembali sang mantan saat itu. Namun kini sudah ada yang menghalangi mereka, dengan kehadiran Rinda dan suami Naura.
Terlihat sulit untuk berkomunikasi kembali. bahkan, pertanyaan dari Rinda yang mengandeng dirinya. Tidak dijawab oleh Barlin, karena tidak mungkin dirinya berterus terang.
"Sayang, ayo makan," ajak Rinda mengajak Barlin.
Barlin masih menoleh kearah perempuan yang melangkah, bersama suaminya. Ingin rasanya Barlin mengacak-ngacak pria tersebut. Sudah mengambil kekasihnya, dari hidup Barlin.
Kini semua tinggal kenangan masa lalu, ingin menyesali yang sudah berlalu. Namun pria ini tidak sanggup, jika harus membenci mantan di masa lalunya tersebut.
"Ayo ...." Barlin langsung mengandeng kembali Rinda, mereka saling menggenggam erat tangan masing-masing.
Wira memperhatikan langkah mereka, terlihat romantis sebagai pasangan. Muncul keberanian Wira, untuk mendapatkan Rinda dari Barlin.
Saat di meja vip, mata Barlin masih menatap kearah tamu-tamu. Ingin mencari tahu, sosok mantan duduk disebelah mana, sampai sekarang pria ini masih gagal move on.
Matanya langsung tertuju kepada meja nomor 8. Saat itu Naura, tidak terlalu memperhatikan pria itu. Fokus berbicara kepada suami dan mengendong putri semata wayangnya.
Barlin membayangkan, andai saja dirinya yang menikahi Mantan. Mungkin, anak kecil itu akan digendongnya. Membayangkan mempunyai anak bersama Naura.
"Andai saja aku yang berada disana," gumam Barlin dalam hati.
Kini Barlin susah mempunyai dua cinta yang terbagi, setengah untuk Rinda dan setengah untuk Naura, pria ini masih ingat disaat dulu ditinggalkan Rinda.
Saat pria itu banyak termenung, seperti menoleh mencari seseorang. Membuat Rinda curiga dengan gerak gerik pria itu, bahkan terpikirkan olehnya sosok perempuan tadi.
"Siapa sosok perempuan tadi, Sayang?" tanya wanita itu pada Barlin.
Pria ini itu menoleh kepada Rinda dan mulai berpikir, bahwa Rinda mulai curiga dengan wanita itu. Sebenarnya ingin jujur, tetapi tidak mungkin Barlin berterus terang sosok perempuan itu.
"Tidak tahu," jawabnya singkat.
"Tidak tahu? Tetapi mata kalian saling memandang, seperti saling mengenal satu sama lain?" tanya Rinda tidak bodoh dalam membaca gerak gerik tubuh.
"Hmmm salahkah, jika mata saling menatap satu sama lain?" ucap Barlin sedikit dingin karena mantan.
"Tidak salah? Tetapi ....,"
"Sudahlah, tidak perlu curiga seperti ini kepada aku, saat ini wanita yang ada dihati aku, hanya kamu seorang." Barlin seakan menyakinkan Rinda, bahwa perempuan yang duduk disampingnya, pelabuhan terakhir di hatinya.
"Bukan curiga, tetapi aku penasaran saja dengan kalian berdua! Mengapa seperti gerak gerik, sudah sering bertemu? Aku tidak percaya, kalian tidak saling mengenal satu sama lain!" ucap Rinda semakin besar menaruh kecurigaan, dengan sedikit cemburu menumbuh di hati.
"Jangan cemburu seperti ini, nampak banget cemberutnya. Seperti tidak senang, saat kami saling menatap." Pria itu tertawa melihat mimik wajah perempuan itu, sedikit datar dan dingin. Tidak seperti biasanya, wajah Rinda juga sedikit merah, saat tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
Sikap Barlin tidak seperti biasanya, gerakan tubuh sudah menyakinkan, bahwa Barlin mempunyai hubungan spesial dengan wanita bernama Naura tersebut. Mata pria itu salah tingkah, saat Rinda menatap ke arah meja Naura.
Barlin langsung menunduk dan matanya tidak tertuju kepada Naura lagi, Barlin sadar Rinda sedang cemburu kepada Naura.
"Gestur dan mimik wajah, sudah bisa menampakkan, bahwa kalian berdua mempunyai hubungan di masa lalu." Rinda hanya menduga, bahwa mereka mempunyai hubungan.
"Sayang, tidak! Aku tidak mempunyai hubungan dengan wanita itu dan aku tidak mengenal wanita itu," bantah Barlin.
Pria ini membantah tak mengenal Naura mantan kekasihnya, seandainya dirinya jujur dengan masa lalunya. Mungkin Rinda bisa menunjukan sikap tidak suka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments